04. Bertemu Kembali

1318 Kata
Dua puluh menit berlalu akhirnya mereka sampai di bangunan kokoh, sebuah rumah berlantai dua yang sangat megah dan mewah. Terdapat dua pilar yang menyangga bangunan itu sehingga tampak seperti istana. Halaman parkir yang begitu luas dan dihiasi dengan beberapa deretan mobil antik dan sepeda motor menjadi ciri khas rumah itu yang berwarna putih dan hitam sebagai aksen terlihat mewah dan cantik. Tanaman hias yang menghiasi setiap sudut halaman ditata secara apik memberikan kesan indah dipandang mata. “Pi, bangun Pi, sudah sampai.” David sedikit menggoyangkan tubuh Tuan Bram. “Oh ya sudah sampai, Ayuk kita keluar!” ajak Tuan Bram setelah tersadar dari tidurnya. “Papi duluan saja, David masih ada keperluan di luar,” sahut David tanpa turun dari mobil. Tuan Bram melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dia pun menaikkan alisnya sebelah. “Kamu mau ke mana pada jam segini? Apakah menemui wanita simpanan kamu?” selidik Tuan Bram dengan melototi David. “Jawab! Kenapa diam saja?” Tuan Bram menunggu jawaban anaknya. “David ada urusan sebentar, Papi tidak usah menunggu David, pokoknya David nggak macam-macam kok. Papi lebih baik istirahat dan tidak ada kata tapi-tapian, David mohon,” jawabnya sedikit memelas saat melihat Tuan Bram ingin berkomentar lagi. Tuan Bram pun menghela napas. “Oke, Papi akan istirahat tetapi jika kamu sudah menikah dan mempunyai keluarga kecil dan Papi bisa memamerkan menantu Papi dengan Om Rendi,” protesnya. Tuan turun dari mobil dengan wajah cemberut membuat David ikut turun dari mobil dan mengikuti langkah Tuan Bram. “Ayolah Pi, nanti kita akan bahas itu lagi, sekarang Papi istirahat dan David janji apa pun yang menjadi keinginan Papi, David akan ikuti,” jawabnya memelas. “Oke, Papi pegang omongan kamu dan sebagai saksinya mereka semua yang ada di sini. Awas ya, kamu membuat skandal jika ada yang menuntut kamu apa lagi kalau seorang wanita itu datang dan hamil anak kamu, sungguh sangat keterlaluan dan Papi tidak akan merestui kalian!” ancamnya. “Iya Pi!” jawabnya singkat. “Ya sudah hati-hati di jalan,” sahut Tuan Bram mengantarkan kepergian David. “Oke, Beres!” David mengacungkan jempolnya sembari tersenyum. “Oh ya satu lagi yang perlu kamu ingat setelah kamu menikah Papi mohon tinggalkan kebiasaan lamamu untuk mengencani banyak wanita, Papi hanya ingin kamu bahagia, memiliki keluarga kecil dan Papi akan tenang meninggalkan kamu. Apakah kamu mau melakukannya untuk Papi, setidaknya kamu sudah bisa mengabulkan keinginan mami yang dulu, benarkan?” tanyanya sembari menatap wajah David dengan lekat. David maju satu langkah lalu memeluk Papinya dengan hangat, walaupun David tidak bisa menangis tetapi hatinya ikut menangis. “Sudah malam Pi, udara di malam hari tidak bagus untuk kesehatan Papi.” David melepaskan pelukannya dan kembali menaiki mobilnya, setelah mobil itu dinyalakan sekejap telah hilang dari pandangan sang ayah. “Papi tahu Nak, kamu memang tidak ingin menikah tetapi mengingat usiamu sudah memasuki kepala tiga , kamu harus mencari pendamping dan di samping itu juga kamu harus mempunyai keturunan untuk meneruskan generasi kita. Papi yakin kamu bisa melupakan masa lalumu dan menemukan seorang wanita yang betul-betul sangat mencintaimu lahir dan batin,” ucapnya tersenyum kecil. *** David yang pergi bersama anak buah lainnya pergi ke tempat di mana mereka janjian untuk bertemu. Butuh waktu lama lima belas menit untuk sampai di sebuah rumah kosong. Rasa penasaran dan khawatir dengan tindakan apa yang sudah dia lakukan sendiri. David masuk dan mendapati seorang wanita yang diikat tangan dan kakinya di sebuah kursi kayu. Mulutnya diberi lakban hitam sehingga tidak bisa bersuara. Dengan pakaian serba minim membuat hasrat David bergejolak, terlebih lagi melihat pose wanita itu yang sangat memancing untuk menggodanya. “Ah sial, kenapa juga dia berpose seperti itu, membuat darahku mendidih saja,” batinnya kesal. “Siapa dia?” tanya David saat bertemu dengan Benny anak buahnya. “Wanita ini yang sudah menjebak Tuan Bram dan berusaha memprovokasi orang lain untuk menjatuhkan Tuan Bram dan untung saja ada seorang gadis yang menyelamatkan reputasi Tuan Bram seketika, Tuan,” jelas Benny. “Terus siapa yang kamu bawa ke apartemen saya?” tanya David bingung dan diliputi rasa bersalah. “Maaf Bos, kami salah target kami pikir dia lah gadis yang telah mencemarkan nama baik Tuan Bram ternyata bukan dan saat saya ingin menelepon Bos, keburu ponsel saya kehabisan baterai dan saya lupa untuk memberitahukan sama Bos,” jelasnya dengan menunduk takut melihat wajah Bos nya yang sedang dilanda amarah besar. “Apa! Kamu salah target berarti?” teriaknya di telinga Benny. “Ma—maaf Bos, saya pikir gadis itu yang telah menyebabkan Tuan Bram masuk penjara, karena saat saya menangkapnya itu dalam keadaan gelap, dan sama-sama memakai kacamata dan masker,” jelas Benny lagi sedikit gugup. “Dasar b***h! Ah sial aku telah salah, pantas saja dia selalu mengatakan kalau bukan dia pelakunya dan aku sudah membuat gadis itu ketakutan,” pikirnya dalam hati. “Semua ini karena kalian yang tidak becus menjalankan perintah dengan baik. Dan kamu Benny karena kamu yang membuat masalah, kamu harus mencari tahu siapa gadis itu sampai dapat, saya tidak peduli bagaimana caranya!” perintah David dengan tegas. “Ba-baik Bos!” sahutnya sedikit lega karena tidak mendapatkan hukuman dari Bos nya. “Maaf Bos bagaimana dengan dia?” tanya Benny. “Bangunkan dia, saya ingin tahu apa tujuannya melakukan tindakan kejahatan seperti ini,” jelasnya sembari memperhatikan wanita itu secara saksama. Namun, dilihat dari postur tubuh wanita itu sepertinya David mengenalnya. “Apakah dia benar orangnya?” “Benar Bos, saat itu wanita inilah yang memprovokasi warga untuk menyerang Tuan Bram hingga membuat Tuan Bram hampir kehilangan nyawanya. “Apa yang kamu pikir Benny?” tanyanya lagi. “Maaf Bos, kami belum membuka masker dan kaca matanya tetapi jika di lihat dari jauh maaf sepertinya wanita ini tidak asing bagi kami,” jelasnya. “Kamu benar, Ben, saya pun sependapat dengan kamu.” Pria bertubuh kekar itu mendekati wanita yang masih terikat dengan tali, lalu membuka masker hitam yang dia pakai dan kaca matanya. Seketika wajah David terkejut dengan siapa yang ada di hadapannya sekarang. Dia meremas rambut kepalanya seolah-olah tidak percaya wanita yang terikat tali itu ternyata orang yang pernah singgah di hatinya lima tahun yang lalu. “Sheira? Apakah ini betul Sheira?” tanyanya memastikan. “Maaf Bos, sepertinya memang dia Bos!” jawab Benny mengiyakan. “Sheira! Bangun! Hey bangun Sheira!” David mencoba membangunkan wanita muda itu dengan menepuk-nepuk kedua pipinya. Benny lalu mengambilkan botol air minum dan memberikan kepada David, kemudian mencipratkan sedikit air ke wajah mulus wanita muda itu. Seketika wajah itu sedikit memberikan respon dan perlahan-lahan bisa membuka kedua matanya, setelah cukup lama tertidur akibat obat bius yang diberikan oleh Benny. “Ah sial di—di mana aku? A—apa yang terjadi?” tanyanya yang masih mengumpulkan tenaga untuk bisa melihat dengan jelas. “Apa yang kamu lakukan Sheira dan apa ini?” tanya David yang masih syok dengan keadaan wanita itu. “Apakah benar kamu yang sudah membuat Papi masuk penjara, kamu bekerja untuk siapa dan apa maksud semua ini? Cepat katakan! Aku tidak punya banyak waktu untuk ceritamu yang basa-basi, katakan Sheira!” David menatap tajam wanita itu dengan penuh kebencian walaupun dia pernah singgah di dalam kehidupannya dengan penuh warna. Sheira membalas tatapan David dengan penuh arti , lalu kemudian dia tertawa dalam tangis. “Sayang apakah ini perlakuan kamu terhadap seorang wanita, bukankah aku pernah membuatmu tergila-gila denganku? Kamu sudah melupakan aku begitu saja? Walaupun kamu memintaku untuk memberikan jawaban yang pasti, aku tidak akan mau sebelum kamu melepaskan aku! Tenang aku tidak akan melakukan apa pun, kamu tahu bagaimana aku sebenarnya, kan?” bujuk wanita itu dengan lembut. Sheira berusaha untuk meminta David agar melepaskan ikatan tangan dan kakinya yang mulai terasa perih. David sejenak terdiam, dia pun sebenarnya masih belum percaya kalau Sheira lah yang melakukan ini semua. “Huh, aku memang tidak bisa menyakitimu,” ucapnya seraya membuang napas dengan kasar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN