Chapter 23. Sky
Ares tidak memberikan penjelasan apa pun lagi. Bocah itu sangat sulit untuk dimintai penjelasan dan lebih memilih diam membisu setelahnya. Rom menyerah. Ia merasa lelah menghadapi situasi asing yang membingungkan ini.
Setelah makan, barulah Ares membuka suara.
"Aku akan mengantarkanmu bertemu Profesor."
Rom kembali mengekori si kucing yang melangkah di depan, dan Ares yang berjalan dengan kepala tertunduk. Mereka sampai di depan sebuah pintu, di bawah pintu itu bertuliskan ruangan X-147-R.
"Masuklah. Aku hanya akan sampai di sini." Ujar Ares.
"Siapa yang akan kutemui?" tanya Rom. Ia membayangkan Profesor yang dimaksud seperti Kepala Panti Asuhannya di masa lalu. Tua dan berwajah mengintimidasi. Bisa saja memiliki janggut dan kumis. Dan itu sedikit menakutkan baginya meski usianya sudah dewasa.
"Orang yang akan menjawab semua pertanyaanmu."
"Tunggu dulu," Rom segera menahan bocah itu pergi. "Sejak tadi aku ingin membicarakan ini." Ujarnya. Ia takut ia tidak akan bisa bertemu dengan bocah itu lagi. "Apakah kita pernah bertemu?"
Bocah itu tidak segera menjawab.
"Tidak."
Rom terdiam sesaat mendengar jawaban Ares, namun ia masih yakin jika ini bukan kali pertamanya melihat Ares. “Apakah kau mengenal Sasha?" ia bertanya lagi.
Lagi-lagi bocah itu terdiam. Dan untuk pertama kalinya, ia mengangkat wajahnya. "Sasha baik-baik saja." Kemudian ia berbalik pergi dengan si kucing yang melangkah memimpin jalan.
Sementara Rom terpaku di tempatnya, ia terdiam dalam keterkejutan setelah melihat wajah bocah itu dengan jelas. Benar. Wajah bocah itu tidak asing. Namun ia tidak yakin dimana ia pernah bertemu dengan Ares. Dan salah satu yang membuatnya terkejut adalah bola mata pucat bocah itu yang mati. Ares... pasang matanya buta.
Rom akhirnya memasuki ruangan di depannya setelah mengetuk tiga kali. Ia tidak mendapat sahutan sehingga memutuskan untuk masuk saja.
Ia memasuki sebuah ruangan kantor biasa. Perabotan di dalamnya tampak normal. Rak buku yang dipenuhi deretan buku tebal. Sebuah TV, telepon, hiasan vas bunga. Meja dan kursi kerja, sebuah laptop. Semuanya tampak normal.
"Kau sudah di sini?"
Ia terlonjak kaget dan segera berbalik. Seorang pria sebaya dengannya memasuki ruangan, tersenyum hangat padanya.
"Halo, kau pastilah Arom Eden." Ia segera menjabat tangan Rom bahkan sebelum Rom sempat menjulurkan tangannya. "Namaku Sky."
"Ha-Hai." Rom tampak gugup. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan seseorang yang sebaya dengannya. Ditambah orang itu terlihat ramah. Jadi orang ini adalah Profesor yang dimaksud oleh Ares?
"Aku tidak menyangka kau akan datang lebih cepat dari yang kukira." Pria itu segera duduk di kursi kerjanya. "Duduklah." Ia mempersilahkan.
Rom duduk dengan patuh. "Seorang anak laki-laki yang mengantarkanku ke sini." Ujarnya.
"Oh ya? Siapa?"
"Ares.”
"Oh, Ares? Tentu saja. Dia adalah salah satu murid unggulan di sekolah ini."
"Sekolah?" ulang Rom segera. "Tempat ini sekolah?"
Sky tersenyum ramah. Dia adalah pria yang tampan dengan tubuh ramping, rambut hitamnya klimis rapi, kulitnya putih dan bola matanya hitam pekat. Ia mengangguk.
Sky segera berdiri, kemudian mendekati jendela besar di belakang kursinya, menunjuk ke luar. "Selamat datang di Vinctum." Ujarnya. "Sebuah sekolah untuk para Eyerish."
Pandangan Rom berbinar takjub ketika mendengar kata-kata Sky. Ia segera berdiri, melangkah mendekati jendela yang ditunjuk oleh SKy, dari balik kaca ia melihat halaman luas di bawah bangunan, dan di ujung lain, tampak berderet-deret bangunan lainnya.
"Di luar gerbang itu adalah perkotaan di Feldspar." Jelas Sky. "Kami menemukanmu dalam keadaan luka parah, maka kami membawamu ke kota kami. Maaf jika membingungkanmu, tapi kami khawatir jika kau lepas kendali, sehingga kami terpaksa menguncimu di basemen. Mari kembali duduk."
"Jadi... kau menemukanku?" tanya Rom. "Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tahu-tahu aku sudah berada di sini dan tanganku penuh luka bakar."
"Oh ya, kau mengalami keadaan lepas kontrol, hal ini biasa terjadi pada para Eyerish."
"Tidak mungkin," kata Rom. "Aku yakin aku selalu berusaha mengontrol kemampuanku. Hal ini tidak pernah terjadi sama sekali padaku."
Sky tersenyum saja. "Begitu menurutmu, tapi kami mendeteksi keadaanmu dalam status bahaya."
Rom menutup mulutnya. Fakta itu kedengaran menakutkan baginya. Jadi dia memang bisa lepas kendali seperti itu? Bukankah hal itu kedengaran sangat berbahaya?
"Jangan khawatir. Kau aman di sini."
"Bagaimana dengan Sasha?" tanya Rom, teringat. "Aku ingat aku sedang bersamanya sebelum aku tidak ingat apa-apa."
"Sasha berada di tempat yang aman." Sky meyakinkan. Jawabannya sama dengan Ares. Namun Rom merasa ada yang janggal dari sorot mata Sky. Bisakah ia mempercayai pria ini?
"Apakah aku bisa menemuinya?"
"Oh, sayangnya dia sedang dirawat." Jawab Sky. "Mungkin kau tidak tahu, tapi dia menderita sakit parah. Karena itu dia harus dirawat."
"Sakit parah?" ulang Rom kaget.
"Terima kasih sudah menjaga Sasha. Sebenarnya dia kabur dari kota ini gara-gara Seseorang mempengaruhinya, padahal dia memiliki tubuh yang lemah. Orang yang menculiknya itu adalah pengkhianat. Namanya Meysha, apakah kau pernah mendengar nama itu?"
Rom terkesiap.
"Oh tentu saja kau pernah mendengarnya. Sudah pasti Sasha selalu menyebutnya. Bocah malang. Dia terlalu percaya jika wanita itu akan menyelamatkannya, sebenarnya itu tidak pernah terjadi. Wanita itu hanya mempengaruhi murid kami untuk keluar dari zona aman ini."
"Apakah Sasha separah itu?"
"Ya," Sky mengangguk. "Aku adalah penanggung jawabnya. Kondisinya tidak cukup baik setelah berkeliaran di dunia luar cukup lama. Dia akan perlu banyak waktu untuk beristirahat."
"Siapa Sasha sebenarnya? Apakah dia adalah Eyerish? Dan kau... kau juga Eyerish?"
Sky tersenyum mendengar pertanyaan Rom. "Ya, aku dan Sasha adalah Eyerish. Hanya saja Sasha berbeda, kondisinya berbeda karena kekuatannya terlalu besar untuk bisa beradaptasi dengan tubuhnya yang masih muda."
"Apakah.... Ada banyak Eyerish di sini?"
"Ya, Kawan. Kalau boleh aku menganggapmu sebagai kawan karena usia kita tidak jauh berbeda." Sky tersenyum lagi.
"Tentu saja!" seru Rom segera. Entah kenapa dia merasa senang ada seseorang yang ingin menjadi temannya. Apalagi orang itu juga adalah jenis yang sama dengannya.
"Kalau boleh tahu, kau memiliki kekuatan seperti apa?" tanya Rom sedikit ragu-ragu. "Ma-Maaf, jika pertanyaanku lancang, kau bisa mengabaikannya saja."
Sky malah tersenyum, ia menopang dagunya sambil menatap tajam Rom. "Aku sama denganmu."
***
Rom mengikuti Sky ke "Area Latihan". Begitu yang dijelaskan oleh Sky. Area itu tampak ramai dan dipenuhi bunyi-bunyi aneh semacam ledakan dan teriakan. Rom tampak gelisah ketika memasuki ruangan itu. Dari lorong, ia bisa melihat melalui jendela kaca besar, dimana dibaliknya ada halaman besar yang bersekat dinding tebal. Pada setiap sekat terdapat dua orang yang saling berhadapan. Anak kecil dan orang dewasa, mereka bertarung sama lain dengan kekuatan yang berbeda.
Pertarungan itu menimbulkan suara-suara keras dan teriakan. Dan tepat di jendela di dekat Rom, sebuah batu besar terhempas ke jendela. Batu itu hancur menabrak jendela, kemudian terdengar suara sirine dari sekat itu.
Rom masih terkesiap melihat pemandangan itu.
"Apa ini?" tanyanya, menoleh pada Sky yang terlihat asyik menonton.
"Jangan khawatir, Rom. Ini hanya latihan." Sky berkata ringan. "Kau tahu kan jika Eyerish bisa menyembuhkan diri lebih cepat daripada manusia normal? Mereka akan baik-baik saja."
"Tapi kenapa anak-anak melawan orang dewasa?" tanya Rom tidak mengerti. "Aku rasa itu tidak adil."
"Oh, itu tidak masalah. Berapa pun usiamu, kau harus siap melawan. Mereka sedang mengajari anak-anak sebelum mengetahui area sebenarnya."
"Area sebenarnya?" ulang Rom. "Apakah kalian akan berperang atau apa?"
"Ckckck, Rom..." Sky tertawa kecil melihat kepolosan Rom. "Kau adalah Eyerish yang tinggal di kota manusia. Bukankah kau mengetahui ketidakadilan yang disebabkan oleh manusia di sana? Yang kami lakukan di kota kecil ini adalah berlatih bertahan hidup. Kami takut, karena kapan saja manusia bisa menyerang kota kami. Keserakahan dan kedengkian mereka membuat mereka tidak ingin membiarkan Eyerish tinggal dengan damai. Ketakutan mereka dengan kekuatan kita yang dianggap seperti kekuatan setan ini, adalah mimpi buruk bagi mereka. Karena itu mereka sudah mempersiapkan tentara dengan senjata untuk melawan kita.
Populasi kita lebih sedikit dari mereka, sementara mereka lebih banyak dan disenjatai peralatan modern yang tidak kenal ampun, mereka akan membunuh siapa saja yang tidak sama dengan spesies mereka. Bahkan bayi pun akan mereka bunuh tanpa pandang bulu. Tentu kau tidak pernah mendengar sejarah nenek moyang kita ketika mereka dibantai oleh manusia-manusia pendatang baru. Rom, setiap tanah yang kau injak di dunia ini, semua itu adalah tanah milik kita, Eyerish. Namun para manusia telah merebutnya dari kita."
Rom terdiam. Ia tidak punya argumen untuk membalas Sky. Mungkin Sky benar, namun tetap saja. Melihat anak-anak berduel dengan orang dewasa, rasanya tidak benar.
---*---