Calon Mantu

1491 Kata
Mata Arman tidak berkedip sama sekali saat melihat betapa cantiknya Shania malam ini. Dress merah dengan belahan hingga lutut serta tanpa lengan kontras dengan kulitnya yang putih. “Wah. Akhirnya orang yang ditunggu-tunggu telah datang. Hadirin sekalian. Mari kita sambut, calon menantu saya. Shania Azzahra.” Tiba-tiba Emran kembali naik ke atas panggung dan mengumumkan sesuatu yang membuat banyak orang tercengang. Shania apalagi. Dia bahkan membeku. Sedangkan Kayla hanya senyum-senyum tidak jelas. “Apa maksud Pak …” ucapan Shania terhenti saat melihat sahabatnya tengah menahan senyum. Shania menatap curiga. ”Apa ini semua rencanamu?” Tudingnya. Kayla selalu saja menyuruhnya untuk mencari pengganti Arman. Namun, semua itu tidak pernah digubris oleh Shania. Selain karena baru sekitar 1 bulan bercerai. Dirinya juga belum kepikiran untuk menjalin hubungan spesial dengan pria mana pun. “Hehehe …” Kayla hanya nyengir tanpa menjelaskan apa pun. “Ayo kasih tahu! Apa maksud Pak Emran?” desak Shania. “Bukannya sudah jelas. Dia mau kau jadi calon menantunya. Aku mana tahu.” “Kalau nggak tahu kenapa senyum-senyum gitu?” Shania lantas tak mudah percaya dengan ucapan sahabatnya itu. “Ya udah kalo nggak percaya. Ayo jalan lagi!” Kayla tidak ingin terus mendapat pertanyaan dari Shania. Dia langsung menarik tangan sahabatnya tanpa memedulikan wanita itu yang terus bertanya. Sedangkan di atas panggung. Ziko menatap kedua orang tuanya penuh pertanyaan. Apa maksud dari ucapan papanya? calon menantu? siapa? Shania dan Riko? batinnya. Papanya pernah berniat menjodohkan Shania dengan Riko. Tapi mengapa Ziko merasa tidak terima. “Apa maksud Papa?” bisik Ziko. “Kenapa? Sudah jelaskan. Shania akan menjadi menantu di keluarga kita.” “Papa tidak main-main ingin menjodohkannya dengan Riko?” Baik Emran maupun Lita saling berpandangan sambil tersenyum. Kemudian kembali menatap Ziko dengan tatapan penuh misteri. “Awalnya iya. Tapi setelah dipikir-pikir. Sebaiknya rencana itu kami gagalkan.” Kini Lita yang berbicara. “Maksud Mama?” Ziko semakin tidak paham. “Ya. Kami ingin menjodohkan Shania dengan kamu saja,” jawab Lita dengan entengnya. “Hah!” Mata Ziko melotot. Dia kemudian beralih menatap Shania yang berada di bawah. Wajah anggun nan cantik mampu menghipnotis. “Ziko. Hei!” “Auhh …” Ziko mengelus lengannya yang terasa perih. Semua orang hanya diam melihat interaksi keluarga Emran. Beberapa dari mereka masih ada yang belum bisa mencerna situasi sekarang. Termasuk Arman. “Mama apa-apaan sih. Malu dilihat orang,” Ziko menggerutu. “Kamu itu yang apa-apaan. Kenapa melamun. Kerasukan setan?” ucap Lita tak kalah sewot. “Gimana Ziko. Kamu setuju dengan rencana kami?” tanya Emran. “Ayo jawab. Kalau nggak mau ya udah. Shania kami jodohkan dengan abangmu saja.” Lita geram dengan anaknya yang terlihat linglung. “Eh. Mau Ma.” Tiba-tiba Ziko menjawab menggunakan mikrofon. Membuat semua orang mendengar suaranya. Emran dan Lita berusaha menahan diri agar tidak tertawa. Tingkah Ziko sungguh konyol. Sedangkan Ziko sudah merasa tidak memiliki muka. Ziko memang belum tahu apa dia tertarik dengan Shania atau tidak. Tanpa dipungkiri, Grace masih menetap di hati. Namun, Ziko lebih tidak rela jika wanita seperti Shania harus bersama abangnya yang cassanova itu. Jauh dalam lubuk hati, dia yakin Shania gadis baik-baik. “Kalau begitu kami persilakan untuk Shania naik ke atas panggung!” Mendengar ucapan dari Lita. Kayla langsung mendorong tubuh Shania hingga wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain terpaksa naik. Sungguh Shania merasa bingung sekaligus merasa terjebak. Dia tidak menyangka, acara malam ini akan seperti ini. Shania yakin pasti Kayla ada andil. Awas aja kau Kay, ucap Shania dalam hati. “Hadirin sekalian. Malam ini bukan hanya sekedar perayaan kelulusan putra kami. Melainkan juga acara peresmian hubungan antara Ziko dengan calon tunangannya, Shania. Mereka memang sudah lama menjalin kasih. Tapi baru mempublikasikan hubungan mereka malam ini,” ujar Lita panjang lebar. Dia sangat santai, seakan-akan ucapannya benar. Padahal hanya karangan belaka. Shania melihat wanita yang berbicara di sampingnya. Dirinya baru teringat bahwa wanita ini adalah seseorang yang pernah ia temui di panti asuhan. Meski pertemuan itu sudah berlangsung sekitar 1 tahun yang lalu, tapi Shania masih ingat. “Ibu Lita,” gumam Shania. Dia baru tahu jika wanita bernama Lita itu adalah istri dari seorang pengusaha terkenal. Keluarga Emran memang jarang diliput oleh media. Bahkan beberapa dari anggota mereka juga tidak pernah aktif di media sosial. Ziko dan Riko juga tidak pernah mengatakan kepada publik jika mereka putra dari Emran. Lita pun sama. Hanya beberapa kalangan yang tahu bahwa dirinya adalah istri dari seorang pengusaha terkenal. Wajar jika Shania tidak mengenalinya. Semua orang masih belum bisa mempercayai informasi yang baru saja terdengar. Terlebih untuk Arman dan para karyawan wanita yang memang menaruh hati pada Ziko. “Jadi ... selama ini Shania sudah berselingkuh dariku,” gumam Arman. Sakit. Itulah yang dirasakan olehnya saat ini. “Auhh! Kamu ini apa-apaan sih Mas!” Rivanka melepas tangan Arman dengan kasar. Dia mengaduh kesakitan karena Arman bukannya menggenggam tangannya justru meremas dengan sangat kencang. Arman tidak memedulikan Rivanka. Dia berjalan ke arah pintu dan pergi meninggalkan ruangan. Hatinya sakit. Seperti ada sembilu yang menyayat bertubi-tubi. Dia tidak terima jika Shania sudah menjalin kasih di belakangnya. “Ternyata kau sama busuknya. Dasar wanita murahan.” Arman terus memaki meski Rivanka berteriak di belakangnya. Semua orang bertepuk tangan setelah keluarga Emran bersama Shania turun. Kini mereka berempat bergabung bersama Kayla di meja yang sama. “Selamat bestie. Bentar lagi jadi nyonya muda keluarga Syah.” Tanpa merasa bersalah, Kayla memeluk sahabatnya. Dia tidak tahu saja jika Shania menahan diri untuk tidak menjewer telinganya. Semuanya duduk menikmati makan malam yang disajikan. Shania awalnya ingin duduk di samping Kayla. Namun justru sahabatnya itu dibantu oleh Lita memaksa Shania duduk di samping Ziko. Mau tak mau Shania dengan perasaan tak nyaman menurut. Sedangkan pria di sampingnya terlihat sangat cuek. “Selamat Bro.” Seorang pria datang dan merangkul pundak Ziko. Pria itu menggendong seorang pria kecil berusia sekitar 4 tahun. Jika tadi Shania yang dibuat terkejut. Kini giliran Kayla yang hampir saja menyemburkan makanan yang ada dalam mulutnya. Mata melotot, melihat siapa yang berada tepat di depannya saat ini. Beberapa kali Kayla mengedipkan mata. Berharap matanya saat ini sedang rabun. “Papa curang. Katanya Shania mau dijodohkan denganku,” ujar Riko. Ziko yang mendengar itu langsung menatap sinis. Sedangkan Shania merasa risi. Memangnya aku ini apa? gerutu Shania dalam hati. Kayla masih memandang Riko dalam diam. Memang sudah lama sekali, tapi ingatan Kayla masih segar. Sesaat kemudian garpu di tangan jatuh. Menghasilkan bunyi dentingan yang menarik perhatian. “Kamu kenapa Kay?” tanya Shania. Riko beralih menatap seorang wanita yang berhasil membuatnya terpaku juga. Wanita ini, batin Riko. Beberapa kali matanya mengerjap. Memastikan jika wanita yang dia lihat itu, perempuan yang selama ini dicari. Kayla juga bingung harus bagaimana. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang tidak ingin ditemui lagi. “Emm ... maaf. Saya izin ke toilet sebentar.” Tanpa menunggu jawaban. Kayla langsung pergi. Riko pun melakukan hal yang sama. Dia mengejar Kayla. Membuat semua orang bertanya-tanya. Apa hubungan antara keduanya? “Mereka punya hubungan?” gumam Lita. Di sisi lorong yang agak sunyi. Riko masih membuntuti Kayla. Wanita itu berjalan tergesa-gesa. “Hei tunggu!” Riko akhirnya bisa meraih lengan Kayla. “Lepas!” Kayla memberontak. Riko tidak peduli. Dia langsung menyeret Kayla masuk ke dalam toilet. Menyandarkan tubuh ramping itu dan langsung mengungkungnya. Netra mereka beradu dalam diam. Selama beberapa menit tidak ada satu pun yang bersuara. “Akhirnya kita bertemu kembali.” Pada akhirnya Riko mulai membuka mulutnya. “Heh. Maaf, Anda siapa? Sepertinya kita tidak saling kenal,” ujar Kayla. Namun nada suaranya terdengar sinis. “Ternyata kau masih sama saja. Galak.” Balas Riko diakhiri senyum mengejek. “Sudahlah. Jangan ganggu saya!” Kayla ingin lepas. Tapi tidak dibiarkan begitu saja oleh Riko. “Tidak bisa. Kau harus jelaskan semuanya dulu!” “Hei Tuan muda yang terhormat. Apa yang harus saya jelaskan kepada Anda? Di antara kita sudah selesai.” “Argh!” Riko berteriak kesakitan saat Kayla tiba-tiba menggigit tangannya dan segera kabur. “Aduh. Awas kau Kayla. Sudah saatnya semua perlu diluruskan,” ucap Riko sambil mengelus lengannya yang perih. Sedangkan Kayla memilih untuk keluar dari restoran lewat pintu darurat. Dia berhenti di sebuah parkiran dan mencoba menenangkan diri. Dadanya sesak. Air mata yang ditahan sekuat tenaga akhirnya keluar juga. “b******k!” Kayla melampiaskan amarah dengan menendang-nendang mobil yang terparkir. “Kenapa harus melihat wajahnya lagi. Arghh ...!” Di dalam restoran. Shania merasa khawatir karena sahabatnya tidak kunjung balik. “Ada apa Shania?” tanya Lita sambil menyentuh lengan Shania. “Kenapa Kayla belum balik juga ya, Tan?” suaranya agak bergetar. “Saya permisi untuk menyusul Kayla dulu ya Tante Lita, Pak Emran.” “Biar saya temani.” Ziko ikut berdiri. Membuat kedua orang tuanya menahan senyum. “Tidak perlu Pak Ziko,” ucap Shania tidak nyaman. “Sudah. Jangan membantah! Kau harus belajar untuk menuruti perkataanku mulai saat ini.” Ziko langsung menarik tangan Shania.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN