Chapter 27. Rencana Ares

1221 Kata
Chapter 27. Rencana Ares Vinctum. ... "Sarapan pagi pukul 8 di aula, apa kau lupa dengan jadwalnya?" Rom terbangun, ia mengangkat wajahnya dan melihat Ares berdiri di hadapannya, bocah itu membelakangi silaunya matahari pagi dari jendela. "Kenapa kau tidur di pojok ruangan?" "Tinggalkan aku." Gumam Rom, sambil kembali menyembunyikan kepala di balik kedua lengannya. "Mereka akan menghukummu jika tidak menaati peraturan." "Aku tidak peduli." Ares menghela nafas. "Kau akan dikembalikan ke sel bawah tanah." Ujarnya, menendang pelan sisi tubuh Rom dengan ujung sepatu. Rom tidak menyahut. "Kau punya jam belajar dengan Sky. Sudahkah kau melihat jadwalmu?" Rom tetap tidak menyahut. "Bukankah Sasha memberitahumu untuk bersikap baik di sini?" Rom terkesiap mendengar hal itu, ia mengangkat wajahnya. "Bagaimana kau tahu?" ia memandang bocah itu yang juga balas memandangnya dengan pasang mata abu-abunya yang mati. "Sasha memintaku untuk menjagamu di sini." Rom mengerutkan dahi. "Aku tidak percaya." Ujarnya. "Kau harus menuruti kata-kataku." Kata Ares. "Sikapmu ini tidak akan menyelesaikan masalah. Yah, wajar saja jika kau marah padaku." "Aku tidak marah padamu." "Apa?" "Aku marah pada diriku. Karena..." Rom tercekat. "Aku sendiri yang melakukannya." "Apa kau bodoh?" seru Ares, terperangah. "Aku yang mengendalikanmu! Aku yang membuatmu melakukannya!" "Kau ... tidak mungkin berpikiran untuk menyakiti orang." Ares tergagap. "Aku... Aku tidak mengerti. Bukankah... seharusnya... Kau membenciku?" Rom tidak menjawab. Ia kembali menyembunyikan wajahnya. "Tinggalkan aku." "Hei," panggil Ares. "Aku hanya mewujudkan kebencianmu. Bukankah mereka selalu menyakitimu sejak kecil? Mereka pantas mati di tanganmu!" Rom melirik Ares di balik poni rambutnya yang mulai memanjang dan berantakan. "Apakah mereka juga memperlakukanmu seperti itu?" Ares menutup mulutnya. Ia tergagap. "Kau..." Rom bisa merasakan koneksi yang sama diantara mereka berdua. Ia bisa melihat sisa-sisa perilaku yang didapatkan oleh Ares. "Mereka memukulimu. Mengurungmu di ruangan kecil selama berhari-hari. Tidak memberimu makan. Menghinamu. Menyakiti setiap kulit tubuhmu." "Di... DIAM!" seru Ares. "Apa yang kau bicarakan, hah?!" Rom mengatakan hal yang tepat. Ia segera bangkit berdiri, kemudian mendorong kedua bahu kecil kurus Ares ke dinding, mengurungnya diantara kedua lengannya di dinding. "Beritahu aku siapa orangnya." Bisiknya. "Ap... Apa?" "Bukan kau yang membuatku membunuh keluargaku. Tapi ada orang lain di belakangmu. Beritahu aku siapa orangnya." "Menjauh dariku!" perintah Ares, tampak panik sambil memukuli kedua lengan Rom. Namun Rom tidak bergeming. "Beritahu aku!" "Tidak! Menjauh!" Rom merintih, ia bergerak menjauh sambil memegangi kepalanya. Barusan ia merasakan suara Ares di dalam kepalanya, tubuhnya mendadak bergerak sendiri. Ia berusaha menolak keberadaan Ares di tubuhnya. Namun penolakan itu malah membuatnya semakin kesakitan. "Sudah kubilang, aku yang melakukannya! Aku adalah murid nomor satu di sini! Kalian harus takut padaku! Aku lebih kuat dari kalian semua!" teriak Ares, kemudian segera berlari pergi. Rom dapat menarik nafas lega setelah kepergian Ares. Ini sangat sulit. Ia tidak bisa menolak kekuatan Ares yang merasuki kepalanya. Ia tidak bisa membiarkan kejadian mengerikan terulang kembali pada dirinya. Jangan sampai Ares mengendalikan kepala dan tubuhnya untuk melakukan kekacauan lagi. Dan ia sangat yakin, Ares bukan dalang dalam hal ini. Ia teringat pada Sasha. "Sasha, apa yang harus kulakukan?" Ia masih mencoba mencari Sasha dari dalam kepalanya. Tapi nihil. *** Ares masih gemetaran. Namun ia tidak bisa absen dari sarapan di aula. Kemudian Rom muncul duduk di hadapannya tak lama kemudian. Padahal ia mengira Rom akan memilih sel bawah tanah daripada kembali menampakkan wujudnya di sekolah. "Sialan kau." Desis Ares. "Aku tidak ingin melihatmu." Rom segera menahan tangan Ares yang bergerak akan pergi. "Aku tidak akan mengatakan apa pun." Ujar Rom. "Kembalilah duduk." "Tidak..., kau..." "Aku ingin bertemu dengan Sasha." Sela Rom. "Dimana dia?" Ares menghela nafas. "Berhentilah...” “Aku hanya ingin memastikan jika dia baik-baik saja,” sela Rom segera sambil berbisik. Ares menarik nafas. Pria menyebalkan ini benar-benar keras kepala. “Dia di gedung utama." Jawabnya, ia mengira dengan menjawab pertanyaan Rom, maka Rom akan meninggalkannya. "Kau tidak akan bisa ke sana. Terlalu banyak Penjaga." *** Rom terdiam. Meski ia masih merasa depresi dengan fakta mengerikan mengenai kebakaran di Panti Asuhan, namun dia tidak bisa berdiam diri saja. Ia memutuskan mencoba mendekati Ares, satu-satunya koneksi yang ada di dekatnya. Ia bisa melihat jika Ares masih tampak labil. Bocah itu terlalu polos sehingga mudah dipahami dan tentu sangat mudah dikendalikan dengan keterbatasan yang dimiliki bocah itu. Ia yakin Ares mengalami siksaan, entah mental atau pun fisik. Tentu sulit mendeteksi siksaan fisik karena kemampuan Eyerish dalam menyembuhkan diri. Dan meski semua itu hanya dugaannya, ia merasa geram. Tidak hanya dirinya yang dimanfaatkan, tapi bocah sekecil Ares pun dimanfaatkan. Ia tidak bisa membiarkan hal ini. Ia beruntung karena Ares tidak berniat membaca pikirannya saat ini. Tampaknya bocah itu masih panik, ia tidak menyangka jika ia bisa membuat bocah itu ketakutan sampai seperti ini. "Kau bilang aku punya jadwal dengan Sky." Kata Rom, mengawasi Ares yang hanya memainkan sendok pada makanannya. "Ya." Jawab Ares. "Apa yang akan ia lakukan padaku?" Sky adalah kandidat pertama yang ia curigai sebagai dalang di balik Ares. Dalam sekejap ia mulai tidak menyukai Sky. Sky memang terlihat seperti pemuda biasa-biasa yang ramah dan tampan, tapi Rom sudah banyak bertemu dengan berbagai tipe orang. Sky berbeda dari El yang merupakan Eyerish pertama yang pernah ia kenal. Meski Sky mengaku sebagai Eyerish yang sama dengan dirinya, yaitu Eyerish Api, entah kenapa ia tidak mempercayainya. Ia tidak merasakan aura seperti yang ia rasakan pada El. Pada Ares. Dan juga pada Sasha. Aura Sky nyaris tak terlihat, seperti benang-benang tipis tak berwarna. Namun ia tidak boleh menganggap sepele kekuatan Sky. Sky adalah orang penting di sekolah ini, setahunya. Dan ia masih belum tahu apa kekuatan pria itu. "Apa yang kau pikirkan?" Tanya Ares tiba-tiba, menyadari jika Rom terdiam lama. "Tidak ada," jawab Rom segera, melanjutkan memakan sarapannya. "Kau benar-benar ingin bertemu dengan Sasha?" Pertanyaan Ares membuat Rom duduk tegak. "Kenapa kau ingin menemuinya?" Ares seolah sedang mengetesnya. "Aku hanya ingin memastikan jika dia baik-baik saja." Jawab Rom. "Dia sudah banyak membantuku." Ares mengetuk-ngetukkan sebelah tumit sepatunya di lantai, terdiam beberapa saat. "Aku bisa membantumu." Ujar bocah itu pada akhirnya. Rom mengawasi si bocah albino buta itu dengan seksama. Ia berharap Ares sedang tidak berbohong kepadanya. "Bagaimana caranya?" "Mudah saja. Ini berhubungan dengan jam belajarmu bersama Sky. Aku akan meminta Sky untuk mengubah pembelajaranmu." "Pembelajaran?" "Kau masih belum membaca jadwalmu ya? Ck. Tapi rencana ini akan sangat menyakitkan untukmu. Apa kau siap?" "Aku siap. Beritahu aku bagaimana caranya." Pinta Rom segera. Ekspresi Ares terlihat tidak nyaman. Akhirnya bocah itu berbicara. Tidak, mulutnya sedang mengunyah makanannya. Namun suaranya bergema di dalam kepala El. El berusah terbiasa mendengar suara Ares di dalam kepalanya, persis yang pernah dilakukan oleh Sasha padanya ketika masih di sel bawah. "Aku akan meminta Sky untuk memasukkanmu ke dalam Area Latihan. Kita akan bertarung. Aku akan membuatmu nyaris mati. Jadi bertahanlah semampumu. Dengan begitu kita bisa sampai ke gedung Utama." jelas bocah itu yang sedang menghirup minumannya. Rom mengerutkan dahi mendengar rencana itu. "Sasha berada di Rumah Sakit Gedung Utama. Di sana hanya untuk murid-murid yang mengalami cedera parah. Jadi... kau siap kan?" Oh ya, Rom lebih daripada siap. Ia sudah biasa dihajar. Jadi hal ini sama sekali tidak akan membuatnya gentar. Tapi ada hal yang mengganggu Rom. "Ares..." Rom membalas ragu melalui pikirannya. Ia masih merasa canggung melakukan telepati. "Apakah kau akan mengendalikan ku lagi? Aku sangat tidak ingin melukai siapa-siapa." ---*----
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN