“Mbok betah banget sih bekerja dan tinggal di sini, majikannya arogan sekali, aku ya Mbok jika disuruh memilih antara pria tampan, kaya tetapi arogan seperti itu dengan pria yang wajah pas-pasan, miskin lebih baik yang pilihan yang kedua, daripada makan hati,” gerutunya kesal saat setelah mandi dan memakai jubah mandi di dalam kamar mandi tadi.
Tidak dipungkiri sebenarnya Delia sangat takjub saat memasuki salah satu kamar itu, begitu mewah dengan ornamen cantik, tetapi saat mengingat apa yang terjadi di malam itu membuatnya kesal.
“Waw, ini kamarnya sangat luas ya Mbok, enggak sayang cuma buat kamar, bisa kali dibuat rumah kos-kosan kan?” tanyanya sembari kembali memperhatikan setiap sudut kamar itu sembari tersenyum.
Mbok Sumi ikut tersenyum lalu memperhatikan wajah cantik Delia tanpa polesan sedikit pun dan hal itu mengingatkan dengan wanita yang telah lama pergi untuk selamanya. Wanita paru baya itu pun lalu mengambil beberapa potong pakaian yang menurutnya sangat pas di tubuh gadis itu dan menaruhnya di tepi ranjang.
“Pakailah pakaian itu Neng,” ucap Mbok Sumi sambil menunjuk kearah pakaian itu.
Spontan Delia melirik dan mengamatinya. Seketika Delia begitu bahagia saat melihat ada tiga potong dress yang sangat cantik dan menarik baginya, hingga dia memilih dari ketiganya yang menurutnya sangat simpel.
“Benaran ini boleh Deli pakai, Mbok?” tanya Delia sembari mengambil dan menempelkan di tubuhnya sendiri.
“Iya Neng, cepat ganti , Den David tidak suka menunggu terlalu lama, dia enggak sabaran orangnya,” sahut Mbok Sumi sembari tersenyum melihat tingkah gadis muda itu.
“Uh pantas saja,” gumamnya dalam hati. Delia lalu kembali ke kamar mandi untuk berganti pakaian, hanya butuh tiga menit Delia sudah keluar dari kamar mandi itu dan seketika itu juga Mbok Sumi sampai melongo melihat penampilan yang sama dengan majikannya saat masih muda.
“Ya Allah, sangat mirip sekali, dress Ibu sangat cocok di tubuh gadis itu, pasti Den David akan terkejut seperti aku juga,” batin Mbok Sumi mengagumi paras ayu Delia.
Dress selutut yang dipilih oleh Delia, memperlihatkan kaki jenjang yang putih dan mulus, sedikit membentuk tubuhnya yang ramping sehingga terlihat seksi walaupun memakai potongan lengan pendek. Corak berwarna putih bercampur biru muda terlihat menarik dipandang, ditambah rambut hitam yang panjang bergelombang indah.
Delia pun sempat mematut dirinya di sebuah cermin besar, dia pun tidak percaya dengan penampilannya sendiri, lebih tepatnya dia selalu menyembunyikan kecantikannya dari pandangan negatif orang lain. Sudah lama dia tidak berpakaian feminim seperti ini, biasanya dia selalu memakai celana jeans dan kemeja atau kaos longgar.
“Tidak ... aku tidak ingin seperti ini, aku harus menyembunyikannya, bagaimana jika istri orang itu melihat wajahku seperti ini, pasti dia akan menganggapku sebagai pelakor,” lirihnya dalam hati dengan wajah berubah sendu.
“Ada apa Neng, Ayuk kita keluar sekarang,” ajak Mbok Sumi.
“Tunggu Mbok, Deli tidak bisa memakai seperti ini dan — “ Terdengar suara pintu kamar terbuka. Delia dan Mbok Sumi sama-sama menoleh kearah pintu itu.
“Kenapa lama se —“ David yang tidak sabaran menunggu akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamar tamu tempat di mana ada Delia dan Mbok Sumi berada.
Seketika pria tampan itu terpana dengan kecantikan alami yang dimiliki oleh Delia apalagi dengan mengenakan dress milik maminya terasa begitu indah. David mendekati perlahan-lahan membuat jantungnya berdegup kencang begitu juga gadis cantik itu terdiam mematung.
“Cantik kan Den?” tanya iseng dari Mbok Sumi.
“Iya cantik,” sahut David tetapi kedua matanya tidak lepas menatap gadis dihadapannya.
“Mirip banget dengan Bu Sofia kan?” pancung Mbok Sumi.
“Iya Mbok dan betul kata papi dia mempunyai sesuatu yang indah,” jawabnya lagi.
“Berarti Den David sangat menyukai Neng Delia, dong?”
“Suka sekali dengan dia—“ David tersadar dari lamunannya dan terlihat salah tingkah di depan Delia. Mbok Sumi tersenyum melihat wajah majikannya seperti kepiting rebus, merah merona. Delia ikut menatapnya tetapi dia sadar akan satu hal kalau pria itu sedang memandangi kecantikannya seperti pria pada umumnya dan hal itu yang membuat dirinya takut kalau semua pria hanya mementingkan fisiknya saja. Delia melangkah jauh dari tatapan David, dia lalu mengikat rambutnya lagi dan mengambil kacamata dan memasangkannya seperti semula.
“Kenapa rambut kamu diikat lagi?” protes David seketika.
“Apakah kamu menculikku hanya untuk masalah ikat rambut?” tanya balik Delia membuat David salah tingkah. Mbok Sumi pun tersenyum saat melihat mereka berdua, karena baru kali ini ada yang tidak memuji ketampanan majikannya yang paripurna.
“Ikut saya!” ajaknya sehingga Delia kembali mengekorinya dari belakang.
Gadis cantik itu menelisik setiap sudut ruangan yang dia lewati, matanya tidak berkedip sedikit dan mengagumi setiap barang yang dia lihat.
“Pekerjaannya apa sih, kaya banget ini orang, pasti istrinya banyak, dia kan pasti bisa membeli banyak wanita untuk bisa diajak tidur bareng,” rutuknya dalam hati.
Tanpa sadar Delia sudah sampai di ruang kerja David. Ruangan yang sangat luas dan terdapat banyak buku-buku yang tersusun rapi di raknya masing-masing.
“Waw banyak sekali buku-buku, apakah kamu tidak ada berkeinginan untuk menjualnya?” tanya Delia saat melihat banyak buku di ruang kerja pria itu.
“Apa yang kamu tahu tentang buku, mereka sangat berharga dan sulit mendapatkannya, kamu pikir beli buku seperti ini murah?” tanyanya kesal.
“Huh galak banget, bagaimana yang menjadi istrinya, mungkin sudah minta cerai,” gerutu Delia dalam hati.
“Silakan duduk, ada yang harus kita bicarakan,” lanjutnya lagi.
Delia pun mengikuti perintah pria arogan itu berhadapan dengan David dengan pemisah meja besar dan panjang itu.
“Sekarang katakan apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Delia sedikit ketus.
Seperti terkena sihir, David tidak merespons perkataan gadis itu tetapi kedua matanya menatap lekat ke arah wajah cantik di depannya. Begitu juga dengan Delia yang memang sudah duduk tetapi matanya masih liar ke sana kemari, sampai akhirnya mata cokelat itu menatap wajah tampan yang sedari tadi hanya diam.
“Apakah dia terkena serangan jantung sehingga mati mendadak? Jangan sampai deh nanti dikiranya aku lagi yang membuat orang ini meninggal,” pikir Delia dalam hati.
Merasa bingung Delia pun sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah David, sedikit menaikkan tubuhnya di meja kerja itu agar bisa melihat dari dekat wajah yang terpahat sempurna dihadapannya. Seketika baik Delia maupun David saling menatap dalam diam. Iris mata Delia membulat sempurna membuat pria tampan itu sadar seketika saat jarak antara mereka begitu dekat. Senyumnya mengembang dan dengan sengaja David lebih mendekatkan wajahnya ke gadis itu.
“Sangat menggemaskan, kedua matamu sangat indah apalagi bibirmu yang —“ David ingin meraup bibir ranum itu tetapi tiba-tiba sekelebat sebuah bayangan sepertinya tidak menginginkan itu terjadi.
“Apakah kamu selalu mandi pagi?” tanya Delia seketika membuat David bingung dan membuyarkan pikiran mesumnya.
“Ya jelaslah, saya sangat suka kebersihan dan saya sangat membenci yang namanya kotor,” jawabnya menegaskan.
“Pasti dia sangat terpesona dengan ketampananku, secara gitu seorang David selalu tampil maksimal di depan wanita, tidak ada didalam kamus seorang wanita menolaknya,” ucapnya dalam hati penuh percaya diri.
Delia mencibir dan tersenyum mengejek, kemudian membetulkan posisinya yang tanpa sadar mendekati pria tampan itu.
“Ngaku sudah mandi bersih, kenapa masih ada beleknya, buambang,” gelak tawa tak terhindarkan membuat raut wajah David berubah seketika.