Chapter 26. Jebakan
"Emily!"
El berseru. Namun ia tak tahu harus berkata apa selanjutnya. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendengar hal ini. "Katakan padaku, kau hanya bercanda." Pintanya sambil menarik kedua bahu wanita itu.
"El, kau pantas membenciku,” kata Emily dengan nada melemah. “Selama ini kau hanya melihatku, tapi di luar sana, tentu ada wanita yang lebih baik daripada aku." Dengan lembut wanita itu menarik sebelah tangan El, lalu menaruh cincin perak ke dalam genggaman tangan El.
El menggelengkan kepala, menyodorkan kembali cincin itu pada Emily. "Tidak, Emily. Pakailah lagi. Aku tahu kau hanya sedang bingung dengan situasi ini." Suaranya sedikit bergetar, menarik tangan Emily dengan sedikit memaksa. "Besok kita akan kembali ke kota. Kita akan melanjutkan kehidupan kita seperti biasa. Kita lupakan saja semua kejadian ini. Oke?"
Emily menggelengkan kepalanya, mendorong tangan El. "Tidak, El. Aku tidak akan kembali ke kota."
"Ap...Apa maksudmu?"
"Aku akan tetap di sini. Selama ini aku tertekan dengan dosa besarku. Aku tidak tahu bagaimana cara membayarnya. Setelah mengetahui tempat ini, aku yakin sudah seharusnya aku berada di sini. Aku akan membantu para Eyerish dengan tenaga yang kumiliki. Aku telah membunuh satu, maka aku harus menyelamatkan 100 atau bahkan 1000 dari bangsa mereka." Air mata turun dari pasang mata wanita itu.
"Emily... berhentilah bercanda..."
"Dan aku sangat berharap kau benar-benar serius dengan keputusanmu untuk menyelamatkan Rom." Emily menggigit bibirnya, berusaha menahan air matanya. "Setiap kali aku melihatnya, aku teringat pada Skylar. Dia pastilah menjalani kehidupan yang sulit, sama seperti Skylar. Gara-gara manusia seperti aku, kalian, Eyerish tersakiti. Mungkin mereka sering bertemu dengan anak-anak sepertiku. Jika kita bisa menyelamatkan Rom, maka penduduk di tempat ini juga akan selamat. Bukan begitu, El?"
El menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Apakah selama ini Emily benar-benar tidak menyukainya? Fakta itu benar-benar hantaman keras pada dirinya. Jadi selama ini hanya dirinya yang merasa bahagia? Sementara Emily tidak?
"Sudah sangat larut, El." Kata Emily. "Ayo kembali."
Kali ini El tidak menahan Emily. Emily pergi meninggalkannya yang masih berdiri, membeku dengan cincin dalam genggamannya.
Ia membuka telapak tangannya, memandang cincin perak yang seharusnya masih dimiliki Emily, namun kini kembali kepadanya.
***
El menenggelamkan dirinya ke dalam lautan yang gelap.
Air laut terasa hangat meski ia sudah menyelam semakin dalam. Ia menatap ke bawahnya, memandang kegelapan tak berujung. Kemudian air berombak keras, membuat tubuhnya tertarik ke atas. Ia terpaksa berenang mengikuti arus, lalu mengeluarkan kepalanya setelah sampai di permukaan air, menarik udara sebanyak-banyaknya ke dalam rongga paru-parunya yang nyaris kosong dengan oksigen.
"Kau pikir kau putranya Posiedon, hah?" suara seorang wanita, meledeknya.
Dan barulah ia menyadari jika ada seseorang yang juga berenang di laut bersamanya. Mey mengitarinya sambil tertawa, kemudian berenang menuju ke tepi pantai. Pasti wanita itu yang membuat angin di dalam air hingga tubuhnya tertarik ke atas.
El yang merasa jengkel, menyusul wanita itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya El. Ia merasa kesal karena merasa waktu privasinya diganggu. Apakah tidak bisa sebentar saja ia tidak melihat wajah wanita menyebalkan ini? Argh, dia sungguh frustasi.
"Berenang?" jawab Mey dengan tampang polos.
El menarik nafas kesal. "Ini sudah larut, kau seharusnya tidak berada di sini." Katanya kesal. Padahal ia ingin mengomeli wanita itu yang seolah mengikutinya. "Bukankah kalian memiliki peraturan yang ketat untuk tidak keluar dari Desa?"
"Ya, ya... tapi aku termasuk dalam kelompok yang dibolehkan keluar." Ujar Meysha, dan menunjukkan senyum menang yang menyebalkan. "Aku yang seharusnya bertanya kenapa kau keluar dari Desa. Kau bahkan nyaris melukai penjaga gerbang. Penduduk Jasper tentu akan merasa ketakutan dengan sikapmu jika mengetahui hal ini."
"Aku tidak melukai mereka. Aku hanya meminta mereka untuk mengizinkan aku keluar." Sanggah El.
"Oh ya? Dengan mengancam mereka menggunakan kekuatanmu, hah?" balas Mey. "Sudahlah, karena aku, mereka tidak akan mengatakan hal macam-macam, juga mereka tidak akan melaporkanmu pada Kaz."
"Jadi kau butuh terima kasih sekarang?" dengus El.
"Entahlah. Jika kau punya rasa empati, kurasa ya. Dan meskipun kau adalah Eyerish Air, kau tetap akan bisa mati jika berada di dalam air terlalu lama. Kecuali kau bisa bernafas dengan menggunakan insang. Hah, paus saja perlu keluar dari permukaan air untuk bernafas."
El merasa muak meladeni Mey, sepertinya tidak akan ada habisnya mereka beradu mulut.
"Terserahlah, sekarang urus saja urusanmu." Gerutu El, ia segera berbalik sambil melangkah menyusuri tepi pantai.
Mey menghela nafas, ia memandang El dengan jengkel dengan tangan bersedekap. "Jadi kau akan ikut atau tidak?"
El berhenti melangkah. Ia kembali menoleh pada wanita itu. Ia tidak tahu kapan wanita itu sudah kering begitu saja sementara ia masih basah kuyup. Tentu saja konyol sekali mengambil keputusan untuk menyelam secara mendadak tanpa membawa pakaian kering. Namun ia masih merasa malas untuk kembali ke Desa.
"Ikut?" ulang El, menaikkan sebelah alisnya.
"Ya, operasi untuk menyelamatkan Rom dan Sasha. Ingat kan?"
El mengerutkan dahi. "Maksudmu?" tanyanya kebingungan. "Kukira kita akan membahas hal ini besok, bersama Kaz."
"Itu akan memakan waktu. Mereka sudah hilang selama satu setengah hari. Dan aku tidak akan bisa tenang sebelum mengetahui keadaan mereka." Ujar Mey. "Lagipula membahas operasi ini bersama Kaz akan sulit. Dia tidak akan membiarkanku keluar dari Jasper dan kembali ke Vinctum untuk kedua kalinya. Sementara aku benar-benar bertanggung jawab dalam hal ini. Aku sudah bersumpah akan menjadi pelindung Sasha, dan sudah berhari-hari aku gagal bertemu dengannya. Aku sudah melanggar janjiku."
El terdiam, ia bisa melihat ekspresi serius di wajah si rambut abu-abu.
"Jadi maksudmu.... Kau akan berangkat sendirian? Dan sekarang?"
Senyum nakal wanita itu kembali muncul, melenyapkan sikap seriusnya. "Siapa bilang aku akan sendirian?" dia malah tertawa. "Kau juga akan ikut."
"Apa?" seru El kaget. "Aku tidak pernah menyetujuimu untuk berangkat sekarang!"
"Oh bukankah kau sudah membuat keputusan untuk mengikuti operasi ini?"
"Ya, tapi tidak gegabah seperti ini!"
"Ahh, ya sudahlah..." Mey mengibaskan tangannya. "Terserah jika kau tidak mau ikut. Aku akan pergi sekarang." Wanita itu segera melangkah menyusuri tepi pantai.
"He-Hei!" seru El, ia terpaksa mengikuti wanita itu. "Sudah kubilang, jangan bertindak gegabah! Bagaimana jika nantinya kau tertangkap juga? Akan lebih baik jika kita mendengarkan Kaz lebih dulu!"
"Aku adalah satu-satunya orang yang mengetahui seluk-beluk Vinctum,” Mey sama sekali tidak memelankan langkahnya. “Jika Kaz tidak mengizinkanku pergi, maka akan semakin besar presentase kegagalan kalian tanpa aku. Kalian tidak tahu jika di sana dihuni begitu banyak Eyerish yang sangat kuat."
"Hei, tapi ini juga sangat berbahaya. Kau tidak bisa berangkat sendirian!" El berhasil menarik sebelah tangan Mey namun wanita itu segera menampik tangan El dengan kasar.
Mey segera berbalik, membuat mereka berdua nyaris bertabrakan. El buru-buru bergerak mundur menjauhi si rambut abu-abu.
"Kalau begitu kau harus ikut denganku." Kata Meysha, menatap El dengan sorot mata abu-abunya yang tajam.
"Tapi..." El tergagap. Apakah wanita ini kembali menjebaknya?
"Kalau kita melibatkan Kaz, dia tidak akan mengizinkanku mengikuti operasi ini. Dia akan mengirimkan pasukan yang tidak berpengalaman, dan itu sangat merepotkan. Bahkan mungkin Emily akan ikut dalam operasi ini."
"Apa?" El terkejut. "Apa sangkut paut masalah ini dengan Emily?!"
"Aku juga tidak mengerti. Tapi wanita itu sangat berambisius dalam membantu kami. Dia sendiri yang mengajukan dirinya untuk membantu apa saja. Dan Kaz memikirkan peluang itu karena Emily adalah manusia yang mungkin bisa dimanfaatkan dalam operasi memasuki Vinctum."
"Tidak boleh!" seru El marah. "Aku tidak akan membiarkan kalian memanfaatkan Emily!"
Mey malah tersenyum lebar. "Kalau begitu ikutlah denganku."
El mendadak terdiam, sementara Mey menunggu keputusan El.
El yakin Mey sedang menjebak dirinya. Tapi bagaimana jika mereka benar-benar akan melibatkan Emily dalam operasi berbahaya ini? Argh, dia tidak bisa berpikir jernih. Meski pun Emily telah mencampakkannya malam ini, tetap saja, Ia tidak bisa menyingkirkan Emily dari dalam hatinya. Dan ia percaya jika Emily masih perlu waktu untuk memikirkan hubungan mereka berdua. Jadi, mungkin akan lebih baik jika mereka berpisah untuk sementara. Dan Emily tentu akan lebih aman berada di Desa ini asalkan dia tidak dimanfaatkan.
"Baiklah." El menghela nafas. "Aku ikut."
"Bagus!" seru Mey, tampak senang. "Kalau begitu, ayo!" ia berbalik, melanjutkan berjalan. El mengekorinya dengan ekspresi jengkel.
"Tapi bagaimana cara kita ke sana?" El tersadar. Tentu saja mereka perlu alat transportasi untuk menyeberangi lautan.
"Gampang saja," Mey tersenyum lebar kepadanya. "Avi akan ikut dengan kita. Kita akan naik kapal sampai ke Vinctum."
---*---