Chapter 30. Arena
Rom sudah duduk di deretan kursi dalam lorong serba putih itu selama dua jam lebih. Ia berada di deret kursi paling akhir. Mungkin ada sekitar 20 orang yang terdiri dari anak-anak dan orang dewasa sebaya dengan dirinya juga duduk menunggu di sana, dan sudah pergi satu-persatu, dipanggil oleh dua orang wanita yang berdiri di samping sebuah pintu dengan cat merah darah. Hingga akhirnya hanya menyisakan dirinya dan dua orang di sebelahnya.
Seorang bocah perempuan berambut cokelat panjang yang mungkin berusia belasan tahun dengan pasang mata berwarna kuning duduk di sebelahnya, dan satunya lagi adalah pria yang mungkin usianya tak jauh berbeda dengan Rom. Pria itu tampak lesu dan wajahnya pucat dengan iris mata gelapnya.
Seorang wanita yang dipanggil Guru dengan papan nama di dadanya, tidak bertuliskan nama, hanya kode : AR13, datang mendekati mereka bertiga. Si Guru berkode AR13 itu membuka layar tab-nya kemudian membacakan sesuatu.
"Koina, 13 tahun, Pengendali Listrik. Rudy, 32 tahun, Pengendali Tanah. Dan Rom, 27 tahun, Pengendali Api. Kalian adalah satu tim."
"Satu tim?" ulang Rom.
Tidak hanya Guru AR13 yang melotot kepadanya, kedua Eyerish di sebelahnya juga memandanginya dengan aneh seolah ia telah melakukan hal yang memalukan.
"Ingat Peraturan Nomor 3, klausal 1. Tidak boleh berkomentar atau pun bertanya ketika tidak diizinkan." Guru AR13 mengingatkan.
Rom segera membungkam mulutnya, kemudian mengangguk. Jujur saja, ia sama sekali tidak membaca semua isi dalam buku peraturan konyol sekolah ini. Peraturan di Panti Asuhan juga sama ketatnya, tapi semua peraturan nyaris tidak tertulis, hanya diucapkan oleh para Pengurus Panti setiap selesai makan malam. Anak-anak panti asuhan mana bisa diatur hanya dengan menggunakan kata-kata dalam buku saja? Menghafal saja mana mungkin. Tapi mereka memiliki ingatan bagus ketika Pengurus Panti yang menyebutkan peraturan. Pastinya mereka akan berpikir dua kali jika berniat melanggar aturan. Hukuman di panti asuhan sangat menyakitkan. Rom belum pernah melupakan penderitaannya setiap dimasukkan ke dalam ruang hukuman.
"Berdiri, dan berbaris." Perintah Guru AR13.
Mereka bertiga menurut, nyaris berbarengan ketika berdiri
"Ikuti aku." Guru berambut merah itu berjalan mendekati satu-satunya pintu yang ada di ujung lorong. Warna merah darah pintu itu bagaikan mulut monster yang siap memakan siapa saja.
"Masuklah."
Mereka bertiga mematuhi perintah itu. Secara bergilir mereka meninggalkan lorong serba putih di belakang mereka, memasuki lapangan kecil di balik pintu.
...
Halaman yang beralaskan rumput hijau terasa segar dengan udara malam berhembus sejuk. Langit malam tampak terang dengan bulan bersinar di atas mereka. Mereka bertiga memasuki halaman kecil yang dikelilingi dinding putih, lalu pintu merah di belakang mereka segera menutup.
Rom berdiri gugup pada posisinya. Dinding-dinding yang mengelilingi sekat mereka berwarna putih polos seperti lorong yang ada di dalam gedung. Barulah ia menyadari jika jendela-jendela arena tidak tembus pandang. Mereka tidak dapat melihat siapa pun yang menonton di balik dinding-dinding berwarna putih ini. Mungkin Sky ada di balik sana, menonton mereka dengan ekspresi wajah yang bersemangat.
Selanjutnya Rom tidak perlu terkejut karena ia sudah mengetahui siapa lawannya dalam pembelajaran sialan ini.
Ares sudah menunggu di seberang mereka bertiga, berdiri dengan kucing mungil di bahunya. Si Kucing melototkan mata birunya ke arah mereka.
Rom mau pun Ares sama-sama tidak menduga akan ada dua peserta lainnya dalam arena. Mungkin Ares mengira karena Rom sudah dianggap cukup kuat, maka tidak mungkin akan ada peserta lainnya. Tapi sepertinya Sky berpikiran berbeda
Rom semakin yakin Sky adalah orang yang benar-benar licik. Pria itu sungguh keterlaluan memperlakukan anak-anak kecil di tempat ini. Pertarungan ini sungguh memuakkan bagi Rom.
"Fokus pada mereka terlebih dahulu." Kata Ares di dalam kepala Rom.
"Mereka termasuk dalam peringkat 5 besar," Ares menjelaskan, suaranya bergema tidak nyaman di dalam kepala Rom. "Aku tidak akan bisa melawan kalian bertiga sekaligus."
Rom benar-benar tidak bisa melakukan ini. Dia sudah keberatan melakukan pembelajaran di arena melawan Ares, dan sekarang harus ada dua Eyerish lainnya yang terlibat. Bagaimana jika mereka gagal? Apa yang akan terjadi jika mereka terluka?
"Jangan khawatir." Kata Ares. "Kita berada di Vinctum. Tidak ada yang pernah mati hanya karena pembelajaran di Arena."
Rom tahu Ares hanya sedang berusaha menghilangkan kekhawatirannya. Tapi pastinya bocah itu juga tahu jika kekuatan yang ada pada dirinya tidak sembarangan. Ia bisa mengendalikannya untuk tidak lepas begitu saja, namun ketika kekuatannya sudah terlepas, ia tidak bisa mengendalikannya dengan baik. Sayangnya dia harus mengikuti rencana Ares jika ingin menemui Sasha.
***
Ares mengenal Koina si Eyerish Pengendali Listrik dan Rudy Eyerish Pengendali Tanah dengan baik. Ia sudah beberapa kali berhadapan dengan Koina dan Rudy. Menghadapi Koina bukan hal yang menyusahkan, namun Rudy bukan lawan sembarangan.
Rudy dikenal Eyerish nomor satu sebelum Ares dikeluarkan dari kurungannya. Ya, selama ini dia dikurung sama seperti Sasha, namun di tempat yang berbeda.
Mengenai Rudy, pria itu sangat berpengalaman dalam Arena dan memiliki strategi yang jitu dalam perlawanan. Mungkin hanya satu kelemahan Rudy, yaitu usianya yang sudah lewat dari 30 tahun. Rudy sudah menunjukkan tanda-tanda perubahan dari kondisi kesehatannya yang sudah melemah.
Beberapa menit telah berlalu. Ares sudah menguasai Koina, ia menjadikan gadis kecil itu sebagai bonekanya untuk melawan Rudy. Ia memilih untuk mempengaruhi Koina karena pikiran gadis kecil itu mudah dimasuki olehnya. Sementara tampaknya Rudy sudah mempelajari bagaimana cara untuk membentengi pikiran dari pengaruh Ares.
Rudy memang selalu selangkah lebih maju dari Ares.
Sementara Rom adalah pendatang baru dalam Arena. Ares tidak berharap banyak. Ia tahu pria itu sungguh payah. Lihat saja. Pria itu terlihat putus asa dengan berdiri di sudut sekat, tidak berani mencampuri peraduan listrik dan tanah diantara Koina – yang dikendalikan oleh Ares, dan Rudy.
Sementara Rudy berusaha semampunya menyerang dan menangkis serangan Koina yang bertubi-tubi.
"Bantu aku!" seru Rudy. Ia tampak geram melihat anggota satu timnya yang lain hanya berdiri di pojok.
"Ta... Tapi..." Rom tidak tahu harus bagaimana. Beberapa kali ia hanya menghindar dari serangan Koina. Ia tidak tega menyerang gadis kecil bermata kosong itu.
"Serang Ares!" seru Rudy, semakin frustasi. Tubuhnya sudah berdarah-darah karena terkena sayatan listrik. Rom merasa ngeri dengan luka-luka yang didapat oleh Rudy. Apakah mereka benar-benar serius ketika mengatakan tidak pernah ada korban meninggal dalam duel ini? Ini aneh.
Tampaknya Rudy sudah mendekati batas kemampuannya. "Kalau aku sudah ambruk, kau harus mencobanya." Kata pria itu dengan nafas ngos-ngosan.
"Tapi..." Rom merasa kerongkongannya tercekat.
Dia tidak ingin bertarung! Sialan!
Rudy ambruk. Dan sebelum Rom sempat tersadar, ia terlempar ke dinding, sengatan menyakitkan melumpuhkan anggota geraknya untuk beberapa saat. Dia berusaha bangkit berdiri.
"Rom..."
Ia mendengar panggilan Ares sayup-sayup dari dalam kepalanya yang pening karena benturan tadi.
"Giliranmu."
"Tidak..." Rom menggeleng lemah. "Aku benci ini."
"Bukankah kita sudah sepakat? Hmm, Jika kau tidak mau, aku sendiri yang akan mengakhirinya."
"Mak... maksudmu?"
Rom mengangkat wajahnya. Koina sudah berdiri di hadapannya dengan percikan listrik muncul dari ujung-ujung jarinya. Mata kosongnya menatap tajam Rom, tatapan Ares.
Seketika Rom memahami keputusan Ares. Jika dia tidak mengikuti rencana mereka, maka Ares akan menggunakan tubuhnya untuk melukai gadis kecil ini.
"Ti... Tidak!"
Rom mengangkat sebelah tangannya. Percikan api kecil muncul, dan sedetik kemudian sebelah tangannya terbakar dengan lidah api yang berkobar menjilat-jilat. Rom tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Ia hanya berharap ia tidak akan melukai Koina. Ia melempar cambuk api yang terbentuk dari tangannya ke arah Ares yang berdiri di ujung. Koina ambruk seketika di depannya.
Dan entah apa yang terjadi selanjutnya. Mendadak matanya menggelap, sebelumya ia sempat melihat Ares menghilang dalam jilatan api yang semakin membesar.
---*---