RASANYA Damian hanya tidur sangat sebentar. Bisa jadi dia sebenarnya tidak tidur, hanya memejamkan mata dalam waktu yang lama. Lagi pula dengan isi kepalanya yang tidak bisa tenang sedetik saja, rasanya mustahil bisa tertidur. Akan tetapi, bukan langit yang dilihatnya begitu terbangun, padahal Damian ingat dengan pasti dia tertidur di atap. Tubuhnya juga terasa pegal, terutama di bagian punggung karena tertidur di lantai yang keras. Namun, bukan lantai yang dirasakannya, melainkan dedaunan. Begitu terduduk, Damian menyipitkan matanya dan mengucek sekeras mungkin. Apakah dia masih bermimpi? “Sudah bangun?” “Kau?” Damian berdecih saat menoleh ke belakang dan mendapati seseorang yang sangat tak ingin ditemuinya sekarang. “Di mana ini? Aku ingat tadi tidur di atap.” “Di tempat yang sama s

