Chapter 29. Operasi Penyelamatan (2)
El menarik nafas. Ia ingin Mey tidak salah dalam mengenal dirinya.
"Baiklah. Kau benar tentang kasih sayang orang tuaku, tapi dibaliknya mereka telah bersusah payah dalam melindungiku. Sebenarnya aku baru mengetahuinya setelah aku lulus akademi. Mereka berusaha menjauhkan aku dari bawah hidung orang-orang yang anti Eyerish. Hal itu bisa menyebabkan mereka dalam bahaya besar, mungkin hingga kematian. Selama itu orang tuaku hidup dalam penyamaran, dan sekarang mereka masih hidup dalam persembunyian meski mereka telah melepaskanku.
Aku memang memiliki rumah yang nyaman, tapi aku juga memikirkan orang-orang disekitarku. Mungkin dari penilaianmu aku adalah orang kota yang egois, tapi aku juga memikirkan keselamatan orang tuaku. Para tetanggaku, sebisa mungkin aku hanya mengenal sedikit orang saja agar mereka tidak pernah terlibat jauh dengan kehidupanku. Dan pekerjaanku bukanlah pekerjaan yang mudah, aku sengaja memilih pekerjaan yang mengundang bahaya karena menganggap aku pantas mendapatkannya. Dengan memilih pekerjaan ini aku bisa memantau jika orang tuaku aman. Dan... Emily..."
El jeda sesaat, ia menarik nafas. Ia merogoh sebelah saku celananya. Jemarinya menemukan lingkaran batu kecil yang terasa dingin pada genggamannya.
"Aku dan Emily sudah putus."
Mey membelalakan mata ke arah El. "Kau... Apa?"
"Kami sudah putus, malam tadi."
"Jangan bercanda. Malam tadi kan kalian berduaan?"
"Ya..." El duduk lemas, mengingat kejadian itu membuatnya tak berdaya. Ia berharap semua itu hanya mimpi buruk. Ia tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa kehadiran dan pelukan hangat Emily yang selalu ada untuknya. Ia sudah terlalu terbiasa.
"Eum, maaf." kata Mey. "Tapi kenapa?" tanyanya ragu.
El menghela nafas. "Aku tidak tahu. Selama ini aku percaya diri jika dia memiliki perasaan yang sama denganku. Aku tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi."
Mendadak El duduk tegak, tampak kaget. "Oh astaga. Apa yang kukatakan!" serunya pada dirinya sendiri. "Lupakan!" ia tidak sengaja curhat pada wanita menyebalkan ini.
Mey malah tertawa. "Aku rasa kita sudah mulai dekat. Kau bebas curhat padaku!"
"Ah, sial." dengus El. Dia terlalu terbawa suasana.
"Hmm, dan mengenai Emily... Aku melihatnya dari sisi kami sebagai sesama wanita, mungkin Emily merasa pernikahan adalah keputusan yang besar. Misalnya seperti melahirkan anak dan merawatnya. Mungkin dia masih ragu dalam hal itu."
El merasa Mey sedang membicara dirinya sendiri.
"Emily mungkin hanya sedang bingung," kata El. "Banyak hal yang terjadi. Dan ya, aku masih akan menunggunya. Aku yakin dia masih perlu waktu untuk mempersiapkan diri."
"Ya, kau benar." Mey tersenyum.
"Dan kau?"
"Aku?" Mey mengerjapkan mata. "Aku apa?"
"Ya, Kaz adalah lelaki terbaik di Jasper bukan?" tanya El.
Seketika wajah Mey memerah, ia menggigit bibirnya menahan kemarahan.
"Sori, tapi jangan marah pada Avi, dia memberitahuku agar aku mengerti situasimu." Kata El buru-buru, menyadari jika ia sudah salah bicara.
"Situasiku bukan urusanmu!" seru Mey, nada suara wanita itu tak terduga ketika sedang marah.
"Oke, aku mengerti." El segera menganggukkan kepala.
"Kau tidak mengerti! Kalian semua para lelaki tidak mengerti! Juga semua orang di Jasper! Menikah? Bukankah menikah dilakukan dengan orang yang dicintai? Kaz adalah saudaraku sendiri, bagaimana aku bisa melakukannya? Dan memiliki anak? Usiaku sudah mendekati kematian, jika aku dan Kaz mati, lalu siapa yang akan menjaga anakku nanti? Dia akan memiliki nasib yang sama seperti ibunya, yatim piatu dan memiliki beban besar hanya karena dia dilahirkan! Aku tidak ingin menjadikan anakku mendapatkan beban besar sepertiku dan tanpa didikkanku! Lebih baik aku tidak memiliki Keturunan sama sekali daripada aku membuatnya menderita di masa depannya!"
Mey menghempaskan nampan dari pangkuannya ke meja.
"Aku sudah selesai. Kau boleh pergi."
El tidak butuh diusir dua kali. Ia segera keluar dengan patuh. Ia cukup terkejut dengan kemarahan Mey. Ini pertama kalinya ia melihat wanita itu mengamuk. Dan beberapa poin yang dikatakan Meysha mungkin benar.
Mungkin Emily tidak mau menerimanya karena tahu Eyerish akan mati muda.
Avi muncul mendekati El yang kini berada di buritan kapal.
"Ya ampun," kata Avi. "Aku mendengar Mey berteriak." dia terlihat khawatir.
"Tidak usah khawatir," ujar El. "Kami hanya sedang curhat satu sama lain." Kekehnya.
Tapi Avi masih terlihat cemas. "Mey sangat jarang marah. Apakah dia marah karena aku sudah memberitahumu mengenai pertunangannya?"
"Itu tidak baik baginya memendam semuanya." komentar El. "Ada kalanya orang seperti itu perlu mengeluarkan isi hatinya."
Avi menggelengkan kepala. "Padahal aku temannya." ujarnya. "Dia bisa mengatakan apa pun yang dia mau. Aku tentu akan mendengarkannya."
El malah tertawa. "Santai, Avi. Lebih baik kau membuatkan camilan untuk Nona di Ruang Kemudi. Berikan dia sesuatu yang segar dan manis!"
"Ohya?" Avi masih tampak ragu. "Um, kalau begitu aku akan mengupas buah-buahan."
"Ide bagus!"
****
El baru saja selesai berenang di lautan. Ia kembali ke dek kapal, merasa puas karena telah berjam-jam di dalam air. Dari sekian kejadian yang tidak ia sukai, kesempatannya bercengkrama dengan air di lautan adalah hal yang sangat ia sukai.
Ia sedang memeras kaosnya. Karena begitu bersemangat ia sampai lupa melepas pakaian. Padahal Mereka berangkat tanpa persiapan. Ia sama sekali tidak memiliki pakaian cadangan, sementara semua pakaian Avi kekecilan untuk tubuhnya. Avi sudah berjanji akan membelikan pakaian untuknya nanti ketika di Feldspar, tapi mereka masih punya waktu beberapa jam baru bisa sampai di pulau yang disebut itu.
"Hei."
El menoleh.
Sosok wanita muncul, rambut abu-abu dan bola matanya yang juga abu-abu memantulkan sinar bulan yang malam itu purnama.
"Hei. Kebetulan." Kata El. "Bisakah kau keringkan aku?"
"Ya," Mey mengangguk. Ia segera memegang pergelangan tangan El, dan El merasa ia terkurung dalam tornado kecil. Hembusan angin kencang berputar di sekujur tubuhnya dalam beberapa detik. Kemudian Mey melepaskan tangannya.
"Wah, makasih." Kata El, masih sedikit terkejut dengan sensasi baru yang ia dapatkan. Tubuhnya kering meski sedikit lembab.
"Aku minta maaf," kata Mey tanpa diduga.
"Apa?" El sedikit terkejut.
"Sori karena sudah membentakmu."
"Eum, yah." El yang masih terkejut, tergagap. Ia tidak menyangka akan mendapatkan situasi canggung semacam ini. "Kau tidak perlu mempersoalkan masalah tadi siang. Wajar jika kau membentakku."
Mey mengangkat bahu, wajahnya tampak sendu. Wanita itu duduk di atas dek kapal, wajah murungnya memandang langit.
"Aku juga jadinya berpikir," kata El, ia segera duduk di sebelah Mey. "Mungkin Emily juga berpikiran sama denganmu. Bagaimana pun, aku akan mati beberapa tahun nanti. Dia tentu tidak akan siap menikah denganku. Hhh, aku egois sekali karena tidak memikirkan Emily. Jika aku meninggal secepat itu, dia akan sendirian. Aku seharusnya memikirkan semua hal ini lebih jauh."
Mey menoleh pada El. "Hmm, begitu?"
El mengangguk. "Jadi... kita semua benar-benar akan mati di usia 30 tahun?"
"Tidak mutlak namun sekitar di usia itu. Hmm, entahlah. Aku juga tidak tahu," Mey mengangkat bahu. "Sebenarnya Aku juga tidak mempercayainya. Tapi Semua Perawat dan Guru kami memperingatkan kami mengenai hal itu sebelum mereka meninggal. Dan ketika aku menyusup ke Vinctum. Di sana, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Eyerish yang sudah menginjak usia ke-30 tahunnya meregang nyawa."
"Ya Tuhan," El mengusap dagunya. Fakta itu sangat mengerikan. "Aku tidak pernah berpikir akan mati secepat itu."
"Aku juga," ujar Mey. "Tapi karena ceritamu, aku jadi berpikir, mungkin ada cara agar kita bisa melewatinya."
"Hah?" El mengerutkan dahi. "Maksudmu?"
"Kau bilang, Eyerish yang kau bunuh itu berusia 40-an tahun, benar kan?"
"Eum, ya?"
"Dan ketika aku di Vinctum, aku mendengar... entahlah... pada awalnya aku tidak yakin, tapi beberapa Guru dan Perawat pernah mengoceh mengenai pengobatan untuk para Eyerish agar mampu melewati masa itu, aku tidak sengaja mendengarnya, tapi jika kita bisa mengeceknya lagi, mungkin hal itu memang benar."
El tampak tertarik mengenai hal itu, tapi ia kembali teringat jika sekolah atau apa pun tempat itu, dihuni oleh para Eyerish terlatih dan tidak sependirian dengan mereka. Seandainya mereka salah langkah, mereka akan dianggap musuh dan pastinya akan sulit keluar dari sana hidup-hidup.
"Dan apakah kau pernah melihat Eyerish berusia lanjut di sana?" Tanya El.
Mey terdiam sesaat sebelum akhirnya menggeleng. "Tidak..."
"Mey," kata El segera. "Aku tahu kau sangat ingin mencari jalan keluar pada hal ini. Tapi kita hanya bertiga menuju tempat itu. Cukuplah berfokus pada rencana kita, kau ingin menyelamatkan Sasha, dan aku akan menyelamatkan Rom. Akan rumit jika kita berlama-lama di tempat berbahaya itu."
Mey menghela nafas. "Kau benar."
Untungnya wanita itu tidak keras kepala dalam persoalan ini.
Mey mengangkat wajahnya, memandang ke kejauhan. Mulai tampak puncak pulau yang mereka tuju.
"Kita sampai di Feldspar." bisik Mey, seperti sedang mengucapkan selamat datang kepada El.
El menelan ludah, ia mulai gugup memandang pulau di ujung sana, mereka benar-benar akan menyusup ke suatu tempat yang berbahaya. Meski pun ia seorang polisi, ia belum pernah melakukan pekerjaan yang luar biasa berbahaya seperti ini. Memasuki sarang musuh bersenjata tak masalah baginya, tapi memasuki sarang musuh yang tidak memerlukan senjata, namun memiliki beragam kekuatan pengendali, entahlah... hal ini sangat mengerikan.
"Ayo kita masuk," kata Mey sambil beranjak berdiri. "Kita dengarkan rencana Avi."
----*----