Mawar dan Puisi

1232 Kata
Shania. Namamu indah, seindah bunga mawar ini. Melihatmu, membuat aku merasa bumi ini berhenti berotasi. Senyummu mengalahkan kehangatan mentari di pagi hari. Shania. Aku tak mengerti mengapa pikiran dan hatiku tak terkendali. Tiap netra ini menangkap bayangmu. Aku tak mengerti mengapa. Pesonamu menjadi rangsangan, dan hatiku layaknya reseptor yang menciptakan sebuah efek luar biasa. Efek dalam bentuk rasa, rasa yang sulit terkendali. Shania. Maaf jika sikapku membuatmu kecewa. Maaf jika aku menyakitimu. ‘Menyesal?’ Mungkin hanya kata itu yang dapat mewakili perasaanku. ‘Maaf.’ Adalah kata yang aku harapkan mampu memperbaiki kesalahan ini? From Unknown Man Shania mengerutkan alisnya. Setangkai mawar merah yang masih segar dengan sepucuk surat berisi puisi tergeletak di atas meja kerjanya. Wanita itu mengedarkan pandangan, mencari-cari siapa yang masuk ke ruang kerjanya. “Dari siapa ini?” monolognya. “Hai cantik.” Kayla masuk dengan senyum cerahnya di wajahnya. “Dari mana saja kamu tadi malam?” Shania langsung menanyakan keberadaan Kayla setelah insiden aneh yang terjadi malam sebelumnya. “Ya ... pulang,” jawab Kayla singkat. “Pulang.” Wajah Shania bingung. “Maksudmu pulang ke apartemen?” tanyanya memastikan. “Iya.” Lagi-lagi Kayla hanya menjawab dengan jawaban yang singkat. Shania semakin bingung. Pasalnya Kayla jarang sekali pulang ke apartemennya. Wanita itu lebih suka tidur di ruko. Setidaknya itulah yang Shania ketahui selama ini. “Kamu pasti ada masalah. Makanya memilih pulang ke apartemen,” tuding Shania. “Nggak. Mau pulang ke sana aja. Soalnya sudah lama tidak dibersihkan,” kilah Kayla. “Jangan bohong.” Shania tidak langsung percaya. Dia yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh Kayla. “Wah apa ini?” Kayla melihat sebuah mawar merah dan dia langsung mengambilnya. “Ya mawar. Memangnya yang kamu lihat itu bunga apa,” jawab Shania agak kesal. “Yaelah judes amat,” Kayla mulai drama. “Maksud aku dari siapa ini?” “Nggak tahu. Baru masuk itu bunga sudah ada di atas meja.” “Ciee yang punya penggemar rahasia.” Goda Kayla dengan menaikkan satu alisnya. “Apaan sih Kay. Justru aku bingung siapa yang ngasih itu bunga.” Shania menghela napas. “Atau jangan-jangan ini ulahmu ya?” tuduh Shania. “Hei. Sejak kapan kau menjadi orang yang suka menuduh tanpa bukti,” jawab Kayla sewot. “Atau jangan-jangan ini dari Pak Ziko. Oh Tuhan ... so sweet banget deh.” Shania hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya itu. Dia memilih keluar dari ruangan, mencari pegawai yang bertugas membersihkan ruangan. “Mery.” “Ya, Bu.” Gadis bernama Mery itu segera mendekati Shania. “Tadi yang bersihkan ruangan saya siapa ya?” “Saya sendiri, Bu.” “Benaran kamu? Bukan Laila?” “Bukan, Bu. Hari ini yang bersihkan lantai 2 saya. Kalau Laila bersihkan lantai 1 sama halaman depan.” “Berarti kamu dong yang naruh mawar sama surat di atas meja saya?” “Hah. Surat sama mawar. Maksudnya, Bu? Saya tidak paham. Surat sama mawar apa ya?” tanya Mery dengan ekspresi bingung. “Kamu jangan bohong Mer. Ayo ngaku. Siapa yang nyuruh kamu?” desak Shania. “Saya benar-benar tidak paham apa maksud Ibu. Saya tidak meletakkan apa pun di meja Ibu tadi pagi. Apalagi surat sama mawar yang barusan Ibu katakan.” “Kenapa Shan?” Kayla menghampiri dua wanita itu. “Ada apa? Perihal mawar itu?” “Iya. Aku bingung dari mana asal mawar itu. Makanya aku tanya Mery, dia yang membersihkan lantai 2 tadi pagi.” Kayla menatap Mery dengan tatapan mengintimidasi. “Mer. Sebaiknya kamu jawab jujur. Siapa yang menyuruhmu?” Mery yang ditatap seperti itu merasa ketakutan. Tapi sebelum dia menjawab, tiba-tiba suara seseorang yang sangat dikenal oleh Shania terdengar. “Shania.” Tiga wanita itu sontak menoleh ke arah sumber suara. Shania terkejut. Begitu juga Kayla. Namun sedetik kemudian, sahabat Shania itu melangkah maju dengan cepat. “Ngapain kau kesini b******k!” teriak Kayla. Dia sudah menunjukkan tinju ke arah depan. “Kau ini apa-apaan sih. Aku tidak ada urusan denganmu. Dasar wanita tidak jelas!” maki Arman. “Shania.” “Ngapain kamu ke sini Mas?” tanya Shania. Suaranya datar. Bahkan raut wajahnya sangat keruh. Arman hanya bisa menahan Napas melihat bagaimana sikap yang ditunjukkan oleh Shania kepadanya. Dulu, tidak pernah Shania bersikap seperti itu kepadanya. Shania selalu baik, penurut, dan enak diatur. “Ah. Em ... bagaimana mawarnya? Kamu suka?” tanya Arman dengan sedikit gugup. Mendengar pertanyaan tersebut. Mata Kayla melotot tak percaya. Sedangkan Shania, wanita itu menyipitkan mata tanda ia sedang bingung sekaligus mencerna perkataan yang terlontar dari mulut mantan suaminya itu. “Bagaimana? Sejak dulu mas tahu kamu sangat suka bunga mawar, Dek. Makanya mas kirimkan sebagai pertanda maaf.” Arman mendekati Shania dan ingin meraih tangan mantan istrinya itu. Namun dengan cepat Kayla menarik tubuh lelaki tersebut agar menjauh dari sahabatnya. “Hei. Laki-laki tidak tahu diri. Urat malumu sudah putus ya?!” sindir Kayla. “Dengan mudahnya kau ingin meminta maaf. Setelah apa yang kau lakukan. Terlebih tindakanmu beberapa waktu lalu yang sangat menjijikkan. Ciuh!” “Jika kau tidak mengerti akar permasalahannya. Lebih baik tutup mulut sampahmu itu.” Otot rahang di pipi Arman tercetak jelas. “Apa kau bilang. Hah!” Kayla tidak terima dihina seperti itu. Dia menggulung lengan baju, bersiap adu tinju. “Sudah-sudah. Cukup!” teriak Shania. “Mas, jadi benar kamu yang kirim mawar itu?” “Iya dek. Mas yang kirim. Kamu dulu sangat suka kalo mas beliin bunga. Terutama mawar,” jawab Arman. Senyum di wajahnya membuat Kayla ingin muntah. “Huh.” Shania menarik napas. “Sebaiknya ambil kembali mawar itu Mas. Aku tidak berhak menerima apa pun lagi darimu. Seharusnya yang kamu perhatikan sekarang adalah Rivanka. Bukan aku.” Sekuat tenaga Shania menahan hatinya saat mengatakan hal tersebut. “Tapi mawar itu khusus untukmu, Dek. Susah payah mas menyuruh orang untuk menitipkan mawar tersebut kepada pegawaimu itu,” ucap Arman sambil menunjuk Mery. “Jadi benar kamu yang meletakkan mawar tersebut Mer?” tanya Shania. Dia sedikit kecewa dengan pegawainya itu. “Maaf, Bu. Saya mengaku salah. Saya ditawari uang dengan jumlah yang banyak. Kebetulan lagi butuh uang untuk bayar hutang. Jadi ketika ada seorang pria yang menyuruh saya meletakkan mawar dan surat di meja Ibu. Saya terpaksa mengiyakannya,” jawab Mery. Wajahnya tertunduk dalam. “Saya pikir itu dari penggemar rahasianya Ibu,” lanjutnya. Shania kembali ke ruangannya. Tak lama kemudian dia kembali sambil menyodorkan mawar dan surat tersebut di depan Arman. “Ambil ini Mas!” ucapnya dengan tegas. “Tidak, Dek. Mas tidak mau mengambil apa yang sudah mas berikan kepadamu. Maaf jika kamu merasa risi dengan semua ini. Tapi mas tetap ingin kembali denganmu dan akan berusaha memperjuangkan hubungan kita lagi.” “Dasar laki-laki laknat!” Kayla berlari mengambil sebuah pot bunga. Dengan tatapan nyalang, wanita itu sudah siap untuk melempar pot tersebut ke arah Arman. “Pergi, sebelum benda ini menghancurkan otakmu yang kosong itu!” “Kau ...” Arman menunjuk Kayla. Tapi dia juga tidak mau ambil risiko jika Kayla berbuat nekat. “Mas tidak akan menyerah, Dek.” Usai berkata demikian, Arman pun segera pergi tanpa membawa mawar dan surat yang ada di genggaman Shania. “Shania!” Kayla berteriak sambil meletakan kembali pot sebelum menghampiri sahabatnya. Tubuh Shania lemas. Kakinya bahkan tak bisa lagi menopang tubuhnya. Shania merasa lelah dengan sikap Arman. Dia merasa Arman belum cukup puas membuat hidupnya menderita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN