Chapter 36. Operasi Penyelamatan (5)
Mey memberikan aba-aba kepada Koina untuk mematikan sistem di kepala Sasha, sedetik kemudian alarm bahaya membahana di segala penjuru Vinctum.
Rom segera mengangkut Sasha ke atas punggungnya.
"Ikuti kami," kata Mey yang bergegas lebih dulu keluar dari kamar rawat. Rom, Koina dan Rudy segera mengikutinya. El menyusul paling belakang. "Di sini tidak ada materi tanah, kau tidak bisa menggunakan kekuatanmu, Rudy." Ujarnya kepada Rudy.
"Tidak masalah," jawab Rudy. "Aku juga adalah petarung handal." Ia menyempatkan diri memungut senjata pengawal yang pingsan di lorong. El mengikutinya mengambil senjata, ini bukan senjata api, melainkan senjata listrik saja.
"Kau bisa menggunakan benda ini?" tanya El.
"Ya, aku tahu cara menggunakannya," jawab Rudy.
"Bagus," El mengangguk. Baguslah, melihat dari keadaan gedung ini, sepertinya mereka tidak akan menghadapi kelompok Eyerish seperti dugaannya, melainkan kelompok manusia bersenjata.
"Koina, gunakan keahlian listrikmu,” pinta Mey pada si bocah perempuan.
"Aku suka banget dikasih kesempatan bikin orang jadi hangus." Koina cekikikan riang seolah saat ini mereka hanya sedang bermain perang-perangan.
"El," panggil Rom, El segera mensejajarkan langkahnya dengan Rom karena panggilan itu.
"Ikuti Mey, Rom." kata El yang kini mengaktifkan sistem air untuk pemadam kebakaran di koridor, ia sengaja menciptakan wilayahnya. Namun ini menyebabkan mereka menjadi basah kuyup, dan Rom tak dapat berkutik karena air dimana-mana.
"Ada anak lainnya. Namanya Ares." Kata Rom. “Aku harus membawanya juga.”
"Ares? Siapa lagi?" tanya El kaget.
"Dia terkurung di atas lantai ini, kata Rudy. Dia yang membantuku melumpuhkan keamanan. Aku rasa dia sedang terluka parah." Jelas Rom dengan cepat.
"Bagaimana dia melakukannya?" tanya El heran.
"Dia bisa mengendalikan pikiran." jawab Rom segera.
Seketika ekspresi El seperti menegang.
"Tunggu, anak laki-laki...?" El tampak bingung. "Mey mendengar suara anak laki-laki di dalam pikirannya, apakah ini anak yang sama?”
"Pastinya. Ares pasti menyadari kalian memasuki tempat ini untuk menyelamatkan Sasha. Kita harus mengeluarkannya juga dari sini. Kurasa dia dimanfaatkan.”
El tampak bimbang. "Mungkin lebih baik kita memikirkan diri sendiri. Pasukan di gedung ini sudah terdengar mendekati posisi kita."
"Tapi, El." kata Rom. "Mereka akan menghukum bocah itu jika mereka tahu dia yang membantu kita. Mereka akan menyiksanya."
"Darimana kau tahu mereka akan melakukan hal itu padanya?"
"Dia sama dengan diriku." jawab Rom reflek. "Kau tidak akan mengerti. Jika begitu, tolong bawakan Sasha. Biar aku saja yang mencarinya."
"Jangan bodoh." kata El jengkel. Tapi Rom memang super duper bodoh. Bukannya berterima kasih karena El dan Mey sudah repot-repot memasuki gedung ini, si bodoh ini malah bertingkah. "Kau akan kembali ditangkap bahkan sebelum melihat bocah itu."
"Tapi Ares...." desak Rom.
El menghela nafas. Haruskah ia menuruti permintaan Rom?
"Baiklah, aku akan mengeceknya. Tapi aku tidak berjanji berhasil membawanya keluar. Kau ikuti Mey, pastikan Sasha aman bersamamu."
Wajah Rom tampak cerah mendengar keputusan El. "Terima kasih, El. Kau sungguh teman yang baik."
***
El berpisah dari rombongannya, ia berharap Mey dan yang lainnya mampu bertahan sampai ke terowongan. Ia tahu Meysha tidak akan setuju dengan keputusannya, tapi ia tidak bisa menolak permintaan Rom. Ia beralih menaiki tangga alih-alih menuruni tangga seperti rombongannya. Dan belum apa-apa ia sudah diserang penjaga di lantai atas. Ia berhasil menghindari tembakan dan menghajar kedua penjaga itu.
Benar-benar aneh. Para penjaga ini bukan Eyerish.
Ia mendengar jika Vinctum dihuni ratusan Eyerish tapi para penjaganya hanyalah manusia bersenjata? Jika benar Gedung Utama tidak dihuni Eyerish, maka beruntunglah mereka.
El memasuki lantai atas, namun mendadak berhenti. Lantai itu menggunakan penerangan remang berwarna kemerahan. Ia segera menghajar para pengawal yang tiba-tiba muncul menyerangnya.
Setelah melumpuhkan para penjaga, Ia melanjutkan menyusuri lorong, akhirnya ia sampai di ruang besar. Ada satu pintu besi bundar di salah satu sisi.
El kembali mengaktikan hujan buatan di lantai itu, waspada kalau-kalau ada Eyerish yang muncul, paling tidak ia perlu mempersiapkan wilayahnya. Ia sudah mempelajari jika dia perlu menyediakan air dimana pun ia berada.
El mengecek pintu besi itu yang tentu saja terkunci. Ia berpindah pada kotak tombol di samping pintu, mencoba mengotak-atik tombolnya. Tapi ia tidak tahu password yang digunakan. Ia berbalik, mencoba mencari ide untuk membuka pintu besi.
El menyadari jika masih ada satu penjaga lainnya yang bersembunyi di ruangan di seberang pintu besi. Ia segera memasuki ruangan itu dan membuat satu penjaga di dalam ruangan itu pingsan dengan pukulannya. Tapi tentu saja ia telah terlambat. Penjaga ini sudah melaporkan keberadaannya. Tanpa membuang waktu lagi, ia mengecek ruang kabar tersebut, dan berhasil mendapatkan satu serenteng kunci.
El segera berlari mendekati pintu besi, kemudian mencocokkan setiap kunci pada pintu besi. Ia berusaha sabar sampai akhirnya mendapatkan satu kunci yang cocok. Pintu besi membuka, El nyaris bersorak karena merasa hari ini adalah hari keberuntungannya.
Bau darah menguar ketika ia memasuki ruangan. Ia menutup hidungnya dengan jari menghalangi bau yang membuatnya mual itu. Ia berusaha membiasakan pandangan matanya pada ruangan yang berpenerangan merah temaram, lebih gelap daripada di lorong.
"Halo?" panggil El. "Ares?"
Ada suara rintihan. Ia menemukan sosok kecil meringkuk di pojok ruangan kecil itu.
"Kau, Ares?" El berjalan mendekat dengan hati-hati.
"Siapa kau?" rintih bocah kecil itu.
"Namaku El." El berjongkok, memastikan jaraknya tepat kalau-kalau mendadak diserang. "Temannya Rom."
"Jadi... kalian sudah datang?" Bocah berambut perak itu belum juga mengangkat wajahnya. "Sasha?"
"Sasha ada bersama kami." jawab El.
Akhirnya bocah itu mengangkat wajah. El seketika terkesiap. wajah anak itu nyaris hancur karena luka bakar, matanya yang perak kosong bercahaya di dalam ruangan yang temaram.
"Kau terluka parah," desah El cemas. Sepertinya anak ini buta. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Apakah Rom menggunakan kekuatannya kepada anak ini hingga terluka separah ini? Anak ini jelas-jelas terkena serangan api.
"Ayo, ikut dengan kami." El menjulurkan tangannya pada Ares.
"Apa?" Ares menelengkan kepalanya. "Kemana?"
"Kami akan mengeluarkanmu. Kami juga akan mengobati lukamu."
"Tidak, jangan."
"Jangan takut. Kita pasti bisa keluar dari sini." bujuk El. ia mulai mengasihani bocah yang terluka parah ini.
"Aku harus tetap di sini."
"Tidak, Nak. Ayo, aku akan mengeluarkanmu."
"Tidak!" Ares mendadak menjerit parau. "Aku tidak boleh pergi dari sini! Aku sedang dihukum!" ia mulai terisak-isak.
"Nak, kau akan kesakitan jika tidak dirawat..." El berusaha membujuk.
"Aku adalah Eyerish, aku bisa sembuh dengan sendirinya."
Tapi tubuh Ares sehancur ini.
"Kau tetap perlu perawatan, Nak."
"Pergi!"
"Nak..."
"Mereka akan segara datang ke sini..." Ares menggigil ngeri. "Kau harus pergi, kalau tidak mereka akan menghukummu di basemen."
"Aku akan pergi bersamamu."
"Tidak, tidak..."
"Ares.."
"Kalau aku pergi... Sasha akan ditangkap lagi..."
"Tidak, kami akan melindungi kalian berdua." El belum memahami hubungan Ares dengan Sasha. Apakah mereka berdua adalah saudara?
"Kalian tidak bisa melindungi kami berdua." suara Ares menggigil. "Pergi! mereka semakin mendekat!"
"Ares... aku....Argh!"
Sensasi menyakitkan memenuhi kepala El. ia mendengar teriakan Ares bertubi-tubi memenuhi kepalanya. Mendadak tubuhnya berjalan sendiri tanpa dapat ia kendalikan.
Tidak... tidak... kenapa ini? Ia seperti berada jauh dari tubuhnya. Ia masih memandang Ares yang telah ia tinggalkan di belakang. Ia terus berjalan dengan sendirinya, El berusaha menolak, tapi semakin ia menolak, ia semakin merasa kesakitan. Kemudian tubuhnya didorong keluar dari pintu lorong, terjerembab jatuh dan berguling di tangga.
Sensasi menyaktitkan itu telah berhenti. Ia kembali menguasai tubuhnya. Suara tembakan bertubi-tubi menuju ke arahnya. Para pasukan sudah bermunculan. Sial. Ia terpaksa kabur.
---*---