LIHAT saja, Flora akan membuat orang-orang kesulitan, terutama si Alpha itu. Akan dia buktikan sifat membangkang yang pernah dipermasalahkan orang tuanya dulu akan berguna di saat-saat sekarang. Flora tidak memelihara sifat jelek ini tanpa alasan, karena itulah dia tidak mudah dirundung saat sekolah.
Entah sudah berapa lama dua orang itu saling mendiami, tetapi Flora tidak akan dengan mudah menuruti apa pun yang dikatakan si Alpha tanpa mendapatkan timbal balik yang sesuai. Enak saja, dia tidak dapat perlakuan yang baik, jangan harap akan menyerah dan tinggal begitu saja.
Flora mendelik pada Xavior yang betah saja berdiri tegak, sama-sama tidak menyerah. “Kau akan sama bungkamnya dengan Alpha itu? Tidak mau memberitahuku sama sekali? Apa kau tahu kalau seseorang bisa mati karena rasa penasarannya tak terbayarkan?”
Andai wanita merepotkan di depannya ini bukan mate Damian yang berkaitan dengan sandangan Luna, Xavior akan melemparkannya ke para rogue atau mengusirnya keluar dari pack. Kehadirannya membuat seisi mansion kalang kabut, terutama karena dia manusia. Bahkan beberapa omega dan warrior enggan mendekat karena terlalu takut dengan manusia—sebuah makhluk yang tidak mereka ketahui.
Berkat perintah sang Luna, Xavior harus tertahan di kamar wanita itu dan terlambat dari tugas yang diberikan Damian. “Bukankah Alpha bilang akan mengatur waktu untuk membicarakannya?”
“Dari mana kau tahu? Kau tidak ada di sana saat dia mengatakannya.”
“Kalau begitu, kau hanya harus menunggu, Luna.”
“Sialan. Neraka macam apa yang kumasuki ini?” Flora menggerutu. “Kalau begitu setidaknya, bawa aku berkeliling. Aku terus saja tersesat dan orang-orang mengatakan tentang penyihir. Apa hanya aku yang tak tahu apa-apa di tempat seluas ini?”
“Aku ada tugas di luar mansion, Luna. Mungkin Alpha bisa menemanimu.”
“Bersamanya hanya membuatku tercekik asal kau tahu.”
“Alpha tidak akan mengizinkan jika bersama omega mengingat terakhir kali kau berhasil menipu mereka.”
“Oh ya, aku masih lebih pintar dari mereka.” Mendengar omega, Flora jadi ingat wanita yang ditemuinya tempo hari. “Xavior, apa warna mata yang berubah-ubah itu wajar? Aku tidak pernah lihat sebelumnya.”
Di balik wajah datarnya Xavior cukup terkejut. Dia menebak kalau itu Damian, Dane berusaha mengambil alih di depan mate-nya—itu hal wajar. Seluruh pack tahu bagaimana kuatnya wolf sang Alpha. “Kau akan mengetahui semuanya setelah Alpha bercerita, Luna. Jika aku mengatakannya sekarang, semuanya terdengar tidak masuk akal.”
“Kalau begitu aku ingin keluar. Bawa aku jalan-jalan di luar. Tidak masalah harus mengikutimu untuk tugas atau apa pun itu, berada di sini membuatku gila tahu.”
Semoga saja tidak ada suku primitif atau kanibal di dalam hutan sana. Setidaknya Flora cukup yakin kalau ini bukan sss mengingat tidak ada sungai besar seperti yang sering didengarnya, tak akan ada banyak hewan buas—seperti di sss.
Ah, dia lupa dengan serigala di lantai bawah tanah. Jika di bawah rumah saja ada serigala, bagaimana dengan di luar sana? Lebih buruk atau memang serigala kemarin cukup jinak untuk dipelihara? Masa bodo, Flora benar-benar bisa gila jika terus-terusan terkurung begini.
Xavior memejamkan matanya, mengirim mindlink. ‘Alpha, Luna ingin berjalan-jalan di luar mansion bersamaku.’
‘Pergilah, mungkin dia memang perlu keluar. Awasi baik-baik, jangan sampai lengah.’
“Baiklah, Luna. Alpha sudah mengizinkan.”
“Huh? Kapan kau menghubunginya? Apa kau memiliki ponsel?”
“Baru saja dan tidak, aku bahkan tak tahu apa itu ponsel.” Xavior meninggalkan sang Luna keluar kamar, memberikannya waktu untuk bersiap atau semua hal yang harus dilakukan manusia sebelum bersiap.
Flora menepuk dahinya keras. “Oh astaga, tempat ini benar-benar terisolasi dan ketinggalan zaman. Aku bertaruh tak ada satu pun pemancar sinyal di sini,” gerutunya. “Tunggu aku!”
***
Keputusan Xavior benar untuk memberikan waktu pada sang Luna, walau sebenarnya cukup disesalinya. Wanita itu memerlukan waktu lama sekali hingga cahaya matahari sudah bergerak tepat di atas kepalanya. Lihatlah, dandanan manusia aneh sekali.
Flora mengenakan sebuah kain berwarna mencolok yang mengelilingi kepalanya seperti tudung, sepatu dari bulu, dan sebuah kacamata hitam. Pasti omega meletakan barang-barang dari manusia di kamar sang Luna, atau mungkin mereka lupa menyembunyikan barang-barangnya. Semoga saja tak akan ada penduduk yang ketakutan dan berubah bentuk saat melihat Flora.
Sebab sepatunya yang tidak cocok berjalan di jalan tanah dan licin seperti ini, Flora ketinggalan di belakang Xavior. Salahnya memang memaksa tetap modis walau tahu akan ke hutan, tetapi matanya saja gatal melihat betapa tidak modern seorang Flora.
“Xavior, apa di sini ada Slenderman? Atau apa kau bisa mendirikan sebuah rumah pohon di atas pohon-pohon besar itu? Xavior, apa kau tidak punya kekasih? Apa ada rumor kalau di sini ada harta karun?”
“Siapa yang tahu, Luna? Mungkin saja ada. Mungkin rogue akan menyerang manusia yang terus berbicara banyak hal,” ujar Xavior terpaksa menjawab meski dia bukan seseorang yang banyak bicara.
“Rogue itu apa? Kenapa kau dan semua orang di sini gemar mengatakan hal-hal aneh, sih? Aku tidak mengerti asal kau tahu.” Flora membungkuk, menumpu telapak tangannya ke lutut. Rasanya dia sudah berjalan jauh, tetapi begitu menoleh mansion-nya masih terlihat. “Di mana rumahnya? Kenapa hanya ada hutan di sini?”
Xavior berhenti, menunggu sang Luna selesai dari istirahatnya dan melanjutkan perjalanan. Berjalan begini juga membuatnya cukup kewalahan saat dia terbiasa berganti wujud dengan Rex. “Ada di tengah hutan, Luna. Hal itu bertujuan agar musuh tidak dapat menemukan pemukiman dengan mudah.”
“Musuh siapa?” tanya Flora memaksakan kakinya melangkah, menyusul Xavior. Hutan seluas ini dan Flora tidak menemukan atau melihat siapa pun, bahkan hanya sekadar ulat bulu. Apa benar ada peradaban di lingkungan sealam ini? Mungkin penduduknya seperti Tarzan yang hidup di pohon atau suku dengan kain tipis untuk menutupi area sensitif tubuh masing-masing.
“Oh ya, aku melihat ada mansion juga jauh di sana. Rumah siapa itu? Apakah kita bisa pergi ke sana?”
Xavior berhenti tiba-tiba membuat Flora tak siap dan menabrak punggungnya. Yosh, punggungnya keras sekali hingga dia yang meringis. “Auch! Bilanglah kalau mau berhenti. Astaga, entah apa isinya punggungmu sampai dahiku berdenyut-denyut.”
Pria itu berbalik, tetapi tidak terlihat bersalah, justru terlihat serius. “Jangan pernah berpikir untuk pergi ke sana, Luna.”
“Kenapa?”
“Itu adalah rumah dari musuh kami. Kau akan dibunuh jika ke sana.”
Flora menelan ludah, gugup. “D-dibunuh? Maksudmu mati?”
“Jangan berjalan jauh dariku. Alpha mempercayakanmu padaku.”
Tanpa basa-basi Flora memepet dirinya pada Xavior, memegang ujung bajunya dan mengikuti pria itu berjalan. Lirikan matanya liar pada setiap pohon yang dilewati. Semua pohonnya besar, mungkin pohon beringin atau pohon jati. Entahlah, itu tidak penting. Pastikan saja tak ada sepasang mata yang mengawasi dari balik batang pohon tersebut.
Xavior tidak bohong soal penduduk di tengah hutan. Memang ada sekumpulan rumah, tetapi tidak banyak untuk disebut kota. Mungkin hanya beberapa puluh dengan penduduk yang tidak sebanyak Albany tentu saja. Orang-orang itu sama anehnya dengan omega, terus bekerja tanpa saling menyapa.
Terlebih lagi, tak hanya satu dua, hampir semuanya menoleh pada Flora seolah ada yang menarik mereka. Padahal mereka datang cukup senyap hingga Flora tidak bisa mendengar suara langkah kaki dari sepatu Laviola-nya. Oke, Flora memang cantik dan menonjol dengan gaya berbusananya yang kekinian, tetapi ditatap intens begitu jelas menyebalkan.
Perlahan Flora membuka kacamata hitamnya dan melirik pria di sampingnya. “Xavior, kenapa mereka melihatku begitu?” cicitnya.
“Mereka mengendus baumu.”
“Maksudmu aku bau?” Dia mengendus bau tubuhnya. Oke, memang tidak wangi seperti biasanya karena entah ada di mana minyak wangi miliknya. Namun, tidak sebau itu sampai mereka bisa menciumnya. “Salah sendiri tidak menunjukkanku kamar mandi. Aku jadi tidak bisa mandi.”
Tidak lama kemudian, orang-orang itu kompak membungkuk. Semuanya membungkuk 90 derajat dan tidak langsung menegakkan tubuhnya. Flora melirik Xavior, lalu hendak membungkukkan tubuhnya juga. Namun, Xavior menahannya. “Jangan menunduk, Luna.”
“Kenapa? Aku harus membalas mereka.”
“Itu sudah kewajiban mereka. Kau tak perlu membalasnya.”
“Baiklah,” ujar Flora menegakkan tubuhnya. Dia menanggalkan kain yang menutupi kepalanya, meremasnya untuk menyalurkan rasa gugup. Orang-orang ini tetap tidak terlihat normal, terutama dengan matanya. Ada sesuatu yang berbeda walau Flora tidak dapat menjabarkannya.
Seseorang dari mereka datang, membungkuk di depan Xavior dan Flora. “Apa ada masalah yang terjadi?” tanya sang Beta.
“Tidak ada, Beta. Umm, ada beberapa anak yang tak sengaja bermain di danau para mermaid dan mereka terluka. Para healer sedang merawat mereka.”
“Putri duyung? Di sini ada putri duyung?” timpal Flora bersemangat. Putri duyung yang ada di benaknya jelaslah baik, cantik, dan menawan seperti Ariel.
Seseorang itu—pemimpin penduduk—membuka bajunya dan berlutut. Dengan bertelanjang d**a, pria itu menunduk dalam. “Hukum saja aku, Beta.”
‘Kau pikir aku akan melakukannya di depan Luna? Dia akan ketakutan. Berdirilah,’ titah Xavior melalui mindlink.
Pria tersebut mengenakan kembali bajunya dan berdiri, kembali membungkuk, kali ini lebih lama. “Aku akan melakukan tugasku lebih baik,” ujarnya kembali ke antara penduduk, membuat fokus mereka tertuju pada keduanya.
Momen kehilangan kepercayaan diri hanya dialami Flora saat datang ke pesta halloween kelas tujuh dan dia masih mengenakan kostum, di mana teman-temannya berlomba-lomba tampil modis dengan rambut ikal atau gaun-gaun yang kebesaran dengan cup bra. Dia kembali mengalaminya kali ini, padahal belum tentu jenis tatapan apa itu.
Tidak ada gunjingan, tidak ada bisikan atau siulan. Mereka ... hanya menatapnya.
“Kau yakin tak ada yang salah dariku? Tatapan mereka seolah sedang menelanjangiku asal kau tahu.”
“Tak banyak manusia sepertimu.”
Flora menggigit bibir bawahnya, menganggap pujian Xavior itu sebagai sesuatu yang sangat bermakna di situasi seperti ini. Bahkan tidak berpikir apa arti ‘manusia’ dalam kata-kata Xavior. Flora menganggapnya sebagai pujian yang mengartikannya spesial, bukan karena adanya perbedaan jenis makhluk di antara mereka.
“Ya, kau harus tahu aku ini gadis Albany yang disukai banyak pria. Aku bahkan pernah dekat dengan pria Belanda sebelum dia mencampakkanku hanya karena aku tak mau menjadi seorang Dutch,” ujar Flora bersemangat dengan kepercayaan dirinya yang kembali.
Xavior berjalan lebih dulu melintasi para penduduk itu, berjalan lurus kembali ke dalam hutan. Kurang lebih semua pohon, semua jalan setapak, hingga semua kerikil yang ada di sana terlihat sama. Flora bertanya-tanya bagaimana Xavior bisa percaya diri sekali mereka tidak akan tersesat di tengah-tengah hutan ini.
Terlepas dari semua keanehan dan status Flora yang dipaksa berada di sana, tempat itu cukup layak dipertimbangkan sebagai tempat menetap. Semuanya masih asri dari alam. Ya, sayangnya, Flora bahkan tidak bisa melihat satu pun sutet sejauh mata memandang. Hanya pohon dan semuanya yang berwarna hijau.
“Xavior, katakan padaku ini di mana? Tempat ini sangat indah hingga aku mau tinggal selamanya.” Sadar dengan ucapannya yang ambigu, Flora segera melarat, “Maksudku, tinggal dengan keluargaku. Bukan dengan pria menyebalkan si Alpha itu.”
“Ketahuilah, Luna, Alpha tak akan membiarkanmu pergi. Dia sudah cukup baik tak menghapus semua ingatanmu.”
“A-apa? Menghapus ingatanku?”
Xavior memperlambat jalannya, mendapatkan mindlink dari sang Alpha.
‘Xav, kembalilah bersama Flora.’
“Alpha memerintahkan kita untuk kembali, Luna.”
“Kapan? Bagaimana? Dari tadi kau mengobrol bersamaku jika kau lupa. Atau jangan-jangan kau hanya mengada-ada?” tanya Flora beruntun dengan lirikannya menelusuri dahan-dahan itu, siapa tahu sejak tadi Damian mengikutinya—atau mungkin Xavior saja yang sekadar mengada-ada.
Krek!
Dengan sigap Xavior menarik Flora ke belakang tubuhnya, menatap tajam ke arah sumber suara. Pendengarannya tajam untuk mendeteksi bunyi sekecil apa pun dan ada sesuatu yang bergerak di sana—atau mungkin sedang memantau mereka. Matanya memejam, mencium bau yang merebak dari si pembuat suara. Jika itu rogue atau werewolf dari pack lain, dia akan dapat menciumnya.
“Siapa itu?” Flora mencengkeram lengan Xavior, mengintip dari balik pundaknya. Baru dia sadari betapa tinggi Xavior, bahkan harus berjinjit untuk menyamakan bahunya.
Sikap awas Xavior luntur begitu saja saat dia tidak mendeteksi adanya bahaya. Xavior menjauh dari Lunanya, mengingat setiap werewolf pasti akan cukup protektif pada mate masing-masing. Tak ada jaminan jika Damian tidak akan mengajaknya bertarung jika sang Alpha tahu.
“Tidak ada, Luna, hanya penduduk.” Sekali lagi dia menoleh, memastikan seseorang itu memang berasal dari pack-nya. “Ayolah, Alpha sudah menunggu.”
***
Flora merasa dicurangi dan tidak adil. Mereka—semua orang yang ada di sana kecuali dirinya—dengan mudahnya pergi ke suatu tempat atau ruangan di mansion ini tanpa tersesat atau salah masuk. Sedangkan Flora mencari pintu keluar saja harus masuk ke penjara bawah tanah dulu, mana gagal pula. Penyihir yang dikatakan Damian itu tampaknya memiliki dendam padanya—walau entah bagaimana cara dia melakukannya.
Xavior membawanya naik ke tangga teratas di mansion ini. Katanya si Alpha itu sudah menunggunya di atas sana. Sebelum membuka pintu ke luar, Flora berbalik dan bertanya, “Untuk apa dia menungguku di tempat seperti ini?”
“Datangi saja, Luna.”
Dia mendengkus, tetapi tetap pergi ke luar. Wah, atapnya tidak panas bahkan saat cahaya matahari terlihat terik sekali, justru terasa sejuk dan hangat di saat yang bersamaan. Tidak terduga. Flora masih bingung dengan perbedaan musim yang sangat ekstrem dengan Albany.
“Ada apa? Kau tidak berpikiran untuk mendorongku ke bawah, ‘kan?” tanyanya menghampiri Damian yang menunggunya di pinggir atap, bertumpu pada tembok penjaga. Tidak bisa mengelak kalau Flora sedikit terpukau dengan paras Damian yang terlihat berkali-kali lebih tampan dengan cahaya matahari dan angin yang mengganggu rambutnya. Camkan, hanya sedikit.
“Jika hanya aku ingin bunuh diri.” Pria itu berbalik, bersandar dan menghadapnya. “Bagaimana jalan-jalannya?”
“Kau sungguhan mengetahuinya? Kapan Xavior memberitahumu?”
Damian mengedikkan bahu. “Bukan hal penting.”
“Kalian sungguh aneh. Apa kalian bisa bertelepati dalam jarak yang jauh? Atau mempunyai ikatan batin?”
“Aku tak mengerti apa maksudmu.”
Tak bisa dialihkan, tatapan lapar Damian tertuju pada perpotongan leher Flora yang terlihat menggiurkan untuk ditandai. Kulitnya masih bersih dan aroma Flora belum diakuinya, werewolf lain bisa saja kehilangan kendali dan menandainya walau Flora adalah mate-nya. Suara-suara Dane di kepalanya juga mendorong pria itu agar segera ....
Tidak! Damian menarik kembali kepalanya dan menggeleng keras. Dia sudah berjanji dan demi kebaikan Flora sendiri, akan menandainya jika wanita itu sudah tahu jati dirinya yang sebenarnya. Terlalu berisiko jika terburu-buru.
“Ada apa? Matamu bermasalah lagi,” ujar Flora.
“Aku tak tahu sampai kapan bisa menahannya,” geram Damian. “Diamlah, Dane!”
Flora melonjak kaget, mundur dua langkah. “Kenapa kau membentakku? Dan siapa pula Dane itu?”
Wanita itu tidak berhenti mundur karena Damian yang terus mendekat. Warna matanya terus berubah dan terus tertuju pada lehernya. Dorongan Dane di dalam sana membuat Damian kewalahan. Pria itu terus berhenti, kemudian maju lagi.
Tanpa aba-aba, Damian meraih dan menahan bahu Flora agar wanita itu tidak menjauh lagi. Dengan mata terpejam, Damian mengendus leher Flora seolah dia sedang mencium aroma yang sangat memabukkan. “Kau begitu harum dan itu akan berbahaya sampai aku menandaimu. Namun dengan keadaanmu yang sekarang, aku tak bisa memaksa atau kau akan membenciku.”
Flora bergidik ngeri, tetapi tidak kuasa untuk menjauh. Cengkeraman Damian kuat sekali. “Kau membuatku takut asal kau tahu,” cicitnya.
“Jika aku memberitahumu semuanya, apa kau akan ketakutan?”
“Apa peduliku? Aku lebih memilih mati terkejut daripada mati penasaran.”
Damian melepaskannya, menyugar rambut ke belakang dan kembali ke tepi atap. Tidak pernah dibayangkan menangani manusia akan menjadi serumit ini, jauh lebih rumit dibanding sepupu jauhnya yang memiliki mate Lycan.
“Apa kau percaya jika ada makhluk lain selain manusia?”
“Maksudmu hantu?”
“Bukan. Apa kalian menyebutnya?” Damian mengetuk-ngetuk jarinya, mengingat-ingat. “Makhluk mitologi.”
“Seperti unicorn dan drakula?”
“Aku tidak tahu apa mereka, tapi kedengarannya seperti itu.”
“Mungkin jika aku melihatnya sendiri, aku akan percaya. Aku tak akan mempercayainya mentah-mentah. Kau tahu? Liam pernah mengajakku ke sebuah rumah terbengkalai dan menjanjikan akan ada hantu atau penyihir atau arwah seorang kakek-kakek yang katanya berkeliaran. Yang kudapatkan hanyalah kucing hitam mengeong. Menyebalkan sekali.”
Damian terdiam. Bahkan jika bukan sekarang, apa Flora akan percaya? Apa dia akan bisa menerima hal yang tak masuk akal bagi manusia seperti ini? Mungkin Damian kenal beberapa orang di dunia manusia yang memiliki ketertarikan dengan makhluk beda dimensi sepertinya, tetapi tidak dengan melihat langsung. Mereka pasti akan berlari ketakutan.
Dia takut Flora akan melakukan hal yang sama.
“Jadi, apa yang akan kau katakan?”
Haruskah? Damian menghela napas dalam dan menahannya saat berkata, “Aku bukan manusia.” Permulaan yang bagus. Setidaknya Flora tidak akan sangat terkejut nanti.
Selama itu, Damian masih menahan napasnya—menunggu reaksi Flora yang sulit dibaca. Bahkan lebih mudah membaca tulisan manusia dibanding mengira-ngira apa yang sedang dipikirkan mate-nya. Percaya atau tidak, Flora tidak mengatakan apa pun.
Pipi Flora menggembung, menahan tawa dan mengejek Damian. “Lucu sekali. Apa kau akan mengaku kalau kau itu drakula atau manusia serigala yang akan berubah di malam bulan purnama? Tidak akan mempan jika kau ingin main-main.”
Flora masih tertawa saat Damian menjawab, “Ya. Kau benar, aku salah satu dari mereka.”
Ah, Flora geleng-geleng. Lelucon yang sangat payah, bahkan jauh lebih payah daripada temannya yang mengatakan kalau arwah orang mati akan pergi dengan jet ke angkasa. “Ini bukan tanggal satu April, jadi jangan pikir aku akan tertipu.”
Tidak takut lagi, dia bergabung dengan Damian untuk melihat pemandangan dari tepi atap. Berkali-kali lipat lebih cantik daripada dilihat dari kamarnya atau menyusuri langsung dengan Xavior. “Semuanya terlihat indah dari atas sini. Akan lebih indah jika aku melihatnya bersama orang lain, bukan bersamamu.”
“Kau begitu tidak menyukaiku?”
“Sangat.”
Damian merasakan detakan yang sangat menyakitkan mendengarnya. Ketahuilah jika werewolf adalah makhluk monogami dan sengat setia dengan pasangan yang sudah dipasangkan Moon Goddes untuknya. Ditolak seperti ini rasanya seperti ditusuk dengan pedang.
“Lalu bagaimana caranya agar kau menyukaiku?” gumamnya memperhatikan Flora.
“Entahlah. Belajar sana dari buku John Gray. Akan lebih bagus jika kau menjadi muridnya langsung.”
Flora membalikkan badan, pergi dari sana. Dia terkikik geli, membayangkan jika pria menyebalkan itu harus membaca buku dari orang yang paling romantis. Paling tidak, semua pria di lingkungannya akan membaca karya John Gray untuk menaklukkan seorang wanita.
Padahal Flora sendiri tidak yakin jika isi bukunya betul. Wanita tidak bisa disamaratakan hanya dengan menilai dari beberapa subyek voting.
Damian menggeram, mengirimkan mindlink pada Betanya. ‘Xavior, carikan informasi tentang John Gray. Sialan, Flo menyukainya! Jika sudah menemukannya, aku ingin sekali melihat apakah wolf-nya bisa bersaing dengan Dane.’
‘Baik, Alpha.’
***
Tampaknya sudah menjadi rahasia umum bagaimana ketinggian adalah tempat yang paling baik untuk memperhatikan semuanya lebih luas dan lebih menyeluruh, termasuk untuk mengawasi dan memata-matai. Setiap hari Eiden selalu ke atap hanya untuk memastikan tidak ada detail besar yang tertinggal dari mansion rivalnya, menyiapkan meriam di atap misalnya.
Tidak hanya itu, di atap juga mampu melepaskan penatnya setelah mengurus banyak hal tentang pack dan mengatur banyak strategi yang harus sangat diperhatikan keberhasilannya. Megamoon Pack cukup terkenal sebagai pack yang kuat dan kejam, ditambah dengan figur Eiden di mata alpha lain sangat berambisi—terutama menyangkut Supermoon Pack.
Perselisihan mereka semakin kental di setiap generasi, apalagi kali ini melibatkan Eiden secara langsung. Damian sialan itu benar-benar mengujinya.
“Sudah ada kabar dari perbatasan?”
Delta yang datang—Gaston—membungkuk sebelum menjawab, “Warior yang dikirim tidak menjawab mindlink. Kemungkinan dia ditangkap atau mereka memperketat penjagaan di perbatasan hingga mindlink terputus.”
Eiden melirik sesuatu yang dibawa sang Delta, tampak asing. “Benda hitam apa itu?”
Gaston menyodorkannya pada Eiden. “Para manusia menyebutnya teropong, Alpha. Dengan benda ini, seorang half pun bisa melihat dengan jauh dan lebih jelas.”
“Seberapa jauh?” Eiden mengambil dan mencobanya sendiri. Karena tidak ada yang memiliki benda seperti itu di mansion bahkan seluruh pack, dia sempat kesulitan bagaimana menggunakannya hingga Gaston membenarkan.
Bisa diakui jika barang-barang manusia banyak yang berguna walau mereka tidak bisa berubah wujud. Mereka tidak mendapatkan penglihatan tajam wolf, sebagai gantinya membuat barang seperti ini. Mungkin lain kali Eiden akan mengajak adiknya ke dunia manusia dan membeli beberapa senjata.
Arah teropongnya tertuju ke seberang, tepat ke dua orang yang juga sedang berada di atap. Eiden ingin melihat lebih jelas, tetapi batasnya hanya sampai sana. “Siapa orang di sana? Yang bersama Damian.”
Gaston mengambil alih teropong dan melihatnya juga. “Entahlah, Alpha. Mungkin dia omega baru.”
“Atau mungkin dia manusia yang dibicarakan orang-orang,” tebak Eiden menyeringai. Akan menyenangkan jika dia bisa memanfaatkan manusia itu, baik untuk kepentingannya atau untuk menjebak Damian. Eiden andal memanfaatkan sesuatu agar bisa mengikuti rencananya.
‘Jaiden, aku ingin informasi secepatnya tentang manusia Damian.’
‘Baik, Alpha.’
Sekali lagi dia melihat kedua orang itu menggunakan teropong, kali ini mengupayakan penglihatan wolf-nya sehingga bisa melihat lebih jauh. Manusia itu, wanita, cukup menarik dan baru. Eiden sendiri tak ingat kapan terakhir kali pernah bertemu manusia yang bukan santapannya. Dia meminimalisir pergi ke dunia manusia dan menyerahkan sepenuhnya urusan makanan pada omega.
Lengannya mengepal kuat. Jika sampai manusia itu mate Damian, dendam terbesarnya akan segera terbalaskan. Siapa pun dia, tak akan bisa lepas dari intaian Eiden.