05. Apa Kabar Mantan

1436 Kata
“Ben, lepaskan dia!” perintah David. “Baik, Bos!” Benny dengan segera melepaskan ikatan tali itu. “Augh, terima kasih,” ucapnya sambil memegang pergelangan tangannya yang mulai memerah di kulit putihnya. “Sekarang katakan apa maksud semua ini, dan kenapa sampai anak buahku mengatakan kalau kamu lah dalang dari semua yang terjadi dengan papi!” David sudah tidak sabar ingin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya dengan perasaan gelisah. “Kenapa Sayang? Kenapa harus buru-buru, tetapi baiklah aku akan memberitahukan setelah semua anak buahmu pergi dari ruangan ini, aku hanya ingin kita berdua saja, bagaimana? Aku harap kamu tidak merasa takut denganku, karena aku bukan monster ataupun pembunuh bayaran,” ejeknya dengan tersenyum kecil. “Emmh, baiklah aku akan turuti semuanya,” sahutnya sembari menatap tajam kearah “Ben, tunggu saya di luar!” perintahnya. “Baik Bos, jika wanita ini masih membuat masalah, panggil saya saja,” ujar Benny menegaskan. “Oke, saya bisa tangani wanita ini,” jawabnya tegas. Setelah kepergian anak buah David, tanpa membuang banyak kesempatan Sheira langsung memeluk mantan kekasihnya itu. David yang juga sangat merindukan pelukan wanita itu sedikit terbuai dan membalas pelukan dari Sheira. “Hemm, aroma tubuh yang sama, semenjak kita tidak melakukannya, apakah kamu merindukanku, Sayang?” Sheira sengaja membuat David kembali masuk perangkapnya sehingga membuatnya hampir saja tenggelam di dasar pelukannya. Sekilas Sheira langsung mencium bibir David, pria itu pun tidak menolaknya, tetapi saat ingin lebih lagi tiba-tiba David mengingat kejadian bersama gadis lain. David lalu mendorong tubuh Sheira, sehingga hampir terjungkal ke belakang, seketika raut wajah Sheira berubah. “Sayang , ada apa? Kenapa kamu mendorongku dengan kasar?” tanyanya sedikit berteriak. “Maaf Ra, sekarang jelaskan semua ini, aku tidak bisa tertipu lagi dengan rayuan gombalmu itu, sudah cukup kamu mempermainkan hatiku Sheira! Dan, itu sudah lima tahun yang lalu, kini kamu kembali dengan penampilan sebagai w*************a murahan! Kamu bekerja untuk siapa, Sheira? Katakan jangan sampai aku menunggumu terlalu lama!” bentaknya. Sheira kembali memeluk David membuat pria itu menjadi serba salah antara benci dan cinta masih berperang di dalam hatinya. Pria tampan itu pun kembali berusaha melepaskan pelukan wanita itu dan sedikit menjauh darinya. “A—aku terpaksa melakukan ini semua, Vid,” jawabnya sembari menundukkan kepalanya. “Siapa yang menyuruhmu?” tanya David mulai penasaran. “Jika aku memberitahukan semuanya apakah kamu mau melindungi nyawaku dari mereka, kamu harus berjanji sama aku David, aku tidak mau nyawaku menjadi taruhannya?” tanyanya membuat David bingung dan penasaran. “Oke, aku akan melindungimu, aku tidak pernah mengingkari janji yang telah aku buat, kalau tahu aku, kan?” singgung David sembari menatap lekat wajah Sheira yang belum bisa seratus persen hilang dari ingatannya. *** Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, hari ini David terlambat bangun setelah semalaman tidak bisa memejamkan kedua matanya saat apa yang dikatakan Sheira. Namun, dia harus memaksakan dirinya untuk selalu tampil prima apalagi satu tugas negara dari papinya masih terniang untuk mencari gadis itu. Dengan terburu-buru pria itu harus sampai di kantor, apalagi di jam seperti sudah pasti jalanan ibu kota akan macet total, dia pun harus mencari jalan tikus agar bisa sampai di tujuan. Sedangkan dari tadi ponsel David terus berbunyi. “Ah sial, aku telat bangun, ini semua gara-gara Sheira, kenapa dia kembali datang setelah lima tahun berlalu?” rutuknya dalam hati. David terlihat prustasi sampai-sampai tidak melihat ada lubang di depan, David menghantam lubang itu yang masih tergenang dengan air hujan semalam. Sontak saja sebagai pejalan kaki yang ingin menghindari lubang itu terkena cipratannya sehingga mengenai seluruh tubuh mereka. Dan, salah satu dari mereka pun, tiba-tiba saja melemparkan sebuah batu kecil yang dia lihat teronggok di sampingnya sehingga mengenai kaca spion mobil mewah itu dan retak. Sontak David berhenti mendadak dan memundurkan mobilnya kembali ke belakang tempat mereka berdiri. “Gawat ini, kita kabur yuk!” pinta salah satu wanita yang ikut terkena cipratan air itu. “Enggak akan sebelum orang itu meminta maaf sama kita, memang dia buta apa lubang sebesar itu main terobos saja, memang jalanan punya dia?” sungut gadis itu dengan berani menantang. “Duh jangan cari perkara deh, kamu enggak lihat itu mobil punya orang kaya dan kamu merusak kaca spionnya, kalau disuruh ganti bagaimana?” tanya temannya kesal. “Takut amat sih, biar aku yang hadapi orang itu, supaya orang kaya seperti dia tidak main kabur aja setelah melakukan ini semua!” hardiknya. “Kalau kamu enggak mau, kita mau kabar aja, malah kita yang diomeli sama orang kaya itu,” sahut yang lain dan segera meninggalkan gadis itu sendirian menghadapi David. “Kurang ajar berani sekali orang miskin itu melempar batu, dia enggak tahu apa kaca spion itu sangat mahal harganya, dasar enggak waras!” rutuknya kesal dan dengan cepat dia menghentikan mobilnya. Saat tepat di samping seorang gadis yang melemparkan batu itu. David lalu membuka kaca mobil dan ingin memarahi gadis itu, tetapi saat melihat dengan jelas, mereka pun sama-sama terkejut. Pandangan mereka kembali bertemu. David tidak bisa melupakan bola mata itu yang begitu indah menurutnya. “Kamu?” tanya gadis itu dengan wajah tegang. Dia pun buru-buru mau meninggalkan pria tampan itu, tetapi kalah cepat karena tangan gadis itu pun berhasil dicekal olehnya. “Mau lari ke mana kamu?” tanyanya sembari keluar dari mobil dengan cepat. “Lepaskan tanganmu, jangan sentuh aku, apa belum puas apa yang kamu lakukan, hah?” tanya gadis itu dengan amarah. Tanpa banyak kata David langsung membawa gadis itu masuk ke dalam mobil, tentu saja dengan sekuat tenaga Delia berontak, tetapi tenaganya tidak sebanding dengan pria itu. “Kamu mau apa, lepaskan!Tolong ...Tolong,” teriak Delia yang mulai dibanjiri air matanya karena takut terulang lagi. “Diam, saya tidak akan menyakitimu kalau kamu duduk tenang dan jangan membuat keributan jika nyawamu tidak mau melayang!” bentak David. “Sebenarnya apa mau sih, aku mau pulang! Dengar, aku tidak akan melaporkan apa pun, karena aku tahu orang kaya sepertimu itu pasti banyak uang untuk menyuap orang-orang penting, jadi kamu tidak perlu khawatir aku akan di —“ ucapan terhenti karena David membungkam mulutnya dengan lakban dan mengikat kedua kaki gadis itu. “Sekarang tenang oke, saya pusing mendengar suaramu yang cempreng itu, jadi bekerja samalah. Saya tidak akan menyakiti kamu, papi ingin bertemu dan kamu tahu, kan siapa saya?” tanya David penuh penekanan. Delia pun mengangguk pasrah karena untuk saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa. David pun membawa gadis itu pergi dari sana, dia pun memutuskan tidak jadi pergi ke kantor dan segera menghubungi Billy untuk menghandle sementara pekerjaan di kantor. Sepuluh menit berlalu mobil itu akhir memarkirkan di sebuah rumah besar yang kokoh, seketika Delia pun dibuatnya kagum melihat apa yang ada di depan matanya. David lalu membuka ikatan itu dan lakban di mulutnya, lalu menggiringnya keluar mobil. “Auw ... kasar sekali, begini kamu memperlakukan seorang gadis, aku yakin wanita yang menjadi istrimu sangat stres menghadapi kamu yang arogan seperti ini,” rutuknya lagi. “Itu salah kamu sendiri karena tidak bisa mengontrol bicaramu seperti bebek, dan saya hanya ingin bicara denganmu, Ayuk ikut, jangan membuat saya kesal!” hardiknya sembari berjalan duluan ke depan. “Apa ini, seharusnya aku yang marah tetapi kok dia yang malah marah-marah, dasar stres ini orang,” batin Delia. “Apakah saya harus menyeretmu masuk, Nona?” tanya David menatap tajam ke arahnya. Dengan perasaan masih kesal dia pun mengekori David. Para pelayan pun membungkuk memberi hormat dan memperhatikan seseorang yang ikut di belakangnya. “Mbok, bawa gadis ini untuk mandi dan berganti pakaian, carikan pakaian Mami yang cocok dengan tubuh kerempeng gadis ini, setelah itu bawa ke ruang kerja saya, sungguh tidak ada dagingnya sama sekali,” cerca David mengejek. “Apa kamu bilang, tetapi kamu sudah —“ ucapannya menggantung karena David langsung mencela. “Tunggu apa lagi, cepat ganti pakaianmu setelah itu kita akan bicara!” ucapnya menatap tajam ke arah gadis itu kemudian melangkah pergi, tetapi sampai dianak tangga David kembali menoleh ke belakang. “Oh ya Mbok kasih tahu pelayan yang lain untuk segera mencuci mobil ini, saya sangat alergi dengan bau orang miskin!” tambahnya lagi membuat mata Delia yang kini melotot tajam ke arah David tetapi pria itu dengan santai melangkah pergi menuju ruang kerjanya. “I-iya Den,” jawab Mbok Sumi sembari menganggukkan kepala. “Ayuk Neng, Den David enggak makan orang kok, yang penting nurut saja ya,” ajak Mbok Sumi membujuk Delia. Dengan terpaksa dia pun mengikuti wanita paru baya itu, tetapi David menyunggingkan sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya saat melihat dari atas. “Gadis yang unik dan menggemaskan,” ucapnya lagi dan berlalu pergi menuju ruang kerjanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN