seketika May tidak sadarkan diri. ketika may membuka mata, ia melihat kedua tangan nya masih memakai baju yang sama. sebuah gaun cantik berwarna merah lalu may memanggil sebuah nama
" Greta "ujar nya.
tiba-tiba terdengar langkah kaki fi seberang luar kamar dan seseorang membuka pintu kamar yang di tempati may.
"kamu sudah bangun?" tanya greta
"berapa lama aku tertidur?" siapa dia?" tanya may kepada wanita paruh baya bernama greta itu.
"sudah 3 hari kamu berada di tempat tidur." "bangunlah semua ingin menemui mu." aku akan menyuruh tuasun untuk menyiapkan segalanya". jawab greta kepada may
"baiklah".
kemudian may segera bangun dari tempat tidur dan dalam sekejap pun bibi tuasun berada di samping may dan greta.
dengan senyum ny yang tak pernah hilang dari wajah nya, bibi tuasun membantu may bersiap-siap. tidak ada satu patah kata pun ketika mereka bertiga saling mempersiapkan diri.
"tuasun apakah semuanya sudah siap di ruang utam?" tanya greta
"sudah nyonya" jawab nya singkat tak lupa dia juga selalu menaruh senyum hangat di wajahnya setiap kali menjawab pertanyaan
"ayo keluar dan beri salam pada mereka." kata greta kepada may.
"aku juga sudah lama ingin melihat bagaimana pekerjaan yang menanti ku." tambah may
kemudian mereka bertiga berjalan keluar dari ruangan kamar tersebut. mereka bertiga menyusuri lorong-lorong penuh ddngan kamar-kamar.
"gjjuknaaa" ujar salah seorang yang berdiri di depan pintu kepada mereka bertiga.
"dorkianan" greta dan may menjawab bersama.
mereka bertiga memasuki sebuah ruangan penuh dengan bunga. ruangan itu begitu harum. dan ketika mereka memasuki ruangan tersebut sudah banyak sekalia orang menunggu mereka.
"selamat datang putri Asusa" ucap mereka berbarengan
"sudah lama sekali saya tidak kesini y?" tanya nya kepada mereka semua
"ia, putri selamat datang kembali." ucap salah seorang dari mereka
"selamat datang anak ku, Asusa" ujar lelaki paruh baya di samping greta.
"Hai max, lama tidak bertemu."jawab nya
"baiklah kita langsung menuju ke pokok inti pembicaraan kita. bagaimana apakah sudah di tentukan waktu nya?" tanya greta
"iya, sudah kami telah memilih waktu nya di pagi hari setengah bulan saatnya nona asusa masuk." jawab salah seorang yang berdiri di depan greta.
"baiklah bersiaplah asusa." kita tidak punya banyak waktu. kita telah kehilangan master dan akhirnya kamu datang." kata greta pada may.
"baik." jawaab may singkat
seketika itu juga langit berubah menjadi mendung dan sama seperti ketika may datang pertama kali ke rumah itu muncul suara petir yang sangat dan dalam sekejap may keluar dari ruangan itu berhenti di sebuah kota yang tidak asing bagi nya. kota Honker sebuah kota di mana masa kecil may tumbuh di sana sebelum akhirnya dia pindah ke lice.
masa kecil may dengan kedua orang tua nya di kota honker benar-benar menyenangkan, may hidup dengan kelimpahan kasih sayang. hingga pada suatu hari sebuah kecelakaan misterius terjadi pada may dan kedua orang tua nya. di malam itu may kehilangan kedua orang tua nya. dan dengan terpaksa may tinggal dengan nenek nya di kota snot. namun kenyaatan harus berkata lain nenek may terbukti menderita alzheimer dan itu mengharuskan nenek may di rawat di sebuah panti sosial di mana semua pasien yang menderita alzheimer di rawat di sana.
dan hal ini membuat may harus menerima keputusan pengadilan bahwa may harus tinggal bersama orang tua angkat. dia di asuh oleh sebuah keluarga di kota lice.
kota lice berbeda sangat dengan kota snot apalagi kota honker. kota honker seperti kapitol jadi sistem pemerintahan pusat berada di sana. kota lice adalah kota kecil dengan penduduk yang sebagian besar bekerja sebagai pekerja industri ataupun petani.
"aku sudah sampai dihonker" ujar may
"aku akan menemani mu nona." ujar bibi tuasun yg tiba-tiba berdiri di sebelah nya.
"bibi, kau mengagetkan ku. kenapa bibi mengikuti ku?" tanya may dengan penuh keterkejutan nya.
"aku mendapat tugas untuk menemani nona." jawab bibi tuasun
"baiklah sepertinya greta memang tidak berubah dia masih saja tidak mempercayai ku."
"karena "dia" pasti yang akan pertama kali menemui nona." seperti nya mereka sudah merasakan nya nona. mereka tahu kita akan datang." kata bibi tuasun sambil terus berjalan mengikuti may di belakang nya
"aku tidak akan melihat nya. aku tidak akan melihat orang itu." kata may
"sepertinya itu akan sulit nona, dia telah menunggu nona dari belasan tahun. dia tidak mungkin melepas nona begitu saja." kata bibi tuasun
"kita lihat saja nanti." jawab may kepadanya.
sesudah berjam-jam mereka berjalan tibalah mereka di suatu tempat sebuah rumah kecil sangat kotor dan tampak kosong. dan ketika mereka sampai di depan pintu rumah itu may berkata "dyziwikleo" tapi tidak terjadi suatu apapun. mereka berdua bingung dengan apa yang terjadi dan akhirnya bibi tuasun mencoba nya mengucapkan kata yang sama "dyziwikleo" dan seketika berubah menjadi bersih dan sangat rapi tidak berantakan menjadi sangat indah.
"mari masuk nona." ujar bibi tuasun
"bibi, kenapa aku tidak bisa melakukan nya. apa yang terjadi?" apa yang terjadi padaku?"tanya may pada bibi tuasun.
kemudian mereka masuk dan berganti pakaian dengan cara menjejak kan kaki ke tanah. kemudia mereka berdua duduk di sebuah kursi sofa nyaman dan bibi tuasun berkata
"hal ini terjadi karena nona may melawan nona, walaupun kalian berdua sangat mirip secara wajah penampilan dan fisik tapi ini adalah tahun di mana nona may berada."
"tapi tubuh ini milik ku." tandas asusa di dalam tubuh may.
"tubuh ini tidak hanya milik nona asusa saja, tubuh ini milik kalian berdua." imbuh bibi tuasun
"tidak masuk akal, kenapa tidak menghilang saja may, dia wanita lemah sangat berbanding terbalik dengan ku. di dalam hidup nya aku selalu melihat dia sering menangis merindukan orang tua nya. memikirkan nenek nya dan yang lebih membuat ku aneh adalah keluarga baru nya di lice yang selalu menindas nya, tapi dia selalu mengalah bahkan tidak pernah sekalipun melawan." kata asusa
"saya juga tidak tahu kenapa bisa begitu hanya nona asusa dan nona may saja yang bisa seperti ini. kami semua tidak bisa melakukan nya." ujar bibi tuasun.
ketika mereka baru saja selesai bicara tiba-tiba ada sebuah bayangan yang masuk melalui jendela. dan akhirnya muncul di hadapan mereka berdua
"asusa..." ujar lelaki itu
kemudian dia melemparkan jentikan bunga kecil yang mengenai kening nya dan seketika itu rebah lah asusa di kursi itu.