TAMPAKNYA hanya Flora yang tidak mengharapkan adanya gerhana bulan ini. Semua orang-orang itu memperlakukannya sama seperti tahun baru di mana ada banyak cahaya obor yang menerangi terang jalan. Kalau saja dia masih berniat kabur, mungkin dengan adanya obor-obor yang membuka jalannya dia akan bisa sampai ke suatu tempat.
Ya, jujur saja, kabur tidak terdengar menyenangkan lagi setelah dia hampir mati ditenggelamkan para putri duyung. Lagi pula kalau dia bisa keluar dari sini, jalan pulang ke Albany ke arah mana pun dia tak tahu. Jangan-jangan dia hanya akan mengulangi hal yang sama, tersesat atau masuk ke bahaya yang lebih mengerikan.
Flora mulai merindukan ibunya dan Flair. Biasanya sepulang kerja, Flora akan membelikan kopi untuk ibunya agar lebih segar menunggui adiknya. Sebulan ini, entah apalah arti rumah selain menyimpan barang-barang dan mandi. Bahkan rasanya rumah sakit sudah menjadi rumah kedua karena Flair tidak bisa lepas pengawasan sama sekali.
Sebelum Flair sakit, ketiganya sering berdiam diri di atap depan loteng hanya untuk menikmati udara malam—dan meluangkan waktu bersama. Flair akan menceritakan sekolahnya, tugasnya, teman-temannya, atau bahkan pengalaman baru menjadi ‘wanita’ karena dia sudah lima belas tahun. Flo akan menceritakan pekerjaannya dan sang ibu hanya mendengarkan.
Keluarga kecilnya, entah apakah dia bisa bertemu mereka lagi atau tidak.
Terlepas dari itu semua, tempat ini sebenarnya tidak seburuk itu. Semua orang memperlakukannya sebaik mungkin, terutama para omega dan warior. Tempat yang cocok untuk menghabiskan masa tua. Lupakan saja tentang mereka bukan manusia.
Dan Damian. Tidak disangka pria itu membawakannya sebuah gaun selutut yang sangat manusiawi. Hiasan di mana-mana, warna menarik, dan desainnya tidak gerah. Jelas berbeda dengan gaun-gaun yang ada di lemarinya.
Flora tidak berhenti memandangi kaca, melihat betapa ‘hidup’ gaya pakaiannya. “Aku tidak menyangka kau bisa mendapatkan baju seperti ini. Kukira semua barang-barangmu pantas dipensiunkan saking tuanya, bahkan aku tidak pernah melihat Granna memakai salah satu gaun seperti yang memenuhi lemari.”
Damian mengedik. Dia sudah siap dengan baju sederhananya, sengaja memilih yang tidak begitu bagus karena nantinya Dane akan mengambil alih. Akan robek. Di punggungnya Damian membawa sebuah tas yang memang digunakan para werewolf untuk membawa pakaian cadangan.
Mengenai baju itu, portal menuju dunia manusia sudah terbuka kemarin. Demi mewujudkan keinginan Flora, Damian menugaskan satu warior khusus untuk ke dunia manusia dan membelikan semuanya, kemudian kembali ke dunia immortal. Hal itu sangat berbahaya sebenarnya kembali dalam waktu kurang dari sehari. Itu kenapa saat ke dunia manusia, paling tidak Damian akan menetap seminggu.
“Untuk malam yang spesial,” ujar pria tersebut.
“Kenapa di luar terang sekali? Ada banyak obor. Memangnya gerhana sepenting itu untuk kalian?”
“Kami menunggu sangat lama untuk gerhana ini. Kau akan mengerti setelah aku memberi tahu.” Damian menyodorkan tangannya mengajak sang Luna untuk bergabung. “Ayo, Luna.”
Flora memutar bola matanya malas, tetapi tetap menerima sodoran tangannya. “Untuk ke sejuta kalinya, Damian, namaku Flora. Tolong panggil saja seperti itu.”
Wah, apakah ini mansion yang lain?
Sepanjang lorong sangat berbeda dengan siang hari atau sebanyak yang pernah Flora lihat. Cahaya ada di mana-mana, hiasan bunga dan daun diletakkan di luar cahaya sehingga cahayanya percampuran antara cahaya terang, cahaya berwarna merah muda, dan cahaya berwarna hijau. Simpel, tetapi sangat indah dengan jendela terbuka lebar.
Ada sebuah aroma yang tidak familiar di hidung Flora, tetapi sangat harum. Tidak tercium datangnya dari mana, aroma itu memenuhi seluruh lorong.
“Mansion ini jadi terlihat berbeda sekali. Dari mana semua cahaya ini? Tidak ada lampu sama sekali.”
“Penyihir,” ujar Damian. Itu memang benar, cahaya-cahaya itu dihasilkan oleh penyihir rumah dan bercahaya dari dalam dinding. Para omega menempelkan kelopak bunga dan daun itu atas saran ide Xavior.
“Baiklah, kau harus memperkenalkanku padanya nanti.”
Damian bergegas, menarik Flora lebih cepat ke atap. Semua lorong juga turut bercahaya, membuat kesan istana putih seperti di Alice In Wonderland. Tidak ada lagi kesan kuno, malah sangat mewah.
Sampai di atap, Flora dibuat tak berkutik dengan pemandangan di depannya. Berbeda drastis dari yang biasa dia lihat. Bagaimana Damian bisa membuatnya jadi begini indah?
Lampu tumbler panjang mengelilingi tembok pembatas atap hingga semuanya berkelap-kelip dengan warna yang sama. Merah, biru, putih, dan hijau. Semuanya menyala bergantian, kemudian berkelap-kelip. Ditambah lantai atap juga dibuat bersinar, lebih seperti lantai keramik.
Yang lebih mengejutkan adanya tikar berukuran besar dengan meja kecil di atasnya. Seikat bunga mawar merah dan coklat Belgia—mungkin.
“Apa sesuai dengan keinginanmu?” tanya Damian memastikan.
“Astaga, Damian. Ini ....” Flora membekap mulutnya sendiri, menatap ke sekeliling tak percaya. “Aku bahkan tak tahu kata apa yang bisa mendeskripsikannya. Ini mengagumkan.”
Damian mengambil seikat bunga yang ada di atas meja, memberikannya pada sang mate. Bunga mawar dengan kelopaknya merah sempurna.
“Bunga mawar? Kau akhirnya mendapatkannya?”
“Untuk Lunaku, semuanya akan kulakukan.”
Flora berdecih, tetapi tidak melunturkan senyumnya. “Jangan buat aku kembali menjadi gadis umur tujuh belas. Aku sudah sangat tua untuk semua ini.”
“Kau sempurna untukku. Ayo, aku tak punya banyak waktu sampai gerhana bulan terjadi.”
Damian mendorongnya pelan untuk duduk, memperlihatkan beberapa jenis coklat dari merek dan ukuran yang berbeda. Ada yang jenisnya coklat batang hingga permen-permen coklat kecil-kecil. Meja kecil itu penuh dengan camilan yang akan membuat gigi rusak.
“Semua yang kau inginkan.”
“Aku tidak serius, hanya ingin mengerjaimu.”
“Setidaknya aku tetap senang karena kau terlihat senang.”
Wanita itu menggeleng tak habis pikir, mengambil satu coklat. Mulai berpikir kalau ternyata semua pikiran buruknya tentang Damian hanyalah bagian dari pesimismenya. Damian tidak pernah memperlakukannya buruk—terlepas dari menculik.
Dan kedatangan Mega Wolf memperburuknya.
“Aku tidak tahu ini coklat benar dari Belgia atau kau hanya membelinya di sembarang toko. Bahkan ini bukan Valentine dan aku memakan coklat malam-malam. Aku tak akan berani menimbang berat badanku sendiri,” kekeh Flora membuka bungkusan coklat tersebut dan menggigitnya. Manis dan lumer.
Untuk beberapa saat, mereka duduk terdiam memandangi bulan yang sangat terang. Di bawah sana mulai ramai terdengar tanpa jelas apa yang sedang diributkan. Flora sangat menyukai momen seperti ini, momen di mana seluruh langit terasa menjadi miliknya tanpa ada gedung atau dahan pohon yang menghalangi.
Flora bertanya setelah menghabiskan satu coklat batang, “Jadi, apa sekarang?”
“Ada yang ingin kukatakan.”
“Kau tidak ingin ke bawah dan bergabung dengan yang lainnya?”
“Mereka tahu aku tidak bisa, ada Xavior dan Sean yang mengambil alih. Urusanku sekarang hanya denganmu.”
Damian melirik bulan yang belum menunjukkan tanda-tanda akan gerhana, kemudian memejamkan mata. ‘Sean, berapa lama sampai gerhana?’
‘Lima belas menit, Alpha.’
Pria itu berdiri, berlutut di depan Flora. “Aku hanya punya waktu lima belas menit dan aku tak tahu kapan itu akan berakhir jadi ....”
Inilah saat yang membuatnya gelisah setiap malam. Inilah saat Flora harus memutuskan sesuatu. Detak jantungnya berdetak jauh lebih cepat dibanding semua momen menegangkan yang bisa diingatnya. Dengan suara tercekat, Flora membeo, “Jadi?”
Damian mengela napas panjang, menunduk. Flora malah salah fokus dengan bulu matanya yang cukup panjang untuk ukuran lelaki. Hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tebal. Dia malah bisa-bisanya salah fokus sampai ke jakun pria itu yang bergerak-gerak.
“Aku manusia serigala.” Dia terdiam beberapa saat, bermaksud membiarkan Flora terkejut. Damian tidak mendongak dan memeriksa bagaimana ekspresinya, terlalu takut Flora menolaknya. Dia berdiri dan berjalan bolak-balik, gelisah.
“Aku tahu mungkin kau tak akan percaya atau menganggapku bercanda, tetapi ini sungguhan, Flora. Serigala yang berada di danau saat itu aku. Danelah yang waktu itu menyelinap ke kamarmu. Mungkin terdengar gila, tetapi di dalam tubuh ini ada dua jiwa dan bentuk, Flora. Aku, Damian, dan Dane, serigala yang akan kau temui sebentar lagi.
“Bukan hanya aku, semua manusia di sini adalah manusia serigala tanpa terkecuali. Ya, terkecuali kau. Malam ini, saat gerhana bulan, makhluk immortal akan berubah selama gerhana terjadi dan itulah sebabnya kami merayakan saat ini. Wolf kami akan lebih kuat dan tidak terkendali, tetapi aku sebisa mungkin memperingatkan Dane untuk tidak menandaimu sekarang. Mungkin itu akan melukainya, tetapi kau belum siap sekarang.”
Rahangnya terasa mau jatuh mendengar semua penuturan Damian, terutama dengan nadanya yang cepat hingga Flora bingung sendiri dengan betapa lancarnya dia berbicara sepanjang itu. Tidak banyak yang bisa ditangkapnya, tetapi itu cukup membuktikan betapa Damian ingin Flora mengetahui siapa dirinya secara menyeluruh.
Tubuhnya menegang saat mengingat, sebentar lagi dia akan berhadapan dengan Dane si serigala.
Dengan napas terengah, tatapan Damian menuntut dan memelas. Dane di dalam sana sudah gelisah karena mendekati gerhana bulan dan Flora tidak menunjukkan respons jelas. “Flora, katakan sesuatu, waktuku tidak banyak.”
“Bagaimana kau tahu aku siap atau tidak?”
“Apa?” Damian mendesis saat tubuhnya dipaksa berlutut dari dalam sana. Tubuhnya mulai bereaksi terhadap datangnya gerhana bulan yang akan terjadi dalam hitungan menit. “Apa—maksudmu?”
“Aku sudah tahu sebelumnya kalau kau manusia serigala?”
“Bagaimana bisa?!” Dia mendesis kuat dengan tubuh yang terpelanting menegak, matanya membelalak ke atas. “Kapan?!”
“Saat terdengar ledakan sepanjang hari.” Flora bergidik ngeri melihat Damian yang tampak sangat kesakitan, tetapi tidak berani menolong. “Mega Wolf itu memberitahuku.”
“Apa?!” Erangan Damian semakin keras dengan suara mengerikan tulang yang patah. Dia terus membungkuk dan mendongak seperti sedang kerasukan. Matanya berubah merah dengan pupil yang mengecil. “Kenapa kau tidak bilang sejak awal?!”
Flora menggigit bibir bawahnya takut. Terlalu takut untuk pergi dari sana saat kakinya terasa lemas sekali. Takut sekaligus penasaran sampai tangannya bergetar hebat.
Damian terlihat sangat tersiksa. Bulu-bulu lebat berwarna coklat keemasan mulai muncul di sekujur tubuhnya, bahkan di dalam pakaian hingga kelihatannya menjadi lebih besar. Taring tajam mencuat dari balik bibirnya, bukan hanya dua atau empat. Semua giginya menjadi taring dan kukunya menjadi cakar tajam.
“Argh!!”
Setelah teriakan itu, Damian terdiam dan menunduk dalam.
“Damian, kau tidak apa-apa?”
Tanpa peringatan pakaiannya sobek sampai tidak tersisa satu pakaian pun di tubuh Damian yang mendadak membesar dan berubah menjadi serigala. Pria itu sudah berubah sepenuhnya dengan bentuk tubuh yang bertahan dengan empat kaki.
ROARRR!
Wajah Flora pucat pasi merasakan napas serigala tersebut yang meraung padanya. Matanya benar-benar merah seperti manik-manik. Perlahan tapi pasti dengan tatapan yang terkunci pada Flora, Damian—Dane—mendekat. Bulu-bulunya coklat keemasan, lebih terang dengan bantuan sinar bulan. Ada lengkung putih menyerupai kalung dan sebuah tanda rumit di lehernya.
“Dane, apa—apa itu kau?” Flora gemetar beringsut ke belakang, tetapi tidak membuahkan hasil besar. Flora mendongak menatap bulan, matanya membesar. Gerhana bulan sudah dimulai.
AUU!
Damian melolong keras dan panjang, disusul dengan lolongan yang lainnya di bawah sana membuat tempat tersebut berisik sekali. Flora menutup telinganya keras sekali, gendangnya terasa berdegung. Lolongan itu bersahut-sahutan di mana-mana, bahkan di tempat yang jauh.
Tiba-tiba Dane melompat dan menarik kerah baju Flora, mengempaskan pada tubuhnya. Flora kesulitan mencari pegangan, hanya bisa mencengkeram bulu-bulu Dane. Dia membelalak saat lari Dane tidak berhenti saat mereka menuju tepi atap, Flora langsung memeluk lehernya dan memejamkan mata erat-erat.
Jangan mati. Jangan mati.
Pegangannya semakin mencengkeram saat merasakan mereka ada di udara. Sedetik sebelum tubrukan keras meninju perut Flora. Wanita itu terlalu terkejut untuk mengindahkan rasa sakitnya, menoleh tak percaya. Mereka baru saja lompat dari atap tanpa Dane terluka sedikit pun? Bagaimana bisa?
Lari Dane tidak memelan sama sekali, melewati obor-obor yang dipasang di antara pepohonan. Larinya hampir sama dengan kecepatan motor dengan poin plusnya bisa berlari di mana pun. Dengan ukurannya yang tiga kali lebih besar Flora merasa sedang menaiki kuda dewasa.
“Dane, pelan-pelan!”
Mata Dane awas memperhatikan semua sudut yang akan dilewatinya, bahkan bisa mendeteksi adanya sesuatu yang bergerak dari balik pepohonan yang cukup gelap dalam jarak yang jauh. Serigala tersebut berbelok tajam membuat Flora menoleh ke belakang.
“Dane, kenapa mereka mengikuti kita?! Apa kau ingin mengorbankanku?!”
Tak hanya satu atau dua, segerombolan serigala berwarna sama dengan Dane itu mengejar sang Alpha. Semua serigala itu sama-sama memiliki mata berwarna merah dengan geraman mengejar mereka. Satu hal yang membedakan mereka dengan Dane, tidak ada lengkung putih dan tandanya berbeda-beda.
Entah karena staminanya atau lari Dane memang lebih cepat, satu per satu serigala yang mengejar tertinggal dan pada akhirnya berlari ke arah berlawanan. Flora semakin masuk ke bagian hutan yang tak pernah dijangkaunya. Obor yang ditancapkan ke tanah mulai berkurang.
Dane berhenti di sebuah tanah terbuka yang tertutup dedaunan kering, menghadap sebuah tebing besar yang terkena sinar bulan. Tidak terlihat cahaya apa pun di dalam hutan.
“Dane, kita ada di mana?” gumam Flora gemetar ketakutan. Tidak ada siapa pun dan serigala itu bukan Damian. Dia sama sekali tidak mengenal Dane selain malam yang singkat waktu itu.
Flora mencengkeram ujung bajunya dan mundur perlahan. Dane menunjukkan sikap aneh dengan bolak-balik dan tak berhenti menggeram. Beberapa kali menoleh pada Flora, sudut bibirnya terangkat—mendesis.
“Kau tidak akan melukaiku, ‘kan?”
Geraman Dane bukannya berhenti, malah semakin keras dan semakin sering. Serigala itu menunjukkan gelagat gelisah dan sesuatu yang tidak diketahui Flora sama sekali. Wanita itu nyaris berteriak saat Dane seperti ingin menerkamnya, tetapi kembali mundur.
Hal yang lebih gila terjadi. Dane malah menggigit kakinya sendiri, seluruh tubuh yang bisa dicapai moncongnya. Geramannya berganti menjadi lolongan yang terkadang terdengar merintih, di saat yang lain terdengar lolongan murka.
Flora pikir hanya sampai situ dia akan dikejutkan. Rupanya Dane berlari dari tengah-tengah ruang kosong itu dan menubrukkan tubuhnya ke sebuah pohon redwood tua hingga tumbang. Namun, Dane tidak kehilangan tenaganya, masih bisa berdiri dan menubrukkan diri lagi ke pohon yang lain.
“Dane! Ada apa denganmu?!”
Mendadak Flora ingat kata-kata Damian. Dane akan menjadi tak terkendali dan lebih kuat. Namun, pria itu tidak memberi tahu apa yang harus dilakukannya dalam situasi nyata. Flora hanya bisa mengandalkan instingnya sebagai sesama makhluk hidup.
Dane membelakanginya, menghadap pohon kedua yang ditumbangkan. Ekornya bergerak-gerak dengan kepala tertunduk. Antara ragu dan nekat ingin menolong, Flora melangkah mendekatinya. Satu langkah saja terasa seperti mendekati bahaya. “Dia Damian. Dia tidak akan macam-macam,” gumamnya menenangkan diri.
Untungnya Dane tidak berusaha melakukan kegilaan yang lain, masih terdiam seolah membiarkan Flora berbuat sesuatu. Tatapan matanya masih bengis khas hewan liar yang tak bisa dijinakkan.
“Aku tidak mau takut padamu. Jangan buat aku menyesali keputusanku.”
Dengan tangan yang bergetar, Flora mengusap ringan tubuh bagian belakangnya—melihat lebih dulu respons Dane. Serigala tersebut masih menunjukkan kegelisahan, tetapi Flora tidak menganggapnya sebagai sebuah bahaya sehingga dia berani melanjutkan usapannya sampai punggung Dane.
Dane terduduk di tanah dengan dua kaki depannya menyangga lebih tinggi. Flora masih mengelusnya karena Dane memejamkan mata, seperti kucing yang senang saat seseorang mengelus bulu-bulunya. “Kau yang menyelinap ke kamarku, ‘kan?”
Serigala tersebut hanya menggeram. Telinganya terkulai, tidak lagi begitu awas. Dane mengendus Flora dan meletakkan kepalanya di telapak tangan wanita itu—meminta diusap. “Kukira kau bisa bicara, sama seperti saat di kamarku.”
Ya, ini jauh dari bayangan Flora yang malah mengkhawatirkan tentang piknik di atap. Mereka bahkan hanya sebentar menikmati lampu-lampu yang mengelilingi pagar pembatas. Siapa sangka justru dia akan berakhir di sini, dengan orang lain dalam tubuh Damian. Sebuah binatang yang tak pernah dia duga memiliki wujudnya sebagai manusia.
Dan mungkin Flora akan terjebak di sini selamanya. Dane dan Damian secara tidak langsung membuatnya percaya kalau mereka tidak memiliki niat buruk seperti yang dikatakan Mega Wolf.
Hutan ini terasa bermil-mil jauhnya dari inti pack yang tadi sangat ramai. Gerhana bulan juga sudah berakhir, tetapi Dane tidak berubah. Serigala itu menikmati elusan tangan sang mate.
“Jadi, kau yang waktu itu menyelamatkanku dari putri duyung? Aku kira serigala itu ingin menerkamku juga. Terima kasih, jika kau tidak ada di sana, mungkin saat ini tulang-tulangku ada di dasar danau.”
“Langitnya indah sekali, Dane.”
Dane menggeram. Dia berdiri dengan daun-daun kering menempel di bulu-bulunya, memutari Flora. Dane menggerak-gerakkan tubuhnya sehingga tas yang tadi dikenakan Damian terjatuh ke tanah. Wanita itu tidak mengerti apa yang dilakukan Dane, serigala itu kembali menelungkup di atas tanah dan menariknya mendekat.
“Dane, bagaimana kalau kita ketiduran di sini? Lebih baik kita kembali saja sekarang.”
Bak tidak mau dibantah, Dane menarik Flora dengan kaki depannya hingga Flora terlentang di atas bulu-bulunya yang halus. Ukuran Dane yang besar membuat Flora merasa sedang meniduri sebuah kursi malas. Kenyamanan dan kehangatan menyelimutinya saat Dane melengkungkan badannya ke depan, memeluknya.
***
Suara kicauan burung dan sinar matahari adalah alarm alami yang ampuh untuk membangunkan wanita yang semalam tertidur di atas serigala besar. Tangannya meraba-raba, merasakan sesuatu yang kasar dengan tekstur yang aneh. Seketika tubuhnya terasa sakit, mungkin terlalu lama berbaring di atas sesuatu yang keras.
Begitu meraih kesadarannya dan melihat langit, Flora sontak terduduk. Kesadarannya belum terkumpul penuh, bingung dengan tempat tidurnya yang sangat tidak biasa. Di atas tanah, di atas dedaunan coklat yang gugur. “Apa yang ....”
“Di mana ini?”
“Kita berada di tengah hutan.”
Dia menoleh cepat ke arah sumber suara. Seseorang yang membelakanginya. Dari warna baju dan potongan rambutnya yang sudah dia lihat beberapa hari itu, Flora mengenalnya tanpa melihat wajah. “Bagaimana bisa?” gumamnya. “Ah, aku ingat. Yang semalam itu benar Dane, ‘kan?”
“Ya. Dia sempat keberatan untuk bertukar shift saking senangnya denganmu.”
“Lalu kenapa kau harus bertukar sekarang? Kita masih harus pulang ke mansion dan jaraknya jauh sekali.”
“Xavior akan mengirimkan sesuatu untuk kau pulang, tenang saja.” Damian menarik Flora ke tengah-tengah ruang terbuka, duduk beralaskan dedaunan. Sorot matanya serius saat mengatakan, “Ada yang ingin kutanyakan padamu, semalam tidak sempat.”
Jujur saja untuk pertama kalinya, Flora dibuat gugup oleh tatapan seseorang. “Apa itu?” cicitnya.
“Kau bilang Eiden yang memberitahumu saat hari aku berada di perbatasan. Bagaimana bisa?”
“Sebelum itu, aku ingin kau bersumpah bahwa kau tidak berniat jahat padaku dan berniat membohongiku sejak awal.”
“Aku tidak berniat membohongimu begitu, aku hanya menunda dan mencari saat yang tepat agar kau bisa menerimanya dengan baik.”
Kening Flora mengerut. “Apa maksudmu menerimanya dengan baik?”
“Kau ingat berapa kali kau berusaha untuk kabur? Kau pikir jika aku memberitahumu bahwa aku bukan manusia saat itu, apa yang akan kau lakukan? Mungkin saja kau akan bunuh diri karena terlalu takut.”
“Kau benar juga, tapi itu tidak masuk akal untukku.”
“Baiklah, aku bersumpah. Jawab pertanyaanku.”
“Aku tidak tahu. Saat itu aku sedang di kamar dan pria itu muncul begitu saja di jendela dan mengatakan banyak hal. Bahwa kau manusia serigala dan tidak berniat jujur. Dia bilang jika kau berubah terlebih dahulu sebelum mengatakan semuanya, kau berniat menipuku dan tidak akan pernah membebaskanku.”
Rahang Damian mengeras dan tangannya terkepal kuat. Musuhnya itu ternyata sudah mengambil langkah tanpa sepengetahuannya. Memang aneh jika Eiden tidak melakukan sesuatu akan hal yang bisa dijadikannya sebagai peluang untuk saling membalas dendam. Sialnya, dia sudah tahu tentang Flora begitu banyak.
Flora menilai keterdiamannya sebagai sebuah pembenaran Damian akan tuduhannya. Bibirnya menipis emosi kemudian berdiri, bersiap meninggalkan Damian sebelum pria itu mengatakan, “Dia benar.”
“Apa?” Wanita itu menoleh tidak percaya.
“Bagian terakhirnya. Aku tak akan pernah bisa melepaskanmu, Flora.”
“Apa maksudmu? Kau tidak akan mengantarku pulang ke Albany?”
Damian mendongak, menepuk-nepuk tempat yang tadi diduduki Flora. “Dengarkan aku. Aku akan menjelaskan semuanya.”
Asal Damian tahu saja betapa Flora sedang mengutuk namanya dalam hati. Apa ini berarti Mega Wolf benar semuanya? Apa ini berarti kalau pilihan Flora juga salah?
“Seperti yang kau tahu, aku ini manusia serigala dan manusia serigala memiliki mate. Kau mate-ku, Flora. Pasangan yang dipilihkan Moon Goddes untuk selamanya dan kau tahu jika setiap werewolf hanya memiliki satu mate. Kau. Aku tidak akan bisa melepaskanmu.”
“Kalau begitu kau bisa ikut aku ke Albany.”
“Dan meninggalkan rakyatku? Flora, aku seorang pemimpin dari ratusan orang. Aku tidak bisa meninggalkan mereka, tidak ada yang bisa menggantikanku. Aku sudah dididik menjadi Alpha sejak kecil dan Supermoon Pack akan mengalami perpecahan. Keluargaku ada di sini. Jika aku memutuskan hubungan dengan dunia immortal, aku tak akan bisa bertemu mereka lagi selamanya.”
“Lalu bagaimana denganku? Dengan hidupku di Albany? Aku juga masih punya Mom dan Flair yang masih membutuhkanku, aku membutuhkan mereka,” balas Flora berapi-api.
Bahu Damian terkulai, menunduk. “Kau hanya belum terbiasa, Flora. Kau hanya belum menganggap tempat ini rumah.”
“Bagaimana bisa?”
“Kau hanya perlu belajar mencintaiku seperti aku mencintaimu.”
Wah. Rasanya Flora ingin tertawa begitu keras saat mendengar Damian mengungkit-ungkit soal perasaan. Dia sanksi jika pria khususnya yang bergabung dengan serigala seperti Damian bisa memikirkan hal murahan seperti itu. Yang ada di pikirannya hanya nafsu dan rasa lapar.
“Mustahil. Kau mencintaiku dalam waktu singkat?”
“Werewolf bahkan jatuh cinta hanya dalam hitungan detik pada mate mereka.”
“Kau pasti membual. Mana bisa seperti itu.”
“Kau manusia tidak akan mengerti betapa kami sangat memuja mate masing-masing. Kau tidak ingat bagaimana usahaku beberapa hari ini untuk menyenangkanmu?”
Flora berdecih, terdengar seperti omong kosong belaka. “Baiklah-baiklah, aku percaya. Jadi, tepatnya ada di mana ini? Maksudku jika ini di bumi, paling tidak akan ada informasi yang bocor.”
“Kami berbeda dimensi dengan dunia manusia. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menembusnya dan pergi ke dimensi lain. Itu sebabnya aku membiusmu saat dibawa ke sini.”
“Masuk akal. Paling tidak aku akan berusaha menendang pangkal kakimu jika berusaha memaksaku untuk ikut ke tempat yang tidak jelas ini. Jadi, ada apa saja di sini? Ada putri duyung, itu artinya tidak hanya ada manusia serigala, ‘kan?”
“Ada banyak dan sebagian besar sudah diketahui manusia, dalam bentuk fantasi dan film yang selalu kau sebutkan itu. Ada yang ingin kau lihat?”
“Bagaimana dengan penyihir yang selalu kau sebut? Aku tidak melihat siapa pun yang kau maksud.”
“Penyihir rumah, mereka menyatu dengan mansion dan tidak terlihat, tetapi mereka bisa menggerakkan semua barang yang ada di mansion. Tetapi jika kau ingin bertemu dengan penyihir putih, aku bisa membawamu ke sana.”
Apakah mereka berhidung besar berjerawat, tubuh bungkuk, rambut putih dengan topi hitam besar bertepi lebar dan runcing di atasnya? Atau mereka bisa berubah menjadi siapa saja seperti di Hansel and Grittle?
“Tidak usah, kapan-kapan saja,” tolak Flora bergidik. “Damian, apa berubah menjadi serigala itu sakit?”
Damian mengedikkan bahu. Sayangnya semalam, dia tidak bisa melihat ekspresi Flora karena terlalu sibuk menenangkan Dane yang terburu-buru ingin mendobrak keluar. Bayangkan saja semalam Damian sudah bersusah payah membujuknya agar berubah secara perlahan, tetapi tetap saja rasa sakitnya tidak tertahankan dalam tubuh manusianya.
“Jika di saat biasa seperti ini, sakitnya tidak begitu terasa. Semalam karena kekuatan Dane menjadi lebih besar berkat pengaruh gerhana bulan, jadilah sakitnya lebih menusuk. Tidak apa-apa, itu wajar. Pertama kali aku berubah, aku bahkan tidak bisa berjalan sampai dua hari. Semua tulangku rasanya patah.”
“Mendengarnya saja sudah membuatku merinding. Bagus karena aku tidak harus merasakannya.”
Entah ke berapa juta kalinya leher Flora selalu terlihat menggiurkan untuk tempat menancapkan taringnya dan menghiasnya dengan sebuah tanda khas yang hanya dimiliki Damian. Entah kapan atau apakah saat itu akan bisa terjadi.
“Flora, walau aku tidak akan melakukannya tanpa persetujuanmu, kau harus tahu jika ada sebuah keharusan yang dilakukan manusia serigala setelah menemukan mate-nya.”
“Apa itu?”
“Klaim dan ... penyatuan.”
Flora menelan ludahnya susah payah mendengarnya. Kata-kata Damian saja sudah menunjukkan ke arah mana pembicaraan itu. Namun, Flora tetap mengatakan, “Jelaskan.”
“Klaim adalah saat di mana aku menandaimu sebagai milikku. Dengan cara menggigit lehermu dan tanda itu akan muncul.”
“Menggigit?!”
“Sudah seharusnya seperti itu. Aku tidak tahu sampai kapan bisa menahan Dane untuk menandaimu,” desah Damian berat. Jika ada cara lain, dia juga lebih memilih menggunakan cara lain yang tidak akan menyakiti Flora.
“Lalu ... penyatuan?”
“Kita melakukan hubungan ....”
Tidak. Flora membelakanginya, menyembunyikan wajahnya yang memerah dan betapa gugup ia sekarang. Astaga, tidak manusia tidak werewolf, ternyata melakukan hal ‘itu’ memang sebuah hal yang tidak akan lepas dari makhluk hidup mana pun. Membayangkan bagaimana buasnya Dane semalam membuatnya bergidik ngeri kalau itu benar-benar terjadi.
Ayolah, manusia saja kadang suka lupa diri. Bagaimana jika Dane tiba-tiba mengambil alih dan melakukan sesuai gayanya, gaya serigala yang jelas tidak manusiawi? Astaga, sadar, Flora!
“Tenang saja. Aku tahu semua ini tiba-tiba dan mungkin kau belum siap. Aku akan menahan Dane sekuat tenaga. Dane tidak akan—”
“Kapan kita akan pulang?” potong Flora. “Jika terlalu lama, aku tidak keberatan pulang bersama Dane. Kalau dia ingin mengantarku.”
Tentu saja di dalam sana Dane melolong senang dengan respons mate mereka yang tidak serta merta menjadi takut setelah mengetahui wujud aslinya. Damian terkekeh geli dengan wolf-nya yang tidak biasanya bersemangat begini.
“Tentu saja dia mau.”
‘Dia menerimaku, Damian! Kau dengar apa katanya tadi?! Dia tidak takut, Moon Goddes!’
Dengan perubahan yang lebih mulus dan tidak sesakit malam tadi, Damian bertukar tubuh dengan wujud serigala Dane. Dengan kecepatan larinya yang mampu mengalahkan wolf lain, mereka kembali menyusuri jalan yang sama dengan tadi malam. Dengan sebuah perbedaan besar yang terjadi.