Chapter 33. Operasi Penyelamatan (3)
El memandang dua lembar tiket yang diberikan Avi kepadanya. Tiket bulan madu gratis hasil menang undian, entah asli atau tidak, dan entah bagaimana Avi mendapatkannya. Selain itu Avi juga sudah menyiapkan identitas baru untuk mereka. Dia adalah Tuan Van Ann dan Meysha akan menjadi Nyonya Jane Ann.
Mey duduk kikuk di sebelah El, mereka di dalam taksi yang mengantarkan mereka berdua ke tempat pertemuan para wisatawan bulan madu.
"Santai," bisik El pada Mey. Dia tidak ingin si pengemudi mendengarnya, atau mencurigai gelagat kaku mereka. "Hanya akting."
"Kenapa mereka membuat jadwal pertemuan pada dini hari?" Tanya Mey berbisik.
"Aku tidak tahu," jawab El, dan dia memang tidak sempat bertanya pada Avi. "Mungkin kita perlu berangkat lebih awal agar bisa mencapai daerahnya sebelum malam."
"Kau pernah pergi ke Feldspar?” tanya Mey lagi.
El menggelengkan kepala. Dia memang hanya pernah mendengar tempat wisata itu dari brosur. Dan beberapa kenalannya memang pernah menginjakkan kaki di kota yang dikenal dengan sebutan seperempat surga ini,
"Aku belum pernah ke sini. Tapi aku dengar orang-orang menyebut tempat ini sebagai surga kecil. Tapi pengelolaan tempat wisata ini sangat ketat. Sangat jarang orang bisa kembali lagi berwisata ke sini karena banyak yang pelancong yang mengantri."
“Wah, kalau begitu kita berdua beruntung. Avi hebat ya bisa memiliki tiket mahal ini,” kata Mey sambil mendengus sinis.
"Katanya udara di tempat wisata sangat sejuk dan masih asri karena belum tersentuh udara industri, ada pula mata air dengan air terjun yang indah. Bunga-bunga di sini juga berbeda dengan bunga-bunga yang ada di kota, katanya ada kelompok bunga yang selalu mekar di sepanjang musim. Dan juga katanya satu hari saja tinggal di sini wisatawan akan merasa tenang dan nyaman, raga kita akan sembuh dari segala macam penyakit stres."
"Wah," komentar Mey. "Terlihat menjanjikan."
"Sudah sampai, Pak." Si pengemudi menepikan mobil.
Mereka segera turun setelah El membayar supir dengan uang yang diberikan Avi. Sementara si supir mengeluarkan koper-koper mereka, yang isinya tentu hanya berisi peralatan untuk membobol Vinctum, El mulai menjalankan aktingnya karena menyadari sorotan curiga si supir.
"Ayo, sayang," panggil El. "Kalau kau mengantuk, kita akan ketinggalan dan menyia-nyiakan usaha kita untuk mengecap surga."
Mey memasang wajah bengong sesaat. Namun akhirnya ia memahami isyarat El, ia mencoba mengikuti permainan itu.
"Aduh, aku mengantuk sekali." ia mencoba mengeluarkan suara manja yang menjijikan. Ia bahkan tidak menyangka bisa mengeluarkan nada semacam itu. Ia kaget sendiri.
"Kalau begitu pegang tanganku."
Sial, kau, El.
El menarik Mey agar lebih dekat ketika merangkul lengannya. Siapa yang akan percaya mereka pengantin baru jika berjarak seperti tadi?
"Terima kasih, Pak." Kata El pada si supir dan si supir pamit pergi.
"Jangan lepaskan, bodoh." Bisik El.
"Apa kau bilang?"
"Kau lihat sendiri mereka yang disini saling menempel seperti magnet." Bisik El menjelaskan, ia menahan tawa ketika melihat wajah Mey yang merona. Lucu sekali.
"Sial," gerutu Mey sambil berbisik.
Bohong jika El tidak menyukai berdekatan dengan wanita. Sebelum ia benar-benar serius dengan Emily, ketika ia masih remaja, ia telah mencoba berdekatan dengan beberapa gadis. Ia suka kehangatan yang diberikan dari suhu tubuh mereka, meski ia tidak berkontak fisik dengan mereka. Seolah tubuh mereka memang selalu memancarkan kehangatan. Apalagi Emily. Tubuh Emily hangat dan wangi seperti aroma apel. Sementara Meysha, entah, ia belum menemukan istilah wangi yang tepat untuk si Pengendali Udara.
"Halo, Tuan dan Nyonya," sapa Pemandu wisata setelah menghitung jumlah wisatawan yang berkumpul taman tunggu. "Nama saya Oval, dan saya adalah Pemandu Anda dalam wisata ini. Saya ucapkan selamat datang dan terima kasih sudah mengikuti wisata kami. Maaf karena telah mengganggu tidur tenang Anda sekalian, tapi demi Feldspar, rasanya tak masalah jika kita harus berusaha lebih keras untuk mendapatkannya. Kita akan menuju bagian timur pulau dengan menaiki kereta selama kurang lebih dua jam, semoga kita sampai tidak kepagian karena jadwal pertama kita adalah menonton matahari terbit di Feld East. Kita akan bersantai hingga sarapan pagi. Lalu melanjutkan perjalanan dengan kereta menuju ke tempat peristirahatan di Feldchra, kota wisata di bagian tenggara pulau. Peta sudah kami berikan kepada Anda, silahkan dicek, dan jika ada yang ditanyakan silahkan Anda bertanya kepada saya atau pada kru lainnya. Nah, mari naik ke kereta. Semoga kita tidak melewatkan matahari terbit yang memukau ini. Sebelumnya siapkan identitas Anda sekalian beserta tiket, kami akan memeriksa di depan pintu kereta."
***
Kereta melaju menembus udara berkabut dini hari yang dingin. Barulah El paham mengapa mereka harus repot-repot berangkat seawal ini. Wisatawan mengejar matahari terbit, katanya di lokasi yang disebut Feld East yang merupakan Gerbang Timur pulau, merupakan tempat yang sangat indah untuk menonton matahari terbit. Di Gerbang Timur itu pulalah lokasi dimana mereka dapat menyusup ke dalam Vinctum.
Tentu tidak ada cara lain menuju Gerbang Timur karena tempat wisata sangat dijaga dengan ketat. Namun masih lebih aman daripada terang-terangan menyeberangi Vinctum dan ditangkap oleh Eyerish di kota tersebut.
Setelah beberapa hari berada di atas laut dan singgah di desa, El mulai merindukan Beryl. Apalagi ketika liburan ia dan Emily sering mengunjungi objek wisata di Beryl.
Ah... ia merindukan semua hal itu.
"Jane," bisik El. "Tanganmu."
"Hah?"
El segera menyambar tangan Mey, mengenggamnya dengan lembut dan hati-hati.
Mey menoleh kepadanya, terbelalak. "Kau..."
"Kalian sudah berapa lama bersama, Tuan Ann?" pasangan yang duduk di hadapan mereka menegur. Sang Istri bertubuh gempal dengan wajah merona-rona, tampak bahagia. Sementara sang Suami yang juga bertubuh gempal dan berjanggut mengangguk-angguk penasaran. Mereka sudah saling mengenalkan diri, Pasangan itu bernama Tuan dan Nyonya Finlan.
"Satu bulan," jawab El segera. Sementara Mey pasrah membiarkan El yang mengambil alih.
"Kalian terlihat bahagia," komentar Nyonya Finlan, cekikikan.
"Terima kasih, tentu kami berbahagia. Bagaimana dengan kalian?" Tanya El. ia sesekali menatap mesra pada Mey. Mey menahan diri untuk tidak berjengit, akting El terlalu bagus, ia nyaris ingin meloncat kabur.
"Kami menikah setahun yang lalu," jelas Tuan Finlan. "Kami sengaja memilih wisata ini karena katanya bulan madu di sini bisa memperoleh keturunan dengan cepat. Karin sudah sangat ingin memiliki anak."
Ekspresi wajah Nyonya Finlan berubah muram.
"Tenang saja, sayang." Tuan Finlan mengusap jemari istrinya. "Kita bisa melalui semuanya bersama."
"Kami berdoa semoga kebahagiaan kalian akan datang segera," ujar El.
"Terima kasih, Tuan Ann." Nyonya Finlan kembali tersenyum. "Bagaimana dengan kalian?"
"Kami?" ulang El tidak mengerti.
"Ya, aku sangat senang setiap mendengar cita-cita pasangan baru mengenai anak. Hal ini bisa memotivasi kami. Aku selalu ingin mendengarnya. laki-laki atau perempuan?"
"Oh!" El terlihat gelagapan. "Bagaimana menurutmu, Jane?"
"Eum?" tidak seharusnya Mey ikut dalam percakapan. "Tentu saja laki-laki." namun ia segera menjawabnya.
"Benar sekali, laki-laki! tampan seperti ayahnya, bermata biru dan berambut pirang." Puji Nyonya Finlan, cekikikan lagi.
"Haha, terima kasih, Nyonya Finlan." kata El.
"Apakah kalian sudah menyiapkan mantel?" Tanya Tuan Finlan, ia membuka tasnya. "Cuaca di Feldspar tak sama di setiap bagian. Akan cukup dingin di Gerbang Timur."
"Ya, tentu saja kami telah menyiapkannya." jawab El segera meski ia belum bisa membayangkan tempat itu secara nyata. Ia dan Mey saling bertukar pandang, sama-sama menunjukkan ekspresi penasaran.
"Menonton matahari terbit selalu menjadi jadwal pertama dalam setiap wisata di Feldspar," kata Tuan Finlan.
"Aku suka melihat matahari terbenam," kata El. "Apalagi ketika menontonnya di tepi pantai. Sangat indah."
"Tuan Ann, anda kelihatan romantis," Nyonya Finlan cekikikan. "Gary juga sama seperti Anda. Dia sangat suka memotret matahari terbit dan juga terbenam."
"Wah, saya ingin sekali melihat hasil foto Anda," kata El segera.
"Jika kita bertemu di lain waktu, tentu akan saya perlihatkan!" sambut Tuan Finlan antusias.
Mey diam saja. Ia bisa membayangkan El bersama Emily duduk bersama di pasir putih pantai, menonton matahari terbenam, dan saling bercengkrama.
Hmm, entah kenapa dia merasa iri.
---*---