JIKA ditanya apa Damian berharap pertunjukkan kecil penyihir kemarin akan membuat Flora berubah, tentu saja jawabannya ya. Menerima terlalu jauh, paling tidak Flora akan bersikap lebih baik dan tidak lagi mendelik karena menganggapnya menculik. Sudah cukup, tidak perlu terlalu berlebihan.
Akan tetapi saat Damian mendapati hasilnya jauh lebih baik dari yang diharapkan, dia malah bingung dan tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Damian senang sekaligus bertanya-tanya. Apa yang membuatnya berubah hanya dari memperlihatkan keadaan adik dan ibunya?
Ketika Damian membuka ikatannya, Flora tidak melontarkan satu perkataan pun dengan nada yang tak suka atau lirikan tajam. Dia hanya diam dan mengatakan terima kasih dengan nada lembut, malah terdengar lirih. Seolah dia bukanlah wanita yang sudah berusaha melarikan diri dua kali.
Tidak perlu bujukan, tidak ada aksi yang merepotkan. Wanita itu hanya menunduk di kasurnya.
“Kau tidak mengatakan apa pun sejak kemarin aku memperlihatkan keluargamu. Kau baik-baik saja?” tanya Damian.
Flora mengangguk kecil. “Sudah kubilang aku senang kau mau menunjukkannya. Setidaknya aku akan berusaha bersikap baik.”
“Sungguh?”
“Kau meragukanku?”
‘Alpha, apa Luna baik-baik saja? Dia tidak seperti biasanya.’
‘Aku juga tidak menduganya, Xav.’
“Baiklah. Aku akan menunggumu di ruang makan—kalau kau ingin.”
Flora berdiri, membuka lemari dan melihat isinya—yang sebagian besar dipenuhi gaun dengan model yang tua tersebut. “Hm. Aku akan bersiap.”
Damian menarik Xavior keluar, melirik pintu yang sudah tertutup itu dengan tatapan bingung. Yang tadi itu sama sekali bukan Flora yang dikenalnya selama beberapa hari. Xavior sama bingungnya dengan Damian.
“Sikapnya aneh sekali, Xav. Seperti orang lain. Atau ... apa mungkin yang tadi itu shifter?”
“Sepertinya bukan, Alpha. Shifter sudah sangat lama tidak ditemukan. Mungkin mereka bersembunyi dari musuh alaminya seperti witch.”
Mau tak mau Damian setuju. Shifter atau makhluk yang bisa mengubah bentuk atau meniru itu sudah lama tidak terlihat karena banyak yang menentang keberadaannya. Shifter sama mengganggunya seperti rogue dan banyak menimbulkan keributan.
Walau ada tanda khusus jika tadi itu shifter, Damian masih bisa mencium aroma khasnya yang tak akan bisa dimiliki makhluk mana pun. Dia bisa merasakannya dan mengetahui keberadaan Flora. Dan ya, wanita aneh di dalam itulah Flora. “Semoga mate-ku baik-baik saja,” gumamnya.
Dalam rangka menebus rasa bersalahnya yang sudah mengikat Flo semalaman, Damian menyiapkan sarapan kali ini dengan semuanya ala manusia. Daging-daging dengan ukuran besar itu matang terpanggang—walau warnanya sedikit lebih hitam. Ukuran meja yang cukup untuk 20 orang, semuanya penuh dengan potongan daging yang besar-besar.
Damian terbiasa makan dengan para omega dan warior walau mereka hanya akan mengambil bagian mereka dan makan terpisah dengan sang Alpha. Dia tidak ada gambaran sama sekali tentang bagaimana para manusia makan, tapi seharusnya ini cukup manusiawi.
“Alpha, kau baik-baik saja? Kau sudah cukup lama menahan Dane untuk menandai Luna,” ujar Xavior saat mereka menunggu Flora siap.
“Tidak apa-apa. Heater memberikanku ramuan yang cukup ampuh untuk menahannya, terutama di malam hari. Meski begitu, Dane tetap saja mengganggu.” Damian mengerang saat Dane melolong di kepalanya. “Diamlah. Belum saatnya.”
‘Lalu kapan?!’
“Dia terlalu banyak bicara,” gumamnya mengadu pada Xavior.
‘Itu karena kau yang terus menahanku!’
“Dane, percayalah padaku. Kita akan memilikinya seutuhnya, sebentar lagi.”
‘Omong kosong. Tandai dia sekarang dan dia tak akan bisa melakukan apa pun lagi.’
Damian menggeleng keras, mengindahkan ocehan wolf-nya yang tidak jauh dari menandai atau membiarkannya mengambil alih. Sebelumnya Dane malah jarang sekali mau merespons Damian kalau tidak penting. Sekarang malah dia yang membuatnya repot dengan semua keluhannya.
“Dane terus mengganggu, huh?” tebak Xavior.
“Kau akan merasakannya jika Rex tidak sejalan denganmu.”
“Paling tidak, aku dan Rex memiliki jalan pikiran yang sama selama ini. Aku yakin dia akan mengerti setiap keputusanku.”
“Andai wolf-ku seperti Rex—aduh! Berhenti berteriak.” Di saat-saat seperti ini, Damian malah berharap dia tidak memiliki wolf di dalam sana. Damian tidak memiliki ruang untuk memiliki rahasianya sendiri, benar-benar hanya seorang diri.
“Alpha, Luna sudah siap.”
Keduanya menoleh bersamaan, seketika terkesima dengan penampilan Flora yang terlihat sangat cantik. Gaun tua berwarna putih gading itu tampak jauh lebih baik saat digunakannya. Wajahnya berseri, bukan lagi wajah murung atau kesal. Jika rambutnya diikat mungkin kecantikannya akan bertambah-tambah.
Di dalam sana Dane sampai mengaung.
“Maafkan aku, Alpha, tapi Luna cantik sekali. Aku tidak bisa memaksakan diri untuk mengalihkan tatapanku,” ujar Xavior benar-benar tidak mengalihkan tatapannya.
Damian mendelik kesal, menghampiri sang mate. “Apa yang penyihir lakukan padamu?”
Flora melihat penampilannya sendiri. “Penyihir apanya? Maksudmu aku terlihat buruk?”
“Tidak, justru kau luar biasa. Kau membuatku ingin mencongkel mata semua warior.” Mendengar itu semua warior dan Xavior mengalihkan tatapannya, tidak mau mendapatkan masalah. Werewolf bisa sangat posesif jika menyangkut mate-nya. Cari masalah dengan Alpha sama dengan menginginkan diri sendiri menjadi rogue.
Pria dengan jubah keemasan itu menarik lembut lengan Flora ke meja makan. “Duduklah.”
Begitu duduk, tatapan Flora langsung tertuju pada banyaknya makanan yang semuanya berupa daging memenuhi meja makan. Ukurannya besar-besar, kulit daging tampak kering, dan tidak ada piring yang diletakkan di depan masing-masing kursi. Daging tersebut juga tidak divariasikan dengan banyaknya potongan.
Katakanlah dia tidak tahu diuntung sudah disiapkan sebanyak itu, tapi malah sibuk menggerutu dalam hati. Harus bagaimana lagi? Refleksnya jika melihat sesuatu yang tidak sesuai maka akan memikirkannya baik-baik apa yang bisa menjadikannya lebih baik.
Terutama dengan dekorasinya yang ... ah, seolah ada kakek dan nenek yang akan ikut makan bersama. Tidak boleh ada apa pun yang dari abad ini, semuanya harus dari abad mereka. Serba tua.
Damian menyadari tatapan Flora yang intens pada makanan dan tidak terlihat senang. “Ada apa? Apa makanannya tidak terlihat menggiurkan?”
“Bukan begitu, tapi apa tidak ada piring? Kau ingin aku langsung memakannya? Sebesar ini?” Flora mengangkat daging bagian paha itu, tulangnya penuh dalam genggamannya. Entah daging apa yang digunakan.
‘Xav, apa itu piring?’
‘Mungkin sesuatu yang kita bawa dari dunia manusia, Alpha. Aku akan memeriksanya.’ Xavior mundur dari ruang makan dan pergi ke gudang, tempat penyimpanan dari dunia manusia yang tidak sepenuhnya digunakan. Masih ada banyak persediaan di dalam sana yang bukan hanya makanan.
“Bagaimana jika kau cicipi dulu selama Xavior mengambil piringnya? Para omega membuat hidangan baru khusus untukmu.”
“Benarkah? Mereka tampak menggiurkan, sih.” Flora mencubit sedikit bagian daging itu, keningnya mengerut merasakan teksturnya. Lembek dan basah, seperti daging yang belum matang. Mendadak menyesal dan menimbang-nimbang haruskah memakan potongan kecil itu, apalagi yang besarnya.
Akan tetapi, Damian mengawasinya dengan seksama—menunggu. Flora jadi tidak enak sendiri jika tidak jadi memakannya, walau hanya sebagian kecil. Ah, seburuk apa rasa yang akan dirasakannya?
Wajahnya mengerut. Buruk sekali! Pahit, amis, lembek, semuanya bersatu dalam mulut hingga muncul pilihan untuk melepehkannya. Ingin muntah, tetapi orang-orang yang sudah membuat ini akan sakit hati. Secuil kecil itu bagaikan bubur tim tanpa rasa yang dibuatkan ibunya saat sakit.
“Boleh aku tahu bumbu apa yang digunakan dalam hidangan ini?”
“Bumbu apa?”
“Jadi, tidak memakai bumbu? Sama sekali?” Kemudian Flora menggumam, “Pantas saja tidak ada rasanya.”
“Ada apa? Kau tidak menikmatinya?”
“Ehm! Bagaimana ya menyebutkannya?” Flora tahu tidak baik menjelekkan tentang makanan, ibunya akan memarahinya jika tahu. Akan tetapi, bagaimana pun dia harus jujur ‘kan, demi makanan yang lebih baik ke depannya. “Makanan ini ... tidak ada rasanya sama sekali. Aku sulit memakannya. Maaf. Kau saja yang makan.” Dia mendorong potongan daging yang ada di depannya.
“Ah, bagaimana jika aku masak sendiri? Mungkin aku tidak jago di dapur dan akan memerlukan bantuan, tetapi aku sudah memasak selama dua puluh tahun untuk adikku. Setidaknya dia tidak pernah keracunan.”
“Jangan, Luna, biar omega saja,” sahut Xavior yang baru saja kembali. Ya, ada beberapa barang yang mereka sebut piring, tetapi tampaknya ada keadaan yang lebih berarti dari sekadar menyiapkan piring.
“Aish, hanya ke dapur. Ayo, tunjukkan jalannya.”
“Tidak usah. Kau ingin makan apa? Jelaskan pada mereka apa yang kau mau.”
“Tidak perlu. Aku makan ini saja. Enak kok, enak.”
Terpaksa Flora kembali menarik daging tersebut, tidak yakin apakah ada makanan lain yang rasanya lebih baik. Daripada merepotkan, Flora bisa berpura-pura menikmati sebentar sebelum menyelinap pergi nantinya. Paling tidak sudah menghargai siapa pun yang memasak banyak daging tersebut—yang sayangnya mungkin akan sia-sia.
Rasa itu lebih tidak bisa diterimanya daripada sushi dengan daging mentah atau natto. Entahlah, lidahnya sulit menyukai hal-hal yang ‘tidak biasa’ termasuk dalam hal masakan. Tidak bisa lagi, dia hanya bisa menghabiskan dua gigitan, itu pun sudah penuh perjuangan. “Damian, aku sudah kenyang. Terima kasih makanannya.”
Menyebalkan sekali. Hanya dia yang makan, Damian atau anak buahnya tidak ada yang makan sama sekali. Tidak mungkin ‘kan jika mereka sengaja mengerjai Flora.
“Kau akan kembali ke kamar?” Xavior bertanya ketika Flora mendorong kursinya—berdiri.
“Memangnya aku bisa apa lagi?”
“Apa pun yang kau mau, aku bisa menemanimu.”
Xavior memejam, mengingatkan Damian melalui mindlink. ‘Alpha, kita akan mengunjungi Alpha Apolo. Ingat?’
‘Lain kali saja, Xav. Mate-ku sedang bersikap baik dan aku tidak bisa menyia-nyiakannya.’
“Kau ingin ikut aku menangani masalah pack?”
“Pack?” beo Flora.
“Rakyatku.”
‘Tidak bisa, Alpha. Luna akan semakin bingung jika membahas hal-hal yang tidak diketahuinya.’ Xavior kembali mengingatkannya membuat Damian menatapnya memelas, secara tidak langsung menyetujui ucapan sang Beta. Ya, saat waktunya belum tepat seperti ini, Damian tidak bisa mengambil risiko dengan membuat Flora semakin penasaran.
Damian kembali menawarkan, “Kalau begitu, kau mau membaca buku?”
Flora mengetuk-ngetuk dagunya. Membaca ya? Sudah sangat lama sejak terakhir kali Flora sangat suka membaca, di tahun akhir sekolah menengah. Setelahnya dia terlalu sibuk menjadi remaja yang beranjak dewasa, gadis cantik Albany dan memperluas relasi.
Walau pekerjaan sebelumnya juga berkaitan dengan banyak kegiatan membaca, Flora tidak menikmatinya sebagaimana dulu dia ke mana-mana membawa buku tebal di tangannya.
“Boleh.”
“Tunggu.” Damian menghentikannya yang hendak pergi dari ruang makan, mengikuti para omega. Mata pria itu menyipit. “Kau tidak akan berusaha kabur lagi, bukan?”
Flora mengedikkan bahu. “Sekarang tidak. Aku tidak yakin untuk nanti.”
***
Sudah menjadi semacam tradisi rutin yang dilakukan Damian, mengikuti kebiasaan orang tuanya dulu semasa masih menjadi Alpha dan Luna di Supermoon Pack. Datian—ayahnya—sering sekali mengajak Damian mendatangi berbagai acara yang melibatkan menjadi Alpha yang baik.
Bertarung, bagaimana memecahkan masalah, Datian memberikannya banyak sekali bekal sebagai Alpha yang bijaksana—sama seperti ayahnya dahulu. Alpha Datian terkenal dengan sikapnya yang realistis dan mendahulukan kepentingan pack. Karena itulah selain mengaguminya sebagai ayah, Damian ingin kelak dia akan menjadi Alpha sebaik Datian.
Salah satu kegiatan yang paling disukai para werewolf adalah saat mereka bisa membicarakan semua kesulitan pada Alpha yang akan segera diselesaikan. Damian ingat bagaimana ayahnya menenangkan atau memberi pengertian para rakyatnya tentang permasalahan yang sedang dihadapi dan kemudian anggota inti pack memecahkan masalahnya.
Terasa seperti keluarga.
“Alpha, sumber air kami tidak lancar. Sepertinya para putri duyung yang menyumbatnya,” adu salah satu werewolf.
“Mungkin ini kaitannya dengan penyelamatan Luna waktu itu. Kita bisa membicarakannya dengan ratu mereka nanti,” saran Xavior.
“Baiklah. Hari ini atau esok, kita akan menemui ratu putri duyung.” Damian memberi sinyal pada salah satu warior-nya yang kemudian menuliskan daftar masalah yang harus mereka selesaikan.
Werewolf yang lainnya maju dan berkata, “Alpha, ada penyerangan di pemukiman dekat perbatasan. Warior menemukan jubah dari Megamoon Pack di tempat. Dua werewolf mati dan yang lainnya sedang dirawat oleh heater.”
Damian menggeram. Dane juga merasa sama kesalnya pada seseorang dengan wolf bernama Eirt. “k*****t yang satu itu memang tidak akan mau menyerah.” Saking kesalnya dia berdiri dan ingin menghampiri mansion Eiden, menghajar musuh bebuyutannya. Tentu saja Xavior menahannya dan mendorong sang Alpha kembali duduk.
“Alpha, kita tidak boleh gegabah. Kita harus mengatur strategi dulu sebelum menyerang mereka.”
“Jika kita terlalu lama mengatur strategi, bisa-bisa mereka memanfaatkannya untuk melukai Flora, Xav.”
“Karena itu juga kita tidak boleh gegabah, Alpha. Jika kau terluka, kekuatan pack akan melemah dan Luna akan semakin berada dalam bahaya.”
Sial. Xavior dengan semua koreksi benarnya selalu membuat Damian terdiam. Kadang dia berpikir jika bukan karena keturunan, mungkin seharusnya Xavior yang menjadi Alpha. Betanya akan lebih pantas.
“Baiklah. Satu putri duyung, kedua Megamoon. Ada lagi?”
“Hewan buruan semakin menipis, Alpha. Semua bahan makanan dari dunia manusia juga tidak tersisa banyak.”
“Xav, kapan kita bisa kembali ke dunia manusia?”
“Beberapa hari lagi, Alpha. Kabutnya sedang menipis, dikhawatirkan kita malah tersesat ke dimensi yang lain atau kita akan membawa sembarang manusia yang melewati terowongan itu.”
Kekurangan makanan memang sulit diatasi di akhir waktu sebelum mereka dapat kembali ke dunia manusia. Selalu berulang dan memang wajar, tetapi Damian tidak bisa mengulangi langkah sebelumnya setiap waktu. Ada perbedaan keadaan dan sekarang sangat menghambat.
“Untuk sementara, kita bantu bagikan daging yang ada. Berikan semua daging manusia pada mereka, cukup simpan hewan saja untuk mansion,” ujar Damian.
“Semua manusia, Alpha?” tanya Xavior memastikan. Semua daging manusia itu berarti sangat banyak, sementara di mansion juga ada banyak manusia serigala yang perlu makan.
“Kenapa? Tidak akan cukup?”
“Cukup, lebih dari cukup. Apa ini karena Luna?”
“Hm. Aku tak mau nantinya berfantasi yang tidak-tidak tentang mate-ku sendiri.” Tidak mungkin ‘kan kalau Damian memakan makhluk yang sama seperti mate-nya. Bisa-bisa suatu saat nanti dia kalap. “Baiklah, ada masalah lagi?”
Satu manusia serigala maju ke depan Damian. “Alpha, bagaimana dengan jebakan di perbatasan? Kami khawatir rogue masuk lagi.”
“Untuk itu, kita harus meledakkan dulu semua jebakan dan memasang yang baru. Bagaimana dengan besok, Xav? Menurutmu warior akan siap?”
“Mereka pasti siap, Alpha. Pack kita memiliki warior terbaik.”
Damian mengangguk puas, kembali mendengarkan rakyatnya. Alih-alih merasa terbebani, justru dia merasa ini bentuk nyatanya sebagai Alpha, bukan hanya seorang yang gemar menyuruh-nyuruh. Dia akan turun langsung mengawasi walau tidak bisa membantu para warior.
Di antara rakyat, salah satu dari mereka menyunggingkan senyum misterius.
***
“Kau suka membaca?”
Flora mendongak dari buku bacaannya, Strategi Melumpuhkan Musuh. Bukan karena tertarik mempelajari, siapa tahu ada cara untuk melarikan diri dengan situasi yang serba mencekik begini. Nihil. Yang ada dalam buku itu adalah bagaimana cara melayangkan tendangan, pukulan, atau cakaran.
Entah bagaimana cakaran bisa berguna dalam bertarung. Mungkin iya jika melibatkan perempuan yang mengenakan kuku palsu sepanjang dua senti.
“Tidak begitu senang, tetapi aku bisa membaca apa pun. Mungkin karena itu aku pernah dijuluki kutu buku selama sekolah menengah. Padahal yang k****a hanya buku kesehatan biasa.”
“Apa yang kau temukan?” Damian menyusuri rak-rak berisi buku yang umurnya sudah ratusan tahun, terlihat dari warna halamannya—banyak yang sudah menguning dimakan waktu. Sebagian besar buku tersebut didapatkannya dari dunia manusia dan beberapa ditulis tangan oleh ayahnya sendiri.
“Taktik berperang, mungkin.” Dia menunjukkan sampulnya di mana ada dua orang yang bertarung. “Memangnya kau sungguhan memiliki musuh sampai ada banyak buku tentang bertarung? Bukankah kalian hanya dipisahkan oleh sebidak tanah?”
“Itu bukan hanya bidak tanah, tetapi ladang ranjau. Jangan pernah berani melewati perbatasan kalau kau tidak mau mati.”
Mata Flora berotasi. “Lagi-lagi kau senang mengungkit tentang kematian, sama seperti putri duyung waktu itu.”
“Aku serius, jangan ke sana.”
“Baiklah, aku percaya.”
Walau bacaan itu sama membosankannya dengan mendengarkan melodi Mozart, tetapi Flora tetap membacanya. Setidaknya, matanya tertuju pada buku—itu yang Damian lihat. Dia tak akan tahu jika Flora melakukannya hanya agar mereka tidak canggung.
“Damian, kemarin saat kau menunjukkan tentang keluargaku, bagaimana bisa? Bukankah di sini tidak ada sinyal apa pun? Dan bola kristalnya, apa itu bola kristal yang sama dengan yang digunakan para peramal?”
Damian menggeleng pelan, mengambil asal sebuah buku dan membukanya di bagian tengah. “Kau terlalu banyak bertanya. Itu tidak penting sama sekali.”
“Menurutmu, tapi menurutku sangat penting. Tempat ini misterius sekali, ada banyak keanehan. Ini bukan sss, ‘kan? Bukan di dalam suku pedalaman orang-orang kanibal, ‘kan?”
Lagi-lagi, Damian tidak tahu apa itu sss yang dimaksud, tetapi dia menjawab, “Bukan.”
Flora mengembuskan napas lega, melemparkan buku ke atas meja. Tidak mampu membaca lagi. “Baguslah. Aku sangat ketakutan menebak tempat seperti itu.”
“Untuk apa memikirkan sesuatu yang membuatmu takut?” tanya Damian dari balik bukunya.
“Aku juga takut kalau ternyata kau serius bukan manusia.” Tidak bisa dibilang jika Flora serius mengatakannya, tetapi jika memang pernyataannya dapat dipertanyakan, ya, dia akan takut.
***
Tidak ada hari tanpa mengawasi Supermoon Pack bagi Eiden. Menurut pandangannya, kesalahan Damian dan Supermoon Pack jauh lebih besar dari miliknya. Beraninya mereka melibatkan mate-nya untuk permusuhan abadi ini. Ini kesempatannya untuk membalas dendam.
“Besok, ya? Baiklah, aku celah yang besar. Aku akan melakukan sesuatu yang tidak akan menimbulkan kekacauan, tapi dampaknya sama,” ujar Eiden dengan senyuman misterius—menyimpan rencana besar di baliknya.
“Maksudmu, Alpha?” tanya sang Beta, Gaston. Di sampingnya, Jaiden hanya mengamati seolah sudah satu pikiran dengan Eiden.
“Kau sudah mengetahui tentang manusia itu?”
“Tidak ada yang menandainya, jadi mungkin—”
“Tidak perlu membuang-buang waktu, aku sudah tahu.” Eiden menaruh teropong setelah mengamati ke mansion musuhnya cukup lama, kemudian berbalik. “Kemungkinannya hanya dua, dia mate Damian atau betanya. Aku tidak peduli mate siapa, yang kutahu itu salah satu cara membuat mereka kacau.”
“Apa kau akan menculik manusia itu, Alpha?”
“Tidak ada yang seru dari itu,” decak Eiden. Senyuman miringnya kembali tercetak, senyum yang muncul saat dia merecanakan sesuatu yang besar dan sangat yakin akan berhasil. “Aku akan membuatnya tidak mempercayai mereka dan lebih mempercayaiku.”