Chapter 35. Pertemuan Kembali

1382 Kata
Chapter 35. Pertemuan Kembali Rom memandang keluar jendela di lorong, dimana matahari pagi sudah naik dan bersinar terang. Sepertinya ia memang pingsan cukup lama karena Pembelajaran dk Arena berlangsung pada malam hari. Ia memandang kedua telapak tangannya yang semakin membaik, semua luka bakarnya sudah nyaris sembuh. Ia menolehkan wajah, menemukan para penjaga berpakaian serba hitam dengan pistol listrik, telah terkapar pingsan di lantai koridor. Ini pasti ulah Ares yang menggunakan tubuh Koina untuk mengamankan lantai ini. Sebelumnya ia menemukan Haskel terkapar tak jauh dari pintu kamar tempat ia dirawat, memberi jawaban bagaimana Koina atau Ares bisa mendapatkan kunci borgolnya. Ia mengikuti instruksi Ares, dan benar saja, menemukan ruangan yang dimaksud. Ia memasuki ruangan tersebut, dan terkejut ketika menemukan keberadaan Sasha di dalamnya. Sasha terbaring di ranjang dengan begitu banyak peralatan dan selang yang tersambung ke tubuhnya. "Sasha," panggil Rom lirih. Kulit wajah Sasha tampak sangat pucat, ia bisa melihat selang yang sepertinya mengambil darah Sasha. Apa-apaan ini? Apa yang mereka lakukan terhadap Sasha? Bukankah Sky mengatakan jika Sasha sedang dirawat? Tapi mengapa semua peralatan yang terhubung pada Sasha tidak tampak seperti peralatan untuk merawat seorang pasien. Sasha terlihat tidak sadarkan diri. Maka terjawab mengapa ia tidak dapat berkomunikasi dengan Sasha setelah dari penjara basemen. Ada peralatan yang melingkari kepala Sasha. Peralatan itu dihubungkan pada sebuah layar yang menunjukkan grafik stabil. Mungkin alat itu digunakan untuk melacak agar Sasha tidak dapat menggunakan kemampuannya. "Kau kenal dia?" Rom terkejut, ia segera berbalik. Rudy, si Pengendali tanah, dengan wajah lebam dan luka bakar berdiri di ambang pintu. Luka bakar tampak di sebelah sisi tubuhnya dari bagian leher, mungkin sampai ke tubuhnya yang tertutup pakaian Rom menelan ludah melihat keadaan Rudy. Ia semakin merasa bersalah. "Rudy saja," kata Rudy segera seolah membaca pikiran Rom yang ingin menyebut namanya.. "Aku bertanya-tanya siapa yang melumpuhkan para penjaga di lorong. Aku meragukan kau yang melakukannya." "Itu..." Rom tergagap. "Apakah kau mempengaruhi Ares?" "Apa?" "Sepertinya Sky tahu jika ada rencana di antara kau dan Ares." "Aku tidak mengerti." "Seharusnya Ares mengendalikanmu ketika di arena, bukan Koina. Dan dia membiarkanmu membakar dirinya sendiri. Kasihan bocah itu, maksudku, aku punya banyak dendam dengannya, tapi melihatnya terbakar, ngeri juga." "Apakah dia baik-baik saja?" Tanya Rom segera. Rudy malah tersenyum menyeringai. "Kau tentu tidak tahu." "Apa?" "Dia dihukum, seperti biasa." "Di... dihukum?" "Ya, aku kurang tahu sih. Tapi kurasa ada tempat khusus untuknya, dia selalu dibawa ke atas lantai ini. Soalnya aku sering keluar masuk di sini setelah dari arena. Kau tahu tidak jika aku adalah yang terkuat selama ini? Yah, sekarang sih tidak karena Ares sudah menggantikan posisiku." Dengus Rudy sambil melangkah untuk mendekati Rom. "Mungkin karena sebentar lagi aku akan mati, makanya Sky segera mencari penggantiku." "Kau... akan mati? Apa kau terserang penyakit?" Tanya Rom tidak mengerti. Rudy malah terkekeh. "Kau tidak tahu ya?" Rom menggelengkan kepala. "Usia Eyerish tidak panjang. Setelah mencapai usia 30 tahun, kita akan mengalami berbagai macam penyakit. Tidak ada yang bertahan lama. Bangsa kita akan mati muda." Rom mengerutkan dahi. "Benarkah?" "Ya, Eyerish berusia pendek." Rom berusaha memahami informasi baru itu. Apakah fakta ini valid? Pantas saja semua Eyerish yang berusia dewasa terlihat tidak begitu sehat, seperti Rudy. Dan mungkin dia juga akan seperti mereka. Sakit-sakitan. "Lalu apa rencanamu?" Tanya Rudy. "Kau ke sini untuk melepaskan Putri tidur ini kan? Aku dengar dia adalah kartu As Vinctum," "Namanya Sasha." kata Rom. "Sasha?" Rudy mengangguk-angguk mengawasi Sasha yang tertidur lelap. "Mereka benar-benar mengekangnya dengan ketat. Sudah punya rencana untuk melepaskannya?" "Melepaskannya?" ulang Rom bingung. "Hei, Ares sudah bersusah payah melumpukan para penjaga di lantai ini, dan kau hanya melongo di depan Putri Tidur ini?" "Aku hanya ingin melihat Sasha," kata Rom jujur. Rudy menyumpah tiba-tiba mendengar jawaban Rom. Kemudian pria itu terpincang-pincang keluar dari ruangan. Rom tidak mengerti kenapa Rudy bereaksi seperti itu. Ia beralih pada Sasha, memegang tangan Sasha, prihatin melihat keadaan gadis kecil itu. Tapi ia tidak punya ide bagaimana cara melepaskan Sasha. Jika pun ia bisa melepaskan Sasha, kemana dia harus pergi dari bangunan ini? Ia tidak suka tempat ini. Tapi ia tidak tahu bagaimana kabur dari sinim Rudy muncul sambil menyeret Koina yang sudah siuman. Koina mengucek matanya yang masih mengantuk, dan keadaan gadis kecil itu juga sudah cukup membaik. "Bisa kau matikan peralatan yang tersambung ke tubuhnya?" Tanya Rudy. "Imbalannya apa?" Tanya Koina balik. "Coba kau tanyakan pada pria api ini." tunjuk Rudy. "Oh kalau begitu perbolehkan aku menyetrummu sampai hangus nanti ya." ujar Koina, memandang puas pada Rom. Dan sebelum Rom sempat berkata apa pun, Koina mulai mengotak-atik peralatan listrik di sekitar Sasha. ia mematikannya satu-satu. "Satu ini tidak bisa kumatikan." kata Koina, menunjuk pada alat yang melingkar di kepala Sasha. "Aku menjelajahi sumbernya, dan tersambung pada alarm bahaya." jelasnya. "Nah, lalu apa?" Tanya Rudy. Rom tidak suka dengan pandangan Rudy ke arahnya. Padahal pria itu sendiri yang berinisiatif untuk melepaskan Sasha. Dia tahu ide itu akan memicu bahaya besar. Tapi mereka sudah sejauh ini. Apa yang harus mereka lakukan? "Ada yang datang," bisik Koina tiba-tiba. "Apakah mereka sudah menyadari sistem keamanan bobol di lantai ini?" Rudy terlihat panik. "Sekarang apa?" "Ya, hajar saja mereka." kata Koina dengan tampang polos. "Kau kan selalu masuk lima besar? Apa karena kau sudah uzur jadinya kau pengecut begini?" "Anak sialan, jaga omonganmu!" desis Rudy tersinggung. "Sudah, mundur saja kalian para pria lemah." Koina maju ke depan mereka, memasang kuda-kuda, yang sebenarnya tidak perlu, menghadap pintu. Sementara tangannya yang masih menampilkan luka bakar tampak berkilat-kilat dengan percikan listrik yang menari-nari mengelilingi tangannya. Pintu terbuka dan Koina berhasil menahan serangannya. "Miss Lyn!" pekik Koina girang sambil menghambur memeluk wanita yang baru saja memasuki ruangan. Rom sepertinya pernah melihat wanita itu di suatu tempat, tapi ia tidak ingat dimana. Lalu muncul seorang pria lainnya di belakang wanita berambut abu-abu itu. Ia membelalakan mata. Ia mengenali pria itu. El? Polisi Beryl itu? "Kau... di sini?" Tanya Rom kebingungan pada El. Apakah dia sedang bermimpi? Ia tidak menyangka akan kembali melihat El setelah El mengusirnya dari rumah Emily. Sebenarnya apa yang terjadi? "Bagus," El tersenyum lega melihat Rom yang tampak 'sehat' dari perkiraannya. "Tampaknya informanmu benar." ia menoleh pada wanita itu. "Ya," wanita berambut abu-abu itu tampak pucat. “Bagaimana kau bisa berada di sini?” tanya Rom, masih tidak mempercayai dengan keberadaan El.Apakah El juga ditangkap seperti dirinya? “Akan kuceritakan nanti.” Jawab El segera. “Apakah Emily baik-baik saja?” Rom segera bertanya karena ia memang mengkhawatirkan wanita itu. “Eum, ya. Tentu saja. Emily... baik-baik saja,” jawab El segera dengan kikuk. Ia sedikit heran mengapa Rom menanyakan Emily pada saat seperti ini. "Wah, kau adalah Perawat pengkhianat itu kan?" Tanya Rudy pada si wanita. "Ada perlu apa kau datang kembali, Miss Lyn?" Tanyanya dengan sikap sopan, padahal pria itu selalu memaki-maki dihadapan Rom. "Aku mau mengambil Sasha." kata wanita itu. "Dan namaku sebenarnya adalah Mey." "Mey?" ulang Rom. Ia langsung mengingat nama itu sebagai nama yang selalu disebut Sasha sebelumnya. Berikutnya ingatannya semakin jelas. Mey adalah wali Sasha yang akan menjemput di Goshenite. Ia sempat melihat wanita itu sekilas sebelum ia kehilangan kesadaran setelahnya. "Ya, Rudy. Sekarang kami harus pergi sebelum sistem keamanan menyala." Mey mendekati ranjang Sasha. "Tidak bisa, Miss." ujar Koina. "Mereka mengaktifkan alarm bahaya jika kita mematikan sistem di kepalanya." "Berapa lama kita bisa sampai ke terowongan?" Tanya El. "15 menit minimal kalau tidak ada halangan." jawab Mey. "Nah, Pak, dan kau, Nak." El menoleh pada Rudy lalu Koina. "Terima kasih sudah menjaga teman-teman kami, tapi apakah kalian ingin terlibat lebih jauh? Atau tidak? Sepertinya kami perlu pasukan kecil untuk menerobos lorong agar bisa keluar dari bangunan ini." Rudy dan Koina saling bertukar pandang sesaat mendengar tawaran El. "Kalian akan pergi?" Tanya Koina. "Ya, tentu saja. mustahil kami menyerahkan diri dengan sukarela, Nak." Gerutu El "Kemana?" "Ke rumahku, sayang. Aku tinggal di suatu pulau. Di sana ada banyak keluargaku, sebagian besar adalah seperti kita." Mey menjelaskan sambil mengusap rambut panjang Koina. "Boleh aku ikut bersamamu, Miss Lyn?" tanya Koina segera. "Di sini orang-orangnya tidak ada yang sebaik dirimu." alasan yang polos. Mey tersenyum mendengarnya. "Tentu saja! Bagaimana denganmu, Rudy?" wanita itu beralih pada Rudy. "Hmm, sebentar lagi aku akan mati," ujar Rudy. "Dan cita-citaku sejak kecil adalah berjelajah." Jawabnya dengan sorot mata yang berbinar cerah. ----*----
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN