Chapter 28. Operasi Penyelamatan (1)
El meregangkan tubuhnya setelah tidur nyenyak selama berjam-jam. Ia bangkit duduk, menguap lebar. Ia menoleh ke jendela, sinar terik matahari yang masuk menandakan sudah tengah hari. Dan dia merasa lapar.
Ia beranjak keluar, menyusuri lorong, mengikuti aroma menggiurkan masakan.
"Hai, Avi." sapa El.
Avi, si pemilik dan nahkoda kapal, berbalik.
"Hai, El!" balas Avi riang.
"Sori karena aku tidur terlalu lama." ujar El.
"Santai saja, kawan. Pasti sangat membosankan berlayar bagi orang-orang kota."
"Kau tidak tidur?"
"Aku sudah tidur beberapa waktu, tapi aku ingat untuk menyiapkan makan siang. Kau sudah melewatkan jam sarapan. Apakah kau baik-baik saja?"
"Oh aku sudah biasa tidak sarapan." jawab El. "Perutku tidak akan bermasalah sama sekali. Ada yang perlu kubantu?"
"Tidak usah, kawan. Kau tidak perlu merepotkan diri."
"Oh, ayolah... Jangan manjakan aku. Cewek cerewet itu pasti akan mencemoohku jika aku kembali molor di kasur."
Avi malah tertawa. "Ya, ya, jika begitu, bantu aku memotong sayuran."
"Itu hal gampang." El yang bersemangat segera mengerjakan apa yang disuruh Avi.
"Hei, Avi." panggil El ragu-ragu, ia mengirisi wortel dengan lihai.
"Ya?" Avi tampak fokus bergulat dalam membersihkan ikan besar yang mungkin hasil tangkapannya.
"Kenapa kau mau ikut dalam perjalanan ini? Bukankah ini akan berbahaya?"
Avi tertawa kecil. "Aku sangat mengenal area lautan. Jadi Mey sangat mempercayakan aku untuk mengemudikan kapal."
"Oke, aku mengerti kau mengenal area lautan. Tapi kenapa kau mau ikut?"
"Mey adalah sahabatku sejak kecil." jawab Avi segera. "Kami sudah berteman lama di Jasper. Aku, Mey dan juga Kaz. Mungkin aku adalah manusia, tapi kami bertiga seperti tiga sekawan yang tidak bisa terpisahkan. Seandainya Kaz bisa jalan-jalan keluar, tentu dia akan ikut. Tapi sayangnya dia harus tetap di dalam Jasper untuk menjaga pelindung desa."
"Seharusnya kau menghentikannya." keluh El.
"Mey maksudmu? Oh ya, aku tentu sudah mencoba menghentikannya. Tapi Mey sangat keras kepala. Dan dia meyakinkanku jika kau akan bergabung. Karena itu aku menyetujuinya."
"Ck. Cewek pintar." gumam El.
Avi tertawa kecut. "Meskipun kau tidak ikut bergabung, dia tetap akan kabur dari Jasper."
"Dia benar-benar gila."
"Ada alasan tertentu, El." kata Avi. Ia menoleh ke sekitarnya untuk memastikan tidak ada Mey di dekat mereka. "Akan lebih baik kau tahu tentang alasannya."
"Simpan saja rahasiamu. Aku tidak tertarik." El malas untuk terlibat lebih jauh dengan orang-orang ini.
"Tapi kau harus tahu, El." Avi tetap mendesak El. "Kalian berdua terlihat tidak cocok, tapi kalian adalah tim dalam perjalanan ini." bisiknya, bocah itu tampak gelisah.
"Ya... Ya... Terserahlah." El menghembuskan nafas.
Avi menarik nafas pelan. Mendekati El kemudian berbisik. "Sebenarnya Hari ini Meysha akan bertunangan dengan Kaz."
El berhenti mengiris. Ia menoleh pada Avi, mengerutkan dahi.
"Bukankah itu berita bagus?"
Avi menggeleng. "Mey tidak menyukai perjodohan itu."
"Hmm, kurasa mereka berdua terlihat akrab." El mengingat-ingat bagaimana interaksi di antara Mey dan Kaz.
"Tentu saja. Mey dan Kaz sudah seperti saudara satu sama lain. Tapi demi kelangsungan hidup Jasper, mereka berdua harus menikah dan melahirkan keturunan Eyerish."
"Uh... Wow?"
"Kau pasti sudah tahu mengenai usia kelangsungan hidup Eyerish. Kalian tinggal punya 2-3 tahun saja. Mungkin. Sementara Eyerish terkuat di Jasper belum memiliki keturunan. Kaz dan Meysha adalah kategori 3 dalam bagan Eyerish. Mereka percaya jika Eyerish yang sama-sama kuat dapat melahirkan keturunan yang kuat pula."
"Hmm, lalu kenapa dia menolak perjodohan ini? Bahkan hingga kabur dengan alasan pergi menyelamatkan Sasha pada tengah malam?" El merasa semakin ditipu oleh wanita berambut abu-abu itu.
Avi mengangkat bahu. "Mey bukan orang yang pengecut. Dia selalu bersikap berani pada hal apa pun. Tapi dia tetap saja seorang wanita. Pernikahan adalah keputusan yang sulit. Apalagi dengan seseorang yang sudah ia anggap sebagai saudara. Dan apabila dia menikah, dia tidak akan bisa keluar dari Jasper sampai memiliki anak."
"Uh, aku mengerti mengapa dia menolak perjodohan ini." El mendengus, ia tahu sifat wanita itu yang begitu bebas dan tidak suka diatur.
"Karena itulah, aku sangat bersyukur dengan kehadiran Eyerish Air sepertimu. Kau adalah Eyerish kategori kedua! Aku rasa keadilan akan ada untuk Eyerish di masa mendatang!"
El tidak berkomentar apa pun. Yah, ia tidak pernah menjanjikan apa pun mengenai kehadirannya di Jasper. Dia sama sekali bukan superhero. Dia hanyalah lelaki kurang beruntung, terlahir sebagai Eyerish pecundang.
***
El masuk ke bilik kendali sambil membawa nampan berisi makanan.
"Ini dia, untuk Tuan Puteri."
Mey tampak kaget dengan kehadiran El, ditambah sambil membawakan nampan makanan.
"Kupikir kau masih tidur." kata Mey, terdengar agak mencemooh. Ia meninggalkan kemudi setelah menghidupkan kendali otomatis.
"Bahkan koala si tukang tidur tahu kapan waktunya untuk bangun." ujar El. "Aku sudah merelakan diriku membawakanmu makanan, ini demi Avi, bukan kau. Dia perlu tidur."
Mey terkekeh. "Oke, aku mengerti. Dan Makasih."
"Ajarkan aku cara mengemudi," kata El yang kini mengamati kemudi kapal.
Mey segera menyantap makan siangnya. "Kau tidak diajarkan di akademimu?"
"Hmm," gumam El. "Aku lupa, mungkin."
"Dasar konyol." komentar Mey.
"Berapa lama lagi kita sampai di Vinctum?"
"Nanti malam kita sampai di pulau Feldspar. Dari sana kita bisa menyeberang ke Vinctum dengan kapal kecil selama 15 menit." jelas Mey. "Itu rencana A, karena kita harus cek dulu jalan yang itu."
"Rencana A?" ulang El. "Apa rencana B-nya?"
"Rencana B kita akan masuk lewat jalan lainnya, dan mungkin akan lebih jauh dan lebih lama."
Wow. El sama sekali tak pernah membayangkan ia akan terlibat dalam pertualangan hingga sejauh ini. Meninggalkan Beryl - kotanya, meninggalkan apartemennya, juga meninggalkan pekerjaannya. Ia bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi di kotanya saat ini. Mungkin ia sudah disebut sebagai buronan karena telah menyebabkan kebakaran di rumah Pak Alkin.
Ia mendadak teringat ketika memikirkan rumah Pak Alkin.
"Hei, apakah kau pernah bertemu dengan Eyerish Air?" tanya El.
Mey mengangguk. "Beberapa." jawabnya. "Di Sekolah Vinctum, ada dua Eyerish pengendali air. Tapi kurasa satunya sudah meninggal, dia tampak kritis karena usianya sudah 31 tahun. Satunya adalah seorang bocah berusia 16 tahun. Lalu Freya di desa kita. Dan tentu saja kau."
"Aku juga pernah bertemu satu kali sebelum semua hal ini,” El agak ragu untuk menceritakan pengalamannya. “Orang itu adalah Eye Tracker yang ingin menangkap Sasha dan Rom ketika itu."
Mey tampak terkejut. "Eye Tracker yang mati di Beryl?" tanyanya. "Aku tidak menyangka jika Eye Tracker itu adalah Eyerish Air."
"Hmm, dan sungguh aneh." kata El kemudian. "Eyerish Air itu tampak tua. Kurasa usianya lebih dari 40 tahun. Dan dia tampak kuat dan sehat."
"Kau yakin tidak salah lihat?" Mey terlihat meragukan.
"Kau bisa menanyakan hal ini pada Ben. Dia juga berada di lokasi kejadian ketika itu."
"Hmm, aku tahu jika Eye Tracker bisa saja adalah Eyerish. Tapi Eyerish Air, sungguh sayang sekali! Dan dia mati!" Mey masih tak percaya. "Sebagai debut pertamamu melawan Eyerish, bagaimana hal itu bisa terjadi? Apa yang kau lakukan padanya? Tidak mungkin kau menang hanya karena menggunakan pistol." selidik Meysha penasaran.
"Hmm, itu..." El mengangkat bahu. "Hanya suatu keberuntungan. Dia tidak menyangka dengan kehadiranku. Dan dia juga tidak menyangka aku adalah Eyerish." dia menghela nafas. "Hingga sekarang aku masih bermimpi buruk tentang kejadian itu."
"Oh Tuhan! Jadi kau benar-benar membunuhnya?!" Mey nyaris terlonjak.
El malah mengerutkan dahi melihat ekspresi Mey.
"Kau, orang yang sama sekali tidak bisa melawan ketika kaki dan tanganmu kupatahkan, telah membunuh Eye Tracker - Eyerish kategori kedua??"
"Aku tidak mengerti kenapa kau terlihat kagum. Ini sama sekali tidak membanggakan. Membunuh orang bukanlah hal yang benar." Sungut El.
"Hmm, ya, kau benar." Mey kembali menyendok makanannya ke dalam mulut. Mengunyahnya sebentar sambil berpikir. "Tapi mereka pantas mati. Kau tidak tahu sudah berapa nyawa yang mereka cabut. Aku tidak pernah tahu dimana kelompok itu berada. Mereka semua sangat kuat bahkan yang bukan Eyerish."
"Pekerjaan yang menjijikan sekali," komentar El ngeri. "Apa yang mereka dapatkan dari pekerjaan semacam itu? Tidak bisakah mereka bekerja secara normal di kota, menikah, berkeluarga, dan tinggal di rumah dengan nyaman ketika liburan?"
Mey mendadak tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan El yang tak terduga.
"Ma... Maaf, hahahaha!" wanita itu tidak berhasil meredam tawanya. El menunggu wanita itu sampai selesai tertawa dengan wajah jengkel.
Apa yang lucu dari omongannya tadi?
"Oh lucu sekali! Perutku sampai sakit karena tertawa!" seru Mey.
"Aku sangat yakin jika aku sedang tidak bercanda!" ujar El, melotot jengkel pada Mey.
"Aku tahu itu, hanya saja pikiran orang kota sungguh simpel," Mey masih terkikik geli. "Hmm, perlukah kujawab? Orang yang memilih pekerjaan seperti itu tak memerlukan kehidupan seperti yang kau katakan. Mereka haus akan kebebasan dan perasaan puas dengan kekuatan mereka."
El menggelengkan kepala. Merasa tak suka mendengarnya.
"Kehidupanmu pasti bahagia," komentar Mey sambil memandang El dengan tatapan setengah iri. "Kau tidak perlu memikirkan banyak hal. Cukup dirimu sendiri."
"Ck," El merasa tidak nyaman dengan komentar itu. "Kau seolah menganggap aku adalah orang yang egois."
Mey tertawa lagi. "Tapi aku benar kan?"
Ck. Lihat kan? Wanita ini benar-benar berkata sesuka hatinya.
"Ya, ya... Kau benar. Puas?"
Mey mengangkat bahu. "Aku tidak bermaksud menghinamu." akhirnya ia menyadari kesalahannya. "Tapi aku benar-benar iri padamu."
"Iri pada hal apa?" tanya El, menatap tajam wanita itu.
"Hmm," Mey tampak berpikir. "Yah, kehidupanmu. Kau punya orang tua yang menyayangimu, juga melindungimu. Kau juga punya rumah yang nyaman. Kau tak perlu memikirkan orang-orang di sekitarmu, seperti memikirkan rakyat Jasper agar tetap aman dan dapat makan. Kau juga memiliki tunangan yang cantik dan baik. Juga kau memiliki pekerjaan untuk hidupmu."
Wanita itu tersenyum tipis setelah mengatakan semua hal itu.
El mendengus. "Kau salah." desisnya.
Mey benar-benar salah dalam mengenal dirinya.
---*---