FAM 15 Target

2405 Kata
ADA yang berbeda dengan tidurnya kali ini. Tidak ada dingin, gatal, atau tekstur kasur yang tidak nyaman. Untuk pertama kalinya setelah tiba di sini, Flora bisa tidur dengan nyaman dan nyenyak. Entah apa dan bagaimana bisa perbedaannya sangat terlihat begini. Aromanya pun berbeda dari bau ruangan yang biasa didapatinya setiap hari. Semua suasananya berbeda. Benar saja saat Flora mengerjapkan mata, tempat ini bukankah kamar yang ditempatinya setiap malam. Melainkan sebuah kamar dengan warna yang belakangan sangat sering dilihatnya, keemasan. “Di mana ini?” “Kamarku,” jawab Damian duduk di kursi di bawah jendela, sedang membaca sebuah buku. “Kapan kau memindahkanku?” “Saat kau tidur. Kenapa kau tidak bilang jika kau tidak nyaman tidur di kamarmu?” Flora mendengus, menyingkirkan selimutnya dan menjejaki lantai yang terasa dingin di kulit telanjangnya. “Aku pernah bilang asal kau tahu. Aku sudah mengatakannya beberapa kali dan mengeluhkan tidurku tidak pernah nyenyak di sini.” “Lalu bagaimana dengan semalam? Kau tidur sangat nyenyak sampai aku tidak bisa membangunkanmu.” “Ish, kau curang. Kasurmu jauh lebih baik.” “Karena aku tak tahu jika aku akan mendapatkan mate manusia sepertimu.” “Itu artinya kau tidak berniat mendapatkan mate dan situasi yang tidak terduga.” Kamar ini jauh lebih bagus dibanding kamarnya. Ibarat kamar Damian itu kamar utama dan kamar Flora adalah ruangan yang tiba-tiba disulap menjadi sebuah kamar. Tidak ada yang menarik sama sekali selain sebuah laci dan lemari tua yang isinya sangat dibenci orang-orang di abad 20. Tidak ada yang mau memakainya jika tidak terpaksa. Sedangkan kamar ini dengan warnanya yang cerah, barang-barangnya pun tampak layak. Guci, ranjang nyaman, lemari berwarna putih gading, dan kursi yang bagus. Eh, pakaian-pakaian yang pernah digunakannya ada di kursi. “Tunggu. Kau yakin aku akan tidur di sini?” “Tentu saja.” “Bagaimana dengan Dane? Maksudku seperti malam itu,” cicit Flora. Damian mendongak. Benar juga, dia tidak sempat memikirkan tentang Dane. Wolf-nya itu pasti akan berusaha bertukar saat dia sedang lengah atau tertidur. Sebelum dia sempat memikirkan sebuah solusi, di kepalanya sudah terdengar suara memekik. ‘Aku tidak mau menunggu lagi, Damian!’ ‘Kau lihat sendiri dia belum siap.’ ‘Kau pikir aku bisa bersabar seperti ini terus menerus?!’ Damian mendengus, memutuskan untuk tidak membalas mindlink wolf-nya. “Xavior?” tebak Flora. “Dane. Dia masih berkeras ingin segera menandaimu.” Flora meringis. Mendengar penjelasan Damian waktu itu saja kedengarannya ngilu. Digigit dengan taringnya? Astaga, lidah tidak sengaja kegigit saja sudah aduh-aduhan. Apa kabar dengan ini yang digigit langsung oleh taring, di leher pula. “Apakah sakit?” “Aku tidak ingin menipumu. Rasanya memang akan sakit hingga kau harus meminum ramuan untuk meredakan rasa sakit dari tanda yang akan muncul di lehermu.” “Tanda seperti apa?” “Tanda seperti yang ada di leher Dane. Kau akan menemukan contohnya di luar mansion. Semua omega di dalam mansion adalah mereka yang belum menemukan mate atau sudah tidak memiliki mate.” “Apa tandanya akan berbeda-beda?” “Tentu saja. Aromamu juga akan berbeda, orang lain tak akan tergiur dengan wangi yang menguar dari tubuhmu lagi.” “Konyol. Aroma apa? Jangan bilang kalau aku bau badan.” Flora mengendus tubuhnya sendiri. Rada tidak percaya diri juga sih mengingat dia tidak menggunakan berbagai produk untuk merawat tubuhnya, tetapi tidak tercium bau tubuh yang menyengat. “Tidak.” Damian menutup bukunya dan mengembalikan ke rak buku. “Bersiaplah. Aku akan mengajarimu bagaimana caranya bertahan diri di sini.” *** Bertahan diri yang dikira Flora adalah cara untuk mencari makan sendiri di tengah-tengah hutan seperti Tarzan atau Jurassic Park. Berkelahi dengan binatang buas atau memanjat pohon. Nyatanya memang ekspektasi tidak selalu pas dengan realitas. Ternyata yang dimaksud Damian adalah belajar panahan. Flora tidak bilang kalau dia tidak suka memanah, tetapi menyebalkannya setiap dia mencoba dengan Dave, tak ada yang mengenai target sama sekali. Matanya juga sulit fokus menatap terlalu jauh. Dengan arahan Damian, Flora sudah menarik tali dan bersiap dengan anak panah di atas kepalan tangan kirinya. Jangan bayangkan busur yang modern dengan grip dan sight seperti yang digunakan profesional. Busur panahnya terbuat dari kayu yang cukup lentur dan ditarik dengan tali, sedangkan anak panahnya sama-sama kayu yang dibuat ramping dan runcing. “Tatapan lurus ke depan.” Flora malah sengaja menatap Damian yang mengawasinya bak pelatih berpengalaman. “Ke depan,” titah Damian. “Memangnya kau tidak suka jika aku menatapmu?” goda Flora. Rasakan, dia juga bisa menggombal dan membalikkan keadaan agar tidak seserius yang diinginkan Damian. Damian masih terlihat ‘keras’ dan tak terpengaruh dengan senyum manis mate-nya. “Sekarang tidak. Cepat fokus. Matahari semakin terik di sini.” “Targetnya jauh sekali.” “Itu dekat, Flo. Ini tidak ada apa-apanya jika kau harus menghadapi serigala yang berlari kencang.” “Panahnya keras sekali. Aku susah mengarahkannya ke target, Damian.” Dengan usahanya mengarahkan anak panah, Flora belum melepaskan talinya. Matanya terasa berkedut-kedut karena menatap fokus terlalu lama walau sudah menutup matanya yang satu. Flora sama payahnya dengan bermain boling, dia payah hampir di semua permainan yang melibatkan target dan seberapa akurat intuisinya. Damian berpindah tepat ke belakang Flora, menempatkan kedua tangannya di atas tangan Flora. Satu di atas tangan yang menahan busur dan satu lagi yang menarik tali sekaligus menahan ujung anak panah. Damian menempatkan kepalanya tepat di samping Flora sehingga pandangannya kurang lebih sama dengan Flora. Berada begitu dekat membuat Flora tak bisa mengalihkan tatapannya dari Damian. Dari jarak sedekat ini, lagi-lagi dia dibuat sadar tentang betapa tampan mate-nya. Entah beruntung atau menyebalkan karena pasti ada banyak wanita yang tergoda dengan wajahnya itu. “Lihat ke depan.” Damian mendorong pelan kepala Flora agar kembali fokus pada target. Lingkaran berwarna putih dan hitam dengan lingkaran merah di tengahnya itu tampak memusingkan dilihat dari jauh. “Kau tidak akan bisa mengenai targetnya jika kau tidak menaruh semua fokusmu pada target. Jangan mengalihkan tatapanmu sama sekali.” “Lalu bagaimana jika targetnya bergerak seperti serigala?” “Makanya kau harus belajar dari dasarnya.” Damian mengambil alih busur dan anak panah kemudian mencontohkannya pada Flora. Tampak begitu mudah dan shot! Anak panahnya menancap begitu saja tepat di tengah-tengah. “Lihat? Mudah jika kau fokus.” “Tidak ada mudah-mudahnya sama sekali,” gerutu Flora. Sekali lagi dia mencoba dengan cara yang dipraktikkan Damian tadi. Semuanya lancar sampai saat membidik target. Tangan kirinya yang menahan busur panah terus bergetar karena tak kuat mempertahankan posisinya sampai yakin dengan bidikannya. Dia mendesah berat, lalu menurunkan busur. “Aku tidak bisa. Terlalu kuat, aku tidak bisa menarik talinya.” “Kau hanya belum terbiasa. Ayo, coba lagi.” Mudah sekali berbicara tanpa memikirkan kesulitan Flora. Menyebalkan. Untuk membuktikannya, Flora kembali mencoba. Tatapan matanya dibuat sefokus mungkin agar Damian bisa melihat seberapa serius dia membidik. Eh, nikmatilah postur Flora yang memanjakan mata ini. Dia sangat percaya diri sampai melepaskan talinya, bungkam. Anak panah itu jatuh tepat di bawah kakinya membuatnya memberengut. “Apa yang salah?” gerutunya terutama setelah melihat wajah mengejek dan menyebalkan milik Damian. Cih, pria itu merasa paling hebat tampaknya. “Pertama, kau kurang fokus. Kedua, lenganmu terlalu lemah. Ketiga, kau tidak berniat belajar. Apa kau perlu diterkam dulu?” “Kau lupa kalau kau pernah menerkamku di tepi danau?” “Jelas itu berbeda. Aku tidak menerkammu, kau yang menjatuhkan dirimu sendiri.” “Latihan ini tak akan membuahkan hasil jika kalian terus berdebat,” timpal Xavior terkekeh geli. Dia sudah ada di sana sejak tadi, tetapi tampaknya rencana sang Alpha tidak berjalan mulus sesuai dengan pelatihan warior. “Alphamu ini tidak bisa mengajariku dengan benar.” “Lunamu ini terlalu payah untuk diajari memanah dengan benar.” “Kenapa kau jadi menyebalkan begini sih?” “Sudah sudah. Luna, Alpha berusaha membuatmu beradaptasi dan melawan jika suatu saat kau tidak bisa mengandalkan siapa pun. Alpha, di dunia manusia Luna tidak perlu bela diri untuk bertahan hidup karena manusia hidup dengan damai tanpa ada hukum rimba.” “Kau tidak tahu jika di bumi juga ada hukum rimba, Xavior. Tetapi ada hukum yang lain lagi, hukum siapa yang menjilat lebih sering, dialah yang menang,” gerutu Flora. “Kita istirahat saja dulu,” ujar Damian menepi dari ruangan terbuka, duduk di sebuah meja yang sudah disiapkan para omega. Sudah ada minuman dan makanan, yang tentu saja daging. Entah karena mereka werewolf dan selalu makan daging, tidak ada sayuran sama sekali. Padahal mereka ‘kan masih memiliki wujud manusia yang tentu saja bisa mencerna sayuran dan bahan-bahan lain selain daging-dagingan. Dengan bantuan perasa Flora, hidangan daging kali ini terlihat lebih baik. Bumbunya bukan lagi hanya gula, tetapi ditambahkan beberapa bumbu yang ditemukannya kemarin. Flora tidak percaya kalau Damian dan Xavior menyia-nyiakan safron yang termasuk ke dalam bumbu paling mahal. Di antara mereka bertiga, hanya Flora yang mencicipi daging tersebut. Para omega juga berdiri saja di tepi lorong, berjaga jika ada sesuatu. “Kau masih tidak mau makan bersamaku?” tanya Flora pada Damian. “Aku hanya makan daging mentah.” “Lalu? Apa yang salah dari itu?” “Memangnya kau mau satu meja dengan orang yang memakan daging mentah? Tidakkah itu membuatmu mual?” “Ya mungkin saja aku akan terbiasa nantinya.” Damian melirik Xavior yang terlihat santai membaca sebuah buku yang ditulisnya untuk jadwal. Beta itu hanya meminum ramuan yang biasa dihindari Damian, tidak memakan daging-daging yang matang kecoklatan. “Kau bisa bersantai dulu, Alpha. Sebentar lagi kita harus berangkat, ada hal yang perlu kau urus tentang pack.” “Kau ingin ikut?” tanyanya pada Flora. Wanita itu mengedikkan bahu, menarik-narik bajunya yang terasa menempel karena keringat. “Tidak apa-apa, kalian pergi saja. Aku lelah ingin tidur.” *** Rasa lelahnya masih ada, tetapi sulit untuk Flora tidur atau sekadar tidur-tiduran di kasur. Ranjang Damian tidak dapat menjatuhkannya ke alam mimpi hanya karena teksturnya lebih nyaman. Flora masih saja terjaga dengan cahaya yang menyilaukan dari luar. Flora sudah berusaha membaca beberapa buku dengan harapan akan mengantuk, menari tidak jelas, sampai berusaha melakukan yoga sederhana. Tubuhnya makin pegal, tetapi kelopak matanya tidak juga memberat. “Kenapa sulit sekali tidur di sini? Padahal kasurnya lebih nyaman,” keluhnya. “Damian belum kembali. Ke mana dia sampai harus selama ini?” Tidak ada jam dinding atau apa pun yang menunjukkan waktu, tetap saja Flora merasa ini sudah berjam-jam. Dia memutuskan untuk berjalan-jalan atau ke mana saja dibanding melamun tidak jelas, ngeri juga kalau hanya berdua dengan penyihir rumah—tidak terlihat. “Hei, apa kau tahu di mana Damian?” tanya Flora pada seorang omega yang lewat. “Alpha ada di ruangannya, Luna.” “Jadi dia sudah kembali? Menyebalkan sekali. Baru saja membaik, sudah melemparkan bensin ke kobaran api.” Dengan langkah lebar dan mengentak-entak, Flora menunjukkan raut sebalnya menuju ruangan Damian. Dasar lelaki tidak peka, hal seperti ini saja tidak mengerti. “Dari man—” Seketika Flora membeku mendapati keberadaan dua orang asing di ruangan Damian yang juga terkejut dengan kedatangannya. Flora meringis. “Maaf. Aku tidak tahu kalau kau sedang kedatangan tamu.” “Tidak apa-apa. Flora, kemarilah.” Damian menyambutnya dengan senyuman lebar, menepuk-nepuk bagian kursi di sampingnya. “Alpha Edgar, ini mate-ku Flora.” “Manusia?” tebak sang pria, Alpha Edgar. Hidungnya kembang kempis karena aroma yang berbeda dengan kebanyakan werewolf. “Ya. Sepenuhnya manusia. Flora, ini Alpha Edgar dan istrinya dari Emerald Pack. Mereka sama sepertiku.” “Manusia serigala ya?” Edgar dan istrinya mengabaikan ucapan Flora, malah berkata, “Kau tahu, Damian, aku masih berharap kalau mate-mu adalah putriku. Kalian sangat akrab sejak dulu sampai banyak yang mengira kalau kalian berdua sepasang mate. Terima kasih juga telah mengizinkan kami menginap sebelum melanjutkan perjalanan.” Flora mendengus. Ah, dia hafal tipe-tipe orang tua seperti ini yang diam-diam berusaha mendekatkan anaknya dengan seorang pria yang mereka sukai. Dekati dulu orangnya, lalu dekatkan dengan anaknya. Klise dan menyebalkan dengan sikap mereka yang terang-terangan—dan Damian yang terlalu bodoh malah menganggapnya candaan. “Tidak apa-apa, Alpha. Tinggallah selama apa pun yang kalian inginkan. Kau sudah seperti orang tuaku sendiri.” “Sayangnya tidak bisa menjadi lebih ya?” Elen terkekeh. “Aku sudah menyuruh putriku untuk menyusul. Entahlah dia akan datang atau tidak, katanya ada kepentingan pack yang ingin diurusnya bersama Niel.” “Jadi, Tyra masih sering membantu Niel? Dia kakak yang baik. Pasti Niel akan menjadi Alpha yang hebat dengan bantuannya.” “Kau tahu putri kami sangat memahami urusan pack.” Ya, bicara saja yang banyak dan anggap Flora tak ada di sini. Terus saja ungkit kenangan di masa lalu dan rencana di masa depan di mana tak ada Flora di dalamnya. Damian yang tidak peka harus menghadapi pasangan yang tidak tahu malu dan tata krama. Akan menjadi bagian menyebalkan jika semua orang tua di sini sama seperti mereka. Dan tak ada yang mau repot-repot menyadari senyum kecut Flora yang diabaikan sendiri. Pasangan suami istri tersebut berdiri dengan senyumnya—hanya untuk Damian. “Baiklah, sepertinya kami perlu beristirahat, Damian. Sekali lagi, terima kasih.” Flora mengawasi kepergian mereka dengan sudut matanya, menciptakan tatapan sinis dan tidak suka. Biarkan saja, Edgar dan Elen juga tidak ramah sama sekali. “Sebenarnya apa yang terjadi di sini?” “Maksudmu?” “Orang-orang tadi, apa kau tidak sadar kalau mereka ingin membuatmu menikahi putri mereka? Mereka itu sedang merayumu, Damian.” “Itu tidak akan bisa terjadi, Flora. Kau mate-ku. Aku dan Tyra hanya teman.” “Hanya teman? Kau tahu, itulah kalimat yang dibenci semua wanita di dunia. Ujung-ujungnya apa? Kau akan selalu mementingkannya dan melupakanku. Aku tidak akan ada apa-apanya dibanding temanmu ini.” Damian mengerutkan keningnya dan menggeleng pelan. “Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang kau keluhkan sekarang.” “Ya, jangan mengerti. Lelaki semua sama saja. Tidak sadar diri kalau mereka harus mengesampingkan pertemanan dengan lawan jenis. Tidak akan ada yang berhasil dengan adanya itu,” dengus Flora. “Aku benar-benar tidak—” “Terserah! Aku tidak peduli!” Terlanjur kesal, Flora meninggalkannya dengan misuh-misuh. Pasangan tadi menyebalkan, tetapi Damian malah lebih menyebalkan. Bukan tujuan awalnya, langkah kaki Flora malah membawanya ke tempat latihan panahan. Baiklah, mungkin emosi akan membantu sedikit. “Kupikir manusia serigala akan sangat berbeda dengan manusia. Ternyata lelaki adalah lelaki, tidak peduli di mana pun itu,” gerutunya menarik tali dan langsung melepaskannya. Sial, malah lebih emosi karena lagi-lagi dia tidak mengenai target. “Sial! Bagaimana aku bisa berhasil mengenai targetnya?! Semuanya sangat menyebalkan! Kalian semua sangat menyebalkan!” “Aku ingin pulang.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN