Chapter 34. Operasi Penyelamatan (4)

1825 Kata
Chapter 34. Operasi Penyelamatan (4) Gerbang Timur Feldspar memang sangat dingin. Bahkan lebih dingin daripada musim dingin di Beryl. Di Beryl jarang bersalju, hanya sesekali pernah terjadi itupun salju yang jatuhnya tipis-tipis saja. Di gerbang timur Felspar menumpuk tanah salju. Meskipun begitu pepohonan tetap tumbuh subur, daunnya hijau segar, bunga-bunga tetap bermekaran dan berwarna-warni dimana-mana. "Wah," gumam Mey. "Ini benar-benar terlihat surga." ia berdecak kagum. "Kita akan menikmati matahari terbit. Mari duduk di tempat yang sudah disediakan." si Pemandu segera mengajak mereka ke lokasi bersantai, seperti gajebo besar dengan meja dan kursi untuk setiap pasangan. "Duduklah, aku ambilkan sarapannya." kata El pada Mey. Ia segera mengikuti setiap suami yang menuju ke meja pesanan. Mey memilih tempat yang dianggapnya tidak akan terlalu menyolok. Sebenarnya mereka sudah melanggar rencana Avi, untuk tidak terlalu menyolok karena selama di Kereta mereka berbincang-bincang dengan wisatawan. Tapi mereka berdua tentu tidak bisa mengabaikan teman satu kabin mereka di kereta, pasangan Finlan yang ramah itu. Ia berharap pasangan Finlan tidak akan mengingat jelas wajahnya atau pun wajah El. El datang dengan membawa nampan berisi sepasang cangkir cokelat panas dan sandwich isi. "Udara menghangat," gumam El. Perlahan area gajebo mendapat sinar matahari terbit dari ufuk timur. Cahaya Seperti memanjat naik dari lautan hijau pepohonan di bawah sana. Peristiwa terbitnya matahari itu menghipnotis sesaat. Pemandangan matahari terbit memang selalu memukau, tapi Gerbang Timur membuatnya semakin indah, salju dan es seolah sebagai konduktor sinar matahari yang memantulkan cahaya ke segala arah, membuat dunia menjadi lebih terang dan jernih dalam pandangan mata. Inspirasi dan motivasi terasa muncul ketika memandang pemandangan seindah ini. Mey merasa gugup karena setiap pasangan saling berpegangan tangan bahkan berpelukan. Wajahnya memerah ketika ia melihat pasangan yang berciuman. Bohong jika dia tidak ingin memiliki pasangan. Tapi dia tidak ingin Kaz orangnya. Kaz adalah saudaranya, dan Kaz juga pasti beranggapan yang sama dengannya. Tapi usia kematian mereka sudah begitu dekat. Sementara mereka berdua dipercaya dapat menghasilkan keturunan yang kuat. Ia memandang cincin yang melingkari jari manisnya. Ini hanya akting, tapi melihat cincin di jari manisnya membuatnya juga gugup. Cincin itu sedikit longgar di jarinya. Dan dia merasa bersalah karena menggunakan benda ini. El mendadak menggenggam tangannya, membuatnya sedikit terkejut. Ia tahu semua ini hanya berpura-pura. Tapi Kaz bahkan tidak pernah menggenggam tangannya. Tidak ada laki-laki mana pun yang pernah menyentuh permukaan kulitnya. Setelah matahari naik, Si Pemandu segera menginformasikan kepada setiap wisatawan untuk masuk kembali ke dalam kereta. Mereka akan melanjutkan perjalanan ke lokasi penginapan. "Maaf," El memanggil si Pemandu. "Istri saya tiba-tiba sakit, sepertinya asmanya kambuh." Mey berada dalam pelukannya, bernafas megap-megap. "Oh Tuhan," kata Si Pemandu. "Apakah dia membawa obat? Jika dia bisa menahannya, di Penginapan ada dokter kesehatan, disana juga dilengkapi obat dan peralatan medis lainnya." "Aku rasa istriku tidak terbiasa dengan cuaca dingin," ujar El berakting sedih. "Ini keinginan istriku tapi nyatanya dia tetap tidak sanggup." "Lalu apa yang harus kita lakukan?" "Kami tidak akan menunda perjalanan kalian. Apakah ada transportasi yang bisa menjemput kami kembali ke dermaga?" "Sangat disayangkan jika kalian berhenti sampai di sini," ujar si Pemandu. "Padahal pada berkas kalian sudah dinyatakan lulus kesehatan." ada nada curiga dalam suaranya. "Tidak ada yang bisa menebak kemampuan setiap orang." kata El segera. "Kami minta maaf karena sudah mengacaukan perjalanan." "Tidak, Pak. kami juga minta maaf karena Anda tidak dapat melanjutkan perjalanan ini." si Pemandu menghela nafas. "Kalian bisa beristirahat di rumah pengurus di sini, satu jam lagi akan ada transportasi yang menjemput para pengurus di sini untuk kembali ke kota. Kalian bisa meminta supirnya untuk singgah di dermaga. Tapi apakah Istri anda bisa bertahan selama itu?" "Aku akan mengusahakannya. Selama dia di tempat hangat, dia akan baik-baik saja." "Hmm, baiklah. Semoga istrimu kembali sehat, Pak." "Terima kasih." *** Kepala Pengurus tempat wisata meminjamkan mereka satu kamar, kemudian dengan ramah menawarkan begitu banyak bantuan. El membaringkan Mey di atas ranjang setelah mengangkatnya dari bawah. "Terima kasih, saya akan mencari Anda segera jika kami butuh bantuan," ia berhasil membuat Kepala Pengurus pergi, kemudian ia segera mengunci pintu. "Mey," panggil El segera. Mey masih demam dan nafasnya megap-megap. "Kau seharusnya tidak meminum obat itu," El tak habis pikir dengan rencana konyol ini. Entah obat macam apa yang diberikan Avi kepada Meysha. "Sudahlah," Mey segera bangkit. "Aku mau ganti baju." "Hei, efek obat itu belum hilang." El berusaha mendorong bahu Mey untuk kembali berbaring. Mey malah menepis tangannya. "Kau bodoh ya? Kau dengar sendiri jika satu jam lagi akan ada transportasi datang. Kita harus segera pergi sebelum mereka benar-benar mengenal wajah kita." "Tapi kau..." "Bisa kuatasi." Mey berusaha meyakinkan. Obat yang diberikan Avi memang belum diketahui berapa lama efeknya akan terasa. Eyerish tidak pernah terkena demam secara tiba-tiba, mereka hanya sakit jika terluka karena pertarungan. Dan ini pertama kalinya Mey merasa panas dingin yang tidak keruan, ditambah ia kesulitan bernafas. "Bantu aku mengambil pakaianku." El memutar bola matanya karena jengkel. Meysha si keras kepala tidak akan pernah mendengarkannya. *** Mereka berdua berhasil kabur diam-diam tanpa sepengetahuan para Pengurus Wisata. Rencana Avi sangat riskan. Mey tampak sulit berjalan dan tertinggal jauh di belakang. El dengan sabar menunggu wanita itu. "Tidak bisakah kita menunggu sampai efek obat itu menghilang?" Tanya El yang menunggui Meysha untuk menyusul. Mey menggeleng. "Jangan buang-buang waktu." "Kita sudah buang-buang waktu. Jalanmu lambat. Kita tidak akan sampai tepat waktu." ujar El. Mey berhenti berjalan, berusaha mengatur nafasnya yang sesak akibat obat. Dia persis seperti seseorang yang terkena asma. Mey tampak ingin mengomel tapi ia kesulitan berbicara. Maka dia diam saja sambil berusaha bernafas. "Aku akan menggendongmu di punggung." kata El akhirnya, Mey langsung menggelengkan kepala, menolak mentah-mentah. "Kau bilang jaraknya hanya 10 menit menuju terowongan yang menghubungkan Vinctum. Aku punya banyak energi. Ayo, naik." El segera berbalik kemudian berjongkok. menunggu Mey menaiki punggungnya. "Tugasmu adalah menunjuk arahnya." Ia bisa mendengar helaan nafas pasrah Meysha. *** Mereka menemukan terowongan yang dimaksud. Terowongan air itu nyaris terkubur dalam tumpukan salju. El berhasil masuk melewati gundukan es yang mengeras di mulut terowongan. Ia terus menyusuri terowongan sesuai instruksi Mey di punggungnya. Ia bisa merasakan nafas panas Mey yang berhembus di tengkuknya. Mereka telah berjalan kurang lebih setengah jam. seharusnya sekarang mereka sudah sampai di Vinctum. Rencana awalnya begitu karena tidak ada yang tahu Mey akan sesekarat ini hingga membuat Mey kebingungan menunjukkan arah. Mereka berdua sempat tersesat beberapa kali. "Obat apa yang kau minum ini?" Tanya El. "Pil Kordaks." jawab Mey lemah. "Obat ini kutemukan di Vinctum. mereka memberikannya kepada pasien Eyerish yang sudah sekarat. Kini aku tahu fungsi obat ini untuk mempercepat kematian Eyerish." "Jangan bercanda." "Aku sengaja membawanya sedikit. Lalu meminta Avi menelitinya." "Avi mengerti bahan-bahan kimia?" "Dia pintar apa saja." nafas Mey semakin tersengal karena banyak bicara. "Kadar obatnya sudah diotak-atik Avi. Dan dia hanya menggunakan seperempat bagian dari kandungan Kordaks.." "Dan obat ini belum pernah diujicobakan?" "Pada tikus, ya. pada Eyerish, belum." "Kau benar-benar cari mati." "Kita semua akan mati jika berdiam diri saja." "Mulai sekarang aku yang akan mempertimbangkan semua rencanamu." gerutu El. "Rencanamu semuanya kacau." El mendengar Mey tertawa kecil. Rupanya cewek ini masih punya tenaga untuk tertawa? "Ini dimana?" "Terowongan air yang sudah tidak berfungsi." jawab Mey. "Aku sudah mengecek setiap jalan masuk Vinctum. Pintu terowonga ini yang paling aman." Mey terbatuk-batuk. "Kau ingat ada parit di depan mulut terowongan? Parit itu tertutupi lapisan es. Rencana kaburnya kita akan menyusuri aliran air dalam parit itu. Sementara Avi akan menunggu di ujung aliran dengan kapalnya." El hanya mengangguk-angguk mendengarkan sambil terus berjalan. "Kau tidak bisa menghancurkannya?" "Menghancurkan apa?" "Lapisan Es di atas Parit. Aku melihat ada perahu di sisi parit. Kurasa akan lebih cepat jika kita menaiki perahu tersebut." jelas Mey. El berdecak. "Air dan Es berbeda kan?" ia menggelengkan kepala. "Entahlah, air dan es berasal dari molekul yang sama namun dengan wujud yang berbeda. Es berwujud padat, sementara air berwujud cair. Aku hanya bisa menggerakkan wujud cair. Begitu yang kupahami." "Kata Kaz, jika Pengendali Air, Udara dan Api bergabung, Maka mereka bertiga akan menjadi Pengendali sejati yang tidak terkalahkan.” Kata Mey, nafasnya sudah semakin stabil dari sebelumnya. Mungkin efek obatnya sudah berkurang. "Maksudmu... kau, aku dan Rom bergabung membentuk tim?" tanya El, mengerutkan dahi. "Apakah rencana Kaz adalah menjadikan kita bertiga berdiri paling depan untuk menghentikan Vinctum dalam menyerang Beryl?" "Mungkin..." "Kalian belum mengenal Rom. Pria itu tidak akan mau ikut berperang." "Kita tidak berperang." bantah Mey. "Kaz ingin kita menghentikan peperangan itu." "Entahlah, Mey..." desah El. "Setelah aku mendengar penjelasan Kaz, aku merasa Vinctum atau pun Pemerintah di Beryl sama-sama tidak benar. Untuk apa kita mencoba menghentikan jika Pemerintah di Beryl sendiri sangat kejam dengan bangsa kita?" Bangsa kita? Wah, apakah ini artinya El sudah mengakui jika dia adalah Eyerish sepenuhnya? Dan memusuhi para keturunan manusia pendatang Generasi kedua yang sangat kejam dan hidup nyaman menguasai pulau-pulau yang seharusnya dimiliki bangsa Eyerish? "Peperangan hanya akan berakibat buruk, bahkan termasuk kita yang tidak menginginkannya." kata Mey yang tidak jauh berbeda dengan yang disampaikan Kaz. "Apakah Rom tahu jika Sasha adalah Eyerish?" El mengalihkan topik. "Entahlah." "Kekuatan Sasha berada di tingkat mana?" "Menurut Kaz tergantung pemiliknya." Mey terbatuk-batuk lagi. "Selama ini Pengendali pikiran berada di tingkat 3." "Bagaimana cara kerja mereka?" "Yang kutahu... Pengendali pikiran mengendalikan kinerja otak seperti menghipnotis." "Bagaimana dengan Rom yang dikendalikan?" "Aku tidak tahu. Dan Kaz juga terkejut dengan fakta jika Eyerish Api bisa dikendalikan oleh Eyerish Pikiran." Mey menarik nafas. "Bisa saja Eyerish Pengendali Pikiran ini setingkat dengan Eyerish Api. Mungkin. Sekali lagi tergantung dengan si pemilik kekuatan." "Ada pintu." kata El ketika melihat pintu besi diujung jalan mereka. "Turunkan aku." kata Mey setelah mereka sampai di depan pintu. El menurunkan Mey dari punggungnya. Wanita itu masih terlihat pucat, namun sudah lebih baik daripada satu jam yang lalu. "Bagaimana membuka pintu ini?" Tanya El. Mey mengeluarkan botol minum, kemudian menyodorkannya pada El. El balik memandang Mey dengan bingung. "Mekanismenya seperti mencetak tiruan. Kau bisa membuat molekul air menjadi benda tajam setahuku." "Eum, ya." kata El ragu-ragu. Ia menerima botol air itu, lalu menuangkan air dengan hati-hati. Ia sudah tidak lagi menggunakan kemampuannya setelah kematian Eye Tracker di tangannya. Namun kali ini ia harus mencobanya kembali untuk melanjutkan perjalanan berbahaya mereka. Ia mencoba fokus, air dari botol terus tumpah ke bawah. Akhirnya, dengan dahi berkerut dan kepalanya yang terasa panas untuk memerintahkan molekul air, akhirnya ia berhasil membuat air melayang di udara. Lalu ia menggerakkan molekul air untuk masuk ke dalam lubang kunci, ia membuat air memenuhi setiap sisi lubang kunci, kemudian memadatkannya, lalu memutarnya seperti kunci. Kunci air buatan El berputar tiga kali di dalam lubang kunci lalu terdengar bunyi klik, tanda kunci telah terbuka. El bernafas lega, lalu air tumpah dari lubang kunci. Ia segera mendorong pintu besi hingga membuka. Mereka berdua segera memasuki ruangan di baliknya, kemudian menutup pintu setelah berada di dalam. Ruangan di balik pintu terasa hangat. Akhirnya mereka meninggalkan suhu udara dingin yang minus derajat. ----*----
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN