Chapter 25. Sebuah Perasaan

1464 Kata
Chapter 25. Sebuah Perasaan Tidak ada perbedaan yang cukup jauh dari Pulau Jasper dengan desa-desa yang ada di Beryl. Makanan dan minuman yang disajikan memang sangat tradisional, selayaknya suatu desa. Kaya rempah sehingga masakan terasa gurih dan segar. Jauh berbeda dengan makanan di kota yang kebanyakan adalah makanan cepat saji dengan rasa kurang varian. Hal ini mengingatkannya pada Ibunya yang selalu memasak makanan berbahan segar. Ia merindukan orangtuanya dan juga desa kecilnya yang dulu, Pirus. El berterima kasih dengan santapan lezat itu setelah merasa kenyang. Sementara Ben masih menyantap makanannya seolah-olah bocah itu telah puasa berhari-hari. Sepertinya penduduk kecil di Jasper sengaja mengadakan makan malam di lapangan sebagai acara menyambut kedatangan mereka, para tamu asing. Penduduk yang jumlahnya kurang dari 80 orang itu berkumpul memenuhi lapangan. Rasanya sungguh aneh. El berusaha bersikap sopan. Ia menjawab setiap pertanyaan atau pun sapaan penduduk Jasper. Tentu saja banyak yang penasaran dengan dirinya. Eyerish pengendali Air, Eyerish kategori 2 yang cukup langka. Kedengaran keren namun El tetap tidak menyukainya. "Kau tahu Putriku adalah Eyerish Air?" seorang wanita memperkenalkan dirinya sebagai koki utama di kampung kecil itu, Naura, mendapat giliran untuk bercakap-cakap dengannya. "Freya, kemari!" panggilnya. Seorang bocah berambut hitam yang sangat mirip dengan ibunya datang mendekat, tampak malu-malu. "Freya adalah Eyerish Air. Dia adalah anak tertua di generasi kedua di Pulau Jasper." "Hai, Freya." sapa El ramah. Seketika El merasakan perasaan aneh ketika menangkap mata biru Freya. Padahal banyak sekali manusia yang memiliki mata biru di luar sana. Namun matanya dan juga mata Freya berbeda. Mereka berdua memiliki mata Eyerish Air. Freya adalah gadis kecil pemalu. Dia hanya mengangguk sebagai sahutan dari sapaan El, kemudian malah bersembunyi di balik punggung ibunya. "Kau pasti suka bermain di pantai." kata El. "Sayangnya kami tidak pernah menyentuh laut." Naura menghela nafas dan fakta itu cukup mengejutkan El. "Hanya kelompok pelaut saja yang boleh keluar dari Pelindung dan mencapai pantai." "Astaga," El tidak tahu dengan peraturan itu. "Sayang sekali. Padahal desa kalian begitu dekat dengan Pantai." "Tidak apa-apa," kata Freya. "Aku masih bisa melihat laut meski dari jauh." El tersenyum pada bocah perempuan itu. "Kau benar." "Kata Kaz, hidup kami bisa berubah jika Eyerish Air dan Eyerish Api ditemukan." kata Naura sambil membelai puncak kepala anaknya. "Kami nyaris tidak mempercayainya. Tentu tidak ada yang percaya jika kalian bisa lolos dari kejaran Vinctum. Jadi selama ini kau tinggal bersama manusia? Aku tidak bisa membayangkan hidup di tengah masyarakat manusia sebagai Eyerish. Pasti sungguh sulit." El hanya tersenyum kecut. "Akan sulit jika tidak ada yang membantuku." ujarnya dan benar saja. Ia mengingat betapa hebat perlindungan orang tuanya, mereka selalu berusaha menjauhkannya dari masalah besar selama ia masih bersekolah. "Apakah sebentar lagi kami bisa bermain di luar Pelindung?" tanya Freya dengan wajah polos. Pertanyaan itu membuat El dan Naura terdiam sesaat. "Tentu saja, sayang." Naura memutuskan untuk menjawab setelah melihat sekilas keraguan di wajah El. Ia membelai kepala putrinya dengan lembut. "Untuk itu kau harus selalu berdoa kepada Tuhan." "Aku selalu berdoa kepada Tuhan!" seru Freya dan dia terlihat sangat bersemangat. "Aku berdoa agar Eyerish Air dan Api hadir untuk menyelamatkan kita!" "Anak baik." puji El, membalas senyum Naura. Sayangnya, dia tidak bisa menjanjikan apa pun. *** El baru saja selesai membantu para lelaki mengembalikan meja dan kursi yang digunakan di lapangan. Sementara para wanita merapikan dan membersihkan perlengkapan makanan. Acara makan malam di lapangan telah selesai. "Emily," akhirnya ia bisa bertemu dengan Emily. "Oh, hai, El!" sapa Emily segera. Mey dan Naura berada di kedua sisinya. Tampaknya Emily akan ke tempat menginapnya bersama kedua wanita itu. Dan keberadaan mereka berdua membuat El merasa canggung. "Wah, kurasa aku dan Naura akan ke kembali lebih dulu." Mey segera memahami situasi. "Kau masih ingat letak rumah Naura kan, Emily?" "Oh? Ya, tentu saja!" jawab Emily segera. "Jangan terlalu malam, Emily. Udara malam Jasper cukup dingin. Kau bisa sakit." Naura mengingatkan. "Jangan khawatir, Nona-Nona. Aku akan mengantarkannya pulang sebelum larut." Kata El. "Wah, sopannya. Ingat ya, jangan macam-macam di desa ini,” peringat Mey sambil tersenyum menyeringai pada El. "Baik, Nona. Aku adalah pria paling sopan, asal kau tahu,” ujar El, melototi Mey yang malah tertawa. Akhirnya kedua wanita itu melangkah pergi meninggalkan El dan Emily berdua saja. "Cewek itu benar-benar menyebalkan." gumam El jengkel. "Siapa? Meysha?" Tanya Emily sambil tertawa kecil. El hanya mendengus saja. "Dimana Ben?" tanya wanita itu kemudian. "Dia sudah kembali ke kamarnya, bocah itu makan seperti harimau. Mungkin dia sudah tertidur karena kekenyangan." jawab El sambil mendengus. Emily malah tertawa mendengarnya. Mungkin bagi wanita itu Ben sungguhlah bocah yang masih lucu-lucunya. "Apa yang ingin kau bicarakan?" tanyanya kemudian. "Ikuti aku," ajak El. "Aku menemukan tempat yang bagus. Kita bisa melihat tepi pantai dari sana." "Tapi, El." Emily segera mengikuti. "Bukankah kita tidak boleh keluar dari Desa tanpa izin?" "Kita tidak akan pergi keluar," El meyakinkan. "Ikuti saja." Ia segera meraih tangan Emily. Perasaannya menghangat ketika menyentuh kulit hangat wanita itu. Rasanya sudah berhari-hari ia tidak memegang tangan Emily. Ia merindukannya. El mengajak Emily ke tempat dimana Kaz membawanya tadi siang. Setelah melewati perkebunan dan deret pepohonan, mereka sampai di penghujung dimana batas dinding udara berada. Di baliknya, sekitar 100 meter di hadapan mereka adalah tepi pantai. "Apakah kau sudah tahu mengenai Dinding Pelindung?" Tanya El. Emily mengangguk. "Ya, Meysha telah menjelaskan banyak hal mengenai Jasper. Jadi dimana Dinding Pelindung itu?" "Dihadapanmu," jawab El. Emily mengejutkan dahi ketika mendengarnya. Tentu ia tidak melihat apa-apa. "Dinding itu tidak kasat mata." El menyentuh bagian tak kasat mata dihadapannya. Emily mengikutinya, dan ekspresi wanita itu berubah ketika menyentuh permukaan dingin pada udara dihadapannya. "Wah." Gumam Emily takjub. "Seperti kaca." El mengangguk. "Benar sekali. Kaz sungguh hebat mampu membangun pelindung seperti ini." ujarnya. Ia menoleh, mengamati Emily lekat-lekat. "Kau tampaknya tidak merasa canggung dengan keanehan tempat ini." komentarnya. "Aku tidak menyangka kau sangat mudah beradaptasi." Emily tersenyum. "Sejujurnya aku merasa canggung. Tapi entah kenapa aku lebih menyukai tempat ini daripada di Kota." Ia menghela nafas. "Rasanya aku baru bisa bernafas di sini." "Kau benar-benar merasa lelah tinggal di kota?" Tanya El, suaranya terdengar menuntut. "Kau tidak pernah memberitahuku." Emily tertawa kecil. "Rasanya tidak adil jika aku mengeluh kepadamu, padahal aku sudah memiliki segalanya selama di Kota. Dan semua itu karena kau dan juga orang tuamu. Karena kalian aku menjadi terpelajar, juga aku bisa mendapatkan pekerjaan yang baik. Ditambah kau yang selalu ada untukku." "Lalu kau tidak menyukainya?" Tanya El, menyipitkan mata memandang Emily. Ia tidak pernah mendengar wanita ini mengatakan semua hal itu. Emily tersenyum canggung. "Kalian adalah keluarga yang baik." Senyum wanita itu tampak kecut. "Kau ingat? Di masa lalu aku adalah anak yang sangat bermasalah. Aku membuat anak-anak lain menderita. Dan karena aku, seorang anak..." "Emily, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas masa lalu?" sela El segera. Emily menggeleng. "Aku selalu mengingat kejadian itu. Aku melihatnya jatuh dihadapanku, El. Aku tidak akan pernah melupakannya seumur hidupku." "Em, kau masih sangat kecil... kau tidak tahu apa yang kau lakukan. Dan itu disebabkan oleh perlakuan orang tuamu." Emily menggeleng. "Aku sudah tahu kau berbeda sejak dulu, El." El terkesiap mendengarnya. "Aku tahu kau berbeda, kau dan Skylar." El tak mampu mengucapkan sesuatu untuk membantah. "Aku tahu Skylar berbeda. Dan entah kenapa aku takut padanya. Aku menekan keberadaannya. Dan dia ketakutan. Aku tidak sengaja, aku hanya bercanda ketika itu. Aku pernah melihatnya melakukan sesuatu yang aneh pada air. Gara-gara itu aku merasa takut, aku mengancamnya akan memberitahukan hal itu pada polisi. Dan dia... dia menangis lalu.. ketika itu... kita sedang berkemah... dan dia berlari tepi danau... dan..." El membeku dalam posisi berdiri, menatap Emily dengan mulut sedikit terbuka, kehilangan kata-kata. Ia tidak pernah tahu kejadian yang sebenarnya selama ini. Ia hanya tahu, Skylar, teman sekolahnya sewaktu sekolah dasar, tak sengaja terjatuh ke danau ketika mereka sedang berkemah. Ia tidak pernah tahu. Emily menangkup kedua tangannya yang gemetar, tampaknya ia belum selesai mengatakan semua perasaan yang sudah ia sembunyikan sejak dulu kepada El. "Ya, El. Aku sungguh bermasalah. Aku tidak mengerti mengapa orangtuamu mau mengadopsiku setelah kematian orangtuaku. Kalian bahkan mau menyekolahkanku. Dan kau... aku tidak mengerti mengapa kau memilihku. Aku merasa aku sama sekali tidak pantas untukmu. Satu-satunya yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku adalah bersikap baik kepada kalian. Aku menuruti apa pun kemauan kalian. Jurusan yang orang tuamu pilih, hingga jenis pekerjaan yang kalian berikan kepadaku. Dan..." Emily memandang cincin pertunangan di jari manisnya. "Aku tidak pantas untukmu, El. Aku sangat ingin memberitahumu sejak dulu." "Emily, kau... sedang bercanda kan?" El tergagap. Sepertinya ia salah dengar. Atau mereka berdua sedang mabuk? Tapi mereka tidak disuguhkan minuman beralkohol sama sekali di acara makan malam tadi. Mereka berdua sama-sama waras. Emily menggelengkan kepala, pasang matanya berkaca-kaca. Wanita itu melepas cincin dari jarinya. "Kau pantas membenciku, El." ---*---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN