Sebelum Dini Hari
Seorang lelaki Tua berbaring lemah di tempat tidur nya. lengkap dengan selimut hangat nya dia mencoba meraih tangan seorang wanita paruh baya yang duduk di samping nya. tanpa berkata sepatah kata pun dia memandang wanita itu dengan penuh kasih. dan tak pernah sekalipun mengalihkan pandangan nya dari wanita tersebut. bahkan sesekali wanita itu menghapus air mata yang menetes dari wajah nya, mereka tetap saling berpandang. tidak ada yang menyangka hari itu akan datang. waktu yang telah lama di tunggu pun akhirnya tiba juga. ketika satu anggota keluarga pergi akan datang satu anggota keluarga yang lain lagi. belum bisa di pastikan apakah yang akan datang berikutnya lelaki atau perempuan. jam berdentang dengan sangat keras. waktu nya tiba. seketika tangan lelaki tua itu pun jatuh terkulai. dan kemudian di ikuti pejaman mata yang tenang. wanita itu pun mengenggam erat tangan lelaki tua tersebut dan mengucapkan sebuah kata dengan bahasa yang asing dan tidak banyak orang tahu bahasa apa itu. seluruh orang yang berada di ruangan itupun mengikuti kata-kata tersebut. tidak ada isak tangis yang sangat ketika lelaki tua tersebut menutup mata. hanya sebuah kata-kata yang seperti hampir menyerupai sebuah doa mereka ucapkan bersama-sama.
seorang lelaki lain yang berdiri di samping wanita tersebut menggenggam tangan nya dan berusaha untuk tidak mengalihkan pandangan nya terhadap tubuh yang tergeletak lemas di tempat tidur.
"sudah waktu nya." seru nya.
"sebentar lagi dia datang." tambahnya.
" kenapa waktunya harus sekarang." wanita itu bertanya dengan penuh kecurigaan. apakah benar ini waktu yang tepat untuk dia seorang yang di tunggu itu datang.
beberapa saat kemudian terdengar suara petir menggelegar sangat hebat, dan muncul suara ketukan pintu di luar. mereka saling berpandangan satu sama lain. dan seluruh orang yang ada di ruangan kamar tersebut tampak bertanya-tanya dengan sangat penasaran.
perlahan seorang wanita tua pendek bertubuh gemuk dengan pakaian serba putih khas piyama tidur keluar dari kamar kecilnya dan berjalan ke arah pintu utama. dia membuka pintu dan melihat seorang perempuan muda cantik berambut panjang tergerai dengan baju yang basah kuyub karena hujan yang begitu deras. dia tersenyum ke arah wanita tua tersebut dan berkata
" hai, maaf boleh saya masuk ke dalam." kata nya. dan wanita tua tersebut menjawab " silahkan nona muda." selamat datang". jawab nya.
" maaf saya datang pagi2 sekali. sebnarnya saya tidak sengaja lewat di sekitar sini, dan tiba-tiba hujan turun sangat deras. saya juga tidak tahu kenapa bisa tiba-tiba turun padahal saya lihat di ramalan cuaca tidak akan turun hujan, bahkan sangat cerah." sambung nya dengan nada yang penuh semangat.
" tidak apa-apa nona, silahkan beristirahat di sini sejenak. mari saya keringkan baju nya. "
" saya akan bawakan beberapa baju kering untuk nona bisa pakai." ujar wanita tersebut.
namun tiba-tiba perempuan muda itu berkata" maaf ibu saya belum memperkenalkan diri, nama saya May. saya tinggal di kota lice. saya sebenarnya mau mengunjungi nenek saya di kota snot. tapi malah turun hujan di tengah jalan jadi saya minta ijin untuk berteduh singgah di sini. terima kasih banyak ibu." kata May.
" iya istirahat lah di sini sementara waktu, duduklah nona. sebentar saya ambilkan baju kering nya. dan nama saya bibi tuasuun. " nona bisa memangill saya bibi tuasun." imbuh wanita bertubuh gemuk yang penuh senyum hangat kepada may.
ketika bibi tuasun masuk ke dalam suatu ruangan. may duduk di salah satu kursi dengan tata interior yang mewah dan penuh ukiran yang bergambar tulisan-tulisan kuno. kemudian terdengar suara dari seberang kanan may.
"hai siapa kamu?" tanya wanita itu
"hai saya May saya dari kota lice, saya berencana ke kota snot untuk mengunjungi nenek sy karena besok dia berulang tahun jadi saya ingin mengunjunginya, kemudian saya kehujanan karena hujan turun deras sekali." jawab may.
"halo may aku Getra dan yang duduk di kursi ujung sana adalah suami ku, Maxim." kata getra.
seketika may terperanjat karena dia tidak tahu tiba-tiba ada seorang yang duduk di kursi sebelah kanan nya.
"oh..hai pak maxim." salam saya may."
"saya mohon maaf bolehkaah saya berteduh sementara di sini?" tanya may kepada maxim.
"ah..tentu saja, silahkan." jawab maxim
kemudian bibi tuasun datang untuk membawa baju kering. dan memberikan untuk may.
"terima kasih baju nya bibi." sembari mengambil baju nya dari tangan bibi tuasun
"wah, ini baju apa y kenapa bagus sekali seperti baju pesta?" tanya may kepada bibi tuasun
"ini baju khusus memang untuk nona muda." jawab bibi tuasun dengan senyum di wajah keriputnya.
"apa benar saya boleh pakai ini?" ini bagus sekali."
"tentu saja, may. silahkan di pakai nanti kamu akan tahu untuk apa kamu memakai baju yang sudah kami siapkan untuk mu." jawab getra
"baju yang di siapkan untuk saya? maksud nya apakh nyonya tahu saya akan berteduh di sini?" tanya may dengan polosnya sekaligus wajahnya yang bingung.
"iya, kami semua di sini tahu bahwa kamu akan datang. jadi baju itu memang di siapkan untuk kamu." jawab getra kepada may.
kemudian dengan polos nya may memakai baju yang sudah dia pegang di tangan nya. tidak sama sekali dia curiga akan apa yang sedang keluarga misterius itu rencanakan
dia hanya berpikir bahwa keluarga itu sangat ramah dengan orang asing seperti may. dia meminta ijin untuk ke kamar ganti supaya ia bisa menganti pakaian nya.
"bibi tuasun bolehkah saya pinjam kamar kecil untuk ganti baju?" tanya may
"jangan di kamar kecil nona, silahkan ikut saya. saya tunjukkan kamar nya." jawab bibi tuasun
kemudian mereka berjalan ke arah dalam ruangan dan menuju ke salah satu kamar yg berbentuk seperti kamar hotel. lalu bibi tuasun mempersilahkan may untuk masuk dan ganti baju di kamar tersebut.
"terima kasih bibi tuasun, saya ganti baju dulu y." kata may sambil memasuki kamar yang penuh nuansa dingin.
"silahkan nona, saya akan menunggu di depan pintu." jawab bibi tuasun dengan masih memperlihatkan senyum ramah nya.
may memasuki kamar dan melihat-lihat di sekeliling kamar itu. dia berpikir sebenanrnya kamar ini sangat bagus sekali interior nya begitu cantik dan klasik tapi sayang begitu dingin. kemudian may mencari saklar lampu dan menyalakan tombol lampu nya. ketika lampu itu menyalaa dia sangat tertegun melihat keindahan kamar itu. dengan kasur yang sangat nyaman empuk dan deretan kursi sofa yang indah berwarna merah dengan karpet warna senada.
dia lalu teringat untuk segera memakai baju yang dia pegang. kemudian dia mulai melepas baju nya yg basah. dan ketika dia mulai memakai baju nya dia merasa badan merinding, jantung nya berdegub kencang, keringat dingin, dan dia melihat di cermin besar di sebelah tempat tidur itu dia merasakan dejavu dan mendengar suara-suara aneh yang membuat kepala nya pusing. dan seketika may melihat seluruh ruangan berputar dan terasa gelap.