David segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sembari mengingat bayangan tentang apa yang telah dia perbuat lima belas menit yang lalu. Bahkan wajah gadis itu tidak lepas dari ingatannya dan membuatnya penasaran.
“Ah sial, siapa gadis yang sudah aku tiduri, aku salah target?’ gumamnya merasa masih belum percaya.
Hanya sepuluh menit dia menyelesaikan ritual mandinya setelah itu dia keluar dan mengambil pakaian santai. Dengan baju kaos berkerah berwarna biru muda polos dan celana Jeans berwarna hitam di tambah dengan sepatu cats.
Saat ingin keluar kamarnya tidak sengaja dia menginjak sesuatu. David lalu mengambilnya dan memperhatikan sebuah gelang emas dengan berinisial huruf D.
“Gelang?” David memperhatikan gelang itu dengan saksama.
“Hem? Mungkinkah milik gadis itu?” tanyanya dalam hati dan memasukkan gelang itu ke kantong celananya.
“Mbok! Mbok Asih!” panggilnya dari dalam kamar.
Wanita paruh baya itu lalu menghampirinya segera dengan sedikit berlari kecil.
“Ada apa, Den?” tanyanya dengan napas sedikit tersengal-sengal karena berlari menemui majikannya itu.
“Segera bersihkan kamar ini!” perintahnya dengan tegas.
Mbok Asih melihat kamar yang berantakan dan menaruh curiga kepada majikannya itu dengan apa yang terjadi setengah jam yang lalu.
David memicingkan matanya memandang Mbok Asih penuh keheranan.
“Ada apa Mbok?” tanyanya seketika.
“Maaf jika Mbok lancang, Aden nggak melakukan itu, kan?” selidiknya penuh kecemasan.
“Menurut Mbok? Mbok, kan tahu siapa yang saya cintai walaupun wanita itu pergi begitu saja tanpa ada kabar, sudahlah jangan ikut campur urusan orang, saya mau ke kantor polisi dulu mengurus papi dan ingat jangan sampai ada yang tahu tentang masalah ini,” ancamnya.
“Apakah Pak Bram baik-baik saja?” tanya Mbok Asih terlihat khawatir.
“Mbok Asih jangan khawatir papi akan segera keluar dari penjara dan tidak akan terjadi apa pun dengan papi selama ada saya,” jelasnya membuat wanita paruh baya itu merasa lega.
“Saya pergi dulu, Mbok! Tidak usah menunggu saya karena setelah dari kantor polisi saya dan papi pulang ke rumah.”
“Baik Den,” jawab singkat Mbok Asih.
Pria bertubuh kekar itu lalu turun dari apartemen dan bergegas mengambil mobilnya dan segera meluncur ke kantor polisi dengan kecepatan kilat.
Di dalam perjalanan pun David masih terbayang-bayang wajah gadis itu yang sudah masuk ke dalam pikirannya, bahkan hampir sempat kehilangan konsentrasi saat menyetir.
“Ah sial! Kenapa aku selalu terbayang wajahnya itu? Dia memang sangat cantik dan menggemaskan rasanya aku ingin memakannya setiap hari, tapi siapa gadis itu, yang sudah membuat hatiku tidak tenang, biasanya aku tidak seperti ini?” umpatnya di dalam mobil.
***
Lima belas menit kemudian David telah sampai di kantor polisi. Pak Bandi Pengacara mereka dan Tuan Bram terlihat sedang berdiskusi panjang lebar dengan seorang polisi yang menangani kasus yang menimpa Tuan Bram.
“Pi?” panggil David saat melihat tubuh gempal Papinya yang sedang di dudukkan karena tidak tahan berdiri.
“David?” sahut Tuan Bram dan berhambur memeluk sang putra kebanggaannya.
“Apakah Papi baik-baik saja? Bagaimana dengan jantung Papi?” tanya pria tampan itu tampak masih khawatir.
“Alhamdulillah baik-baik saja, berkat doa kalian dan gadis itu sudah menolong Papi, Vid! Papi harus berterima kasih langsung dengannya tetapi dia menghilang setelah memberikan bukti itu dan kami sedang mencari gadis itu,” terang Tuan Bram pelan.
“Oke, Papi tenang saja biar David yang urus, nanti kalau David sudah menemukan gadis itu, langsung David kasih tahu Papi, oke?” Janji David sembari mengulas senyum.
“Vid, tolong cari gadis itu dan Papi mau menjodohkan kamu dengan dia!” ucapan Tuan Bram membuatnya terkejut saat setengah berbisik di telinganya.
Raut wajah David bersemu memerah, dia sebenarnya tidak ingin dijodohkan oleh papinya, tetapi untuk menjaga jantung papinya tetap stabil dia pun tetap mengiyakan apa saja yang membuat Papinya bahagia.
“Ayolah Pi, apakah harus dibahas juga di sini?” protes David.
“Ingat David, usia kamu sudah kepala tiga dan Papi bosan jika setiap bertemu dengan relasi Papi pasti hal itu yang selalu dibicarakan, menantunya yang cantik lah, modis lah kamu tahu Om Rendi itu? Itu sahabat Papi tetapi sangat menjengkelkan dia selalu memamerkan menantunya yang super sibuk, cantik dan berwawasan luas walaupun Papi nggak suka kriterianya bukan menantu idaman buat Papi juga sih,” jelasnya membuat David bosan mendengarkan cerita Papinya yang selalu ingin mencarikan pasangan untuk dirinya itu.
“Ayolah Pi, bisakah kita tidak membahas perjodohan dulu, sekarang David sangat mengkhawatirkan keadaan Papi, tetapi Papi malah membahas masalah tidak penting ini!” rutuknya lagi.
“Ada dong Nak, jantung Papi akan sembuh jika kamu sudah menikah, mamimu sudah menunggu lama di sana kasihan dia kesepian, Papi mau menemaninya,” jawabnya yang terlihat sedih.
“Papi? Apa yang Papi katakan, jangan bicara seperti itu!” hardiknya terlihat kesal.
“Kalau kamu nggak mau melihat Papi seperti ini maka carikan papi menantu, titik nggak pakai koma,” sahutnya lagi sedikit berbisik di telinga David.
“Oke, akan David lakukan semua apa yang Papi inginkan dan terserah Papi yang mencarikan pasangan buat David, Oke? Sekarang Papi puas?” tanya David yang akhirnya harus mengalah.
“Puas banget. Sekarang kamu cari gadis yang ada di dalam foto itu, memang sih tidak terlihat jelas karena dia memakai kacamata dan masker, cari tahu saja gadis yang mirip seperti dia,” jelas Tuan Bram sembari memperlihatkan kepada David foto gadis itu yang terekam oleh CCTV di kantor polisi saat gadis itu memberikan bukti rekaman itu.
“Pi, gadis itu memakai masker, bagaimana kalau ternyata wajahnya buruk rupa, giginya ke depan dan?”
David kembali mengucek kedua matanya kemudian melotot hampir saja kedua biji matanya keluar saat lihat pakaian yang dikenakan olehnya memang sama dengan gadis yang dibawa ke apartemen David.
“Astaga gadis ini? Aduh bagaimana sekarang, Billy salah membawa orang? Untung saja aku hanya mempermainkan hatinya tetapi aku, kan harus meminta maaf, jika papi sampai tahu tentang perbuatanku dan antung papi?” David menjadi serba salah karena sudah salah target untuk mengerjai seorang gadis.
“Vid! David! Apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu malah diam? Kamu tidak mau melakukan apa yang Papi minta?” Wajah Tuan Bram terlihat sendu membuat David tidak tega.
“Iya Pi, David akan mencari gadis ini,” sahutnya dengan pelan.
“Papi nggak mau tahu, penampilan itu nomor dua yang penting hatinya, seperti menantunya Om Rendi itu, memang sih cantik dari luar tetapi kan nggak tahu hatinya. Papi ingin kamu bahagia David, jadi kalau sewaktu-waktu Papi tidak bisa menemani kamu lagi setidaknya kamu bisa berkeluh kesah dengan pasanganmu saja bukan dengan Billy apa kata orang nanti dikira kamu ada kelainan lagi,” ledeknya lagi sambil terkekeh.
“Papi ini ngomong apa sih , jangan bahas tentang kematian terus, David enggak suka,” rutuknya kesal tetapi Tuan Bram malah tersenyum melihat ekspresi wajah David seperti anak kecil.
David kembali tersenyum saat melihat pria tua itu tersenyum. “Seandainya Mami ada, mungkin Papi tidak seperti ini, kenapa Mami begitu cepat meninggalkan kami, sekarang tinggal Papi yang masih ada, beliau sangat ingin aku menikah tetapi? Pi, sebenarnya David tidak ingin menikah setelah dia mengkhianati David, semua wanita sama saja kecuali Mami! Mereka hanya ingin menikmati kekayaan tetapi tidak mencintai seutuhnya. Wanita bagi David hanya pelampiasan nafsu saja, aku tidak ingin terikat dengan wanita mana pun, tetapi untuk Papi akan aku lakukan apa pun yang Papi minta yang penting Papi bahagia, urusanku biar aku saja yang akan menyelesaikannya,” batinnya berkata.
Entah apa yang terjadi jika Tuan Bram tahu kalau gadis yang bersama David tadi malam adalah gadis yang Tuan Bram cari bahkan bisa membuat hatinya bergetar, rasanya ingin sekali memeluk tubuhnya, tetapi tidak bisa dia lakukan karena setiap ingin menyentuhnya lebih wajah Tuan Bram secara tiba-tiba muncul dengan melotot tajam, seakan-akan puteranya tidak boleh melakukan perbuatan terlarang itu.