bc

Salah Target Ternyata Jodoh

book_age18+
1.3K
IKUTI
6.6K
BACA
HE
boss
heir/heiress
blue collar
bxg
kicking
brilliant
like
intro-logo
Uraian

Kesalah pahaman yang ditimbulkan oleh  salah satu anak buahnya karena salah menargetkan  penculikan kepada  seorang gadis  yang telah menyebabkan sang ayah  masuk penjara kini berbuntut panjang. Selain meminta maaf karena sudah melakukan sesuatu kepada gadis itu   David harus menikahinya atas desakan sang ayah yang ingin melihat putra kebanggaannya duduk di pelaminan.

David yang tidak percaya lagi dengan namanya CINTA karena pernah merasakan patah hati yang sangat menyiksanya pun tetap menyetujuinya agar sang ayah bahagia.

Bertemu dengan Delia wanita berkacamata  yang merupakan salah target penculikan membuatnya mati gaya dan salah tingkah karena wanita ini mampu memorak-porandakan hatinya sehingga dia pun tidak mau melepaskan Delia sampai kapan pun.

Akankah mereka saling mengungkapkan rasa cinta sementara ego masih menguasainya dan benarkah David sudah mengambil kehormatannya sebelum malam pengantin?

chap-preview
Pratinjau gratis
01. Siapa Kamu
Seorang pria berpostur tinggi tegap sedang duduk di sebuah kursi yang ada di balkon kamar dengan menyilangkan kedua kaki dan menyangganya pada pembatas balkon. Manik matanya terlihat menatap langit yang ditaburi oleh bintang-bintang saat di malam hari. “Sungguh cantik pemandangan dari atas balkon ini, seperti dia,” ucapnya sembari menyeringai puas. Pria tampan itu lalu mengambil cangkir yang sudah diseduh dengan kopi dan s**u, lalu mulai menyeruput dan menghirup aroma di minuman itu dalam-dalam. “Wangi sekali kopi ini, aku semakin ketagihan. Sama seperti tubuhmu yang seksi dan cantik,” ucapnya sambil melirik, melihat seorang wanita yang ada di atas ranjang tidurnya. “Aku sama sekali tidak mengenalmu, siapa kamu sebenarnya? Dan, kenapa aku ada di sini?” Teriakan wanita itu masih tak digubris. Pria bernama David Lingga Bimantara itu masih mengabaikan pertanyaan dari gadis yang masih menatapnya dengan penuh amarah. “Siapa kamu, katakan apa salahku?” tanya gadis itu sambil menangis. “Sudahlah, kamu tidak perlu menangis! Lagi pula saya hanya memberimu peringatan atas kesalahanmu sendiri karena sudah merusak reputasi keluarga saya!” David pun kembali masuk dan melihat gadis itu masih menyelimuti dirinya sendiri dengan selimut tebal. “Kamu belum tahu siapa kami sebenarnya. Makanya, dengan mudah kamu bisa menjatuhkan reputasi keluarga saya hanya dalam hitungan menit! Tapi, kamu pikir siapa kamu, hanya seorang gadis miskin yang tergiur akan uang. Memangnya berapa bayaran yang kamu dapat dari orang itu untuk menjatuhkan reputasi keluarga saya, hah?” tanya pria itu kembali sembari duduk di sofa yang berada didekat ranjang besar itu. “Apa maksudmu? Uang apa?” tanyanya yang masih bingung. David tampak mengambil sesuatu dari dalam tas miliknya yang berada di sofa tempat di mana pria itu duduk. "Ini bayaran untuk satu malam kita. Masih untung saya membayarmu, anggap saja ini adalah hadiah kecil dari saya. Uang ini bisa kamu pakai untuk biaya hidup kamu yang miskin. Setelah itu, kamu tidak perlu muncul di hadapan saya lagi!” David lalu melemparkan uang dua gepok ke wajah gadis cantik itu. “Aku tidak butuh uangmu, aku hanya ingin tahu siapa kamu karena aku memang tidak pernah mengenalmu!” teriaknya dengan suara yang lebih lantang dari sebelumnya. “Kamu masih bertanya siapa saya?” tanya pria itu sambil menaikkan salah satu alisnya. “Iya siapa kamu?” Gadis itu menatap nyalang. Tak ada rasa takut di wajahnya selain ingin tahu siapa pria yang telah merenggut kehormatannya. David mulai mendekat, lalu memegang dagu gadis yang masih menatapnya dengan tajam. Pandangan mereka pun kembali bertemu dan dalam sekejap, pria itu kembali tersihir dengan pesona gadis itu, tetapi dia segera membuang pikirannya jauh-jauh. “Dia memang sangat cantik dan polos, rasanya aku ingin selalu didekatnya, apalagi kedua matanya, tapi kenapa …?” batinnya masih tidak menyangka jika gadis inilah yang tega melakukan itu pada ayahnya. "Kenapa kamu diam? Cepat katakan siapa kamu?" Mendengar hal itu, David pun mulai bicara sambil menatap wajah gadis itu tak kalah tajam. “Sebenarnya tidak penting kamu tahu siapa saya karena saya tidak akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi denganmu, tapi sepertinya tidak masalah jika kamu memang ingin tahu. Perkenalkan nama saya, David Lingga Bimantara, putra dari Bram Aji Bimantara. Orang yang telah kamu fitnah sehingga ayah saya harus mendekam di penjara gara-gara ulahmu!” “Apa maksudmu? Aku?” tanya gadis itu dengan raut wajah yang penuh keterkejutan “Iya, siapa lagi, kamu, kan, orang yang sudah menuduh ayah saya menabrak orang di jalan? Dan, orang-orang itu memukuli ayah saya dengan brutal. Asal kamu tahu, ayah saya itu punya riwayat sakit jantung. Jadi, kalau terjadi apa-apa dengannya kamu yang akan bertanggung jawab dan ini adalah balasan awal yang harus kamu terima! Kamu akan mengingatnya seumur hidup siapa yang telah membuatmu seperti ini. Sekarang kamu harus pergi dari sini karena saya tidak mau melihat wajahmu, saya tidak membutuhkanmu lagi!” Gadis itu tersentak kaget saat mendengar tuduhan yang tidak dilakukannya. “Kamu harus bertanggung jawab karena bukan aku orang yang telah melakukan itu pada ayahmu. Kamu salah!” teriaknya begitu tahu bahwa apa yang dikatakan oleh pria itu tidaklah benar. “Apa kamu bilang? Kamu meminta pertanggung jawaban dari saya? No! Saya tidak akan pernah mau menikahi gadis yang sudah kehilangan kehormatannya dan mulai hari ini ke depannya, aku pastikan hidupmu pasti akan menderita perlahan-lahan.” “Tapi, memang bukan aku yang melaku—" “Sudah, tidak perlu lagi kamu mengelak, Nona!” bentak David dengan cukup keras. “Walau kamu melarangku, aku akan tetap mengatakan kalau aku bukanlah orang yang telah membuat ayah Anda masuk penjara, aku hanya—" Asbak rokok yang dilempar oleh David ke arah gadis itu benar-benar membuatnya terdiam. Asbak itu pun terpelanting dan hanya pecah menjadi beberapa bagian yang tak beraturan, pecahan kecil itu ternyata telah mengenai kaki mulus milik gadis itu sehingga mengeluarkan cairan berwarna merah. "Percuma! Sekalipun aku menjelaskannya, Anda tidak akan percaya." “Pintu keluarnya ada di sana dan setelah saya selesai mandi saya harap kamu sudah tidak ada di sini!” Walau terus keluar darah, gadis itu tetap tidak memedulikan keadaan kakinya yang terluka. Ia terus melangkah keluar dari kamar setelah berhasil memunguti pakaiannya yang berceceran di lantai. Sementara itu, David dengan santainya pergi ke kamar mandi tanpa memedulikan gadis itu. “Dasar gadis bodoh! Kakinya luka, tapi dia sama sekali tidak membersihkannya. Apa dia pikir aku yang akan mengobati lukanya? Enak saja, memangnya siapa dia?” gerutu David merasa sangat kesal sambil membanting pintu kamar mandi hingga membuat gadis itu terperanjat kaget saat mendengarnya. Setelah berada di dalam kamar mandi, David mulai membuka celana pendek yang dikenakannya, tetapi ia mengurungkannya dan kembali keluar karena merasa sangat penasaran atas apa yang gadis itu lakukan saat ini. “Apa? Di mana dia? Cepat sekali dia pergi dari sini?” tanyanya heran saat mendapati bahwa di dalam kamarnya sudah tak ada siapa pun. “Dasar gadis yang aneh. Kenapa dia tidak membawa uang ini? Padahal uang ini jumlah cukup banyak untuk dia hidup,” ucap David dengan nada meledek. Setelah merasa bingung dengan keputusan gadis itu, David pun mulai sadar untuk tidak perlu memikirkannya. Lagi pula tujuannya hanyalah untuk memberi pelajaran pada gadis itu. “Ah biarlah, aku tidak peduli! Sekarang lebih baik aku mandi dan langsung bertemu dengan Billy, sampai di mana perkembangan kasus itu,” ucap David sembari berjalan kembali menuju kamar mandi. Namun, tak lama kemudian, terdengar dering ponsel yang membuat langkah kaki langsung menuju pada benda pipih miliknya berada. “Ya, Billy. Ada apa? Apakah Papi sudah bisa dibebaskan?” ucap David sesaat setelah menjawab panggilan itu. "Iya Vid, Om Bram sudah di bebaskan dari penjara." "Benarkah?" “Cepat sekali gadis itu menarik tuntutannya?” gumamnya dalam hati. "Bil, apakah ada seorang gadis yang mencabut laporannya itu?" "Bukan, tapi memang kata seorang polisi ada seorang gadis yang melihat dan merekam kejadian itu dengan ponselnya dan dia langsung memberikan rekaman itu, makanya Om Bram langsung dinyatakan tidak bersalah." "Oh ya, sekarang di mana gadis itu saya ingin bertemu dengannya?" "Nah itu dia, Vid. Setelah gadis itu memberikan bukti rekaman itu dia langsung menghilang, polisi juga tidak tahu namanya, wajah juga tidak terlihat karena dia memakai masker dan kaca mata." Mendengar penuturan Billy, David seperti tersadar akan sesuatu yang salah sedang terjadi. “Kenapa sama dengan gadis yang bersamaku tadi? Saat anak buahku menangkapnya dia juga memakai masker dan kacamata?” gumam David masih mengingat saat pertama kali gadis itu tiba di rumahnya. "Ya Bill, gue akan ke kantor polisi tunggu gue di sana." "Oke." David pun bergegas ke kamar mandi, tetapi lagi-lagi ponsel miliknya kembali berdering. Kali ini, panggilan itu berasal dari salah satu anak buahnya yang lain. Ya, David memang menugaskan beberapa anak buahnya untuk mencari orang yang sudah menjebak ayahnya. Tanpa berlama-lama, dia pun langsung menjawabnya. "Ya, cepat katakan ada apa?" "Tuan, target sudah ada bersama kami, sekarang apa yang harus kami lakukan." "Apa maksudmu, Lex?" tanya David sangat terkejut. Bagaimana tidak, bukannya wanita itu seharusnya baru saja pergi dari apartemennya. Lantas, siapa wanita yang baru saja berhasil ditangkap anak buahnya. "Wanita yang menjebak Tuan Bram, memang siapa lagi, Tuan?" "Apa? Bukannya kamu sudah menculik seorang gadis dan membawanya ke apartemen saya?" "Tidak ada Tuan, saya baru saja menangkapnya." "Jadi, siapa gadis yang bersamaku tadi?" batin David merasa heran. "Halo, Tuan. Jadi, bagaimana?" Alex pun bertanya saat mendapati tuannya hanya diam tanpa mengatakan apa-apa. "Baiklah, saya akan segera ke sana. Bawa dia ke tempat biasa!" David yang merasa sangat geram pun mengakhiri panggilan telepon itu secara sepihak. “Gawat … siapa gadis yang bersamaku tadi? Aku harus cepat bertanya pada Billy karena dia yang telah membawa gadis itu ke sini sebagai tawananku."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
18.7K
bc

Kali kedua

read
219.3K
bc

TERNODA

read
200.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
78.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook