Chapter 24. Ingatan Ambigu

1299 Kata
Chapter 24. Ingatan Ambigu Vinctum. Alarm berderu dengan lampu merah berkelap-kelip pada beberapa sekat, tanda jika duel telah selesai. Para Petugas berpakaian serba putih segera membuka pintu kemudian mengamankan murid yang terluka. Murid yang terluka parah diangkut dengan brankar. Rom mengamati para Petugas berpakaian serba putih yang melintasinya. Rom melihat bahwa murid yang menang bervariasi. Sebagian besar anak-anak berusia 18 tahun ke bawah yang memenangkan duel itu. Wajah mereka terlihat puas, dan mereka bersorak girang meski dengan tubuh yang terluka. Entah mengapa Rom merasa sebagian besar orang-orang dewasa yang menjadi lawan terlihat tidak sehat. Wajah mereka pucat dan lingkaran hitam terlihat jelas di bawah mata mereka. "Kemari, kita datang di waktu yang tepat!" Sky mengajak Rom berpindah ke sekat berikutnya. Rom terpaksa mengikuti Sky meski ia mulai tidak betah berada di dalam gedung yang ramai dengan bunyi-bunyi perkelahian ini. Rom menemukan Ares di dalam sekat yang ditunjuk oleh Sky. Si Bocah buta duduk di atas kursi dengan kucing belangnya di pangkuan. Dan lawan bocah itu berdiri di seberangnya. Ada tiga orang, dua anak kecil dan satu orang dewasa. Ini bukan duel lagi. "Perhatikan," tunjuk Sky, wajahnya tampak bersemangat. Sementara Rom membelalak tegang ke balik jendela dihadapannya itu. Aba-aba diberikan oleh seorang Petugas. Baru beberapa detik dimulai, salah satu dari ketiga orang itu mendadak jatuh berlutut, yaitu bocah yang paling kecil. Namun detik kemudian bocah itu berdiri tegap, lalu mengendalikan angin untuk menjatuhkan kedua temannya. Perkelahian hanya terjadi diantara ketiganya, sementara Ares tetap duduk diatas kursi sambil membelai punggung kucingnya. Perkelahian berakhir ketika bocah paling kecil berhasil menang dari kedua temannya yang sudah terbaring tak berdaya. Kemudian bocah itu juga ikut roboh ke lantai, tak sadarkan diri. Barulah alarm berbunyi di sekat itu. Rom segera mundur dari jendela. Matanya membelalak, memandang para petugas yang satu-persatu mengangkat ketiga orang yang sudah tak sadarkan diri itu ke atas brankar. Sementara ia dapat merasakan pandangan Ares ke arahnya. Ia mendadak merasa pening. *** Rom memuntahkan semua isi perutnya. Ia duduk lemas di lantai bilik, nafasnya tersengal. Sementara ingatannya berputar-putar. Kejadian kebakaran di Panti Asuhan muncul dengan sangat jelas di dalam kepalanya. Ia ingat dengan jelas siapa bocah berambut perak yang memasuki hutan saat itu. Bocah itu adalah Ares. Ya. Bocah itu muncul di sana, di Panti Asuhan. Itulah mengapa ia merasa pernah melihat bocah albino itu. Dan ia membakar gedung panti asuhan dengan tangannya sendiri. Rom terisak, ia tidak percaya dengan ingatannya. Tidak mungkin. Tidak mungkin. Ingatannya terus berputar. Ia mendengar samar-samar teriakan orang-orang di dalam panti asuhan. Wajah-wajah ketakutan mereka di balik jendela sebelum ia memercikkan api dengan tangannya sendiri. Ia mengingat semuanya dengan jelas. Dia lah pelakunya. Dia yang membunuh orang-orang panti asuhan. *** Jasper. El masih berada di dalam Rumah Batu, begitu Kaz menyebut bangunan kuno yang terbuat dari batu itu. Ia duduk di meja batu berbentuk lingkaran di tengah ruangan, merenung. Sementara Ben sedang mengetik, entah kapan bocah itu membawa laptop. "Hhh," Ben menghela nafas. "Aku tidak habis pikir...” keluhnya. El menoleh pada anak laki-laki itu. “Tentang apa?” “Tentang ketamakan kami, para Manusia.” Ben menggelengkan kepalanya. “Aku rasa mereka pasti Manusia dari dunia kami.” El tidak perduli darimana asal para Manusia yang menghancurkan negara para Eyerish. Dia berusaha tidak peduli. Dia tidak ingin terlibat lebih jauh. Tapi fakta yang disampaikan oleh Kaz kepadanya menggelisahkannya. "Menurutmu, apakah Rom masih hidup?" tanya El. "Pastinya. Mana mungkin mereka membunuh Eyerish langka." Jawab Ben segera dan itu masuk akal. "Kau benar. Mereka pasti menggunakan Rom sebagai senjata ampuh sebelum dia mati." "Hei, El." Kata Ben. "Aku akan minta lagi darahmu. Aku ingin memeriksa lebih jauh mengenai sel tubuh kalian. Siapa tahu aku bisa menghentikan kematian para Eyerish." "Haha, mulia sekali." Komentar El datar. "Silahkan." Mati muda? Yang benar saja! Ia masih tidak percaya dengan fakta lainnya yang disampaikan oleh Kaz. Eyerish mati di usia muda. Gila kan? Padaham Masih banyak hal yang sangat ingin ia lakukan. Termasuk melanjutkan pernikahannya dengan Emily. "Ck, kenapa kau terlihat lesu begitu?" tanya Ben akhirnya. "Sudah berjam-jam kau merenung di tempatmu. Apa yang ada di dalam pikiranmu?" El mengangkat bahu. "Entahlah." jawabnya datar. "Aku memikirkan nasibku. Tidak ada jalan keluar. Aku terjebak di sini. Dan sialnya salah satunya aku juga memikirkan nasib Rom." "Ya, aku juga memikirkan nasibnya." Ben mengangguk setuju. "Kau ingat kan betapa polosnya pria itu? Dia pasti akan mudah dimanfaatkan," gerutu El. "Ah, sial. Dia punya kekuatan sebesar itu, tapi dia lebih memilih menjadi pecundang. Dan sekarang dia ditangkap. Aku benar-benar tidak habis pikir dia selemah itu." "Hmm, entahlah. Keluguan Rom adalah nilai plus. Aku ragu dia akan semudah itu dimanfaatkan." Komentar Ben. "Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika Rom seperti dikendalikan? Rom menyerang kalian ketika di Goshenite!" seru El mengingatkan. "Kaz mengatakan jika Sasha adalah Eyerish Pengendali Pikiran, mungkin saja Sasha yang mengendalikan Rom ketika di Goshenite." "Sasha tidak mungkin melakukan hal itu, El," kata Ben segera. "Oh ya? Memangnya kau yakin Sasha berada di pihak kita? Bocah perempuan itu tidak banyak berbicara seingatku, mungkin saja dia tidak dapat dipercaya." "Astaga, El..." "Aku tidak mengerti mengapa kita tidak memperhatikan Sasha ketika itu..." El terus melanjutkan spekulasinya mengenai Sasha. "Sasha tidak mungkin menyerang kita El, begitu pula Rom! Pasti ada orang lainnya yang mengendalikan Rom! Dan jelas bukan Sasha orangnya!" Ben tidak tahan untuk berargumen. "Aku melihat mereka menangkap Rom dan Sasha menaiki helikopter. Orang-orang itu pasti berasal dari Vinctum" ujarnya. "Dan menurutku Kaz ingin meminta bantuanmu. Mereka pasti ingin menyelamatkan Sasha sekaligus Rom dari Vinctum." El menghela nafas. "Aku tahu itu." "Jadi apa jawabanmu? Sepertinya dia tahu sifatmu dengan baik walau baru pertama kali bertemu." Ben mendengus. "Ya, pikirkan saja. Aku tidak mungkin memaksamu juga. Kau kan selalu ingin berada di zona amanmu." "Hhh, dasar sial...." El mengacak-ngacak rambutnya. "Ya! Ya! Aku akan pergi ke sana!" serunya mendadak. Seruan El cukup mengagetkan Ben. "Apa?" tanya Ben terperangah pada pria berambut pirang di depannya itu. "Kau serius akan menolong Rom?" tanyanya untuk memastikan. Ia tidak menyangka akan mendengar keputusan dengan begitu cepat. Padahal ia menduga El akan memerlukan waktu beberapa hari untuk memikirkan permintaan Kaz. "Kau tuli ya? Aku bilang aku akan ke sana!" seru El jengkel. "Wah keputusan yang sangat bagus!" Suara ketiga muncul mengagetkan, diikuti suara langkah kaki memasuki ruangan. El dan Ben menoleh kaget dengan kehadiran Mey disusul Emily. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya El tajam pada Mey. “Santai, El. Kenapa kau terus memusuhiku sih? Lagi pula ini tempat milik Kaz. Tentu aku bebas keluar masuk ke sini,” ujar wanita itu sambil tersenyum menyeringai. "Dan aku berpikiran persis sama denganmu, bocah!" lanjut Mey sambil merangkul pundak Ben, membuat bocah laki-laki itu terkejut. "Ap... Apa?" tanya Ben kebingungan. "Aku juga mengira El Shan akan memerlukan waktu cukup lama untuk mau bergabung dengan operasi kami, tapi syukurlah dia masih memiliki rasa empati yang tak kuduga!" seru Mey. Sementara El menatap jengkel Mey. Entah kenapa setiap kata-kata Mey selalu terdengar menghinanya, kontras sekali dengan nada suaranya yang riang itu. "Mungkin karena kalian baru mengenal El, dia tidak seegois itu, sebenarnya dia sangat mudah berempati dengan orang-orang yang kesusahan," jelas Emily dengan senyum lembutnya. "Benarkah, Emily? Wah sepertinya kami akan kesulitan memahami pria ini." Meysha malah tertawa mengejek. "Pria yang sangat mudah berempati ini." El hanya mendengus jengkel. Tentu hanya Emily yang memahami sifatnya dari pada orang-orang ini. "Tapi aku sangat senang dengan keputusanmu, El! Kau harus segera memberitahu Kaz! Kurasa Kaz akan membicarakan rencananya esok hari." Mey tampak bersemangat. "Oh ya, tujuan kami berdua ke sini untuk memberitahu kalian jika makan malam sudah siap." "Makan malam?" ulang El segera. Oh astaga, gara-gara mendengarkan kisah Kaz, Ia sampai lupa waktu. Tak terasa ia sudah seharian berada di tempat ini. "Sial, pantas saja perutku keroncongan." Keluh El. ---*---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN