Setelah berbincang cukup lama dan menyelesaikan semua berkas akhirnya mereka pun pulang dari kantor polisi itu. David pun menyebarkan foto itu yang dia dapat dari papinya, menyebarluaskannya agar dapat menemukan gadis yang diminta oleh papinya itu. Tak lama kemudian ponsel Tuan Bram berdering, dia pun langsung mengambilnya dari balik saku celananya.
“Siapa Pi?” tanya David.
“Biasa, siapa lagi kalau bukan Rendi.” Tuan Bram langsung mengangkat teleponnya.
“Halo, Ren?”
“Halo, bagaimana keadaan kamu sekarang? Maaf aku tidak bisa datang ke sana karena masih di Semarang, tetapi kalau aku sudah pulang akan memberitahu kamu, Bram.
“Aku sudah tidak apa-apa, Ren, terima kasih, sekarang aku mau pulang dan istirahat sebentar, kepalaku sedikit pusing mungkin karena terlalu lama berdiri tadi.”
“Baiklah, jaga kesehatanmu, Bram dan ngomong-ngomong aku mempunyai berita juga untukmu.
“Apa?”
“Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya tetapi sebelum aku lupa aku harus memberitahukan kepada kamu.”
“Oke, katakan saja, berita apa itu yang penting berita baik.”
“Begini menantuku yang cantik itu mempunyai sepupu tetapi dia bukan dari keluarga terpandang seperti kita, dia dulu tinggal di kampung tetapi gadis ini sebentar lagi mereka akan pergi ke kota. Aku juga belum bertemu dengan atau melihat fotonya, tetapi kata menantuku dia baik, pekerja keras dan wajahnya sih standar. Jika kamu mau nanti aku hubungi lagi dan kamu sudah sembuh kamu bisa bertemu dengan mereka langsung. Kan kamu sendiri bilang kalau tidak perlu kaya yang penting bisa membuat David bahagia, betul, kan?”
“Akan aku pikirkan, Ren, soalnya aku juga mempunyai pilihan, nanti aku kabari kamu lagi.”
“Oke sampai berjumpa dua bulan lagi, aku akan datang menjengukmu, oh ya kalau ada apa-apa tolong kabari aku. Jaga dirimu baik-baik, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Setelah selesai percakapan mereka melalui ponselnya , pria paruh baya itu langsung masuk ke mobil.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Tuan Bram melirik ke arah David.
“Terserah Papi saja, boleh kita pulang sekarang?” pinta David.
“Oke!” jawab singkat sambil tersenyum.
Tidak ada pembicaraan setelah itu hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Terlihat Tuan Bram tertidur di pundak David. Dia pun membiarkan papinya terlelap tidak ingin membangunkannya.
***
“Kenapa aku tidak bisa menjaga kehormatanku sendiri dari orang itu? Dia sangat berani melakukannya, tapi bagaimana cara menuntutnya, sedangkan dia sudah mengancamku agar tidak memperpanjang masalah ini, tetapi di sini aku yang dirugikan,” ucapnya kesal sepanjang jalan.
Gadis berkacamata itu berjalan pulang dengan wajah berantakan. Di bawah rintikan hujan isakan tangis sayup-sayup masih terdengar, tetapi langkahnya tidak ingin berhenti.
“Tunggu dulu, apa benar dia sudah mengambil kehormatanku, tetapi kata orang jika sudah melakukan hubungan intim biasanya sakit, kan? Tapi ini nggak ada rasa sakit-sakitnya, dan anehnya kok ada noda darah di seprai putih itu dan pakaianku?” tanyanya penasaran.
Gadis itu kembali mengingat kejadian beberapa menit yang lalu, dimana dia hanya tertidur dengan tanpa sehelai benang apa pun yang menempel di tubuhnya.
“Ah sangat menyebalkan, sebenarnya apa yang terjadi sih?” Lama gadis itu berpikir, tak terasa langkahnya sudah sampai di sebuah rumah kontrakan yang kecil.
Terlihat seorang pria paruh baya itu selalu menunggunya di teras rumah, berharap tidak terjadi sesuatu apa kepada putrinya.
“Delia!” panggilnya.
Gadis itu tersadar dari lamunannya, seperti mimpi dia kebingungan sendiri karena dia berada di halaman depan rumah kontrakannya sendiri.
“Kenapa Nak, ada apa?” tanya pria paruh baya dengan kursi rodanya dan bingung saat melihat kondisi putrinya sekarang.
“Apa? Aku sudah sampai di sini?” tanyanya dalam hati dengan terkejut.
Gadis itu berlari menghampiri pria itu dengan segera.
“Kenapa Papa ada di luar, udara di sini dingin, nanti Papa masuk angin jika terlalu lama di luar, masuk ya Pa,” ajaknya sambil membantu mendorong kursi roda itu sampai masuk ke rumah.
“Papa nggak apa-apa, Sayang. Papa hanya khawatir sudah malam begini kamu belum pulang dan ponsel kamu tidak bisa dihubungi, dan kenapa dengan kondisi kamu, kamu nggak apa-apa kan, Sayang?” tanyanya yang masih terlihat cemas.
“Delia nggak apa-apa, Pa, tidak perlu khawatir,” jawabnya tersenyum kecil.
“Ada apa Sayang, senyumanmu sangat berbeda malam ini, apakah terjadi sesuatu?” tanya Dimas papanya.
“Nggak ada apa-apa Pa, cuma letih aja kok,” jawabnya berbohong.
“Oh ya Pa, di mana Mamah Clara, kok sepertinya sepi?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Biasa Sayang, Mama Clara dan Cika, katanya tidak akan pulang selama seminggu , mereka diajak temannya liburan ke puncak.”
“Kok tiba-tiba, Pa?” tanyanya penasaran.
“Papa juga nggak tahu, Sayang, Mama Clara setelah mendapat telepon dari temannya dia langsung mengemasi barang dan minta izin pergi, ya dari pada ribut lagi, lebih baik Papa izinkan saja mereka pergi,” jelasnya.
“Oh," hanya jawaban itu saja yang keluar dari mulut Delia.
Delia mengantarkan Papa masuk ke kamar, mengangkat dari kursi roda itu ke tempat tidur. Setelah itu mengambilkan obat dan segelas air. Pria paruh baya itu lalu meminum obat itu dan Delia menyelimuti Papanya dengan selimut tebal.
“Sayang, terima kasih sudah merawat Papa sampai sekarang ini, kamu memang anak bungsu Papa yang sangat berharga. Maafkan Papa, Sayang, selama ini tidak berlaku adil kepadamu, hanya kamu yang mau merawat Papa yang sudah tidak bisa apa-apa lagi. Kaki ini sudah tidak berfungsi lagi, sudah cacat seumur hidup,” ucapnya sedih.
“Pa, sudahlah tidak perlu mengungkit masa lalu, sekarang Papa tidur, Delia nggak mau melihat Papa sakit, besok ada jadwal periksa kan?” tanyanya lagi.
“Papa tidak mau merepotkan kamu, tidak usah Sayang, uangmu pasti tidak cukup untuk biaya rumah sakit Papa, biarkan saja Papa di rumah ya?” pintanya tidak ingin melihat putrinya bekerja keras untuk bisa mendapatkan uang berobat.
“Apa yang Papa katakan, ini sudah kewajiban Delia. Masalah biaya Papa tidak perlu khawatir, Delia, kan kerja dan kalau kurang juga nanti Delia bisa cari kerja tambahan kok, tenang saja,” jawabnya meyakinkan papanya.
“Sekarang Papa tidur, karena Delia juga sudah mengantuk, Oke?”
“Iya Sayang.”
“Selamat malam, Pa.”
“Malam, Sayang.”
Dimas menatap punggung putrinya sampai tidak terlihat oleh pandangannya. Tanpa terasa bulir-bulir air mata menetes membasahi pipi di wajah keriput pria paruh baya itu.
Delia masuk ke kamarnya. Kamar yang terlihat sangat kecil dan berbagi dengan saudara tirinya tidak seperti kamarnya yang dulu saat mereka mempunyai segalanya.
Gadis cantik itu lalu menghempaskan tubuhnya di kasur kapuk, sedikit keras tetapi setidaknya masih bisa dipakai untuk tidur. Semua persendiannya masih terasa sakit, tubuhnya seperti remuk mau patah karena berjalan jauh dari apartemen pria itu.
“Ah aku tidak bisa tidur karena perbuatan pria itu, apa yang harus aku lakukan? Ya Tuhan apakah ini balasan yang harus aku terima, setelah aku membantu ayahnya keluar dari penjara, tetapi malah anaknya mengambil kehormatanku secara paksa? Aku sangat membenci orang itu! Dan, bagaimana kalau aku hamil? Tidak aku tidak mau hamil,” ucapnya dengan gelisah.
Gadis itu lalu turun dari tempat tidurnya dan mencari kalender duduk yang ada di meja kecil. Dia pun segera melihat dan membukanya, seketika air mata itu kembali jatuh.
“Ya Tuhan, aku baru saja selesai datang bulan dua hari yang lalu? Gadis itu memegang perutnya, dia takut hal itu akan terjadi yang membuat gadis itu akan terasa terhina.
“Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?” batinnya berkata dengan isakan tangisnya.
Gadis cantik itu merasa kotor setelah dinodai oleh seorang yang tidak bertanggung jawab yang dia tahu dia adalah anak dari ayahnya yang dia tolong tetapi lagi-lagi dia masih merasa ragu apakah pria itu sudah menodainya atau tidak, karena dirinya pun mengecek tubuhnya sendiri seperti tidak terjadi apa-apa.
“Apakah aku harus ke dokter untuk memeriksakan diriku sendiri apakah pria itu sudah berbuat kurang ajar atau tidak, atau mungkin ini yang disebut zaman canggih setelah berbuat seperti itu si korban tidak akan merasakan apa-apa?” tanyanya bingung.