Chapter 32. Bertemu Si Dokter

1217 Kata
Chapter 32. Bertemu Si Dokter Rom kepanasan, rasanya tenggorokannya terbakar perih. Ia membuka mata, sesaat buram dan silau. Ia merintih, ia merasakan demam disekujur tubuhnya. "Sudah bangun? Agak lama dari dugaanku." Seorang pria asing menegurnya. Rom menoleh, mengamati si pria asing. Pria itu mengenakan jas lab putih, kumis dan rambutnya putih karena uban, baru kali ini Rom melihat pria tua di tempat ini. "Kau adalah Eyerish tingkat satu langka, tapi kondisi tubuhmu buruk dalam pengendalian. Kumaklumi karena kau sudah mengabaikan kekuatanmu nyaris semasa hidupmu." oceh si Pria Tua lalu terkekeh. Rom hanya mengerutkan dahi mendengar ocehan itu. Ia masih bergelut dengan rasa panas di tenggorokan dan tubuhnya. "Tapi tenang saja, akan kubuat kau berumur panjang." ujar si pria asing lagi, kembali terkekeh. "Siapa kau?" Rom telah beradaptasi dengan ruangan di sekitarnya. Tempat ini mungkin seperti rumah sakit. Serba putih, selimut hijau, dan bau obat. "Kau bisa memanggilku Dr. Haskel." Ujar pria itu. "Skylar baru saja menengokmu tadi." "Skylar?" ulang Rom. "Sky?" "Ya ya, Sky." Rom mencoba mengangkat tangannya, namun ia baru menyadari jika tangannya diborgol di sisi ranjang. Ia melirik pada tangannya yang masih menunjukkan luka bakar. "Kenapa aku diborgol? Dimana yang lain?" tanyanya segera. Ingatan pertarungan di arena muncul di dalam kepalanya. Ia menjadi gugup. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi selanjutnya ketika ia mengeluarkan api dari dalam tubuhnya. Ia takut ia kembali membuat kesalahan. "Dimana Ares?" "Hmm, yang lain sedang tidur nyenyak untuk penyembuhan." Jawaban Haskel terdengar tidak meyakinkan. Rom menarik-narik tangannya, namun ia malah semakin menambah perih pada lengannya yang masih terluka. "Aku ingin melihat Ares." ujarnya. Ia ingin memastikan jika Ares baik-baik saja, seharusnya ia tidak lepas kendali. Sial. Kenapa dia mau saja menuruti kata-kata Ares jika akhirnya akan begini? Hal ini sama saja ia mengulangi kesalahannya dengan membiarkan Ares menguasainya. "Lepaskan aku." "Sabar, Nak." Haskel mendorong d**a Rom untuk kembali berebah. "Kau belum pulih. Kau membuat tubuhmu terbakar, hingga ke rongga dalam tubuhmu. Kau kuat namun tidak terpelajar." Tidak terpelajar? Kekuatan semacam ini juga perlu dipelajari? Bagaimana? Dengan membakar apa saja terus-menerus? Tapi Rom sudah membakar begitu banyak pohon untuk mengurangi rasa amarah yang menggelegak pada dirinya semasa hidupnya. Lagi-lagi, ia kembali berkabung mengingat pepohonan yang dulu pernah ia hanguskan. "Bersyukurlah kalian adalah Eyerish, kecepatan sel kalian luar biasa dalam memperbaiki diri." Oceh Haskel selanjutnya, ia menyipitkan mata, mengamati Rom seperti melihat benda antik saja. "Kalau tidak, mereka bertiga, termasuk kau, akan mati hangus terbakar." Oh Tidak. Dia juga membakar Rudy dan Koina? Rom tidak ingin bertanya mengenai mereka lagi. Ia hanya berharap dampak yang ia buat tidak separah yang ia pikirkan. Dan mau tidak mau ia bersyukur jika Rudy, Koina dan Ares adalah Eyerish. Mereka bertiga pasti masih bisa bertahan hidup. Dia benar kan? "Ini dimana?" Rom bertanya. Jika rencananya dengan Ares berhasil, itu artinya ia berada di Bedung Utama, tempat dimana Sasha juga berada. Haskel yang ditanya duduk santai mengotak-atik layar tab. Dokter itu sepertinya sedang menyekan tubuh Rom melalui kamera tab, kemudian si Dokter termanggut-manggut memandang layar tab tersebut. "Baru beberapa menit setelah siuman, organ-organmu sudah membaik." komentar Haskel dengan nada suara takjub. Benar saja, Rom sudah tidak merasakan rasa panas di tenggorokannya sekarang. Namun luka bakar di tangannya masih terasa panas. "Kau bertanya apa tadi? Oh, ini di Gedung Utama. Kami mengangkut kalian bertiga ke sini karena kalian nyaris hangus terbakar." Hangus terbakar, pikir Rom panik. Namun ia berusaha tetap bersikap tenang. Mereka bertiga adalah Eyerish, Rom. Tenang saja. Mereka pasti masih hidup. "Bertiga?" ulang Rom tersadar. "Kami berempat." "Ares tidak masuk dalam daftar pasienku." Haskel menjawab. "Skylar sendiri yang mengurusnya." Rom mengerutkan kening. Haskel berdiri, mendekati meja dimana sebuah nampan berisi obat-obatan berada. "Minum ini." Kata Haskel, setelah memilih obat. Ia memasukkan tiga pil berukuran besar-besar ke mulut Rom. "Telan," perintah si Dokter, memaksa Rom meminum air untuk menelan pil-pil itu. "Sudah kau telan? Buka mulutmu," perintah Haskel untuk mengecek. Rom membuka mulutnya lebar-lebar dengan patuh. "Bagus," kata Haskel puas. "Tidur yang nyenyak. Aku akan melanjutkan penelitianku besok." Haskel segera merapikan obat-obatan di meja. "Aku akan minta Skylar agar memperbolehkanku berlama-lama meneliti tubuhmu. Aku suka anak baru yang langka." ujarnya memberikan seringai aneh. "Istirahat yang cukup, Nak. Kau perlu menyembuhkan luka bakarmu." Haskel berjalan pergi sambil bersiul riang, meninggal Rom. Rom sudah menyimpulkan jika ia tidak akan suka dengan si dokter. Dokter itu benar-benar sinting. Sesinting salah satu Guru di Panti Asuhan yang tidak disukai oleh Rom. Namun detik berikutnya Rom kembali berkabung karena tidak sengaja mengungkit orang-orang Panti Asuhan. Dia menghela nafas. Rasanya menyakitkan setiap kali teringat fakta bahwa ia adalah pelaku kebakaran itu. Rasanya sesak dan berdosa. Namun tidak ada gunanya bersedih dan menyalahkan diri. Rom memiliki misi lainnya. Dia ingin berguna, dengan salah satunya adalah memastikan jika Sasha baik-baik saja. Rom memuntahkan tiga pil dari dalam tenggorokannya. Pengalaman mengajarkannya untuk tidak menelan pil apa pun yang diberikan orang asing yang aneh. Dia punya teknik jitu untuk menyembunyikan pil dalam mulutnya seolah-olah sudah menelannya. Ares. Panggilnya dalam pikiran. Ia tidak tahu bagaimana membuka koneksi untuk si Pengendali pikiran. Hening. Tidak ada jawaban. Rom menghela nafas. Rencana memasuki Gedung Utama adalah menemukan Sasha. Dia tidak ingin semalaman hanya tidur-tiduran di atas ranjang sambil menunggu Dokter sinting tadi datang kembali untuk menyekan tubuhnya tanpa izin. Tapi bagaimana cara untuk melepaskan diri? Ia melirik pegangan baja di samping ranjang yang mengaitkan borgol pada lengannya. Jika ia membakar baja itu, maka seluruh tubuhnya akan kepanasan. Sepertinya daripada isolator, mereka sengaja menyematkan konduktor di sekeliling tubuhnya. Intinya dia tetap bisa mati dengan kekuatannya sendiri. Ia menelan ludah, menyadari jika kemampuannya bisa menjadi senjata makan tuan. Ia menoleh ke sekitar ruangan, mencoba mencari cara. Suara langkah kaki terdengar mendekat. Si dokter sinting tadi kah? Seorang bocah perempuan berambut cokelat panjang berkulit perunggu muncul di pintu dengan mata kosong. Sebelah wajahnya diperban. Sebelah tangannya digips, dan dia terpincang-pincang, tanpa berkata apa pun ia mendekati Rom. "Koina?" Rom mengingat nama anak perempuan Pengendali Listrik itu. Bukan, Bukan Koina. "Ares!" Rom merasa lega dengan kehadiran Ares –di dalam tubuh Koina. Ia menyadarinya ketika melihat sorot mata Koina yang mati. Koina – atau Ares yang sedang mengendalikan Koina, tak banyak omong, membuka borgol baja di kedua tangan Rom, entah bagaimana Ares mendapatkan kunci borgol ini. "Kau baik-baik saja?" Tanya Rom yang bergerak duduk setelah borgol terlepas. Koina, dengan mata kuningnya yang kosong menatap Rom. Tidak menyahut. "Ares?" Tiba-tiba Koina jatuh pingsan. "Ares!" Rom segera turun dari ranjang. Ia segera mengangkat tubuh Koina yang sudah tidak bergerak, kemudian ia meletakkan gadis kecil itu di atas ranjang. Ia menarik nafas. Entah kenapa ia semakin mencemaskan Ares. Ia tidak mengerti kenapa bocah itu tidak mengatakan apa pun padanya. "Dasar bodoh." Samar-samar ia mendengar suara lemah yang serak di dalam kepalanya. Ares?! "Cepat temukan Sasha." Suara Ares terdengar jelas merintih, seperti sedang menahan rasa sakit. "Dia di ruangan khusus, dari tempatmu, telusuri lorong sebelah kanan. Pada persimpangan ketiga, belok kiri, ruangan paling ujung." "Ares? Kau baik-baik saja? Kau dimana? Biar kutemui kau terlebih dahulu." "Jangan ke sini." "Tapi.... Ares?" Suara Ares lenyap dari dalam kepalanya. Rom menghela nafas. Baiklah, pertama-tama ia akan menemukan Sasha. Ia berharap keadaan Sasha baik-baik saja. Baru setelahnya ia akan menemukan keberadaan Ares. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN