FAM 14 New Day

2987 Kata
SIALAN. Apa yang dipikirkan manusia itu sampai menjadi sebodoh ini? Sejak Eiden mendapatkan kembali tubuhmu, pria itu langsung naik ke atap dan kembali memantau Supermoon Pack. Kemarahan menguasainya saat apa yang dia rencanakan tidak berjalan mulus. Berani-berani makhluk lemah itu menggagalkan rencana besarnya. Semua perkataannya masuk akal untuk menariknya keluar dari Supermoon Pack. Seharusnya manusia itu datang ke sini setelah tadi malam. Eiden bahkan menempatkan beberapa warior di perbatasan untuk mempermudah wanita itu menyeberang. Apa pun akan dilakukannya demi melihat Damian hancur dan manusia itu salah satu caranya yang paling ampuh. Eiden memindlink Jaiden yang juga berada di perbatasan, ‘Bagaimana? Apa sudah ada tanda-tandanya?’ ‘Tidak ada, Alpha. Sepertinya manusia tersebut masih ada di mansion.’ “Sialan!” serunya menjambak rambut kesal. “Bagaimana bisa rencanaku gagal? Kenapa manusia itu tidak kabur dari Supermoon Pack bahkan setelah apa yang kukatakan padanya?” Dia mondar-mandir, menendang angin beberapa kali saking emosinya dan tidak bisa dilampiaskan. “Rencanaku tidak pernah gagal sebelumnya dan aku sudah memperhitungkan semuanya. Apa yang terjadi di malam gerhana bulan? Apa yang membuatnya tidak kabur dari sana?!” “k*****t kau, Damian. Jangan pikir aku akan menyerah begitu saja hanya karena satu kegagalan kecil. Kau tidak akan lepas dari pengawasanku.” Dengan suaranya yang menajam saat mendengar pintu terbuka, Eiden menoleh marah. Namun, kemarahannya langsung sirna saat melihat siapa yang datang. Adiknya datang dengan perlengkapan panah yang didapatkan Eiden dari dunia manusia. Tidak semuanya, panahnya menggunakan khusus untuk melumpuhkan musuh atau mangsa. “Kakak, kau baik-baik saja? Aku mendengar teriakanmu dari bawah,” ujar Eveline sarat akan khawatir pada kakaknya. Eiden tersenyum, mengelus surai panjang adiknya penuh sayang. “Tentu saja, Eve. Kau tahu, hanya sekadar urusan pack.” “Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Kak. Kau perlu waktu untuk beristirahat dan menyenangkan dirimu sendiri.” “Baiklah. Kalau begitu, apa kau mau menemani kakakmu ini melakukan sesuatu? Aku bisa ikut berlatih denganmu.” “Tentu. Aku ingin berlatih memanah, mungkin kau bisa menunjukkan posisinya lagi.” “Tentu saja aku bisa. Kau selalu bisa meminta bantuan kakakmu, Eve.” Eveline mendengus. “Yang benar saja. Kau itu Alpha, aku tidak bisa mengganggumu kapan saja.” “Bagaimana lagi? Aku sudah tidak punya mate. Itu artinya sama kau menemukan mate-mu, kau yang terpenting bagiku.” “Terserahlah. Bagaimanapun aku melarang, kau akan tetap menganggapku adik kecilmu,” gerutunya meninggalkan Eiden. Pria itu menoleh dengan tatapan bengis dan dendam yang amat dalam. “Kau tak akan kulepaskan sampai mati.” *** Jika ini adalah film, mungkin mata Flora akan membesar dan berbinar-binar saat Xavior membawanya ke gudang persediaan. Rasanya seperti menemukan kembali setengah jati dirinya yang hilang. Menemukan air untuk jiwanya. “Ini semua barang yang kau dapatkan dari bumi?” Tumpukan barang itu mulai dari yang mahal sampai murah, semuanya menyatu. Flora yakin siapa pun yang membelinya tidak mementingkan harga atau kegunaannya karena buktinya, di sini masih kuno sekali. Paling tidak kalau ada yang mengerti, ada satu dua barang dari dunia manusia yang terlihat. Mulai dari anyaman keranjang hingga piringan hitam, barang-barang tersebut bertumpuk bak harta karun. Tak pernah Flora sesenang ini melihat telur plastik yang dicat warna-warni di mana biasanya dia akan memberikannya dengan sukarela pada Flair, bahkan tak mau terlihat oleh siapa pun kalau dia memegangnya. Pakaian, alat makan, sampai buku-buku dengan judul yang tak menarik. “Ya, kami tidak begitu memperhatikan barang jenis apa dan kegunaannya, hanya membelinya begitu saja.” “Bagaimana bisa ada orang bodoh yang membuang-buang uangnya hanya untuk mesin pengocok telur? Bahkan di sini tidak ada listrik,” gerutu Flora geli sekali. “Oh, aku lupa kalau kau bukan manusia.” Xavior mendengkus sebal. “Sejak kapan kalian mulai mengumpulkan ini semua?” “Sudah lama. Awalnya kami hanya membawa beberapa barang dan menyadari kegunaannya sangat membantu. Jadi, kami mulai membawa lebih banyak, tetapi lupa dan tidak mengerti bagaimana cara menggunakannya.” “Ya, aku tahu fungsi semua barang ini. Tapi kau yakin akan menggunakannya? Aku tidak ingin merusak ‘kekunoan’ tempat ini, tidak akan otentik lagi.” “Ambillah yang kau perlukan, Luna. Jika kau perlu sesuatu yang tidak ada, warior lain bisa pergi ke dunia manusia dan membelikannya untukmu.” Spontan Flora menoleh. “Kalian bisa ke sana kapan saja?” Xavior meliriknya melalui ekor mata. “Kau tidak berniat kabur lagi, ‘kan?” “Tidak. Aku hanya penasaran bagaimana caranya kalian menyeberang. Kau ingat ‘kan kalau aku datang ke sini dalam keadaan dibius. Aku tidak ingat sama sekali.” Walau dengan nada bercanda, Xavior tetap menganggap serius ucapan Flora. Sang Luna tidak boleh meninggalkan mansion atau Damian akan menggila, terutama jika Flora berhasil kabur ke dunia manusia. Siapa pun yang menjaminnya menyeberangi dimensi, Damian tidak akan melepaskannya. “Maaf, Luna, mungkin sebaiknya kau tidak tahu tentang hal ini.” Flora mengedikkan bahu, kembali fokus pada barang-barang tersebut. “Aku mengerti kau khawatir aku akan meninggalkan Alpha-mu. Tidak apa-apa. Mungkin tidak ada gunanya jika aku tahu. Toh aku yakin tidak sembarang orang bisa masuk, ‘kan? Akan ada kekacauan jika itu terjadi.” Rasanya jauh lebih baik daripada menemukan satu tas Chanel yang hanya ada satu-satunya atau saat Flora mengalahkan musuh bebuyutannya di permainan Otak Beku. Semua ini terasa mengembalikan kewarasannya. “Ini semua sangat berguna, Xavior. Aku akan memberikannya pada Damian beberapa, kalau dia mau.” Tangannya masih mencari-cari, memindahkan barang satu ke tempat lain dan kemudian menemukan barang-barang lain yang fantastis. “Astaga! Ini ... bagai harta karun.” “Itu apa, Luna?” Sebuah kain usang menjadi harta karun Flora berikutnya. Bukan tentang kainnya, tetapi isi di dalamnya. Mulai dari yang dibungkus dengan plastik kuat hingga yang dikemas dalam botolan, beragam bumbu tersebut bak penyelamat lidah Flora selama berada di sini. Mengabaikan mungkin tanggal kadaluarsanya yang mungkin agak lewat, bumbu tetaplah menyimpan rasa. “Ini semua yang namanya bumbu. Ada banyak bumbu yang bisa memanjakan lidah asal kau tahu, bukan hanya gula.” Melihat betapa bersemangat sang Luna menemukan barang-barang tersebut membuat Xavior ikut penasaran. Ya, memang tidak bisa ditampik jika barang-barang manusia itu sangat memudahkan dan menarik untuk dilihat, seperti benda berbentuk persegi berwarna merah muda dengan hiasan kerlap-kerlip di tepiannya. “Ini apa, Luna?” “Hei, lucu sekali. Itu namanya dompet, tempat kau menyimpan sesuatu seperti uang atau kertas, apa saja. Simpanlah. Berikan pada mate-mu nanti. Cocok sekali sebagai hadiah untuk perempuan.” “Ya, kuharap aku akan segera menemukannya,” gumam Xavior memasukkannya ke sebuah tas kecil yang selalu dibawa. Semua keperluannya sebagai Beta ada di sana. “Kau berharap mate-mu sepertiku?” tanya Flora. “Maaf, Luna, sayangnya tidak.” “Cih, pengecut. Kau tidak tahu ada banyak gadis cantik, pintar, bertalenta, dan menarik di seluruh dunia. Mungkin kau akan berpaling dari mate-mu jika mengetahui betapa cantiknya Marilyn Monroe yang katanya sangat cantik.” “Itu tidak akan terjadi, Luna. Manusia serigala itu sangat setia dan monogami. Kami tidak seperti manusia yang memiliki banyak mate.” “Oh, dan kami tidak menamainya mate, Xav. Kami menamainya teman kencan,” kekeh Flora. “Xavior, aku tidak akan bisa mempelajari mindlink, ‘kan?” “Entahlah, mungkin penyihir putih memiliki mantra untuk membuatmu bisa melakukan mindlink.” Tiba-tiba Xavior memejamkan mata dan mengerut, tak lama kemudian kembali mengerjap. “Luna, Alpha menyuruhmu segera ke atas.” “Hm, sebentar lagi. Kau duluan saja.” “Kau yakin?” Flora mendengus, memamerkan betapa banyak barang bawaan yang ada di pelukannya—hendak dibawa. “Kau curiga aku akan mencari celah untuk kabur?” Haruskah? Ya, memang Flora sudah menunjukkan tanda-tanda kalau dia tidak masalah dengan perbedaan mereka, tetapi siapa yang tahu pikiran manusia. Bisa jadi mereka sama liciknya dengan Eiden. “Baiklah, Luna, tetapi lebih baik aku pergi bersamamu saja.” Barang-barang Flora semakin penuh, tetapi tidak ada tanda-tanda dia akan berhenti menambahkan barang-barang ke pelukannya. Ayolah, semua itu akan membusuk jika tidak ada yang mengangkutnya. Salah satunya pakaian, Flora sangat membutuhkannya. Dan untungnya entah siapa pun itu, ada beberapa pakaian wanita yang mereka bawa. “Jadi, bagaimana kau dengan Alpha?” “Bagaimana apanya?” “Kalian berdua. Kau sudah mengetahui semuanya tentang kami, apa kau tidak marah atau takut?” “Aku sudah tahu jauh sebelum malam tadi.” “Apa? Bagaimana bisa?” “Seseorang memberitahuku.” Flora terhenyak, mengingat reaksi Damian saat diberi tahu. “Jangan dibahas. Damian sampai mengamuk saat kuberitahu siapa orangnya.” “Tapi aku bukan Alpha dan mate-mu. Aku tidak punya hak apa pun untuk marah.” “Sudahlah. Kau pergi saja sana. Tanyakan pada Alpha menyebalkan itu.” “Baiklah. Jika kau sudah menerima semuanya secara lapang d**a, Luna, penyihir rumah tidak akan menyesatkanmu lagi. Kau bisa melaporkan mereka pada Alpha jika melakukan itu.” Bruk! Secara tiba-tiba dan sangat mengejutkan lemari tua yang terlihat berat di sudut ruangan bergerak sendiri, menimbulkan suara yang membuat siapa saja menjengit. “Apa itu?!” “Penyihir rumah yang pemarah,” ejek Xavior. “Aku pergi dulu. Alpha ada di atap atau di ruangannya.” *** Bak menjadi reuni keluarga, ruangan kebesaran Damian diisi dengan percakapan antara paman dan keponakan. Apolo tidak menyangka bisa melihat keponakan kecilnya menggantikan takhta kakaknya walau memang sejak awal ditakdirkan begitu. Damian di bayangannya masihlah seorang anak kecil yang terus mengekori ayahnya mengikuti banyak kegiatan. Dan lihatlah sekarang siapa yang memakai jubah pack itu. Keponakannya. “Seharusnya Paman memberi tahu, aku akan mengirimkan warior untuk mengawalmu,” ujar Damian merasa tak enak. Apolo datang jauh-jauh tanpa memberi tahu dan itu sangat bahaya bepergian sendirian. “Aku ini pernah menjadi Alpha. Kau jangan menganggap pamanmu ini tua dan renta yang memerlukan alat bantu berjalan,” gurau Apolo. Flora yang tadinya buru-buru ingin mengatakan sesuatu, seketika berhenti saat mendengar suara orang lain yang tidak dikenalinya ada di dalam sana. Flora berdeham dan memastikan penampilannya baik sebelum mengetuk pintu. “Permisi.” “Flora, kemarilah.” Damian berdiri menyambut kedatangannya sehingga Apolo juga berdiri. “Flora, ini pamanku, Paman Apolo. Paman, ini mate-ku, Flora.” Tatapan pria yang tidak dikenalinya itu seperti sedang menilai, tetapi bukan jenis penilaian merendahkan. Flora tidak merasa terganggu karenanya. “Jadi, kau yang membuatnya bepergian sangat jauh ke rumahku hanya untuk menanyakan beberapa hal tentang manusia?” Ha? Flora melirik Damian yang menunduk, penuh tanya. “Paman, jangan mengungkit hal itu.” “Flora, keponakan paman ini datang dengan raut wajah uring-uringan. Dia mengatakan kalau kau beberapa kali berusaha kabur dan sangat sulit didekati. Paman sampai harus menuliskan apa-apa saja yang disukai oleh manusia.” “Paman ini ....” Flora menggantung ucapannya. Dia melakukan hal yang sama, menilai. Apolo terdengar sangat paham tentang manusia, mungkinkah dia juga manusia? “Mendiang istri paman juga manusia sepertimu.” Flora mengangguk-angguk dengan senyum kakunya. “Jadi, memang wajar ya? Apa dia juga mengalami kesulitan?” Dia tidak mengerti bagaimana cara menghormati ‘ia’ yang sudah tak ada, tetapi sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan melihat bagaimana mereka membahasnya mudah sekali. “Sangat. Aku tak cukup pengertian seperti mate-mu.” Apolo menepuk bahu Flora bak wanita itu adalah temannya selama bertahun-tahun. “Kau harus senang karena mendapatkan mate seperti Damian. Dia melakukan apa pun untuk membuatmu senang dan tidak takut padanya.” “Memangnya Paman bagaimana?” “Aku orang yang tidak bisa menahan emosi. Mudah sekali terlibat dengan pertengkaran, bahkan aku sering bertengkar dengan kakakku, ayahnya Damian. Aku bisa sangat kejam jika berubah menjadi serigala dan mencakar habis musuhku.” Tanpa bisa dikendalikan, Flora mencetak raut wajah takut dan bergidik ngeri membayangkannya. Dane kemarin saja sudah membuatnya ketar-ketir, apalagi harus melihat darah yang—argh! Apolo terkekeh. “Jangan takut. Keponakanku ini tak akan membiarkanmu kenapa-napa. Lagi pula sekarang aku sudah berubah, aku hanya ingin menjadi rakyat pack yang tidak terlibat masalah apa pun.” “Pasti menyenangkan jika aku bisa bertemu istri Paman. Aku akan memiliki teman.” “Aku pun berharap begitu,” gumam Apolo. “Flora, kau ingat ayam yang waktu itu ada bumbunya? Paman Apolo yang memberitahuku.” “Oh, jadi Paman yang menyuruh Damian menggunakan gula untuk bumbu ayam panggang?” “Apa? Aku tidak memberitahunya begitu.” Kemudian Apolo tertawa kecil. “Ah, aku memang memberi tahu ada sebuah bumbu manis yang disebut gula, tetapi aku tidak mengatakannya secara spesifik untuk membumbui daging. Damian, ada banyak bumbu dan tidak semuanya cocok digunakan untuk daging.” Damian menggaruk kulit kepalanya salah tingkah. Mana dia tahu tentang hal itu, Apolo tidak menjelaskannya secara spesifik. “Ah, begitu. Lalu kenapa kau bilang enak waktu itu?” “Aku tidak sampai hati mengatakannya, pada siapa pun yang membuat masakan itu. Dia pasti akan sakit hati.” “Ternyata kau baik hati juga. Kupikir kau wanita gila New York.” “Hei, aku masih bisa menjadi jika kau mencari gara-gara denganku,” ancam Flora membuat tawa Apolo semakin meledak. Kedua pasangan ini membuatnya senang sekaligus iri. “Baiklah, kalian hentikan. Aku ke sini bukan untuk menyaksikan perdebatan kalian. Tidak bisakah kalian menghormatiku yang sudah tidak memiliki mate ini?” Damian langsung berhenti, disusul Flora. “Maafkan aku, Paman.” “Aku hanya bercanda.” Apolo berdiri, mengenakan tas bajunya yang sudah kosong. “Akan butuh waktu lama untuk pulang. Jadi, sebaiknya aku pergi sekarang. Tidak aman bepergian di malam hari.” “Paman, biarkan beberapa warior-ku mengawalmu.” “Tidak tidak. Itu artinya mereka kembali di malam hari. Ayolah, aku Alpha dulu dan semua pack yang kulewati, aku kenal Alpha mereka. Tidak akan terjadi sesuatu.” Ya, dulu Apolo sangat terkenal dengan kesadisannya jika sudah bertarung. Alpha mana pun yang sudah dikalahkannya harus mau menjadi sekutu pack-nya. Apolo menjadi Alpha di pack peninggalan ibunya karena tak ada anak lelaki. Bahkan sampai dia sudah bertemu Karen, perangainya tidak berubah begitu saja, malah beberapa kali berbuat kasar pada sang mate. Ada begitu banyak Alpha yang memusuhinya saat dulu menjadi pemimpin otoriter. Oleh karena itu, tak heran sebenarnya dia memiliki musuh dalam selimut. Apolo yang lengah karena dikepung tak bisa menyelamatkan Karen yang saat itu diserang oleh musuh-musuhnya. Wanita itu tidak tertolong. Setelah kejadian itu, Apolo sempat menggila dan membantai semua orang yang menyerangnya, bahkan Dation sulit sekali menenangkannya sampai harus bertarung terlebih dulu. Namun, bukan itu tujuan Apolo. Dia hanya ingin menyakiti dirinya sendiri karena dukanya kehilangan mate satu-satunya. Butuh waktu lama sampai dia setenang sekarang dan semua Alpha yang dulu dikalahkannya dengan senang hati menerimanya. Walau dia bukan lagi Alpha, wolf dan kekuatannya masih sama. Lagi pula pria itu sudah berubah sepenuhnya. “Oh ya, Flora. Aku membawa buku milik Karen. Mungkin kau ingin membacanya. Anggaplah Karen membantumu memahami dunia kami.” Apolo menyodorkan sebuah buku yang sampulnya sudah usang. Tertulis nama Karen Rhysand di halaman pertamanya. “Terima kasih banyak, Paman.” “Keponakanku, kau harus menjaganya baik-baik. Jangan mengulangi kesalahan yang pernah kulakukan.” Damian mengangguk pasti. “Tentu saja, Paman.” Sebagai tuan rumah yang baik, Flora dan Damian mengantarkan Apolo sampai ke bawah. Flora tidak terbiasa dengan perubahan makhluk-makhluk itu, tetapi kelihatannya mudah sekali bertukar wujud menjadi serigala. “Damian, apa yang terjadi dengan istrinya?” “Karin diserang dan Paman terlambat menyelamatkannya,” ujar Damian. “Itu kenapa kau tidak boleh jauh dariku, terutama bertemu dengan Eiden. Mengerti?” Meski Flora mengangguk, entah kenapa hatinya meragu. Jika Damian tidak akan pernah membiarkannya kembali ke Albany tetapi Mega Wolf itu bisa, apa yang harus dilakukannya? *** “Xavior, segeralah menemukan mate.” “Apa?” “Kubilang segeralah temukan mate-mu.” “Memangnya kenapa, Luna?” Flora mendengus, melemparkan sebuah bulu yang ditemukannya di jendela. “Aku butuh teman bicara. Wanita, bukan pria tanggung seperti kalian. Percaya atau tidak, ada banyak topik yang hanya dimengerti wanita dengan wanita yang lain,” gerutunya. “Lebih bagus kalau manusia.” “Tidak, aku tidak akan berharap sekhusus itu. Aku akan menerima apa pun, bagaimanapun mate yang diberi Moon Goddes padaku.” Astaga, Xavior tidak seperti Damian yang bisa bersikap sampai sejauh ini menangani mate-nya yang bukan werewolf. Getahnya, Xavior juga yang kesulitan. Kalau mate-nya juga manusia, Xavior akan kelimpungan sendiri. Apa pun, kecuali manusia—tolong. “Ey, jika kau diberi yang lebih buruk dariku?” sinis Flora tersinggung. “Maksudnya, Luna?” “Maksudku, memangnya kau tidak tertarik sama sekali padaku? Menurut peramal, aku ini memiliki warna yang sangat unik.” Xavior sudah membuka bibirnya hendak mengatakan sesuatu, tetapi seseorang yang berdiri di belakang Lunanya membuatnya menelan kembali apa yang akan dia katakan. “Ehm! Luna, sebaiknya kau berhenti.” “Kenapa? Memangnya apa yang sedang kulakukan? Aku ini sedang mengajarimu yang namanya kualitas. Kau harus memilih wanita yang berkulit putih atau kecoklatan tak masalah, rambutnya usahakan jangan pirang—terlalu biasa, dan wajahnya. Kau harus perhatikan wajahnya.” “Kita tidak bisa memilih mate kita, Flora,” timpal Damian bergabung dengan keduanya. Dia menarik Flora lebih dekat dengannya, sedikit lebih jauh dari Xavior. Kesibukannya sebagai seorang Alpha terasa menyebalkan sekarang di mana Flora lebih sering bersama Xavior. “Ya, tentu saja kau tidak perlu memilih karena kau mendapatkanku. Aku ini sangat coklat untuk diajak ke pesta musim panas,” sombong Flora. “Tak ada musim panas di sini, Luna.” “Maksudmu?” “Semua cuacanya akan begini jika tidak ada bencana, seperti badai atau hujan jika putri duyung murka. Ada beberapa makhluk lain yang bisa mengendalikan cuaca, tetapi mereka tidak akan sembarang mengubahnya jika tidak ingin diserang makhluk lain.” “Membingungkan juga ya,” gumam Flora. “Pokoknya, Xavior, kau harus segera menemukan mate agar aku punya teman,” tegasnya sekali lagi sebelum pergi. Dia masih memiliki barang-barang yang belum disusun di kamarnya. “Tampaknya Luna sudah merasa nyaman di sini, Alpha. Dia tidak terlihat canggung atau gugup lagi.” Damian mengangguk-angguk. “Baguslah. Aku harap Eiden tidak akan pernah menjadikannya target untuk mengalahkanku.” “Kita hanya bisa bersiap untuk bagian terburuknya. Kita tahu bagaimana Eiden dan rasanya mustahil jika dia memiliki empati.” Kepalan tangannya tercetak keras sekali, Damian tidak mudah mengelola emosinya jika sudah berhubungan dengan Eiden. “Tak akan kulepaskan jika dia macam-macam pada Flora.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN