3

3500 Kata
Hana tidak bisa berhenti memandangi gadis kecil asing yang sedang makan malam dengan malu-malu bersama keluarga mereka. Mengabaikan masalah kepergian Stella yang minggat dari rumah, dan minta cerai dari anaknya, perempuan cantik berusia lima puluh tahunan itu lebih memilih memperhatikan kelakuan kedua cucu angkatnya yang tengah berebut perhatian seorang gadis kecil manis. Entah kenapa menatap gadis kecil itu membuat perasaan Hana menjadi tenang. "Siapa namamu, Nak?" Enam kepala anggota Bramastya lain tersentak. Serentak mereka menoleh ke arah sang ibu. Tak biasanya Hana Bramastya Hana yang menjunjung tinggi adat--tidak boleh bicara saat makan, tiba-tiba memulai pembicaraan. Malu-malu, Raina melirik sekitar. Menunduk, lalu menjawab, "Raina. Raina Setyani, Nek." Hana tersenyum lembut. Ingin rasanya dia merengkuh gadis kecil itu ke dalam pelukan. "Nama yang cantik. Secantik orangnya." Raina kembali tersipu. Dia tidak mengerti, kenapa dia merasa nyaman berada dalam keluarga ini. ”Mungkin karena aku hanya punya Mama, tak punya Papa, Kakek, Nenek, ataupun saudara,” pikirnya sedih. Anton diam-diam melirik sang istri yang tampak berbinar memperhatikan gadis kecil asing itu. Apa mungkin dia merasakan hal yang sama dengannya? Revo mengernyit saat melihat menu makanan yang ada di piring Raina dan Rei. Mereka berdua memilih menu yang sama, serba ayam goreng. Dia kemudian mengalihkan perhatiannya dari piring ke dua orang beda gender dengan beda usia yang cukup jauh. Cara makannya juga sama. "Kalian terlihat seperti ayah dan anak," katanya menyeringai. Rei dan Raina tersentak. Keduanya, yang kebetulan duduk berdampingan, saling melirik dengan sendok menggantung di udara. Rei mengamati gadis kecil di sampingnya seksama. Ada perasaan aneh menyusup di hatinya saat melihat gadis kecil itu. Dia mengangguk ketika Raina melemparkan senyuman super tipis nan sopan padanya. Anak? Istriku bahkan tidak mau memiliki anak, pikir Rei miris. Aku ... Aku tidak punya Papa, batin Raina getir. ***   "Kapan ibumu datang, Nak?" tanya Hana pada Raina. Setelah selesai makan malam, gadis kecil itu tampak gelisah, mondar-mandir di ruang tamu menunggu kedatangan ibunya. "Sebentar lagi. Ibuku bilang dia akan menjemputku setelah makan malam," jelas Raina cemas. "Kalau begitu sini duduk. Tunggu ibumu dengan tenang," ajak Hana sambil menepuk sofa empuk nan nyaman di sampingnya. Tapi sayangnya Raina tampak enggan. Hal itu membuat Hana sedih. Dia kemudian berinisiatif untuk menyuruh Rei mengantar Raina pulang. Tapi baru saja Rei dan Raina beranjak keluar dan hendak naik ke mobil Rei, satu sosok perempuan berambut panjang yang muncul di depan gerbang rumah keluarga Bramastya menarik perhatian Raina. "Mamaaa!" teriaknya gembira sembari berlari menghampiri sosok tersebut. Rei menoleh. Manik gelapnya melebar saat melihat siapa sosok 'Mama' yang dihampiri Raina. "Maila?" ***   Maila menggeliat gelisah di mobil dalam perjalanan menuju ke rumahnya. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Rei di rumah temannya Raina. Dan dia juga merutuki dirinya sendiri karena tidak tahu bahwa paman dari temannya Raina adalah Rei. "Enh." Meringis. Perempuan muda itu berusaha menahan erangan sakit, saat merasakan nyeri pada beberapa bagian tubuhnya yang mendapat aniaya berlebihan dari Donni tadi. Demi Tuhan, aku akan mengajukan protes pada Mami Renata, pikirnya sembari menggeliat tak nyaman ketika rasa sakit menyengat pantatnya. Sesekali Rei melirik Maila yang duduk di sampingnya, dan juga Raina yang duduk di kursi belakang. 'Gadis kecil ini anak Maila? Yang benar saja?' Dia menerka kalau Raina seumuran dengan Bintang dan Raffi. Itu berarti tujuh tahun. Dan jika benar umur Raina tujuh tahun ... maka Maila hamil delapan tahun yang lalu? Setelah mereka putus, dan dia meninggalkan Nusa Tenggara. Memikirkan bahwa Maila hamil dan memiliki anak tepat setelah dia meninggalkan gadis itu, membuat hati Rei panas. Secepat itukah Maila melupakannya dan berpaling ke lain hati? Rei mengernyit ketika melihat Maila yang meringis kesakitan. Wajah perempuan itu juga tampak pucat. Dia ingin bertanya, "Apa kamu sakit?" namun pertanyaan itu tertahan di ujung lidah karena rasa gengsi yang berlebihan. Suasana di dalam mobil terasa canggung, karena tidak ada yang memulai perbincangan. "Paman?" "Hn?" Maila menoleh kebelakang. Agak terkejut melihat putrinya yang tiba-tiba memulai pembicaraan dengan orang asing (terlepas dari Rei adalah Ayah kandung Raina, tapi gadis itu tidak mengenalnya). Ini tidak seperti Raina yang biasa. "Nama Paman ... Rei ya?" tanya Raina hati-hati. "Hn. Iya." "Kok bisa kebetulan ya? Nama anak anjing baruku juga Rei," jelasnya kalem. Rei mendelik ke arah Maila, yang dibalas perempuan itu dengan pelototan galak yang seolah bertanya 'APA?!' ***   "Berhenti disini," kata Maila lemah ketika melihat jalan yang begitu familiar, dekat dengan rumah kontrakannya. "Disini?" kening Rei berkerut. Dia memelankan laju mobil. "Hmm." Rei mengatupkan bibirnya rapat. Dia tak tahu harus berkata apa melihat situasi di sekitar rumah kontrakan Maila. Di jalanan besar depan rumah kontrakan, terlihat beberapa orang perempuan berpakaian minim dan bertubuh molek berdiri di pinggir jalan sambil bersolek mencoba menghentikan dan menggoda beberapa pemilik kendaraan bagus yang lewat. Menghentikan mobil, Rei kemudian melotot galak pada seorang perempuan molek yang mengetuk jendela mobilnya, menawarkan jasa. Menurunkan kaca dia lalu berkata, "Pergi," dengan suara dingin nan dalam. Si perempuan yang mendapat perlakuan seperti itu dari Rei hanya bisa menjauh sambil menggerutu. "Terimakasih," gumam Maila. Dia mendesah saat melihat anaknya yang sudah terlelap di jok belakang. Ah. Raina pasti kelelahan bermain. Turun dari mobil, Maila kemudian membuka pintu bagian belakang mobil Rei, kemudian menggendong Raina. "Sekali lagi terimakasih ... Tuan Bramastya." setelah berkata demikian Maila segera masuk ke pemukiman rumahnya. Rei menatap nanar punggung rapuh perempuan yang, pernah,dicintainya itu. Sesekali dia menggertakan gigi saat melihat beberapa pemabuk menggoda, menghentikan langkah mantan kekasihnya. Namun sepertinya Maila bisa menangani mereka. Hati Rei mencelos membayangkan kehidupan yang dijalani oleh Maila dan anaknya di tempat seperti ini. Masih menjadi misteri bagi Rei mengenai alasan kenapa Maila pergi dari Nusa Tenggara, dan menjadi penjaja cinta seperti sekarang. Setelah beberapa menit berpikir, Rei kemudian mengambil kesimpulan. Mengingat keberadaan si kecil Raina, Rei mengira Maila hamil diluar nikah, atau mungkin juga dia menikah muda? Diusir orang tua dari rumah, dan ayah Raina tidak mau bertanggung jawab, sehingga Maila terpaksa bekerja kotor untuk  menghidupi dirinya dan sang anak. Memikirkan kemungkinan tersebut membuat Rei geram. Dia bersumpah akan menghajar dan membuat 'Ayah Raina' menjadi bubur kalau dia tahu siapa laki-laki itu.   ***   "Aku tidak tahu taipan sepertimu akan tertarik pada hal-hal yang berbau kehidupan sosial seperti ini." Anthonny menyeringai senang, sembari melempar map kuning berisi berkas yang diminta si Bos kemarin ke atas meja kerja Rei. Pagi ini muka si bos tampan terlihat kusut seperti belum disetrika. Tonny pikir Rei kurang tidur, atau mungkin terlalu stres karena pernikahan yang tidak harmonis. Di acara gosip televisi yang ditontonnya sebelum datang ke kantor, dia melihat Stella mendaftarkan gugatan cerai dengan diliput banyak kamera dan wartawan. "Maksudmu?" mendesah malas, Rei meraih map tersebut dan membukanya. "Kamu menyuruhku menyelidiki seorang pelacur." Tubuh Rei tiba-tiba menegang, mata gelapnya melebar saat membaca salah satu halaman dalam map kuning berisi berkas Maila. "Dia wanita kuat. Menjadi p*****r karena berhutang uang yang sangat banyak pada seorang mucikari. Demi biaya operasi anaknya yang sakit keras." "..." "Yah. Sebenarnya ini bukan hal yang baru, seorang perempuan menjual dirinya untuk makan dan demi keluarga. Aku sering bersama perempuan-perempuan malam seperti itu. Dan masing-masing diantara mereka memiliki banyak alasan kenapa mereka harus menjual diri. Ada yang sengaja dijebak oleh orang terdekat untuk dijual pada lelaki hidung belang, ada yang demi memakmurkan kehidupan keluarga yang tingkat penghasilan ekonominya dibawah rata-rata. Ada yang menabung uang hasil menjual diri untuk biaya sekolah anak dimasa depan. Dan bahkan ada yang menjual dirinya dengan biaya dibawah dua ratus ribuan hanya untuk makan sehari-hari, kamu tahukan harga-harga sandang, papan, dan bahan pokok jaman sekarang yang meroket membuat mereka terpaksa melakukan itu?" Tonny terus berceloteh, tanpa mempedulikan suasana hati Rei yang makin buruk saat mendengarnya. Mata si Bramastya bungsu tampak memerah.   "Mereka menjual diri untuk satu tujuan. Yaitu uang. Aku respek dengan para p*****r yang seperti Mikailla, menjual diri karena sebuah alasan yang kuat, demi keluarga yang dicintainya. Namun sayangnya kebanyakan para p*****r muda nan baru sekarang, menjual diri hanya untuk menaikan status sosial, membeli barang-barang mewah nan mahal yang setelah rusak akan jadi rongsokan tak berguna. Seperti tas, baju, seperti tas, baju, sepatu branded (entah bagaimana tulisannya brandit itu), alat elektronik mahal, dan ... Eh? Bos, mau kemana?" panggil Tonny binggung ketika melihat Rei yang tiba-tiba bangun dari kursi, dan beranjak keluar ruangan.   ***   Pagi ini Maila merasa buruk. Dia tak bisa bangun dari tempat tidur, seluruh badannya sakit, suhu tubuhnya begitu panas. Perempuan bersurai gelap itu hanya bisa merintih kesakitan sambil menggeliat gelisah di atas kasur. Sesekali dia menarik baskom (yang disimpan di kolong tempat tidur), lalu memuntahkan isi perutnya. "Sakit itu nggak enak ya, Ma?" Raina yang sedari tadi duduk di atas tempat tidur disamping sang ibu bersama Rei-dog, anjing kesayangannya, berkomentar perihatin. Maila tersenyum lemah. Menyimpan gelas, yang isinya telah dia minum seteguk, di atas nakas. Dia kemudian berbalik lalu meraih sang anak untuk dipeluk. Dalam keadaan sakit seperti sekarang, Maila merasa tenang jika sudah memeluk anaknya. Ini hanya sakit karena kelelahan dan masuk angin, bukan penyakit menular, jadi Maila pikir tak apa jika dia memeluk Raina. "Iya. Sakit itu nggak enak. Makannya Raina harus terus sehat, biar tidak muntah dan pusing seperti Mama." Raina mengangguk. "Hu'um." Dia memainkan ujung lengan pijama Maila. "Mama juga harus sembuh dan sehat. Agar Raina tidak sedih melihat Mama seperti ini." "Tentu Sayang. Tentu," pelukan Maila pada tubuh mungil Raina makin erat. Mama akan sehat demi kamu. Mama akan terus hidup untuk melihat kamu tumbuh, dewasa, bahagia, dan mendapat calon suami yang baik. Mama akan memastikan kamu mendapat yang terbaik, dan semua kebutuhanmu terpenuhi, Nak. Mama tidak akan membiarkanmu terjerumus seperti Mama. Raina mengernyit merasakan tubuh panas mamanya bergetar, dan suara isakan terdengar di puncak kepalanya. "Mama nangis?" Tak menjawab, Maila hanya terus memeluk sang anak. Hingga beberapa puluh menit kemudian, keduanya terlelap. ***   Maila tidak tahu berapa lama dia tertidur sambil memeluk Raina. Suara ketukan keras di pintu depan membuatnya terbangun. Melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul sebelas, susah payah Maila bangkit dari tempat tidur lalu beranjak ke ruang tamu. Raina masih tidur. Sementara Rei-dog tampak asik bermain dengan tulang mainannya di pojok ruangan. "Iya. Sebentar!" seru Maila ketika suara ketukan di pintu mulai terdengar tak sabaran. Siapa yang datang pagi-pagi begini? Gerutunya dalam hati. Membuka pintu. Mata cokelat Maila melebar, ketika melihat siapa tamunya. "Rei?" Rei terlihat tampan seperti biasa. Apalagi dengan setelan pakaian kerjanya. Hanya saja sekarang dia terlihat kuyu dan berantakan, tak seperti beberapa hari yang lalu saat mereka bertemu di hotel Zeus. Ditambah ... Oh tidak, ekspresi itu! Rei sepertinya sangat marah. "K-kenapa kamu datang kemari?" tanyanya gugup sekaligus panik. Rei tak menjawab. Tanpa dipersilakan laki-laki Bramastya itu masuk ke rumah, mendorong pelan tubuh Maila, kemudian menutup pintu. "Kenapa kamu tidak memberitahuku?" dia bertanya dengan suara rendah berbahaya. Tatapan mata hitamnya yang tajam membuat Maila mengkeret di tempat. "Memberitahu apa maksudmu?" setelah berkata demikian, jantung Maila seakan berhenti begitu aku menyadari maksud pertanyaan Rei. Jangan-jangan dia sudah tahu? Maila mendadak gemetar. "Jangan pura-pura tidak tahu," Rei mendesis, "Raina itu anakku kan?" Tubuh Maila bergetar hebat mendengar pertanyaan Rei. "Tidak. Tidak. Tidak." Maila melangkah mundur menjauhi Rei. Dia tampak ketakutan. "Raina itu anakku! Bukan anakmu. Dia tidak ada hubungannya denganmu. Aku yang mengandungnya selama sembilan bulan. Aku yang melahirkannya. Aku yang selalu ada untuknya selama tujuh tahun ini, bukan kamu! Dia anakku!" Maila berteriak di akhir kalimat. Demam dan sakit kepala membuat emosinya tak terkontrol. "Kenapa waktu kamu tidak memberitahuku kalau kamu hamil?" "Memangnya kalau aku memberitahumu, kamu akan mau bertanggung jawab dan tidak jadi pergi?" Maila bertanya sinis masih dengan nada tinggi. "TENTU SAJA AKU MAU! KARENA ITU ANAKKU!"  teriak Rei, kelakuan Maila membuat emosinya tersulut. "BAGAIMANA AKU BISA MEMBERITAHU BAHWA AKU SEDANG MENGANDUNG ANAKMU, KALAU KAMU SAMA SEKALI TIDAK MENINGGALKAN NOMER TELPON ATAU ALAMAT YANG BISA KUHUBUNGI!" Maila balas berteriak. Maila dan Rei tidak menyadari kalau suara mereka yang keras sudah membangunkan Raina. Anak cantik itu tampak tertegun di depan pintu kamar, coba mencerna topik pembicaraan kedua orang dewasa tersebut. Rei tersentak dengan kenyataan yang diungkap Maila. Bibirnya terkatup rapat. Dia menyadari kesalahannya. Hati bungsu Bramastya itu mencelos saat melihat liquid bening mengalir menuruni pipi putihnya yang tirus. “Seminggu setelah kamu pergi, orang tuaku mengetahui tentang kehamilanku. Mereka marah. Mereka memaksaku untuk menggugurkan bayiku.” Rei tertegun saat Maila mulai bicara mengenai masa lalunya tanpa diminta. “Tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa membunuh anakku. Aku sudah kehilanganmu, jadi bagaimana mungkin aku bisa membiarkan bagian dari dirimu (dan juga diriku) yang sedang bertumbuh di dalam rahimku dibunuh dengan kejam bahkan sebelum dia melihat dunia?” Maila terisak. “Karena aku menolak, ayah dan ibu mengusirku dari rumah. Selama hamil aku menggelandang tidur di emperan-emperan toko, dan berharap belas kasih orang-orang yang lewat untuk makan.” Rei mendengar suara aneh seperti sesuatu yang tersedak keluar dari mulutnya. Tanpa sadar dia ikut menangis. “Setelah Raina lahir, aku datang merantau ke Jakarta dengan harapan aku bisa bertemu denganmu, dan menunjukan bahwa ini anak kita. Raina. Dia cantik, dan wajahnya sangat mirip denganmu. Tapi harapan tinggal harapan. Kita tidak pernah bertemu. Bekerja serampangan sebagai tukang cuci piring di warung pinggir jalan. “ “Saat Raina berusia dua tahun, musibah itu terjadi. Aku terlalu sibuk mencari uang sebagai tukang cuci piring, hingga Raina yang kubawa ke tempat kerjaku kubiarkan tanpa pengawasan. Untuk ukuran anak seusianya dia cukup aktif dan nakal. Dengan kaki kecilnya dia berlari cepat keluar warung makan, bermain di pinggir jalan hingga … sebuah kendaraan bermotor menabraknya.” Maila menangis tersedu.  “Aku merasa hidupku sudah berakhir saat melihat anakku terbaring bersimbah darah di tengah jalan raya. Penabraknya sudah kabur. Ketika kami membawanya ke rumah sakit, dokter mengatakan bahwa Raina mengalami luka yang cukup parah di bagian kepalanya, dia harus dioperasi, dan biayanya cukup besar.  Aku bingung, aku tidak tahu bagaimana cara mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat agar nyawa anakku bisa selamat. Dan kemudian aku mendatangi seorang perempuan yang katanya sanggup membantuku. Dia bersedia memberi aku uang berapapun, asalkan aku … menuruti apapun yang dia katakan. Karena dia seorang mucikari … jadi aku harus bekerja padanya sebagai … pelacur.” Maila menatap kosong ke arah Rei. “Aku tidak menceritakan itu untuk berharap agar kamu kasihan padaku dan menuntutmu yang seorang pengusaha kaya agar memberiku banyak uang. Aku mengatakan itu, agar kamu bisa memahami bagaimana pengorbananku untuk anakku, agar kamu bisa menjauh dari kehidupan kami. Aku tidak peduli kalau kamu ayah kandungnya. Aku tidak akan membiarkanmu membawa Raina pergi dariku.” “Maila, a-aku ….” Rei tak tahu harus berkata apa. “Aku tahu kamu sudah menikah. Aku tidak akan menuntut pertanggungjawaban apapun darimu, tapi kumohon menjauhlah dari kehidupan kami, Rei.” “Bagaimana mungkin aku bisa melakukan itu? Raina adalah anakku, sedangkan kamu menderita karena aku, jadi bagaimana mungkin aku ….” “AKU TIDAK BUTUH BELAS KASIHAN DARI LAKI-LAKI YANG SUDAH BERISTRI SEPERTIMU!” “MAILA BERHENTILAH BERSIKAP KERAS KEPALA!” “AKU TIDAK KERAS KEPALA! AKU ….” “Dia Papaku?” Dua kepala orang dewasa itu tersentak saat mendengar suara Raina. Mereka menoleh ke arah pintu kamar dengan mata melebar ngeri. Seorang anak kecil dan seekor anak anjing, menonton pertengkaran orang dewasa, itu sungguh tidak baik untuk perkembangan. “Raina?” Maila berbisik ngeri. Sementara Rei menatap Raina nanar dan penuh kerinduan. “Paman Rei, Papaku?” Raina mengulang pertanyaannya. Rei mengangguk. Dia menghampiri Raina perlahan, lalu memeluk putrinya erat. “Papa? Aku punya Papa?” “Iya Sayang. Aku Papamu, Nak,” jawab Rei parau. Maila menatap adegan mengharukan di depannya dengan air mata berlinang. Dia tidak mengerti harus bereaksi seperti apa. Dalam hati kecilnya dia bahagia melihat kegembiraan Raina saat mengetahui  bahwa dia juga memiliki papa seperti anak-anak lain. Tapi disisi lain, dia juga takut setelah mengetahui kenyataan ini, Rei akan membawa Raina pergi darinya. Dia tidak siap jika harus kehilangan Raina. Kepala Maila tiba-tiba berdenyut hebat. Perlahan semua menjadi buram. “Mama? Aku punya Papa!” samar dia mendengar suara Raina, semua menjadi gelap dan bisu. Maila pingsan. *** Terbangun dan mendapati dirinya berada di rumah sakit, dalam sebuah kamar yang interiornya tampak mewah. Maila tidak terkejut ketika melihat Rei berada disisinya. Menunggui sambil menatapnya dengan sorot mata sedih. “Kamu sudah sadar?” tanya pria itu hati-hati tidak ingin membuat Maila takut padanya. “Iya.” “Dokter bilang kamu hanya demam dan terlalu lelah. Kamu harus istirahat.” Maila menggangguk. Keduanya saling bertatapan sebentar, dan sama-sama merasa canggung. Maila kemudian menatap sekeliling dan menyadari sesuatu. “Raina?” “Ada di rumahku. Dia bersama ayah dan ibuku.” Mata cokelat Maila membeliak takut. “Tidak. Tidak, kamu tidak boleh mengambilnya dariku, kamu ….” “Istirahatlah Maila, aku tidak akan memisahkanmu dan Raina. Aku janji,” ucap Rei sambil berusaha membujuk Maila untuk berbaring kembali. “B-benarkah?” “Hn.” “Terimakasih. Tapi keluargamu?” “Mereka sudah tahu. Aku menceritakan semuanya pada mereka. Ayah dan Ibuku menerima kamu dan Raina dengan senang hati, mereka tidak keberatan dengan profesimu yang kelam, asal kamu mau meninggalkannya.” Kening Maila berkerut, coba mencerna perkataan Rei. “Keluargaku menyayangi Raina dengan sepenuh hati. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Dia cucu yang sudah lama dirindukan Bramastya.” Maila mengangguk mendengar penjelasan Rei. Dia merasa lega, tapi ada sesuatu yang mengganjal. “Lalu istrimu? Aku tidak mau kami menjadi beban ….” “Aku dan Stella sudah sepakat untuk bercerai. Berkas-berkasnya sudah masuk pengadilan.” “A-APA? Tapi ….” “Tenanglah Maila, ini tidak ada hubungannya denganmu ataupun Raina. Aku dan Stella menikah hanya demi ikatan bisnis dan tanpa cinta. Sejak awal pernikah kami memang sudah tidak harmonis. Kami memutuskan hal ini sebelum aku tahu bahwa Raina adalah anakku. Jadi kumohon tenanglah dan jangan merasa bersalah.” Hening. Beberapa saat kemudian Maila mengangguk untuk menjawab perkataan Rei. Perempuan bersurai gelap itu terkejut ketika Rei tiba-tiba meraih dan menggenggam tangannya erat. “Rei?” “Aku tahu setelah semua yang terjadi padamu. Setelah semua penderitaan yang kamu dan Raina lewati, aku tidak pantas meminta ini. Tapi aku tidak mau kehilangan kalian lagi.” Jantung Maila berdegup kencang. Dia tahu kemana arah pembicaraan ini, tapi dia bingung harus menjawab apa. “Kamu boleh menganggap aku lelaki egois atau apapun. Tapi aku ingin kamu menikah denganku, menjadi istriku, pendamping hidupku hingga tua dan ajal menjemput, dan menjadi ibu untuk adik-adik Raina yang akan lahir nanti. Aku tidak menerima penolakan, aku hanya menerima jawaban ‘iya’ untuk permintaan ini,” kata Rei tegas. Sekilas sorot takut akan penolakan Maila terlihat di matanya. “Aku.  Aku … perasaanku padamu dari dulu hingga sekarang masih tetap sama,” ungkap Maila jujur, “tapi setelah semua yang aku dan Salada alami. Aku masih takut untuk memulai hubungan lagi—apalagi denganmu. Aku tidak bisa … kumohon beri aku waktu,” pinta Maila akhirnya. Rei tediam. Kekecewaan terlihat jelas di wajahnya, namun dia tetap mengangguk menghormati permintaan Maila. Dia tahu kalau dia harus berusaha keras untuk meyakinkan perempuan itu bahwa perasaannya juga masih tetap sama seperti dulu. Dia mencintai Maila, dan sekarang dia malah makin mencintainya setelah mengetahui perjuangan Maila dalam mempertahankan buah cinta mereka, tak peduli pada masa lalu Maila yang kelam. Dia membuat catatan mental agar melakukan hal yang terbaik supaya dia bisa membina keluarga bahagia dengan Maila dan Raina. “Aku akan memberimu waktu yang kamu butuhkan. Tapi kamu harus ingat, kamu tidak bisa lari atau keluar lagi dari hidupku.” Rei memiringkan kepalanya lalu tersenyum tipis, “Mama Raina adalah milik Papa Raina. Camkan itu baik-baik.” Maila merasakan wajahnya memanas mendengar perkataan Rei. Mama Raina milik Papa Raina? Oh God, entah kenapa perkataan itu terdengar sangat romantis di telinganya. Rei dan Maila berbincang selama beberapa menit (mengenai hutang Maila pada Mami Renata yang katanya sudah dibayar lunas oleh Rei.) Setelah itu keluarga Rei datang menjenguk bersama Raina dan dua anak kecil menggemaskan lain. Seperti yang sudah Rei katakan bahwa keluarganya tidak memiliki masalah dengan masalalu dari ‘ibu’ sang cucu kandung yang kelam. Saat tiba di rumah sakit, ibu dan kakak ipar Rei langsung memeluk Maila dengan penuh kasih sayang. Nyonya Hana, ibu Rei, berkata bahwa dia bangga pada Maila. Dan dia bilang, jika dia yang mengalami hal itu, dia pasti sudah berpikir untuk membunuh anaknya lalu bunuh diri. Dia juga bertanya, kapan Maila akan Maila akan bergabung dengannya dan Ana? Menambah nama Bramastya dibelakang Mikaila. Hal itu membuat Maila tersipu. Sementara Ayah Rei hanya tersenyum tipis, sangat tipis jika boleh ditambahkan, padanya. Lelaki berwajah tegas itu hanya mengucapkan satu kata untuk Maila. “Kamu harus jadi menantuku,” bagitu ucapnya. Sedangkan kakak dan kakak ipar Rei, memuji bahwa dia dan Rei sangat hebat karena bisa membuat anak yang cantik dan hebat seperti Raina. Maila bersyukur bahwa keluarga Rei bisa menerimanya dan Raina tanpa peduli pada pekerjaan kotornya di masa lalu. Tidak semua orang kaya dan berada memiliki sikap buruk dengan  merendahkan profesi kelam orang lain. Dia berharap, kehidupannya setelah ini bisa jadi lebih baik. Membangun keluarga bahagia dengan Rei, Raina, dan juga keluarga Bramastya. Ah, dan jangan lupa keluarganya sendiri. Maila membuat catatan mental untuk mengunjungi kedua orang tuanya di Nusa Tenggara dan meminta maaf pada mereka, setelah mentalnya siap nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN