FAM 7 Punishment

3239 Kata
SIAPA yang bisa memprediksi masa depan? Tidak ada, bahkan jika para peramal itu mengucapkan banyak hal tentang masa depan masih ada kemungkinan gagalnya, atau mungkin mereka memang mengada-ada. Masa depan tetap jadi rahasia dan itu sangat menyebalkan. Tidak ada bocoran sama sekali tentang apa yang akan terjadi. Jika saja Flora tahu rencananya tak akan berhasil, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatannya dan membuat orang-orang itu makin menyusahkannya. Astaga, tidak mengira Damian akan sampai seperti ini hanya karena usaha kaburnya. Keterlaluan. Walau bukan dengan borgol atau semacamnya, Damian mengikatnya dengan tali yang kaitannya cukup kuat. Ikatan terkuat yang pernah dilihat dan dirasakannya. Flora bahkan tidak pernah melihat teknik mengikat seperti itu di mana pun, sangat efektif untuk membuat tangannya terasa mati rasa. “Lepaskan aku, sialan! Kenapa harus mengikatku begini?” Damian bersedekap d**a, mengeraskan dirinya sendiri. “Jika tidak begini, kau akan kabur lagi.” Walau dia yakin posisinya akan sangat tidak nyaman bagi manusia seperti Flora, itu hukuman yang pantas untuknya. Kedua tangannya terikat ke kepala ranjang dengan ikatan yang dibuatnya. Kakinya dibiarkan bebas dengan ikatan longgar. Damian ingin mate-nya menganggap serius tentang pelarian dirinya kali ini agar tidak dilakukan lagi. “Kau bisa mengunci kamarku saja, bukannya mengikatku. Astaga, aku bahkan tidak bisa merasakan tanganku sendiri. Lihat, ikatanmu terlalu kencang, Alpha.” “Aku akan melepaskanmu kalau kau bersikap baik dan meyakinkanku kau tidak akan mencoba untuk kabur lagi.” “Kau sama menyebalkannya dengan Mister Kim asal kau tahu! Aku hanya melakukan kesalahan kecil dan pria itu akan mengungkitnya sepanjang hari. Aku lupa menambahkan secangkir gula ke dalam kopinya dan dia terus menggerutu. Tidak sadar perutnya yang sudah buncit itu akan meledak jika ditambah gula lagi,” gerutu Flora. Pria itu tidak tampak kasihan atau terpengaruh dengan cerita Flora. Menarik kursi di sudut ruangan dan duduk di depannya, malah menikmati apa yang dikatakan wanita itu. “Teruskan.” “Hah?” “Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu.” Mata Flora menyipit curiga. Baru kali ini dia bangga menjadi seseorang yang selalu memperhatikan timbal balik dari apa yang dilakukannya, dan kali ini dia cukup sadar dengan kebiasaan buruknya tersebut. Manfaatkan semua situasi untuk kepentingan sendiri. “Lalu kau akan melepaskanku?” tanyanya. Damian mengedikkan bahu. “Tergantung.” “Baiklah. Namaku Flora Angeline berumur tiga puluh satu tahun. Aku cantik, pemberani, dan pantang menyerah. Aku baru saja dipecat dari pekerjaanku yang sebelumnya karena bos sialan yang sangat ingin kutendang bokongnya. Dan itu kenapa alasanku datang ke sini karena aku sedang butuh uang!” Semula Flora berpikir paling tidak Damian akan menunjukkan raut wajah jijik seperti semua orang yang pernah mendengar tentang pekerjaannya atau betapa berlebihan Flora menilai dirinya sendiri. Akan tetapi, Damian tidak mengalihkan tatapannya sama sekali, mendengarkan dengan seksama. “Kau mendengarkan?” tanya Flora tak percaya. “Kau ingin aku menghajar bosmu?” Flora memaksa tali yang mengikatnya melonggar, mendekati Damian. “Kau sungguhan mengirimkan sejumlah uang pada keluargaku? Bagaimana aku bisa mempercayainya jika aku tidak bisa menghubungi keluargaku?” “Penyihir bisa menunjukkannya padamu.” Damian melirik langit-langit kemudian menambahkan, “Tidak sekarang.” Flora mengerang kesal. “Kenapa semuanya tidak sekarang? Aku bosan berada di sini tanpa alasan.” “Apa aku tidak bisa menjadi alasanmu ada di sini?” Mungkin kedengarannya hanya bercanda, tetapi dari sorot matanya Damian lebih dari sekadar serius. Dia tidak ingin berharap lebih, tetapi memang sangat ingin mendengar Flora menyetujuinya. Dane pasti akan senang kembali dan berhenti murung. “Lucu sekali,” ejek Flora. “Ikatannya kencang sekali, Damian. Paling tidak longgarkan sedikit.” Damian berdiri, mengembalikan kursi ke tempatnya semula. “Tidak, hukumanmu. Hari ini aku akan pergi ke mansion orang tuaku. Berbahaya jika membiarkanmu bebas walau ada banyak warior.” “Ya, karena kepintaranku bukan tandingan anak buahmu.” Flora melotot saat Damian benar-benar meninggalkannya tanpa melepaskannya sama sekali—atau merenggangkannya. Cekalan ini sangat membelenggu hingga kulit yang ditali lebih putih dari yang lainnya. “Damian! Lepaskan aku!” Dia menggoyang-goyangkan brutal tali-tali itu, berharap serat-seratnya cukup lemah hingga dapat mudahnya terbuka hanya dengan sedikit entakkan Flora. “Sial. Padahal tadi itu kesempatan yang sangat bagus untuk kabur.” *** Bersama sekelompok warior yang ikut Damian dan Xavior ke mansion orang tuanya, sekawanan wolf berwarna coklat keemasan itu berlari ke arah tenggara, arah yang dipetakan dalam rute dari Supermoon Pack dengan memerlukan izin melalui beberapa pack yang lebih kecil. Hal ini sudah biasa, terutama jika itu Alpha sebuah pack, tidak ada yang berani melarangnya melintas selama tidak berniat macam-macam. Setelah beberapa lama berlari, mereka sampai di mansion Alpha dan Luna terdahulu yang mengambil alih pack yang lebih kecil. Alpha Dation dan Luna Hairee mengambil alih pack peninggalan bibi mereka yang sudah wafat karena sebuah tragedi. Di bawah pimpinan mereka, pack tersebut menjadi damai dan Alpha Dation lebih memilih mengambil jalan damai untuk semua perkara. Meski pack-nya lebih kecil, mansion itu sama besarnya dengan milik Supermoon Pack. Penuh bunga, khas ibunya sekali. Setiap lorongnya pasti akan ada satu bunga yang bermekaran menghias jendela. Tidak akan ada kesuraman yang bisa bertahan di mansion ini, Hairee pasti akan mengubahnya menjadi sesuatu yang terang. “Putraku,” sapa Hairee mengenakan pakaian kesukaannya selama menjadi Luna di Supermoon Pack dulu. Damian selalu senang melihat ibunya mengenakan pakaian tersebut. Damian memeluknya sementara Xavior membungkuk. Walau Hairee bersikeras Xavior memperlakukannya seperti orang tuanya sendiri dan jangan segan, keluarganya hanyalah Beta sejak dulu. Sudah turun temurun dan keluarga Damian mempercayakannya. “Bu, di mana ayah?” “Sudah menunggu di ruangannya. Kau naiklah lebih dulu bersama Xavior.” “Baik, Luna.” Hairee dengan para omega pergi ke ruangan lain sedangkan Beta mereka menunjukkan jalan pada putra sang Alpha ke ruangan ayahnya. Damian berharap nanti Flora akan mampu mengubah mansion menakutkannya menjadi seceria ini, seperti buah tangan ibunya yang mampu menghidupkan suasana. Ah, bisakah dia berharap? Bagaimana jika pun Flora sudah mengetahui jati dirinya, wanita itu tetap tidak mau menetap dan ingin pulang? Damian harus melepaskannya atau tega menahannya di sini? “Ah, kau sudah datang rupanya.” Datian merentangkan tangannya, mengundang Damian untuk dipeluk. Momen ini seperti momen-momen saat orang tuanya menyambut Damian pulang dari perburuan atau perang. Datian akan merayakannya dan membanggakan semua bekas luka yang Damian dapatkan dari berperang. Itulah luka sejati seorang Alpha. Ayahnya selalu berkata demikian. Yang lainnya meninggalkan ruangan, memberikan privasi. Hanya ada Datian, Damian, dan Xavior. Ah, dan penyihir yang mendiami setiap bangunan mansion para Alpha. Sudah menjadi semacam kewajiban adanya penyihir putih di setiap mansion selain untuk membantu, juga sangat berguna dalam keadaan darurat. “Ada apa Ayah memanggilku?” “Tidak ada. Aku hanya merindukan putraku. Ya, semoga saja aku tidak mengganggumu.” Usia pria itu sudah sangat tua, tetapi menjadi makhluk yang berumur panjang membuatnya tidak seperti seseorang yang sudah menjadi Alpha selama ratusan tahun. Bahkan jika disandingkan dengan manusia, wajahnya seperti wajah seorang pria berumur 40 tahun. Damian terkekeh, “Tentu saja tidak, Ayah. Kau tahu, aku hanya melakukan pekerjaan biasa.” “Dan beberapa tambahan,” tambah Xavior tersenyum menggoda. Damian mendelik, ingin memerintahkannya untuk diam. “Apa maksudmu, Xavior?” tanya Datian melihat senyum di wajah Beta putranya. “Tidak ada, Alpha.” Datian mengambil nampan berisi teko dan cangkir dari tembaga yang tampaknya pemberian dari Damian. Alat-alat itu dia bawa dari dunia manusia yang sangat membantu untuk minum—dengan elegan. Minum dari cangkir akan memudahkan saat mereka sedang menjadi manusia dibanding menjilatnya langsung dari mangkuk air. Cairan itu berwarna biru pudar, ramuan yang biasa dikonsumsi Datian agar staminanya tetap kuat. Saat Damian masih tinggal dengan orang tuanya, dia sering disuguhkan minuman itu juga. Pahit sekali, bahkan saat dia sudah terbiasa meminumnya. “Jadi, kau ingat putra dari Alpha Dolores? Dia sudah menemukan mate-nya dan akan mengadakan pesta dua hari lagi,” ujar Datian. “Secepat itu? Wah, dia beruntung sekali.” “Bagaimana denganmu?” Damian berusaha tidak membuat mindlink apa pun saat berbohong, “Aku belum menemukannya.” Untuk menutupi kebohongannya, Damian terpaksa mengambil duluan cairan pahit itu dan meminumnya. Setidaknya ekspresi saat mengecap rasa pahit akan menutupi kegugupan dari kebohongannya. “Apa kau mau ikut?” “Oh. Tentu saja, Ayah. Mungkin aku akan ikut.” “Apakah kau sibuk? Alpha tidak boleh memberikan jawaban menggantung seperti menambahkan ‘mungkin’. Ya atau tidak?” ‘Aku harus jawab apa?’ tanya Damian pada Xavior lewat mindlink. ‘Jujur saja jika kau tidak ingin meninggalkan Luna. Alpha pasti akan mengerti.’ “Tidak.” Datian mengangguk-angguk. Jubah kemerahannya tampak asing saat Damian terbiasa melihatnya mengenakan jubah keemasan—jubah yang saat ini menjadi warna miliknya. “Baiklah. Aku dan ibumu tampaknya akan pergi tanpa putra kami.” Cangkir Damian menimbulkan bunyi yang berubah menjadi irama sederhana karena jarinya mengetuk-ngetuk cangkir. Dia melirik Xavior yang malah mengangguk—seolah tanpa kata mengerti dengan apa yang ditanyakannya lewat lirikan mata. “Ayah, boleh aku bertanya sesuatu?” “Tentu saja.” “Apa di keluarga kita ada yang memiliki mate seorang manusia?” Datian merangkum dagunya, mengingat-ingat. “Ya. Kau ingat Paman Apolo? Mate-nya seorang manusia.” Mata Damian membesar. “Bukankah mate-nya ....” “Ya, tidak bisa bertahan. Kau tahu sendiri betapa gilanya pamanmu saat kehilangan mate-nya,” ujar Datian, “Jadi, mate-mu manusia?” “Ya,” jawab Damian tanpa sadar. “Maksudku, bukan. Aku hanya bertanya jika kemungkinannya begitu.” “Manusia pun tak apa, Damian. Tak ada yang salah. Moon Goddes sudah menakdirkan semuanya untuk kita, itu sudah menjadi yang terbaik. Jadi, ini masalahmu hingga terlalu sibuk?” Kepalang ketahuan, Damian mengangguk. “Dia terus berusaha untuk kabur. Kemarin saja hampir saja masuk ke area putri duyung atau diterkam warior di ruang bawah tanah. Dia manusia dan hanya seorang, tetapi membuatku pusing melebihi sekawanan rogue.” “Mungkin lain kali kau harus mengunjungi adikku. Meski singkat, dia cukup berpengalaman. Sayangnya musuh-musuh kita tidak bisa menunggu dan menargetkan mate-nya.” Pria itu menepuk-nepuk bahu putranya. “Berhati-hatilah menjaga mate-mu. Jangan sampai hal yang sama terulang kembali.” “Seperti pada kakak,” gumam Damian. Sekejap suasana di sana menjadi sendu mengingat tentang Dasha, kakak Damian yang sudah tiada. “Kau sudah menemukan mate-mu?” Hairee yang baru saja datang tidak tahu apa-apa, membawa beberapa daging dibantu para omega. “Bagaimana rupanya? Dari pack mana dia? Kenapa kau tidak membawanya sekarang?” “Dia ... manusia, Bu. Aku terpaksa mengikatnya di ranjang karena dia terus berusaha kabur.” Hairee membekap mulutnya sendiri, terkejut. Werewolf yang mendapatkan mate manusia itu tidak banyak, bahkan terbilang sangat jarang dibanding mereka yang berbeda makhluk lainnya. “Astaga, aku ingin sekali melihatnya, Damian. Seharusnya kau bawa dia ke sini,” ujarnya. “Tunggu. Apa kau belum menandainya?” Damian mendesah. “Belum, Bu. Aku sedang menunggu saat yang tepat untuk memberi tahu jati diriku yang sebenarnya.” “Kau benar. Jangan sampai dia ketakutan jika ditandai saat tidak mengetahui apa pun. Kau harus segera membawanya kemari begitu kau menandainya, Ibu sangat ingin melihatnya.” “Tentu saja, Bu. Ayah, bisa gambarkan peta untuk ke rumah Paman Apolo? Kudengar dia menjadi penduduk pack biasa dan tidak mau mengambil alih pack mana pun.” “Kau akan langsung melanjutkan perjalananmu? Pulanglah dulu dan temui mate-mu. Perjalanannya bisa memakan waktu lama ke arah selatan,” saran Datian. Dia memanggil salah satu warior yang dapat menggambarkan peta menuju rumah adiknya. Damian menyembunyikan senyumnya dan bergumam, “Ya, tampaknya aku merindukan Flora.” *** “Aku benci dia!” seru Flora berharap didengar Damian. Bahkan kalau pria itu memang ada di mansion ini, sepertinya suara Flora akan tertahan di dalam kamar. Tak akan ada yang mendengarnya atau peduli dengan kemarahannya. Apa? Dia hanya tahanan, korban penculik, target, apa pun kata pemaksaan yang tidak berarti untuknya mengatakan sesuatu. Menyebalkan. Tak kapok menyakiti tangannya sendiri, Flora kembali menarik-narik tali sekuat tenaga, berusaha membuatnya terlepas dari kepala ranjang. “Ayolah terbuka! Padahal ini bukan borgol, tetapi kaitannya kuat sekali. Aku bahkan sulit menggerakkan tanganku. Ini bukan simpul mati yang kupelajari di perkemahan dulu. Sial.” “Penyihir! Apa mereka memanggilnya, ya? Amera! Ah, terdengar tidak tepat. Siapa pun, tolong aku!” Lengannya terkulai, sudah cukup sakit. Baiklah, kali ini Flora mengaku menyerah. Tidak akan ada gunanya, ikatan itu kokoh sekali. “Yah, tampaknya aku hanya bisa menunggu belas kasihannya.” Membosankan. Tak ada yang bisa dilakukannya selama menunggu Damian melepaskannya. Tidak ada teve, tidak ada ponsel, entah bagaimana bisa orang-orang itu hidup jauh dari teknologi seperti ini. Jika ini di rumahnya, Taylor akan mengadakan pesta kolam renang di rumahnya dan mengundang semua orang di dekat rumah mereka—yang bertetangga. Paling tidak akan ada 20 remaja yang datang dan ada tiga orang berkencan sepulang dari sana. Tentu saja bukan Flora karena dia akan bersembunyi di kamar Taylor dan baru akan keluar setelah semua teman lelakinya pulang. Musim panas yang menyenangkan jika diingat-ingat, tetapi menyebalkan jika benar-benar terjadi. Dan mungkin sekarang di Albany masih musim gugur, atau malah sudah ada salju yang turun. Lamunannya terpecah saat sebuah burung hinggap di bingkai jendelanya. “Hai, kau burung yang sangat indah. Sayangnya aku tidak bisa mendekat.” Burung itu cantik dengan warnanya yang keemasan menyala. “Bulumu bagus sekali, seperti ....” Keningnya mengerut, berusaha lebih dekat melihat burung itu. Bingkai jendela yang berwarna putih tulang perlahan berubah warna menjadi abu-abu, kemudian hitam. Cukup sulit melihatnya dari ranjang, tetapi Flora cukup yakin perubahan warna itu disebabkan oleh sang burung karena bingkai yang lainnya masih berwarna putih. “ ... Terbakar.” “Apa ... apa kau burung Phoenix?” Bak enggan menjawab, burung itu terbang pergi. “Bukankah burung Phoenix hanya dongeng? Tidak ada burung yang membakar dirinya sendiri kemudian hidup dari abunya, sepenuhnya hanya dongeng,” gumam Flora. “Lalu burung tadi apa? Dinding itu benar-benar terbakar.” Seketika dia teringat omongan Damian tentang makhluk lain selain manusia. Bahwa ada makhluk mitologi yang benar-benar hidup. Apa itu artinya putri duyung kemarin benar-benar nyata? Bukan ekor buatan? Lalu ... bagaimana dengan Damian yang mengaku dirinya juga bukan manusia? Tempat seperti apa sebenarnya ini? “Ah, tidak mungkin. Dia hanya mengada-ada. Hanya ada hewan, tumbuhan, dan manusia. Itu saja. Spesies seperti Damian hanyalah orang aneh. Baik, Flora, berhenti memikirkannya atau kau akan menjadi gila.” Flora berusaha meyakinkan dirinya sendiri, menjauh dari kegilaan. “Lapar sekali.” “Apakah kau merindukanku?” Flora mendelik melihat senyuman Damian yang tidak merasa bersalah sama sekali setelah mengikatnya seperti ini. “Tidak sama sekali,” ujarnya sombong. Damian mengedikkan bahu, duduk di ujung ranjang. Flora salah fokus memperhatikan rambutnya yang berminyak, membuat kesan seolah rambutnya basah. Ah, pasti akan sangat keren kalau ada rambut yang menetes dari—Flora menggeleng keras, mengenyahkan lamunannya yang macam-macam. Astaga. “Damian, apa kau tahu burung Phoenix?” “Kau tahu?” Alisnya terangkat sebelah, tidak menyangka. Seingatnya makhluk tidak biasa seperti Phoenix tidak ada di dunia manusia, hanya ada hewan biasa yang mereka sebut burung, tidak terbakar sama sekali. “Aku yang bertanya lebih dulu.” “Ya, burung itu kadang berkeliaran di sekitar sini. Kadang dia menciptakan kebakaran kecil, tetapi tidak seberbahaya itu. Apinya lemah dan bisa menghilang dengan sendirinya. Ada apa?” Flora terdiam sebentar sampai mengatakan, “Burung itu hanya mitos, tapi aku melihatnya tadi. Bagaimana bisa? Semua guruku mengatakan jika Phoenix hanyalah bagian dari dongeng anak-anak atau sekadar imajinasi di film Harry Potter.” “Kalau begitu aku juga,” gumam Damian. “Kau bilang apa?” “Tidak, lupakan saja. Kau lapar bukan? Omega akan membawakan makanan untukmu.” “Kenapa mereka yang membawakan, tidak aku saja yang ke sana?” “Hukumanmu belum berakhir. Kau akan kulepaskan besok.” Mulut Flora menganga. “Kau tega sekali sumpah. Tidak bisa apa kasihan sedikit?” Damian mendengus. “Apa kau tidak tahu jika putri duyung kemarin berusaha untuk menenggelamkanmu? Apa para manusia berpikir jika putri duyung itu makhluk yang menggemaskan hingga beraninya membungkuk ke air begitu?” “Tunggu. Bagaimana kau bisa tahu sedangkan kau tidak ada di sana? Dan apa maksudnya dengan ‘para manusia’? Kenapa mereka mau menenggelamkanku? Aku tidak salah apa pun, aku hanya ingin menyeberangi danau.” “Untuk kabur?” Flora menunduk. Untuk seukuran penculik, Damian memang tidak melakukan apa pun seperti yang seharusnya penculik lakukan. Menyekap di ruangan gelap, sama seperti orang-orang waktu itu di lantai bawah. Dia hanya mengikatnya—itu pun karena Flora yang memaksa. Akan tetapi, tetap saja dia tidak suka ada di sini. Ini bukan rumahnya dan dia dibawa paksa kemari. Flora tidak merasa kelakuannya salah, tetapi setelah yang dilakukan Damian, oke, mungkin dia sedikit salah. “Maafkan aku. Aku hanya ingin pulang. Mom pasti mengkhawatirkanku dan aku sangat ingin tahu keadaan Flair.” Untuk sekejap Flora tidak berani mendongak. Bisa saja yang dilihatnya hanyalah raut wajah mengejek karena mengakui kesalahannya. Dia benci melihatnya, merasa sebagai seorang pecundang yang kalah dalam permainan kartu. “Kau sangat ingin melihatnya? Apa jika kau sudah melihatnya, kau akan senang dan berhenti mencoba kabur?” Pertanyaan Damian membuatnya refleks mendongak. Damian tidak terlihat bercanda sama sekali, tetapi Flora tahu kalau di tempat ini tidak ada tiang sinyal atau sebagainya. “Mungkin.” “Baiklah.” Damian berdiri, membuka lemari dan mengeluarkan sebuah kain kecil. Dia mendorong Flora pelan, duduk di belakangnya. “Jangan mengintip. Kau akan melihatnya sebentar lagi,” ujarnya mengikat kain tersebut agar Flora tidak dapat melihat. “Penyihir, buat ruangan ini menjadi gelap.” “Hei, kau bicara pada siapa.” “Tunggulah, Luna. Kau akan bisa melihat dunia luar sebentar lagi.” Hanya dengan perintahnya itu, semua cahaya yang masuk ke kamar Flora dihalau dengan bantuan penyihir dan kain gelap. Jendela, celah di atas pintu, semuanya hingga ruangan menjadi gelap gulita. Barang-barang bisa melayang sesuai keinginan penyihir yang menuruti perintah sang Alpha. Terakhir, sebuah bola kristal muncul di udara. Setiap sisinya berkilau-kilau memantulkan cahaya dari dalam bola kristal tersebut, mirip dengan bola disko. Dari dalam bola kristal sebuah kabut bergerak-gerak tanpa bisa keluar sama sekali. Bola kristal tersebut melayang tepat di depan Damian dan Flora. “Baiklah, kau bisa membuka penutup matamu.” Wanita itu terkesiap ketika ruangan menjadi gelap, tetapi seketika terkesima dengan bola kristal yang bercahaya di depannya. Belum puas dia merasa kagum, kabut asap dalam bola tersebut membuat pusaran kecil dan membuat sebuah gerakan-gerakan abstrak. “Ini ....” Matanya membelalak saat perlahan, muncul wajah mama dan adik perempuannya di bola kristal. “Ini nyata,” gumamnya nyaris tak terdengar. Flair, adiknya sudah terlihat jauh lebih sehat di atas ranjang rumah sakitnya, sedang menertawakan sesuatu bersama mamanya. Tak hanya ada mereka berdua, ada Dave duduk di kursi yang terpisah dari mereka. Di antara kesenduan itu, Flora jadi teringat kalau dia belum mengembalikan mobilnya, masih ada di Buffalo. “Puas?” tanya Damian begitu bola kristal kembali menunjukkan segumpalan asap. Flora mengangguk, tidak berkata apa-apa saat Damian menutup lagi matanya. Begitu dibuka, semuanya sudah kembali terang. Wanita itu menunduk dan berbisik, “Damian, apa keluargaku benar melupakanku?” “Sekarang, iya. Mereka hanya tidak akan menyadari kau menghilang. Jika kau kembali ... “ Damian menelan ludahnya, parau melanjutkan, “Mereka akan sadar lagi.” “Jadi, apa aku bisa kembali suatu hari nanti?” “Mungkin.” “Terima kasih.” Flora kembali berbisik. “Aku sudah senang kau mau merekamnya. Setidaknya adikku sudah membaik. Lain kali aku akan mengganti semua uangmu.” Damian baru pertama kali melihat senyum Flora yang seperti ini. Senyum lemah dan pasrah, kebalikan dari sikapnya dan senyum lebarnya yang pernah dia lihat sebelumnya. Entah kenapa walau itu masih senyum, tetapi Damian tak akan mau melihatnya lagi. Terutama jika itu ditujukan padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN