Chapter 31. Feldspar

1323 Kata
Chapter 31. Feldspar Feldspar adalah pulau dengan dermaga yang sibuk. Masih dini hari kapal-kapal sudah ramai tertambat di dermaga. Para pedagang sudah membuka lapak masing-masing dan bertebaran di sepanjang sisi pantai. Para nelayan sibuk menurunkan hasil tangkapan sehingga bau amis memenuhi udara. Nampak pula kapal-kapal ferry tertambat dan orang-orang berpakaian rapi berbondong-bondong turun dari kapal. "Pertama kali ke Feldspar, Pak?" Avi menyikut El yang berdiri mematung mengamati suasana dermaga. El memang tidak pernah tinggal di tepi pantai dimana dermaga seramai ini. "Feldspar adalah pulau kecil dan memiliki tempat wisata yang indah, orang-orang dari Beryl juga sering ke sini." Jelas Avi. "Pantas saja aku pernah dengar." Kata El. Kata 'Feldspar' memang tidak asing. "Katanya wisata di sini mahal." "Banget," Avi mengangguk mengiyakan. "Hei, dimana Mey? Kenapa dia belum turun dari kapal?" Benar juga, rasanya mereka sudah berdiri di sini sejak 15 menit lalu, tapi Mey tak kunjung turun. Akhirnya yang ditunggu muncul juga, wanita itu berjalan kikuk tidak seperti biasanya. Biasanya dia berjalan seperti laki-laki dengan d**a membusung. Sombong dan tak kenal takut. Tapi sekarang ia berjalan terseret-seret, mengangkat sedikit gaunnya. Dan ketika sinar lampu menyinari wajahnya, El terdiam sesaat. "Wah, cocok." Kata Avi girang melihat penampilan baru Mey. Mey menjitak kepala Avi tiba-tiba. "Kau bodoh ya, kenapa memberikan pakaian seperti ini?!" Ia berdesis penuh ancaman. Ia mengenakan gaun berwarna cokelat muda yang banyak renda putihnya. Warna pakaiannya senada dengan warna pakaian El. Avi malah terkekeh. "Bukankah kau bilang kita harus menyusup diam-diam di Feldspar? Makanya aku carikan sepasang pakaian untuk kalian berdua. Ceritanya kalian berdua adalah pengantin baru yang sedang berbulan madu." "Tidak lucu, Avi." Desis Mey, rona merah muncul di kedua pipinya, tampak jelas di bawah sinar lampu. "Tidak lucu, El." Desisnya lagi kepada El yang juga menahan tawa. "Ini Cuma penyamaran." Bisik El, mencoba menengahi. "Kalau bukan ini, memang ada plot lainnya?" Mereka bertiga sudah berdiskusi beberapa jam yang lalu. Avi sudah mengecek dan jalan untuk rencana A tidak dapat digunakan, maka mereka terpaksa menggunakan jalan rencana B yang mungkin terkesan penuh drama dan memerlukan waktu yang cukup lama. "Untuk seusia kalian, ini yang paling cocok. Memangnya kalian mau menyamar menjadi anak sekolahan yang sedang pariwisata?" Avi menyolot, merasa jengkel karena idenya tidak dihargai. Mey mendengus jengkel. Ia bersedekap sambil membuang pandangan. "Maklumi dia, dia tidak pernah memiliki hubungan romansa," bisik Avi pada El. "Bahkan di usia ke 27 ini..." "Diam," sela Mey gusar. "Baiklah." Avi buru-buru berpantomim mengunci bibirnya. Namun ia kembali membuka mulut. "Astaga, Aku lupa membelikan kalian cincin." "Untuk apa?" Tanya Mey dengan dahi berkerut. "Tentu saja untuk kalian berdua! bagaimana kalian bisa berperan sebagai sepasang suami istri jika kalian tidak memiliki cincin?" "Tidak, aku tidak butuh." Tolak Mey segera. "Kami akan menyamar sebagai saudara saja yang sedang mencari pekerjaan atau apa pun." "Ini tempat wisata, Mey. Dan kalian berdua tidak ada mirip-miripnya. Itu malah akan terlihat mencurigakan." "Lupakan saja." "Aku sudah lihat jika kebetulan hari ini akan ada wisata bulan madu khusus untuk para pasangan pengantin. Makanya banyak kapal ferry berdatangan dini hari ini dan lihat, banyak sekali pasangan. Kalian harus mengikuti jadwal wisata ini karena tempatnya dekat dengan jalan menuju Vinctum." "Aku tidak peduli. Pokoknya cari plot lain. Dan carikan aku pakaian biasa!" Mey berbalik pergi kembali menuju kapal. "Ya ampun," keluh Avi. "Kenapa dia selalu menolak rencanaku dan memilih rencana gegabah? Aku sudah lelah membantunya melewati maut, dan ini adalah rencana paling aman agar kalian bisa mendekati Vinctum!" El memandang prihatin Avi, ia bisa melihat betapa banyak hal sulit yang sudah dilalui bocah berkulit gelap itu demi Mey. "Aku akan berbicara dengannya." El tidak menyangka ia mau melakukan hal ini, entah mengapa ia menjadi ikut andil dalam rencana yang tidak ia setujui sama sekali. Tapi jika rencana Avi lebih aman, maka ia akan memilih rencana Avi. "Benarkah? Bagus! Aku akan memikirkan bagaimana cara mendapatkan cincin!" seru Avi senang. "Tidak usah, aku punya cincin." Kata El dan segera meninggalkan Avi yang memandangnya dengan tatapan bingung. El naik ke kapal, ia segera mencari Mey yang ia tahu pasti bersembunyi di dalam kamar. Ia mengetuk pintu. "Belikan aku pakaian yang pantas!" seru Mey dari dalam. "Ini aku," kata El. Berapa detik kemudian pintu membuka sedikit, wajah Mey muncul. "Kenapa?" tanyanya, masih dengan ekspresi jengkel. "Kau dengar sendiri jika Avi sudah merencanakan ini." Kata El, berdehem. Ia sama tidak nyamannya menyetujui rencana ini, tapi jika Avi mengatakan ini yang paling aman, maka mau tidak mau ia mempercayai itu. "Kau juga tahu jika ini rencana paling aman." "Oh ya? Lebih baik kita bermain peran yang lain. Misalnya menjadi saudara atau apalah. Apa pun asal bukan rencana konyol ini." Kata Mey. "Dasar. Dia tidak bilang sejak awal. Tentu saja aku akan menolak rencana ini." gerutunya dengan ekspresi sengit. "Tapi ini yang paling aman." Kata El lagi. "Aku tidak mau mengikuti rencana gegabahmu. Jika kau berniat mengajakku masuk ke dalam Vinctum, aku menginginkan rencana yang paling aman." Wajah Mey kini berubah. Dia menghela nafas, nampak bimbang. "Kau benar, semua rencanaku kacau." Katanya pelan. "Aku tidak berhasil menyelamatkan Sasha meski aku sudah setengah tahun menyusup di Vinctum. Dan aku gagal kedua kalinya di Beryl." "Ya, dan menurutku rencana Avi lumayan. Kita harus menghindari bahaya." Mey sedikit melebarkan celah pintu, mengamati El dengan dahi berkerut. "Kupikir kau tidak akan setuju." El mendengus saja. "Aku ini polisi. Aku bisa menyamar menjadi siapa saja dalam tugasku.” Seketika ia teringat pada Green. Green adalah teman sekaligus senior yang paling ia sukai dan ia juga segan pada sang senior. Rasanya aneh karena beberapa hari ini ia tidak lagi melihat sosok seniornya itu, bahkan jika mereka tidak bertemu langsung, biasanya mereka berkirim pesan menanyakan kabar masing-masing atau membahas kasus yang mereka tangani. Entah apakah Green baik-baik saja di Beryl. Hal terakhir yang ia tahu Green sempat terluka karena mengusut kasus Eye Tracker yang disingkirkan oleh Meysha. “Lebih baik kita lanjutkan saja. Oh, Atau kau terlalu malu untuk berakting sebagai pengantin baru bersamaku?" goda El sambil menahan tawa. "Apa kau d***u?" hardik Mey segera dengan rona merah yang terbentuk di kedua pipinya. Ia kembali merapatkan celah pintu. "Terserah jika kau berkata begitu. Tapi apakah Avi kembali ke pasar untuk membeli cincin?" "Aku punya cincin." El melepaskan tali di lehernya. Ia telah menggantungkan cincinnya dan juga cincin yang dulunya milik Emily di lehernya. "Tidak." Kata Mey segera, menyadari keputusan El. "Ini hanya cincin." Kata El. Tidak, ini tidak hanya sekadar cincin. Ini cincin Emily dan cincin ini ingin ia kembalikan kepada wanita itu. Tapi entah, apakah cincin ini akan diterima kembali oleh Emily? "Daripada membeli cincin palsu, lebih baik kita memakai ini saja. Ini asli dan mahal. Cincin palsu akan menguak penyamaran kita." Mey tidak bergeming memandang cincin itu, ia berpindah memandang wajah El. "Kau serius?" El segera menarik sebelah tangan Mey lalu menaruh satu cincin pada telapak tangan wanita itu. "Semoga cocok," kata El. "El..." "Tidak apa-apa, Mey." sela El. "Ini hanya sebuah cincin." Namun dari nada bicaranya saja sudah dapat diartikan jika pria itu merasa tersakiti. El menunduk, memandang cincinnya sendiri. "Jika kau kembali sambil membawa Sasha dan Rom, mungkin Emily akan kembali menyukaimu," Mey sepertinya bermaksud menghibur, namun El tersenyum sinis. Menyukai dirinya? El dan Emily sudah saling mengenal sejak kelas satu sekolah dasar. Mereka bahkan tinggal bertetangga. Ia juga ingat hari pertama ia yakin menyukai Emily, juga hari ia menyatakan cintanya pada Emily. Selanjutnya ia melewati hari-hari romantisnya bersama Emily. Pelukan dan ciuman Emily. Semuanya masih dapat ia bayangkan hingga sekarang. Lalu hari dimana ia melamar Emily, ia mengingat senyuman Emily dan mencium bibirnya. Tapi ia tahu Emily tidak pernah mengatakan menyukai dirinya. Emily hanya berkata jika tidak akan pergi darinya. Ia menyadarinya. Ia mengetahuinya. Tapi dia telah menutup matanya selama ini. Emily tidak pernah mencintai dirinya. "Aku... laki-laki yang menyedihkan ya?" El berkata pelan, terdengar sinis. Mey hanya diam memandang El, mungkin wanita itu kebingungan untuk menghibur El. "Tidak apa-apa. Ayo, bersiap." kata El kemudian. ---*---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN