Dia tidak mandul.

1066 Kata
"Mas, rumah yang ini gimana? Bagus nggak?" Setelah berkeliling hampir 5 jam, akhirnya Mesya dan Farhan berhenti di rumah sederhana yang tampak sangat rapi. Hari sudah menjelang malam, dan Farhan tampak sangat tak bersemangat. "Mas," "Hmm, kamu bisa pilih sesukamu, Sayang. Aku mau kamu pilih dengan nyaman. Rumah yang manapun, asal sama kamu aku nggak masalah." Farhan menatap layar gawainya berkali-kali lalu beralih pada jam tangan di pergelangan tangannya dengan sedikit gusar. "Kok kamu kaya nggak tenang gitu sih, Mas? Mas mikirin mbak Ayana ya?" "Enggak, buat apa aku mikirin dia? Aku cuma capek aja, Sayang." "Mau pulang aja? Mau istrahat di rumah? Kita bisa lanjut besok kok buat cari rumahnya." "Aku pulang ke rumah saja ya, Sayang." Mesya menarik satu satu sudut bibirnya ke atas. Dia tahu kenapa calon suaminya sangat tidak tenang dan resah. Itu semua karena Ayana. Benar, wanita yang merebut tempatnya sepuluh tahun lalu. Meski Farhan mengatakan tidak mencintai Ayana sama sekali, tapi sepuluh tahun waktu yang mereka jalani bukanlah waktu yang sebentar. Dia sudah susah payah merebut tempatnya kembali, mengembalikan rasa cinta mereka lalu tiba-tiba semua hampir berjalan tak sesuai rencana. "Enak aja. Aku nggak bakal biarin. Udah susah-susah aku ngembaliin tempatku yang seharusnya, terus wanita nggak tau malu itu mau bertahan. Aku bakal balas penderitaanku selama sepuluh tahun menunggu dengan tangisannya setiap malam karena Mas Farhan nggak bakal punya waktu buat dia. Liat aja," batin Mesya licik. "Mas mau pulang ke rumah atau nemuin mbak Ayana. Mas, jujur aja deh, mas khawatir kan sama mbak Ayana. Mas takut mbak Ayana ketemu cowok yang namanya Radit 'kan?" "Kamu ngomong apa sih, Sayang? Ngapain aku takut soal hal yang nggak penting?" "Mas cemburu sama Radit kan? Yah, lagian kalau diliat-liat Radit itu look-nya ganteng dan fresh gitu. Keliatan kalau dia orang berduit dan mbak Ayana pasti deketin dia. Apa lagi mas bilang, Radit mantannya mbak Ayana 'kan?" "Maksudmu apa, Sayang? Kamu muji cowok lain depan aku?" Mesya menggeleng. "Mas, aku itu cuma deskripsiin Radit menurut sudut pandang mbak Ayana. Istrimu itu pasti bakal deketin cowok lain karena uangnya. Dulu, dia deketin mas karena mas anak orang kaya 'kan? Nah sekarang-" "Ayana itu nggak kaya gitu," potong Farhan cepat. Kepalanya menggeleng tanda membantah kata-kata Mesya. "Dia bukan cewek yang dekati semua cowok karena hartanya. Dia itu cuma suka sama satu cowok dari zaman awal masuk SMA sampai-" "Mas, kamu yakin nggak cinta sama mbak Ayana?" potong Mesya menahan dirinya. "Sayang, kamu ngaco terus ngomongnya." "Mas baru aja bantah kata-kataku soal mbak Ayana. Nggak cuma sekali, setiap kali aku ngomongin mbak Ayana, Mas selalu aja bela dia." "Bukannya gitu, Sayang. Aku cuma ngomongin fakta. Orang yang Ayana suka itu cuma aku sejak SMA. Jadi mau Radit ngejar dari zaman kuliah sampai Ayana jadi istriku, Ayana nggak bakal ngerespon Radit." "Oh gitu, artinya berat banget dong buat mbak Ayana relain Mas buat aku? Kalau dia bisa mendam perasaan yang segede itu, artinya cintanya nggak main-main. Tapi, kamu yakin kan nggak cinta sama mbak Ayana?" Farhan menggeleng. Dia yakin dia tak memiliki perasaan apapun pada Ayana. "Kalau aku cinta sama dia, aku nggak bakal nikahin kamu, Sayang. Aku nggak bakal ngejar kamu, orang yang kucintai dari dulu." Mesya bernapas lega, dia memeluk Farhan manja. "Terus soal mbak Ayana yang nggak hamil-hamil, apa bener itu karena dia mandul?" "Siapa yang bilang Ayana mandul?" "Hampir semua orang, Mas. Sepuluh tahun nikah tapi belum punya anak sampai sekarang. Kasian sekali ibu Mas, pasti dia pengen punya cucu. Tapi sampai ibu meninggal, mantu kesayangannya nggak bisa ngasih cucu." Farhan terdiam, dia tak tahu bahwa ada kabar melenceng yang menyebarkan bahwa Ayana mandul. Karena Ayana sama sekali tak pernah membahas hal ini, jadi dia berpikir bahwa semuanya aman. "Tapi kamu tenang aja, aku bakal ngasih ibu cucu walaupun ibu udah nggak ada. Aku bakal lahirin anak kita dan besarin dengan sangat baik. Jadi, kamu nggak usah minder karena belum punya anak ya, Mas." Farhan mendorong tubuh Mesya pelan, dia menyentuh kedua pundak Mesya lembut. Menunduk, dia menatap kedua mata Mesya lalu berbisik. "Sayang, Ayana itu nggak mandul." "Apa? Ja-jadi kabar itu? Ta-tapi mbak Ayana-" Kepala Farhan menggeleng sekali lagi. "Itu karena aku nggak mau dia lahirin anakku. Karena aku mau punya anak sama kamu, wanita yang kucintai dari dulu." "Jadi," "Iya, aku sengaja biar dia nggak bisa hamil." Mesya menutup mulutnya karena sangat terkejut. "Mas, kamu-" "Aku cinta banget sama kamu," potong Farhan. "Setiap nyentuh dia, orang dalam pikiranku cuma kamu. Aku selalu bayangin kamu, di setiap aktifitas yang aku jalani sama Ayana. Ngabisin hari dan tua sama kamu, itu mimpiku dari dulu." Mesya memeluk erat Farhan. "Mas, aku nggak nyangka cintamu sebesar itu. Aku kira, cuma aku yang berusaha buat dapatin kamu. Aku nggak tau kalau kamu begitu tersiksa dalam pernikahanmu. Kupikir, kamu udah bahagia. Terlebih mbak Ayana sangat cantik dan perhatian. Aku benar-benar nggak nyangka kalau kamu bakal berusaha setelah ibu nggak ada." Farhan mengelus puncak kepala Mesya lembut. "Sekarang kamu tau kan, sebesar apa usahaku buat bisa balik sama kamu? Ayana, bukan apa-apa." "Tapi tetap aja mas," Tiba-tiba aja Mesya menjauh, pelukan mereka pun terlepas. "Mbak Ayana orang yang dapatin kamu duluan bahkan meski aku udah kembali. Harusnya tempat itu milikku dari dulu. Harusnya mbak Ayana sadar diri dan pergi karena udah jadi duri kebahagiaan kita." Mesya menatap langit-langit rumah sesaat, senyum tipisnya tercetak sekilas. Dia akan terus mendorong Farhan dan membuat Ayana terluka lebih dalam sebagai balasan merebut tempatnya. "Jadi, kamu maunya gimana, Sayang?" Mesya berbalik, ekspresinya berubah sedih. "Enggak kok, Mas. Aku nggak mau yang gimana-gimana. Karena bisa jadi istrimu aja lebih dari cukup. Itu udah buat aku seneng. Tapi aku lebih seneng kalau bisa miliki kamu seutuhnya. Andaikan aja itu bisa terjadi." Farhan bukan tak tahu maksud permintaan Mesya. Tapi, melepaskan Ayana tidak semudah itu. Tidak, entah kenapa dia enggan membiarkan Ayana pergi. Meski dia sudah berjanji pada Ayana, tapi dia berniat membujuk Ayana setelah pesta pernikahannya dengan Mesya selesai. Dia tak akan membiarkan pernikahannya yang sudah sepuluh tahun hancur begitu saja. Ayana adalah wanita paling sabar yang pernah dia kenal. Dan cinta Ayana padanya sangat besar. Jadi rasanya tak mungkin Ayana benar-benar meminta berpisah. Pasti saat itu hanya sebuah gertakan agar dia tak menikahi Mesya. Dia akan membujuk Ayana apapun caranya. Dia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan Ayana. "Mas, kok kamu jadi ngelamun," "Enggak kok, kamu jadi pilih rumah yang ini atau yang sebelumnya?" Rasanya dia tak sabar ingin segera pulang dan bertemu Ayana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN