Semua mata menatap pria tinggi berpakaian rapi yang baru saja duduk. Rambut model 'Side Bangs' ala Korea tampak terlihat menawan di wajah tampan yang tersenyum ramah.
"Loh, Kir dia ...," Ayana ingin menyebutkan sebuah nama tapi sayangnya wajah familiar itu kini terlihat sedikit asing di matanya.
Kirana hanya nyengir melihat keterkejutan Ayana. Sementara Ayana menatap pria yang baru saja duduk, pria itu sudah melambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Hai, Ayana. Apa kabar?"
Ayana diam tak menjawab, tapi menuntut penjelasan Kirana.
"Lo masih ingat dia 'kan, Ay?"
Ayana mengerutkan kening mencoba mengingat tapi sayangnya bibirnya bergetar ragu saat ingin menyebutkan sebuah nama.
"Ya ellah, gue dilupain, Kir," keluh pria itu sedikit cemberut.
Kirana sedikit tertawa melihat Ayana yang tampak sedikit bingung. "Dia Radit, Ay. Lo masa lupa sama dia? Oh pantas sih kalau lupa, soalnya dia rada beda dikit ya dari dulu."
Ayana menatap Radit sekali lagi, kini semua tampak jelas dan beberapa bayangan asing dari masa lalu terbayang. "Kir, dia-"
"Oh kita bekerja sama untuk kedepannya, Ay," potong Kirana cepat. "Jadi Radit bagian Wedding Organizer, sedangkan gue MUA-nya. Lo nggak boleh nolak, karena kalau nolak Radit, artinya lo nolak pakai jasa make-up sahabat lo satu-satunya."
"Tapi, Kir-" ucapan Ayana terhenti saat menyadari Radit menatapnya dengan senyum tipis. Mata gelap itu seolah mengoreksi keadaannya dan menyampaikan tujuan yang sangat jelas. Benci penolakan, dan Ayana tahu itu.
"Kalian saling kenal?" Adalah Mesya yang sangat ingin tahu sejak Radit baru saja duduk di hadapannya. Namun rasa ingin tahunya terhenti saat Farhan baru saja kembali dari kamar mandi dengan mata menatap Kirana sesaat.
"Kirana udah datang?"
"Mas, kok lama banget?" keluhnya manja. Mesya sama sekali tak mempedulikan tatapan Ayana dan lainnya.
"Maaf, Sayang. Kamu baik-baik aja kan?" Sorot mata Farhan jatuh pada Ayana lalu Kirana yang terlihat sedikit kesal. Dia hanya takut Mesya terpojok karena menikahinya. Karena dia tahu, Kirana adalah orang terdepan Ayana yang akan maju karena persahabatan erat mereka terjalin sangat lama.
"Selamat siang, Pak Farhan," sapa Radit formal. Berdiri, dia mengulurkan tangannya ke depan. "Saya Radit, bagian Wedding Organizer yang akan menangani pesta pernikahan kalian. Untuk selanjutnya saya bekerja sama dengan Kirana dalam menangani semua hal terkait pesta Pak Farhan,"
Farhan menatap Radit tajam lalu beralih pada tangan yang terulur di depannya. Wajah yang begitu lama tak pernah Dia lihat, tapi dia masih bisa mengenali dengan sangat jelas. Dia membalas uluran tangan di depannya dengan mantab lalu keduanya kembali duduk di tempat. "Selamat siang, Pak Radit. Apa istri saya yang mengundang pak Radit ke pertemuan ini?"
"Istri? Maksud pak Farhan Bu Mesya?"
Mesya tersenyum karena merasa telah dikenali dengan baik. Namun Ayana jelas melihat kemarahan dalam intonasi Farhan, suaminya. Sedangkan Kirana dia merasa puas dengan kinerja Radit. Tak sia-sia dia menceritakan semuanya. Radit memang paling bisa menghidupkan suasana. Dalam satu meja resto ini, akan ada banyak hal yang menarik perhatiannya.
"Istri saya, Ayana Larasati." Tatapan Farhan menghujam Ayana, seolah teguran karena telah melakukan sebuah kesalahan.
Radit melirik Ayana lalu beralih pada Mesya. "Maaf, pak Farhan, saya sampai salah mengenali. Saya pikir wanita di samping Pak Farhan ...," Dia sengaja tak melanjutkan kata-katanya.
"Nggak papa Pak Radit kami memang berencana mau menikah. Itu pun, atas izin mbak Ayana," terang Mesya sambil tersenyum menarik tangan Farhan lembut.
Radit mengangguk, melirik Kirana sekilas lalu beralih pada Ayana yang dari tadi diam. Dari sekilas saja dia bisa mengetahui pernikahan macam apa yang Ayana jalani selama ini. Dan tanpa alasan, hatinya marah tak tertahankan.
"Jadi bisa kita mulai kan? Karena kedua calon mempelai sudah ada." Kirana menatap Mesya lalu beralih pada Farhan dengan ekspresi serius. Tersirat tatapan benci yang lekat saat matanya bertemu mata Farhan. "Jadi Bu Mesya dan Pak Farhan, kami menyediakan beberapa contoh dekorasi pesta, dari gedung, dan perlengkapan lainnya sesuai permintaan Bu Ayana. Apa Bu Mesya dan pak Farhan memiliki tema yang diinginkan?"
Ayana melirik Kirana takjub karena nada bicaranya yang cepat sekali berubah menjadi sangat profesional. Sementara Kirana membuka suara, Radit menyodorkan buku hitam berisi contoh tema pernikahan dan membukanya di hadapan Mesya.
"Kami bisa menyesuaikan tema yang Bapak Ibu inginkan," timpal Radit mengikuti Kirana. "Kebetulan bulan depan adalah bulan ulang tahun pimpinan kami, jadi pimpinan menyediakan diskon untuk seluruh pemesanan sebesar 50 persen."
"Wah, beneran?" Mesya menerima buku yang terbuka di atas meja dan mulai membukanya dengan perasaan bahagia. Sementara Farhan menatap Radit lalu melirik Ayana curiga.
"Apa ada yang kamu suka, Sya?" tanya Ayana hati-hati. "Kamu bisa request sesuai dengan yang kamu mau."
Mesya tersenyum, "Mbak Ayana aja yang nentuin temanya. Karena mas Farhan udah percaya sama mbak Ayana, jadi aku juga bakal ikuti mas Farhan. Iya kan mas?"
Farhan beralih menatap Mesya dengan senyum lembut. "Kamu boleh milih dan tentuin sendiri kok, Sayang. Ini pernikahan yang kita tunggu. Apapun yang kamu mau, aku bakal usahain buat wujudtin semuanya."
"Enggak, aku percaya kok dengan pilihan mbak Ayana. Tapi aku cuma pengen pesta yang meriah. Aku mau semua orang tau kalau aku udah jadi istrimu, Mas. Bahagia banget kalau itu udah terwujud,"
Kirana yang mendengar itu menahan tawanya. Dia ingin sekali menertawakan kebodohan Mesya, memberi tahu dunia tentang statusnya, itu artinya dia siap dicap sebagai perebut suami orang atau istri simpanan. Dia sangat heran, di mana pikiran Mesya berada?
Hah, kebodohan yang sengaja dikembangkan, batin Kirana miris.
"Kalau gitu, buat yang mewah dan megah. Bisa kan, Ay?" Pinta Farhan menatap Ayana yang termenung.
Ayana mengangguk lemah. Lebih tepatnya dia tak tahan dengan semuanya. Dia lelah, melihat kemesraan mereka berdua. Dia lelah melihat perhatian Farhan suaminya, yang tak pernah dia dapatkan. Tapi dia masih harus bersikap seolah baik-baik saja. "Aku usahakan yang terbaik, mas."
Kirana menepukkan tangannya, lalu beralih pada Ayana. "Jadi Bu Ayana, selanjutnya kami akan mengkonfirmasikan dengan Bu Ayana tentang semuanya, begitu?"
Ayana tersenyum dan mengangguk. "Bisa dibilang begitu, Kir. Tapi-"
"Karena semua akan diatur Bu Ayana, diskon Lima Puluh Persen dari acara ulang tahun pimpinan kami, lalu di tambah diskon Lima Puluh Persen dari hadiah sahabat Bu Ayana, Kirana, maka seluruh keperluan pesta tak memerlukan biaya apa pun dari bu Ayana," ujar Radit ramah namun terkesan lembut.
"Yup, sesuai perjanjian di awal," tambah Kirana memastikan.
Ayana yang ingin menolak, dan Farhan yang refleks menggebrakkan tangannya ke atas meja.
"Pak Radit, saya bisa membayar semua kebutuhan pesta saya," Farhan menatap senyum Radit yang di matanya terlihat seperti sebuah ejekan.
"Pak Radit-" Ayana baru akan menyela sebelum suara Farhan jatuh menegurnya.
"Ay, kamu nggak pernah bilang kalau semua-"
"Ini di luar tanggung jawab Bu Ayana, pak Farhan!" Potong Kirana cepat secara tegas. Dia tahu Farhan akan menyalahkan Ayana jadi dia dengan cepat melindungi sahabatnya.
Farhan dan Ayana terdiam. Mesya memilih memperhatikan Radit dan Farhan secara bergantian karena dia sangat terkejut saat calon suaminya itu terlihat begitu memusuhi Radit.
"Mas, ga papa. Semua udah diatur sama mbak Ayana, perihal diskon dan yang lainnya anggap aja itu hari keberuntungan kita," bujuk Mesya lembut.
Farhan melirik lengannya yang dipeluk Mesya tiba-tiba. Menghembuskan napas berat, dia mengangguk pelan mengikuti kemauan wanita yang dicintainya.
"Jadi Bu Mesya tak masalah kan?" tanya Kirana senang dan dia lebih bersemangat saat kepala Mesya mengangguk. Dia beralih pada Ayana. "Bu Ayana, kami akan melanjutkan semuanya sesuai rencana kita. Terimakasih atas semuanya,"
Mendengar bujukan Mesya dan Farhan yang menyetujui, Radit segera berdiri untuk mencapai kesepakatan final. "Terimakasih Pak Farhan karena telah mempermudah semuanya. Karena telah mencapai kesepakatan akhir, saya undur diri terlebih dahulu." Menyalami Farhan dan Mesya dengan ekspresi dingin, dia beralih pada Ayana. Senyum lembut lagi-lagi hadir dengan keramahan yang tak biasa. "Ay, kalau ada apa-apa yang kurang jangan segan buat hubungi aku ya. Aku pamit dulu,"
Mereka bahkan tidak seakrab itu untuk saling menghubungi tapi Radit jelas mengatakannya dengan sengaja. Ayana hanya mengangguk tanpa menjawab lalu membiarkan Radit pergi. Kirana membereskan beberapa buku yang telah Mesya tutup, lalu melirik Ayana.
"Ay, pulang bareng gue kan?"
"Iy-"
"Ayana, aku yang ngantar pulang," sahut Farhan sangat cepat tak membiarkan Ayana menjawab.
Ayana menatap Farhan sekilas, jelas bahwa teguran itu dapat di artikan kalau dia tidak diizinkan pulang bersama sahabatnya. "Aku bisa pulang naik taksi kok, Mas." tolaknya halus.
"Nggak papa mbak Ayana, bareng kita aja pulangnya."
Kirana yang mendegar itu ketawa kecil. Dia tak menutupi rasa jijiknya saat melihat Farhan. Dia bukan tak tahu kenapa Farhan melarang Ayana pulang bersamanya. Menurutnya Farhan hanya tak ingin, Ayana bertemu Radit lebih lama. Semua terlalu jelas di matanya. Tapi lebih lucu lagi saat mendengar Mesya mengatakan itu semua.
"Ya Allah, Ay, orang lain bisa salah paham dengernya," keluh Kirana terus terang, dia melirik Mesya lalu berdiri. "Farhan, calon istri lo luar biasa banget ya."
Mesya baru menyadari kesalahannya dengan menutup mulutnya seolah telah menyesal mengeluarkan kata-kata barusan. Dia melihat Kirana yang sudah pergi, lalu beralih pada Ayana.
"Mbak Ayana, aku nggak bermaksud membujuk mbak Ayana seolah-olah aku yang udah jadi istrinya mas Farhan."
"Nggak papa. Toh kalian kan bentar lagi mau nikah. Tapi mas, boleh aku pulang sendiri?"
"Kamu mau pulang atau ketemu mantanmu?" Farhan langsung menyelidik.
"Ngomong apa sih, Mas. Mantan siapa?"
"Bukannya Radit itu mantanmu?"
"Loh, Radit mantannya mbak Ayana?"
Ayana tak habis pikir, setelah kepergian semua orang, Farhan bersikap tak biasa. "Aku sama sekali nggak pernah punya mantan. Mas, kamu orang yang paling tau. Aku pulang,"
"Ay, tunggu. Ay, Ayana, Ayana,"
Farhan melangkah ingin mengejar tapi Mesya menahan tangannya.
"Mas, kok aku ditinggal."
Farhan mendesah pelan. "Maaf, Sayang, aku nggak bermaksud ninggal kamu."
"Mas, biarin mbak Ayana pulang sendiri. Kita kan mau liat-liat rumah hari ini."
"Tapi, Sayang,"
"Jangan bilang Mas lupa. Mas kan udah janji semalam sama aku?"
"Ya udah, kalau gitu kita mulai liat-liat rumahnya." Meski mengatakan demikian, pikiran Farhan sama sekali tak bisa lari dari Ayana.