FAM 9 Attack

3270 Kata
TIDUR yang paling tidak nyaman dalam sejarah hidup Flora—sejauh yang bisa diingatnya selain ketiduran dengan baju basah saat perkemahan. Entah harus berapa kali Flora menjelaskan keadaan ranjangnya yang tidak nyaman sama sekali untuk meyakinkan kalau ranjangnya memang setidak nyaman itu. Bahkan untuk ukuran orang yang sudah mengantuk, sulit tidur dengan nyenyak. Dan suara-suara di malam hari, rasanya tidak mau berhenti barang sedetik saja. Sejak kapan Albany jadi seribut ini di tengah malam? Hanya tunawisma yang masih berkeliaran di jalan—dan orang yang tidak ada kerjaan mengganggu tidur orang lain. Bukan suara pemutar musik atau orang-orang yang mencari kesenangan tengah malam, tetapi suara hewan. Dari yang melengking hingga yang meringis semuanya bergantian mengganggu malam. Sudah tidak nyaman ditambah telinganya yang tidak bisa beristirahat membuat Flora mudah sekali terbangun. “Ada apa dengan selimut ini? Bisa-bisanya begitu pelit sampai tidak ada tambahannya sama sekali, hanya kain tebal yang tak cukup menghangatkan tubuhku,” gerutu Flora kembali mengubah posisi selimutnya, mencari cara agar terasa hangat yang pas dibutuhkannya. “Bagaimana orang-orang di sini bisa tidur tanpa bangun? Tidur saja rasanya seperti neraka. Dingin dan gerah dengan arah yang tak jelas. Belum lagi suara-suara binatang yang tidak ada habisnya. Aku akan punya mata panda jika di sini lebih lama.” Flora terlonjak waspada begitu mendengar suara tepat di depan pintunya, sekejap sebelum pintu itu terbuka. Tidak ada siapa-siapa selama beberapa saat. Matanya melotot, refleks mencengkeram selimut dan berusaha menyembunyikan dirinya sendiri. “S-siapa di sana?” Sebuah tangan muncul dari balik pintu membuat napasnya tersengal, kemudian disusul sosok pria yang tidak bisa dilihat. Tempat ini terlalu gelap, hanya mengandalkan cahaya bulan dari luar sana. Flora ingin berpikiran positif bahwa orang tersebut salah masuk kamar, tetapi dia juga tidak bisa menampik merasa diperhatikan oleh seseorang itu. Sementara napasnya tersengal, napas pria itu justru terdengar berat dan pelan. Seolah menghirup napas saja memerlukan tenaga yang banyak. “Mate,” desis si pria. Flora semakin beringsut ke kepala ranjang. “Kau siapa?” Tangannya meraba-raba laci, ingin mencari sesuatu yang bisa membantunya melihat dalam gelap. “Sial. Aku lupa tak ada ponsel atau lampu tidur.” Gawat, pria itu semakin mendekat. Siluetnya memerangkap jalan kabur Flora, tanpa disadari sudah berada tepat di depannya. Bahkan pria itu menahan kakinya agar tidak bergerak semakin menjauh, semakin memerangkap Flora yang memang sudah tidak bisa ke mana-mana. “Mate.” Pria itu kembali mendesis. Hembusan napasnya terasa dingin di wajah Flora yang justru membuatnya semakin gelisah. Di benaknya sudah berkumpul semua prasangka buruk bahwa ini hari terakhirnya hidup, pria itu akan membunuhnya, dan mayatnya akan ditemukan beberapa tahun kemudian. Dan yang paling terburuk, tampaknya pria itu memang salah masuk kamar. “A-aku bukan mate. Sepertinya kau salah kamar.” “Tidak, Mate.” Seseorang itu semakin menekan Flora di antara kepala ranjang dan tubuhnya. Kepalanya tidak terlihat karena si pria menunduk, membuat rambutnya yang berwarna kepirangan menutupi Flo dari melihat wajahnya. Namun, Flora tidak bisa menampik kalau dia merasa pernah mencium parfum orang ini. Tibalah saat orang itu tersebut mendongak dan terkena cahaya bulan, Flora melotot dan berseru, “Damian?! Kau menakutiku asal kau tahu!” Bukannya menyingkir, Damian malah merubuhkan tubuhnya menimpa Flora. Tidak tercium aroma alkohol sama sekali, tetapi pria itu seperti mabuk dengan matanya tak tidak fokus dan omongannya melantur.  “Hei, menyingkir! Kau punya kamarmu sendiri, jangan menyusahkanku begini, astaga!” Flora berusaha menyingkirkan tubuh Damian yang jauh lebih besar dibandingkan dengannya, Damian tidak bergerak sama sekali. Untuk menggerakkan tangannya membuat ruang agar Damian terbangun saja sangat susah. Damian yang semula Flora kira pingsan ternyata masih sadar. Pria itu mengendus lehernya dan berbisik, “Aku sudah membujuknya sejak lama agar segera menandaimu.” Damian menyingkap helai rambut yang tergerai ke depan. “Tapi Damian tidak mau mendengarkan.” “Damian, kau mabuk? Kau melantur.” “Aku sudah gila sejak pertama kali kita bertemu dan aroma ini tidak bisa membuatku tenang. Aku ingin memilikimu seutuhnya, tidak boleh ada wolf lain yang tergiur dengan aromamu.” Ayolah, ini hanya Damian, jangan sampai takut. Flora harus menyembunyikan tangannya yang bergetar menghadapi Damian yang entah kenapa sangat aneh. “Kau bicara apa sih? Jangan begini, Damian. Ayo, aku akan mengantar ke kamarmu.” Sekali lagi Flora berusaha memindahkan tubuh besar pria itu agar dia bisa bebas, tetapi Damian malah menahan kedua tangannya di atas kepala dan menggeram, “Kenapa kau tidak bisa diam?!” Mata merah pria itu menatap Flora dalam. “Aku tidak bisa muncul kapan saja, Mate. Damian pasti akan marah besar jika sudah sadar nanti.” “Damian, kenapa ada taringnya?” gumam Flora tertuju pada kedua gigi yang mencuat dari balik bibir atas Damian. “Berhenti memanggilku Damian, Mate. Panggil aku Dane.” “Tolong jangan begini, aku takut.” Damian yang sedang diambil alih oleh Dane mengelus lembut pipinya, kemudian berbisik, “Tidak ada yang harus ditakuti. Semuanya akan berlalu cepat sekali.” Gigi tarinya mengkilap terkena cahaya bulan, menertawakannya di depan ketakutan Flora yang menjadi-jadi. Mata merah Damian—Dane—mengawasi lehernya dengan senyum mengerikan. Pria itu membuka mulutnya lebar-lebar. Flora memekik tertahan saat menduga pria itu akan menggigit lehernya. Damian malah mengerang dan memegangi kepalanya, menyingkir dari Flora. Pria itu tampak kesakitan dengan ringisannya yang terdengar tersiksa. “Dane, kau baik-baik saja?” “Aku—” “Dane. Dane, kau kenapa?” Melupakan apa yang baru saja terjadi, pria itu tetap kesakitan dan Flora tergerak untuk menolongnya. Damian terdiam beberapa saat, tak ada suara sama sekali. Tak lama dia mendongak dengan tampang bingung dan menekan pelipisnya. “Flora,” gumam Damian. “Dane tidak melakukan sesuatu yang buruk, ‘kan?” Flora menggeleng tak mengerti. “A-apa?” “Aku ... aku tidak melakukan sesuatu, ‘kan?” Dia melirik leher Flora yang—untungnya—tidak ada bekas apa pun. “Aku tidak menggigitmu, ‘kan?” “Kau ini kenapa sih? Kau bertingkah sangat aneh asal kau tahu! Kau membuatku takut setengah mati dengan menyelinap begitu!” Damian merengkuhnya, cukup kuat sampai Flora tidak bisa memberontak dan berusaha melepaskannya. “Maafkan aku. Aku belum bisa mengatakannya sekarang,” bisik Damian mengelus surai Flora. Flora bergumam, “Ya, kalau begitu jangan katakan apa pun.” *** Salah satu hari yang merepotkan bagi seisi pack di mana akan ada banyak suara ledakan yang terdengar. Semuanya memiliki bagiannya masing-masing mulai dari meledakkan semua jebakan, membawa jebakan yang baru, hingga memasangnya. Semuanya harus dilakukan dengan cepat agar tidak ada hal buruk yang terjadi. Bisa saja para penyihir itu yang melakukannya, tetapi itu bukan tugas mereka dan rasanya tidak adil. Selagi masih ada Alpha dan warior, mereka masih sangat mampu mengerjakan semuanya sendiri, terutama hal besar seperti ini. Lagi pula kegiatan bersama akan membuat mereka semakin dekat. “Xav, semuanya sudah siap?” “Sudah, Alpha. Hanya saja, warior yang ada di perbatasan tidak akan cukup untuk melakukan tugas ini dalam satu hari. Kau tahu sendiri jika kita meluangkan banyak waktu sama dengan memberi kesempatan para rogue dan Megamoon Pack untuk berbuat onar.” “Jadi, solusi apa yang kau punya?” “Sepertinya kita harus menarik sebagian besar warior mansion untuk membantu juga. Dengan jumlah yang banyak, tugas ini akan selesai dalam waktu kurang dari sehari.” Damian mengangguk—sebenarnya tidak begitu memperhatikan. “Kau atur saja, Xav. Aku harus menemui Flora dulu.” Sejak kembali dari kamar Flora semalam, Damian tidak bisa berhenti memikirkannya dan berusaha mengingat apa saja yang dilakukan Dane. Meski tidak menandainya saja sudah cukup, tetapi Flora pasti merasa kebingungan dengan pembawaan mereka berdua yang berbeda. “Oh ya, ada apa dengan Luna? Dia tidak turun untuk sarapan, tidak juga mau berbicara saat aku mengatakan tentang kesibukan kita hari ini,” ujar Xavior. Damian mendesah berat. “Semalam Dane lepas kendali. Dia menyelinap ke kamar Flora dan ....” “Menandainya?” “Tidak, belum terlambat saat kami berganti shift. Tapi Flora semakin kebingungan dan menuntut penjelasan. Dia sangat marah karena mengira aku mempermainkannya. Sepertinya Dane sudah membicarakan tentang sesuatu, aku juga tidak begitu ingat.” “Baiklah. Kau temui saja Luna, biar aku yang mengurus hal ini. Kau tahu ‘kan kalau Luna sangat penting untuk masa depan pack.” “Jangan lupa tempatkan beberapa warior di depan kamar Flora. Aku tak ingin dia melakukan hal bodoh lagi.” Xavior mengangguk, menambah perintah Damian ke dalam tugasnya sementara sang Alpha pergi. “Flora.” Flora mendelik, tidak mau menoleh dari menatap pemandangan. “Tidak bisa mengetuk pintu?” Gugup, canggung sekali. Damian mengusap tengkuknya, merasa tidak enak. “Aku minta maaf soal semalam. Aku ingin menjelaskannya padamu, tetapi waktunya belum tepat. Kau masih memerlukan persiapan untuk mengetahui segalanya.” “Terserahlah. Kau bisa mengatakan apa pun yang kau mau. Aku hanya tawananmu di sini.” Damian memiliki banyak perkataan yang ingin diucapkannya selain ‘maaf’ atau hal-hal yang kurang lebih begitu, tetapi dia tidak akan mampu untuk sekarang. Lagi pula waktunya terbatas, di bawah sana para warior sudah menunggunya untuk berangkat ke perbatasan. Dengan berat dan terpaksa, Damian kembali ke pintu. “Ada beberapa warior yang berjaga di depan pintu jika kau butuh sesuatu. Aku tidak ingin kau kabur, tapi aku percaya kau memang tidak akan melakukannya. Aku akan segera kembali.” “Jika ada yang mengharapkanmu kembali, bukan aku orangnya,” ujar Flora masih tetap membelakanginya. Damian memejamkan mata dengan posisi masih di depan pintu. ‘Bagus, Dane, kau membuat mate kita jadi marah begini. Salahmu tidak bisa menunggu.’ ‘Kau yang terus saja menunda tanpa alasan logis. Moon Goddes sudah memberikannya pada kita, apa lagi yang kau tunggu?” ‘Kau tidak mengerti. Dia berasal dari dunia yang berbeda.’ ‘Lalu apa? Semalam aku nyaris berhasil menandainya, tetapi kau malah mengambil alih. Semuanya kacau karenamu. Jangan harap aku mau berganti shift sampai kau menandai mate-ku.’ Flora mengerutkan keningnya melihat Damian yang bertingkah aneh di depan pintu. Mimik wajahnya berubah-ubah dengan rahang bergerak-gerak. “Dasar gila.” ***  Begitu iring-iringan warior dari Supermoon Pack terlihat di antara pepohonan, Jaiden turun dari menara penjaga milik Megamoon Pack dan berdiri di sebelah sang Alpha dan Delta. “Mereka sudah mulai, Alpha.” “Bagus. Kalian ingat ‘kan rencananya?” “Tentu, Alpha, tapi apa yang akan kau lakukan pada manusia itu?” tanya Gaston. Eiden tidak menaruh perhatiannya lebih, sibuk memastikan semua yang harus dia bawa sudah lengkap. “Biar menjadi urusanku. Kau tidak akan pernah mengerti jalan pikiran werewolf yang kehilangan mate-nya.” “Biarkan saja, Gaston, pemikiran Alpha tak akan bisa kita pahami. Kita jalankan tugas masing-masing saja,” ujar Jaiden. Rencana ini murni hanya diketahui oleh Eiden sepenuhnya. Dia hanya memerintahkan Jaiden dan Gaston hal-hal yang harus mereka lakukan dan kapan saat itu. Bahkan pada Jaiden, Eiden menganggap rencana ini rencana cadangan yang nantinya akan diledakkan begitu saatnya tepat. Untuk menyamarkan bau pack-nya, Eiden menggunakan mantra witch yang bertahan selama satu jam—dan selama itu pula Eiden bisa aman dari penjagaan. Dia harus sudah kembali sebelum mantranya menghilang, oleh karena itu dia membutuhkan bantuan Jaiden dan Gaston. Jika mereka tahu apa rencana Eiden, pastilah tidak akan setuju. Risikonya tidak sebanding dengan tujuan. Eiden mengendap-endap lebih dekat dengan perbatasan sementara Jaiden kembali ke atas untuk memantau. Kegiatan yang melibatkan banyak orang seperti ini sangat menguntungkan, bahkan kalau ada anggota inti pack. Suara ledakkan mulai terdengar ketika sebuah alat tersebut menyapu bersih ladang jebakan bagian Supermoon Pack, kemudian warior akan memeriksa kembali secara manual apakah semua jebakan sudah meledak. Inilah saatnya. Eiden menunggu aba-aba Betanya yang mengawasi keadaan di atas. ‘Aman, Alpha. Berhati-hatilah dengan jebakan di sisi pack kita.’ Ketika para warior itu berbaris untuk kembali ke wilayah pack, Eiden cepat-cepat melompati area jebakan—tetap berhati-hati walau dia hafal semua letak jebakannya. Asap yang ditimbulkan setelah ledakan sekali lagi menguntungkannya sehingga dia bisa bergabung sangat mulus di belakang para warior dan memisahkan diri di antara pepohonan. Eiden mengintip dari balik pohon. Bagus, tidak ada yang menyadari bau pack-nya. Dia menyeringai melihat musuh terbesarnya, Damian. Sorot matanya mengirimkan sinyal kebencian yang mendalam sebelum pergi menjalankan rencananya. Daerah itu memang sangat memusingkan bagi yang tidak tahu. Salah satu taktik Supermoon Pack sejak dulu agar musuh tidak bisa ke mana-mana dengan tujuan yang jelas. Akan tetapi, bukan Eiden namanya jika pergi tanpa persiapan. Waktu singkat tidak menghambatnya sama sekali. Dia mengeluarkan peta yang sebelumnya sudah dibuat oleh orangnya yang menjadi mata-mata di Supermoon Pack. Lebih tepatnya mereka yang berkhianat. ‘Alpha, kau bisa memahami petanya?’ tanya Xavior melalui mindlink. ‘Tentu saja. Aku belajar dari sang ahli.’ ‘Cepatlah, Alpha. Ingat, waktumu terbatas dan jangan sampai kau tertangkap saat kembali. Aku rasa misi ini tidak sebanding dengan risikonya.’ ‘Kau tahu aku, Jaiden, aku memperhitungkan semuanya matang-matang. Semua ini akan ada gunanya.’ Dengan berjalan kaki seperti ini, jarak tempuhnya lebih lama dibanding berganti shift. Bagaimana lagi, Eiden tidak mungkin mencelakai dirinya sendiri dengan memamerkan warna bulunya yang berbeda, hitam. Para wolf berwarna coklat keemasan itu jelas akan langsung mengetahui pack asalnya. Memperhitungkan antara menghemat waktu dan menjaga keselamatan, Eiden nekat mengambil jalan pintas sesuai peta. Tidak terbukti, tetapi jika terus mengikuti peta akan lebih dari satu jam hingga dia bisa sampai ke pack-nya. Eiden menggunakan teropong yang belakangan ini sangat disukainya, memberikan penglihatan yang lebih jelas untuk menemukan mansion di antara pepohonan tersebut. “Barang milik manusia ini ada gunanya juga.” Lantai dua bukanlah masalah baginya. Eiden sering mengajari adiknya berlatih berbagai gerakan bela diri, termasuk melompat seperti ini. Dengan cekalan dari otot-ototnya yang kuat, Eiden sampai di jendela kamar Flora—setelah mengawasi dengan teropong tentu saja. “Hai.” Flora terkesiap, menatapnya tanpa berkedip. Pria itu baru saja memanjat dari bawah? Dia bahkan mengucek matanya, siapa tahu sedang berhalunasi saking inginnya keluar. “S-siapa kau? Bagaimana bisa kau sampai ke sini?” Eiden melompat, refleks Flora juga mundur menjauh. Ekor matanya awas melirik pintu, jaga-jaga siapa tahu ada yang tidak beres. Walau tampangnya rupawan, Flora tidak bisa mengatakan jika pria itu tidak berniat buruk. “Itu tidak penting. Kau bisa sebut aku Mega Wolf,” ujar Eiden enteng sekali, duduk di bingkai jendela. “Kudengar, kau manusia ya?” “Apa maksudmu manusia? Itu artinya kau iblis?” “Hei, aku tidak pandai berbasa-basi dengan makhluk bumi.” Eiden meletakkan kedua tangannya di belakang tubuh, melangkah perlahan. “Katakan, apa kau tahu siapa itu Damian?” “Maksudmu dia Alpha?” Eiden terkekeh. Ah, itu menjelaskan semuanya. Berarti wanita ini datang bersama Damian dan kemungkinan besar dia mate sang rival. Ya walau tidak ada tanda apa pun di lehernya. “Lebih dari sekadar itu.” Dia menahan Flora agar tidak mundur lagi, berbisik, “Dia bukan manusia, sama sepertiku.” Flora masih bisa santai karena Damian juga berkata demikian—entah serius atau tidak. “Lalu jika bukan, kau ini apa, Tuan? Halusinasi?” “Bagaimana aku bisa mengatakannya jika ini menjadi rahasia Damian? Apa yang akan kudapatkan jika aku memberitahumu?” “Tergantung seberapa banyak yang akan kudengar,” tantang Flora dengan dagu terangkat, tidak mau pria di depannya menganggapnya terintimidasi. Flora benci wajah tampannya yang terlihat culas sekarang, seolah dia yang menentukan suasana dalam ruangan. Eiden mengangguk-angguk. “Kau ini pintar juga ya. Aku jadi menginginkan mate lain yang sepertimu.” ‘Alpha, waktunya semakin berkurang.’ Eiden mendapatkan mindlink dari Jaiden. Lidah Eiden bermain-main di dalam rongga mulut, menatap tertarik pada wanita di depannya. Tidak bisa menampik kalau manusia memang memiliki kecantikan yang berbeda, tetapi dengan itu juga dia semakin membenci. Damian selalu mendapatkan yang lebih baik, sedangkan dia di sini mendapatkan yang paling buruk dari takdir werewolf. Ya, tidak akan lama. Sekarang Damian sudah menemukan mate—kelemahannya. “Aku tahu jika Damian tidak jujur padamu selama ini. Iya, ‘kan?” Tangannya bermain-main di ujung rambut Flora, hanya bertahan sebentar karena wanita itu menepisnya. “Tapi aku bisa. Aku bukan pengecut seperti dirinya.” “Kau tahu? Di luar pintu ini ada para penjaga. Aku bisa saja memanggil mereka dan kau akan ditangkap,” ujar Flora memperingati. “Jangan terburu-buru begitu. Aku di sini sedang menawarkan sesuatu yang tidak akan pernah kau dapatkan dari Damian.” “Dan apa itu?” “Fakta.” Senyumnya melebar. “Kau tertarik?” Flora meletakkan tangannya di d**a pria itu yang terasa keras, mendorongnya menjauh. Dia benci merasa kalah dan Eiden tidak menjauh sama sekali. Entah tenaganya yang tidak sebanding atau orang-orang di sini memang memiliki kekuatan di atas rata-rata. Apa orang-orang di sini mendapatkan semacam wabah atau gen Hulk hingga mendapatkan postur yang besar dan kuat? Flora merasa seperti kerdil dan sangat lemah di antara mereka. Kepalanya menegak kaku saat tangan Eiden merayap dan menahan tengkuknya agar tidak bergerak, berbisik, “Kami adalah werewolf.” Flora membelalakkan matanya hingga terasa mau keluar dari tempatnya, memelototi pria itu dan berusaha menilai sebarapa serius dia. Sering dilakukannya pada Flair untuk menilai kejujuran, tetapi matanya berbeda. Flora malah terasa tersihir bukannya terpengaruh dengan keterkejutan. “Apa kau bilang? Manusia serigala?” “Kau tidak salah dengar. Kami memang bukan sepenuhnya manusia. Lihat? Aku bisa dipercaya, tidak seperti Damian yang terus saja berputar-putar.” Wanita itu mendengus, menendang tulang kering Eiden hingga mundur beberapa langkah. Sial, tak ada raut kesakitan sama sekali di wajahnya. “Bagaimana kau tahu semua itu? Kalau Damian tidak mengatakan apa pun,” desisnya. Manusia serigala? Ini gila. Flora bukan sedang berada di dunia fantasi seperti Narnia yang terhubung setelah masuk ke lemari pakaian hangat hingga dengan kesadaran penuh bisa mempercayainya. Dia juga bukan Alice yang kebetulan menemukan lubang kelinci dan wush! Semua makhluk tidak masuk akal. “Ayolah, kalian para manusia memiliki banyak barang canggih, tetapi mengetahui informasi seperti ini saja tidak bisa? Kalian perlu berkembang,” ujar Eiden menikmati raut terkejut dan tidak percaya wanita di depannya. Flora menggeleng keras, melirik pintu untuk menumbuhkan rasa amannya. Ah, bahkan dia tidak tahu apakah dia masih bisa merasa aman saat tahu orang-orang itu ternyata bukan manusia. “Aku tidak percaya kalau kalian, kau dan Damian itu bukan sepenuhnya manusia.” “Aku bisa saja berubah di sini, tetapi aku tidak mau berakhir telanjang di depan mate orang lain. Kau tahu di mana bisa melihatnya? Saat gerhana bulan, semua werewolf akan bertukar shift. Jika sampai saat itu kau melihatnya bertukar lebih dulu, maka dia tidak ingin jujur sejak awal dan menipumu.” Suaranya nyaris menghilang saat bertanya, “Apa keuntunganmu dari memberitahuku ini?” “Tidak ada. Aku hanya kasihan manusia cantik sepertimu terus dibohongi.” Eiden memperhatikan keadaan kamar itu, cukup terkejut dengan dekorasinya yang biasa saja. Dia kira Damian akan menempatkan wanita itu di dalam kamarnya. Satu jam, mungkin sekarang sudah berlalu setengahnya. Eiden memperhatikan keadaan di luar sana lewat jendela, tidak ada penjagaan sama sekali di sekitar mansion kecuali warior yang mengambil alat peledak. “Jika kau ingin menemuiku atau kabur dari sini, kau bisa ke mansion di seberang sana. Kau akan disambut dengan tangan terbuka.” Flora berdecih. “Benarkah? Xavior bilang jika aku ke sana, aku bisa mati.” “Mereka hanya tidak ingin kau bebas.” Eiden mundur beberapa langkah dari jendela, berlutut dengan sikap bersiap. Mata coklatnya berubah warna menjadi hitam, lalu pria tersebut melompat begitu saja dari lantai dua. “Astaga!” Dia bergegas lari ke jendela, bersiap mendapati darah atau ringisan pria itu yang memilih mati saja dibanding patah tulang. Hah? Mulutnya menganga saat pria itu dengan santainya berjalan biasa, tidak terlihat patah tulang sama sekali. Dia habis lompat dari lantai dua. Apa dia robot di Terminator? Ah, Flora menepuk dahinya, mendesah keras. Ingat, pria tadi ‘kan bukan manusia. Bahkan semua orang-orang ini bukan manusia asli, mereka hanya ... sebuah bentuk peralihan. Nyata seperti putri duyung waktu itu atau burung Phoenix. “Jadi ... Damian adalah manusia serigala?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN