Chapter 22. Ares

1212 Kata
Chapter 22. Ares Rom dijemput oleh dua perawat laki-laki yang mengenakan seragam serba putih. Ia hanya diberi perintah untuk mengikuti keduanya keluar dari sel. Ia ingin banyak bertanya, namun ia teringat kata-kata Sasha untuk 'bersikap baik'. Selama di panti asuhan, 'bersikap baik' diartikan dengan patuh dan diam. Maka ia patuh mengikuti mereka tanpa banyak bicara. Ia takut jika ia mengeluarkan kata-kata maka ia akan membuat masalah. Rom tidak tahu tempat apa ini, mereka terus berjalan di sepanjang lorong yang kiri kanannya berupa sel, persis seperti sel yang ia tempati tadinya. Apakah tempat ini penjara? Namun semua sel isinya kosong. Dan akhirnya ia dibawa menaiki tangga. Rom menyipitkan mata ketika mendapat silaunya sinar matahari. Ia keluar dari ruangan temaram, kini mendapati lantai dan dinding berwarna putih memantulkan sinar cahaya matahari yang menerobos dari jejeran jendela besar berdinding kaca. Ia celingukan kebingungan, namun kedua perawat di depannya sama sekali tidak berniat memberikan jawaban tempat apa ini. Tempat asing yang membingungkan. Mereka beberapa kali berpapasan dengan orang-orang. Seorang wanita yang juga mengenakan seragam serba putih berjalan dengan diekori oleh beberapa anak kecil di belakangnya. Setiap anak berjalan dengan menundukkan wajah. Tidak ada satu pun yang mengangkat wajah, bahkan menyapa. Lorong itu sepi meski dilalui orang-orang, hanya ada suara langkah kaki yang mendekat dan menjauh. Mereka berbelok ke lorong sebelah kanan di pertigaan koridor, dan di sana terdapat lorong yang dibatasi dengan jeruji yang dicat putih. Salah satu dari perawat itu membuka gembok pintu. “Selamat datang di Vinctum. Sekolah terbaik di Feldspar.” Si perawat menunjuk pada papan nama yang berada di atas pintu sel. A-11. "Di sini kamarmu. Nomor kamarmu adalah A-11-01. Di dalam kamar itu sudah terdapat pakaian ganti. Hanya ada satu kamar mandi di ujung lorong. Pintu sel akan dibuka setiap pukul 8 pagi, dan dikunci kembali setiap pukul 8 malam. Ada buku panduan di dalam kamarmu, kau harus membaca isinya dengan seksama. Kami hanya akan menjelaskan beberapa peraturan umum yang penting. Peraturan Umum ini akan mendapat hukuman berat jika dilanggar." Jelas si perawat berambut merah. Perawat satunya yang berambut cokelat melanjutkan, "Ada tiga peraturan umum, yaitu, Satu: sarapan, makan siang, dan makan malam harus dilakukan bersama di aula, akan selalu ada absensi. Kau akan mendapat hukuman jika tidak hadir dalam tiga waktu tersebut terkecuali jika diberikan izin oleh Profesor. Dua, tidak boleh mengangkat wajah ketika dilorong dan juga tidak boleh berbicara di lorong. Tiga, harus selalu berada di dalam kamar ketika pintu sel dikunci, dilarang keras berkeliaran setelah jam 8 malam atau kau akan mendapatkan skors dengan hukuman yang sangat berat." "Saat ini sudah memasuki jam makan siang. Jam makan siang berlaku dari pukul 12 hingga 14. Segera mandi dan berganti pakaian. Kau punya satu jam lagi untuk makan siang di Aula. Aula berada di lorong sebelah kanan di pertigaan tadi yang kita lewati sebelum menuju sel A-11, kau bisa membaca petunjuk arah yang tertera di lantai. Setiap petunjuk berada di lantai. Jadi tidak diperkenankan untuk mengangkat wajah ketika berada di lorong." "Sampai di sini jelas?" Rom hanya menganggukkan wajah. Ia mulai yakin tempat ini tidak jauh berbeda dengan panti asuhan. Rasa trauma muncul di dalam dirinya. Lagi-lagi ia harus hidup dengan peraturan keras. *** Dalam sel itu terdapat 6 kamar yang ruang di dalamnya cukup luas, mungkin muat untuk dihuni tiga orang. Rom mana pernah menempati kamar seluas ini sendirian. Bahkan kamar mandinya juga sangat luas. Lucunya, ia merasa gelisah ketika mandi sendirian di dalam kamar mandi yang besar itu. Sesuai instruksi, ia mengganti pakaiannya dengan seragam biru, persis seragam yang ia lihat dikenakan oleh setiap anak-anak yang berpapasan dengannya. Ia bergumam kagum karena seragam itu sangat pas ditubuhnya. Ia segera keluar dari kamar, dan terkejut melihat seekor kucing berwarna abu-abu belang putih telah menunggu di depan pintu sel. Seorang bocah laki-laki berambut perak berdiri di belakang kucing itu –dengan menundukkan wajah. "Hai?" sapa Rom ragu. "Aku akan membawamu ke aula." kata bocah itu tanpa basa-basi dan tanpa mengangkat wajah, kemudian segera berbalik. Si kucing meloncat mendahului si bocah berambut perak. Rom memutuskan untuk mengikuti si bocah. Si kucing berjalan paling depan dengan langkah anggun. Sementara Rom dan si bocah berambut perak berjalan dalam diam sambil mengikuti langkah si kucing. Rom ingat dengan peraturan untuk tidak mengangkat wajah. Ia terpaksa menundukkan wajahnya. Ia telah melihat sebelumnya jika di setiap sudut lorong terdapat Kamera Pengamat. Jika ia tidak mematuhi peraturan ini, mungkin ia akan mendapat sanksi pertamanya dalam waktu yang singkat. Maka ia mematuhi peraturan itu dengan menundukkan wajahnya di sepanjang lorong, mengikuti langkah si kucing. Mereka sampai di aula yang dimaksud. Aula itu terasa 'hidup' bagi Rom karena di sana terdengar suara mengobrol, meski terdengar pelan. Tidak ada peraturan untuk menundukkan wajah di dalam aula, semua orang tampak berkomunikasi dengan normal, saling berhadapan wajah. Rom yang kebingungan terdiam sesaat mengamati perubahan suasana itu. "Hei." Si bocah berambut perak memanggilnya. Ia segera kembali mengekori si bocah, menuju ke sebuah meja tempat pembagian makanan. Setelah diberi nampan yang berisi makanan, Ia kembali mengikuti si bocah yang memilihkan tempat. "Namaku Rom," kata Rom, memutuskan untuk membuka percakapan. "Namamu siapa?" Si bocah makan dengan kepala tertunduk, hingga sekarang ia belum juga mengangkat wajahnya. Sementara si kucing yang duduk di meja di sebelah nampan milik bocah itu, membelalakan bola mata kuning cerahnya pada Rom. "Ares." Jawab si bocah tanpa mengangkat wajahnya. "Oh, hai, Ares." Kata Rom. "Terima kasih sudah mengantarkanku ke aula." ia menoleh ke sekitarnya, dan menyadari jika penghuni ruangan aula adalah anak-anak. Mungkin mereka semua adalah anak-anak dengan usia di bawah 18 tahun, menurutnya. Dan ia merasa tidak nyaman karena menyadari semua anak-anak di dalam ruangan, seperti melirik ke arahnya secara diam-diam. Mereka semua seperti sedang membicarakannya. Tentu aneh melihat orang dewasa berada di ruangan yang dipenuhi anak-anak. "Apakah... orang-orang dewasa sudah selesai makan?" tanya Rom, sedikit gugup. "Semua Perawat dan Profesor makan di aula yang berbeda." Kata Ares. "Di sini adalah tempat kita untuk makan." "Kita?" "Eyerish." "Ap... Apa?" Rom seperti terlonjak, ia tidak sengaja menjatuhkan sendoknya ke lantai hingga menimbulkan bunyi kelontang nyaring, membuat semua pasang mata semakin tertarik tertuju ke arahnya. "Eyerish?" ulang Rom, berbisik. "Ki... Kita? Itu artinya... kalian adalah Eyerish?" "Ya." Jawab Ares segera. "Berapa usiamu? Kau kelihatan sehat untuk usia yang menuju ajal." "Ap... Apa?" "Kau tidak tahu ya?" tanya Ares. “Tahu apa?” perhatian Rom teralihkan sebentar pada kucing abu-abu belang yang sedang menjilati kaki depannya. “Masa hidup Eyerish sangat pendek, mungkin hanya sampai usia sekitar 30 tahun.” "Apa maksudnya?" "Kau bodoh ya?" Ares nampaknya tidak memperdulikan usianya yang jauh berbeda dengan Rom. "Itu artinya kau sebentar lagi akan mati jika usiamu sudah 30 tahun." Rom mematung di tempatnya. Apakah dia benar-benar akan mati pada usia semuda itu? "Habiskan makananmu," perintah Ares dan si kucing melototkan mata ungu nya pada Rom. "Kau perlu energi untuk benar-benar pulih dari lukamu." "Kau... tahu?" Rom sedikit terkejut. Bagaimana bisa Ares tahu jika dia baru saja terluka? Ia memandang kedua telapak tangannya yang sudah sembuh dengan sempurna. Sekarang ia memang terlihat baik-baik saja. Ia hanya merasa sedikit tidak bertenaga. Mungkin ia memerlukan banyak energi setiap kali tubuhnya memulihkan diri. Dan ia menurut untuk menghabiskan makanan sehat ala tempat asing ini. Dia tidak begitu suka sayuran. ---*----
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN