Chapter 37. Berlayar Kembali
Mey menggigit bibirnya sambil berdiri memandang perbatasan Vinctum dan Feldspar yang sudah semakin menghilang dari jangkauan matanya. Ia masih beharap akan melihat pria berambut pirang yang berenang menerobos air laut. Sayang sekali, ia tidak melihat siapa pun. Dan ia menggunakan kekuatannya untuk mendorong kapal agar dapat melaju dari kecepatan biasa, membuat Pulau kembar itu semakin jauh.
Mey menghela nafas, terduduk di buritan kapal karena kakinya yang sudah lelah untuk terus berdiri.
Efek pil kordaks sudah menghilang dari tubuhnya namun ia masih merasa tidak nyaman pada perasaannya. Misi penyelamatan Rom dan Sasha berhasil sukses, namun El masih tertinggal di Vinctum. Ini artinya mereka gagal.
Kaz akan semakin meragukan kinerjanya. Ia selalu gagal.
Ketika langit sudah sore, Rom ke buritan kapal, lalu mengambil duduk di sebelah Mey.
"Aku memintanya untuk menyelamatkan seorang anak laki-laki," ujar Rom, nada suaranya terdengar jelas merasa bersalah. "Namamya Ares, dia adalah pengendali pikiran."
Mey mengangguk mengerti. "Ketika aku memasuki gedung utama, aku mendengar suara anak laki-laki. Dan dia menuntunku hingga berhasil menemukan kalian."
Rom menundukkan kepala.
"Kau mengenal anak laki-laki itu?" tanya Mey, ia berusaha untuk tidak terus menerus menunjukkan kesedihan. Ia harus mempercayai El. El adalah pria tangguh yang tidak terduga. El pasti bisa meloloskan diri.
Rom mengangkat bahu. "Dia hanyalah seorang anak laki-laki. Aku merasa dia dimanfaatkan seseorang."
"Siapa?"
"Sky."
Mey menarik nafas. Ia mengenal pemilik nama tersebut, yang merupakan Pemimpin Baru Vinctum.
Hingga malam, Mey masih duduk di buritan kapal, menghadap pemandangan di belakang kapal dengan penuh harap.
"Hei," Avi mendekati Mey, menyodorkan teh panas yang menyebarkan aroma jahe kepadanya. "Beristirahatlah, kau sudah mengendalikan angin sejak tadi pagi."
Mey menerima gelas teh itu, kemudian menyeruputnya. Seketika
tenggorokannya terasa terbakar karena kolaborasi jahe dan suhu teh yang panas. Namun sensasi selanjutnya membuat tubuhnya menghangat dan segar.
"Bagaimana Sasha?" tanya Mey.
"Bocah perempuan yang tidur itu? Yah... dia belum sadarkan diri." jawab Avi. "Tiga orang yang lain Eyerish ya? Yang mana yang Api?"
"Yang bertubuh paling tinggi."
"Wow." desah Avi. "Kalian akhirnya punya Eyerish Api."
"Punya saja tidak menjamin kita akan menang, Av."
"Kenapa? Kau meragukan Eyerish Api?" Tanya Avi bingung.
Mey mengangguk. "Bahkan dia berbahaya dalam kelompok kita. Dia tidak bisa menggunakan kekuatannya dengan baik. Dia tidak seperti El yang mudah beradaptasi dan bisa mempelajari semuanya dengan cepat."
"El memang punya banyak poin plus-plus." komentar Avi.
Menyebut nama El membuat perasaan Mey kembali tidak bersemangat.
"Kau harus percaya pada El, Mey. Dia pria tangguh meski pun orang kota." ujar Avi, menepuk pundak Mey.
Mey hanya menganggukkan kepala. Ia tidak bisa mempercayai hal ini sebelum benar-benar melihat El dengan mata kepalanya sendiri.
"Tapi Kaz pasti bisa mengajari si Api."
"Semoga saja."
"Miss," Koina tiba-tiba muncul.
"Hai, Koina sayang. Kau baik-baik saja?" Mey tersenyum melihat Koina yang muncul.
"Ya, aku suka naik kapal!" seru Koina. "Apalagi tadi aku menyetrum para penjaga yang menyebalkan itu!"
Avi cengar-cengir kikuk melihat semangat Eyerish muda itu. Tentu saja dia agak ngeri mendengar celotehan si Eyerish kecil.
"Tapi Rudy muntah-muntah. Kenapa dia bisa bertahan di lima besar padahal dia selemah itu?" sungut Koina jengkel, Mey malah tertawa, ia menarik Koina dalam rangkulan.
"Hmm, Miss?"
"Ya?"
"Ada hiu di sana."
"Hiu?"
Mey dan Avi bertukar pandang sesaat sebelum melihat ke arah yang ditunjuk Koina.
Arus deras bergerak cepat menuju ke arah kapal bagaikan monster laut sedang membuntuti mereka. Mey segera berdiri, disusul Avi dan Koina.
Mey membelalakkan mata seolah ia benar-benar melihat si pirang sedang menerobos laut dengan kecepatan tidak masuk akal. Namun arus itu mendadak berhenti.
"Itu pasti El, tapi kenapa berhenti?" Tanya Avi panik. "Atau mungkin hanya seekor monster laut saja? Tapi tidak mungkin secepat itu.... Eh, hei, Mey!?"
Mey tidak perlu banyak berpikir, ia langsung melompat ke laut, lalu berenang secepatnya menuju titik terakhir arus deras itu berhenti. Ia menyelam dan menemukan tubuh El yang terlihat tak berdaya merosot ke dalam laut. Segera saja ia menangkap tubuh pria itu, kemudian menariknya ke atas permukaan. Gerakanya agak lambat di dalam air karena dia bukan Eyerish air.
Ia berhasil menyeret El sampai ke permukaan, lalu ia menarik tubuhnya bersama El naik ke atas kapal dengan pusaran angin buatannya, ia bersama El terjatuh ke atas buritan kapal.
"Oh Ya Tuhan," kata Avi melihat kondisi El.
Tubuh El penuh darah, tampak jelas pria itu mendapatkan beberapa tembakan api di tubuhnya.
Tembakan api?
Mey membelalak tak percaya.
"Dia berenang dalam keadaan luka parah. Sudahkah kau beritahu dia jika kalian bisa mati karena terlalu memporsir kekuatan?"
"Seberapa parah, Av?" Tanya Mey khawatir.
Avi memeriksa tubuh El yang kulitnya sepucat mayat.
"Jantungnya lemah. Kita harus segera menghangatkan tubuhnya. Dia terkena hipotermia berat. Juga aku perlu menyiapkan operasi dadakan untuk mengeluarkan peluru dari dalam tubuhnya."
***
Rom melihat sendiri bagaimana keadaan El. Hal itu membuatnya semakin merasa bersalah. Ia merasa semakin kecewa dengan dirinya sendiri. Seharusnya ia tidak pernah meminta El untuk membantunya menemukan Ares. Seharusnya ia sendiri yang melakukannya.
Kini giliran Rom di buritan kapal, memandang kekejauhan dimana ia meninggalkan Vinctum. Sayangnya Ares masih di sana. Ia gagal menyelamatkan bocah malang itu.
"Hai, Rom."
Rom menoleh.
Wanita berambut abu-abu tersenyum kikuk padanya. Ia berharap ekspresi wanita itu hanya menunjukkan kecanggungan daripada rasa takut karena ia adalah Eyerish Api.
"Namaku Mey. Kita pernah nyaris bertemu," ujar Mey. "Di Goshenite, tepatnya di pantai."
Rom mengangguk membenarkan. Ia ingat pernah melihat Mey walau sekilas saja sebelum ia kehilangan kesadarannya.
"El, dia...” Rom bertanya dengan gugup.
“Aku dan Avi sudah mengeluarkan semua peluru dari dalam tubuhnya. Kami juga sudah membalut setiap lukanya untuk mencegah pendarahan. Sekarang kita tinggal menunggu. Semoga saja El masih mampu menyembuhkan dirinya.” Jelas Mey.
Rom menangkap ada nada sangat cemas di balik suara wanita itu. Mungkin Mey juga merasa ragu apakah El dapat melewati masa kritisnya. Luka El terlalu parah, bahkan untuk seorang Eyerish.
“Sasha juga masih belum sadar,” lanjut Mey. “Apa yang terjadi selama di Vinctum?” tanyanya kemudian.
"Apakah kau tahu sistem arena pertarungan yang dijalankan di sekolah itu?" Rom sedikit ragu untuk bertanya, namun ia mendengar jika Mey pernah tinggal cukup lama di Vinctum.
Mey terdiam sesaat. Raut wajahnya berubah tidak nyaman. "Hmm, ya." Ia mengangguk. “Aku dulu pernah menyusup ke sana sebagai guru. Arena dijadikan salah satu kelas wajib untuk para Eyerish segala usia.”
"Tidak adakah yang protes dengan sistem itu?" tuntut Rom.
"Sistem itu memang tidak menyenangkan, tapi sudah dijalankan turun-temurun setahuku." Mey menarik nafas lalu menghembuskannya. "Itu adalah salah satu cara untuk mempelajari kekuatan."
Rom menggelengkan kepala, merasa frustasi ketika mendengarnya.
"Aku sudah mendengarnya dari Rudy," kata Mey. "Kau mendapat giliran memasuki arena."
Rom menghela nafas dengan perasaan yang terasa berat. “Gara-gara aku mereka terluka.” ujarnya. "Aku tidak bisa mengendalikan kekuatanku."
"Setiap Eyerish pasti bisa mengendalikan kekuatannya." kata Mey. Pantas saja wanita itu bisa menyusup ke dalam Vinctum, dia kelihatan bisa menjadi guru yang baik. "Apa kau memiliki keinginan untuk mempelajari kekuatanmu?"
Rom memandang Mey dengan ekspresi bingung. "Aku tidak tahu bagaimana mempelajarinya."
"Aku punya teman yang hebat di Pulau Jasper. Pulau Jasper adalah tempat tinggal kami, sebagian kecil Eyerish tinggal di sana. Temanku itu pasti bisa mengajarimu dalam mengendalikan kekuatan. Usia kita sama omong-omong."
"Oh ya?"
"Ya, kau.. aku dan juga El. Kita bertiga sama.”
"Apa maksudnya dengan sama?"
"Kita bertiga adalah bayi yang diselamatkan dari Vinctum." Jelas Mey. “Ya, kita bertiga berasal dari sana. Vinctum adalah kampung halaman kita.”
---*---