Chapter 38. Kembali ke Jasper
Vinctum adalah kampung halaman kita.
Kata-kata Meysha kembali bergaung di dalam kepala Rom. Entah mengapa pernyataan itu telah merusak khayalan indah yang pernah dimiliki oleh Rom ketika ia masih kanak-kanak. Setiap anak di panti asuhan, khususnya yang benar-benar belum pernah bertemu dengan keluarganya, tentu memiliki khayalan versi tersendiri mengenai keluarga mereka. Dan Rom juga memilikinya. Ia tidak mempercayai orang-orang yang mengoloknya sebagai anak p*****r yang ditinggalkan. Atau pun seorang anak penyihir.
Dia memiliki versi tersendiri. Ia membayangkan sendiri bagaiaman Ibu dan ayahnya, dan alasan mengapa ia ditinggalkan di panti asuhan. Ia yakin pasti ada alasan khusus mengapa ia ditinggalkan.
Namun ketika mengetahui fakta jika ia berasal dari Vinctum, ia merasa... terkhianati. Pada akhirnya ia hanyalah seorang anak buangan.
Perlahan kapal yang ia tumpangi mendekati sebuah bibir pantai, dan di sana sudah ada sekelompok pemuda yang menunggu, seperti sedang mengawali pantai.
Meysha segera melompat dari kapal, lalu terbang seperti seekor burung menuju bibir pantai, dan Rom terpesona melihat bagaimana Eyerish Pengendali Udara itu begitu alami dalam mengendalikan kekuatan.
Meysha yang sampai lebih dulu di pantai terlihat berbincang-bincang dengan para pengawal pantai, lalu dua orang pemuda segera berlari memasuki hutan. Mereka menunggu beberapa waktu hingga dua orang pemuda tadi kembali sambil membawa dua tandu. Selanjutnya mereka mulai menaiki kapal.
“Wah,” kata Rudy yang sudah bergabung dengan Rom berdiri di Geladak kapal, ia menguap lebar. “Ini pertama kalinya aku berada di dunia luar.” Reaksinya tidak jauh berbeda dengan Rom yang pertama kali meninggalkan Idocrase.
Kelompok pemuda itu keluar sambil membawa El dan Sasha di atas tandu, lalu Meysha yang mengambang di udara berseru kepada mereka.
“Ayo, anak-anak! Selamat datang di Jasper!”
***
Rom berjalan menyusuri hutan dengan Rudy yang terus mengeluh di sebelahnya.
“Kau yakin ada kehidupan di dalam hutan antah berantah ini?” tanya Rudy sanksi, dan ia ngos-ngosan di setiap langkahnya.
“Ayolah, Rudy... simpan energimu atau kau bisa pingsan karena terus mengomel,” kata Meysha yang berjalan di depan kedua laki-laki itu.
“Haha, Rudy memang sudah tua,” ledek Koina, si bocah listrik, terang-terangan. “Pantas saja kau turun drastis dari peringkatmu!”
“Ah ya, aku sangat ingat Rudy selalu di peringkat pertama. Padahal belum berapa lama aku meninggalkan Vinctum. Tapi kau menua dengan sangat cepat ya?” ledek Meysha sambil tertawa diikuti Koina.
“Sial,” Rudy dengan sengaja meremukkan tanah di bawah kaki Meysha, namun Meysha yang memiliki reflek bagus segera terbang ke udara sambil membawa Koina. Koina semakin tergelak melihat Rudy yang gagal menyerang mereka.
“Simpan energimu, Rudy!” seru Meysha. “Tenang saja! Aku akan menyiapkan liang lahatmu! Dan kupastikan akan lebih bagus daripada yang disediakan oleh Vinctum!” ia tergelak bersama Koina lalu terbang jauh sebelum Rudy sempat menyiapkan serangan berikutnya.
“Dasar cewek-cewek,” keluh Rudy yang megap-megap, Rom bahkan perlu menahan tubuh pria itu yang mendadak limbung.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Rom.
Rudy segera menarik tangannya dengan kasar dari Rom. “Jalan terus, bocah api!” serunya.
Rom hanya menghela nafas mendapatkan perlakuan kasar Rudy, ia menyusul di belakang dan akhirnya mereka melihat gerbang menjulang di depan mereka.
Di depan gerbang itu juga dikawal oleh beberapa pemuda, namun sangat berbeda dengan pengawalan yang ada di Vinctum. Para pengawal yang berjumlah lima orang itu tidak mengenakan alat pelindung sama sekali dan hanya memegang tombak sebagai alat penyerang. Namun tentu saja mereka adalah orang-orang pilihan melihat raut wajah mereka semua yang mengintimidasi.
Di balik gerbang, mereka disambut oleh keramaian sebuah desa yang tidak jauh berbeda dengan Idocrase. Persis. Rumah kayu, kebun, kandang hewan dan hektar sawah. Sesaat Rom mengira ia telah kembali ke Idocrase, namun ia menyadari setelahnya jika desa ini lebih kecil daripada Idocrase.
“Rom!” seorang pemuda berambut ikal merah berlari menghampirinya. Ben?
“Kau... di sini?” tanya Rom heran bercampur kaget, ia tidak menyangka akan bertemu dengan si pemuda berkacamata lagi.
“Ya! Aku mengikuti kalian dan berakhir di sini!” jelas Ben segera.
“Ayo, ikut aku,” kata Meysha yang juga mendekati Rom. “Kalian...” wanita itu menolehkan wajah pada Rudy dan Koina. “Kalian berdua ikuti Avi.”
***
Rom bersama Ben duduk di sebuah kursi kayu di dalam ruang tamu minim perabotan. Hanya kursi dan meja kayu di dalam ruangan itu. Namun tempat itu bersih karena Rom sama sekali tidak melihat adanya debu.
Meysha kembali bersama dengan seorang pria bertubuh pendek yang berjalan dengan terpincang-pincang. Rom diam saja sambil mengamati pria itu hingga duduk di hadapannya. Ia sedikit terkejut ketika melihat wajah pria itu dengan jelas. Wajah pria itu tampak cukup muda meski dengan tubuh yang ringkih.
“Halo, namaku Kaz,” Pria itu memperkenalkan diri sambil menunjukkan senyum ramah yang menyenangkan. Berbeda dengan tubuhnya yang terlihat sakit-sakitan, suara pria itu tampak sangat ceria dan penuh energi.
“Aku... Rom,” balas Rom kaku.
“Akhirnya kita bertemu,” kata pria berambut ikal panjang itu. “Saudaraku.”
“Saudara?” ulang Rom dengan dahi berkerut.
“Kau lupa ya? Kan aku sudah memberitahumu ketika di kapal,” sela Meysha segera. “Kaz juga adalah bayi yang diselamatkan dari Vinctum. Kita sudah seperti saudara satu sama lain.”
Rom mengangguk mengerti.
“Aku mendengar banyak hal tentang dirimu,” kata Kaz, mata gelapnya mengamati Rom dengan seksama. “Kau benar-benar pria yang baik, persis seperti yang dijabarkan.”
Rom tidak mengerti apa maksud dari komentar itu. Baik? Apakah dia benar-benar baik? Bukankah dia adalah pria yang menyebabkan kebakaran di Panti Asuhan? Dia...
Rom menarik nafas. Ini bukan saatnya untuk menyalahkan diri sendiri.
“Kenapa... Kenapa aku tidak pernah mendengar tentang kalian?" Rom agak ragu untuk bertanya. “Maksudku... tentang Eyerish...”
Kaz tersenyum kecil mendengar pertanyaan pertama Rom, seolah ia sudah bisa menebaknya. “Eyerish tinggal dalam persembunyian, seperti kita di Jasper, dan juga seperti Eyerish yang ada di Vinctum. Tentu akan sulit mendapatkan informasi tentang Eyerish.”
“Kenapa?” tanya Rom, masih belum memahami. “Bersembunyi dari siapa?”
“Manusia, tentu saja.” Jawab Kaz. “Silver Beryl dihuni para Manusia Pendatang, jumlah mereka lebih banyak dari Eyerish dan mereka tidak begitu menyukai kita.”
“Kena... ah, maaf, maksudku...” Rom kebingungan, ia terus bertanya kenapa dan kenapa. Hal ini belum selaras di dalam otaknya.
“Tidak apa-apa, aku mengerti kau akan banyak bertanya mengenai Eyerish,” Kaz tampak memaklumi. “Manusia tidak menyukai keberadaan kita. Mereka membenci kemampuan alamiah yang kita miliki. Karena itu mereka memusuhi kita, lalu menyingkirkan kita. Karenanya kita harus tinggal bersembunyi untuk tidak menimbulkan pertikaian.”
Rom mengangguk mengerti. Begitulah, tidak jauh berbeda dengan dirinya yang selama ini hidup dengan menyembunyikan kemampuan alamiahnya.
“Aku tahu aku tidak bisa menjadi wakil suara dari para manusia,” tiba-tiba Ben membuka suara. “Tapi pasti ada manusia yang bisa menerima keberadaan kalian. Seperti aku, dan juga para manusia yang tinggal di Jasper,” ujarnya.
Kaz menoleh pada Ben, tatapannya tampak takjub. “Kau tidak takut pada kami?”
“Takut?” ulang Ben. “Tentu saja tidak!” Ia mendengus. “Aku sudah pernah bertemu dengan eksistensi yang bahkan lebih berbahaya dari siapa pun. Jadi kurasa kalian pasti bisa mendapatkan kembali tanah kalian di Silver Beryl. Dan aku akan membantu kalian.”
“Wah,” ujar Kaz. “Kau berhati mulia sekali, Ben. Aku yakin orangtuamu akan bangga memiliki anak sepertimu.”
Ben hanya tersenyum kecil. “Aku senang jika bisa berguna untuk kalian.”
Rom juga sama takjubnya dengan Kaz mendengar kata-kata Ben. Seandainya dunia ini di huni oleh manusia yang memiliki pandangan yang sama seperti Ben, mungkin mereka semua akan hidup damai bersama-sama dengan manusia.
“Apakah ada lagi yang ingin kau tanyakan?” tanya Meysha. "Kaz perlu beristirahat."
Keadaan Kaz mungkin seperti yang sedang dialami Rudy saat ini, namun Kaz tampak lebih parah. Hal ini tentu disebabkan usia mereka yang sudah berada di ambang kematian. Mereka mulai mengalami penurunan daya tahan tubuh ketika mendekati atau melewati usia 30 tahun. Rom juga pasti akan mengalami hal yang sama, cepat atau lambat.
“Kau perlu istirahat karena waktu kita terbatas,” kata Kaz pada Rom. “Kita akan bertemu kembali setelah El sadar.”
“Terbatas?” ulang Rom.
“Ya, Pasukan Vinctum pasti sudah melacak keberadaan kita,” jawab Meysha. “Jadi kita harus mempersiapkan skenario terburuk apa saja.”
“Tunggu, bukankah Vinctum juga adalah Eyerish sama seperti kita? Apakah mereka akan datang menyerang tempat ini?’
“Ya ampun, Rom...” Meysha berdecak jengkel. “Kita sudah mengacaukan Vinctum. Dan kami menculikmu dan juga Sasha yang ingin mereka miliki. Tentu mereka akan marah dan mencoba menyerang untuk merebut kalian lagi.”
“Kenapa mereka melakukan hal itu?” tanya Rom tidak mengerti.
“Wah, wah... Bocah Api ini punya segudang pertanyaan daripada si El ya?” Meysha mengeleng-gelengkan kepalanya, tampak heran. “Tentu saja mereka ingin menggunakanmu dan Sasha untuk kepentingan mereka.”
“Vinctum memiliki pandangan yang berbeda dari kita,” kata Kaz. “Oleh sebab itu kita diselamatkan oleh para Perawat yang tidak menyetujui pandangan Vinctum. Mereka mengeluarkan kita dari sana, dengan harapan jika kita bisa menghentikan agenda yang direncanakan oleh Vinctum, yaitu rencana untuk menyingkirkan manusia.”
“Me... menyingkirkan manusia?” ulang Rom segera.
“Ya, Silver Beryl sebenarnya adalah tanah milik para Eyerish, namun kini telah ditinggali oleh para manusia, alasan inilah yang menyebabkan Vinctum membuat agenda untuk menyerang manusia. Mereka mempersiapkan diri dengan berbagai macam cara. Kau ingat mata pelajaran Arena? Dari Arena lah mereka mempersiapkan bala tentara Eyerish mereka. Mereka ingin para eyerish didikan mereka siap menghadapi perang,” jelas Meysha.
“Meysha benar,” Kaz mengangguk. “Menurut perkiraanku, keberadaaan Eyerish Api akan mempercepat agenda tersebut.”
Rom terhenyak di kursi. Jadi... dia akan digunakan sebagai senjata perang oleh Vinctum? Apakah sama seperti ketika Ares mengendalikannya untuk membakar Panti Asuhan? Menjadikannya boneka sekaligus senjata.
“Beristirahatlah, Rom. Jangan terlalu banyak dipikirkan. Kita akan membahasnya bersama nanti.”
“Kaz benar. Sana, pergi istirahat,” usir Meysha yang sudah tidak sabaran.
"Mey, aku ingin mengecek keadaan El dan Sasha," kata Kaz.
Meysha mengerutkan dahi, ekspresinya tampak keberatan karena melihat keadaan Kaz yang tidak fit. Namun ia hanya mengangguk. "Baiklah."
***
Rom menghabiskan makanannya sementara Ben tampak sibuk di hadapan laptop, persis terakhir yang yang diingat oleh Rom. Ben tidak pernah lepas dari benda elektronik hitam legam itu.
“Baguslah kau tidak alergi,” kata Ben, melirik piring Rom yang tandas. “Aku alergi makanan laut. Untungnya aku bisa makan daging domba di sini,” ocehnya.
Hal itu mengingatkan Rom pada beberapa anak panti asuhan yang juga memiliki alergi makanan. Namun karena ia adalah koki, ia dapat dengan baik menyiapkan makanan untuk anak-anak tersebut. Semenjak kehidupannya membaik setelah diasuh oleh Jim, ia berjanji kepada dirinya untuk dapat merawat anak-anak panti asuhan. Setidaknya mereka dapat makan dengan layak, tidak seperti dirinya dulu. Namun sekarang ia tidak perlu memikirkan mereka lagi. Para Penghuni Panti asuhan telah tidur dengan tenang di akhirat sana.
“Kau sudah bertemu dengan Emily?” tanya Ben tiba-tiba.
Rom mengerjapkan mata. “Emily?”
“Ya, Emily. Emily-nya El. Dia juga berada di sini.”
***
Emily masih tetap sama seperti terakhir kali yang diingat oleh Rom. Dengan kulit yang memesona, mata cokelat yang berbinar cerah dengan sorot cerdas, rambut panjang yang halus dan senyum yang indah. Meski sekarang wanita itu tidak mengenakan pakaian seperti yang dikenakan oleh wanita kota pada umumnya, namun Emily tetap terlihat bersinar di matanya.
Ia mengamati dari kejauhan, ragu untuk mendekati wanita itu yang sedang bersama wanita lainnya, memerah sapi. Pekerjaan yang mungkin dianggap tidak cocok untuk seorang Emily, namun ekspresi wanita itu tampak puas dengan pekerjaannya.
Sampai ahirnya seorang gadis kecil tanpa sengaja menabrak tubuh Rom, lalu dengan ekspresi ketakutan berlari ke rumah kandang sapi sambil menangis memanggil ibunya. Rom menelan ludah, apakah ia sudah melakukan kesalahan sampai membuat bocah tadi menangis?
Keributan itu mengekspos keberadaannya, dan ia bertemu tatap dengan Emily.
---*---