07. Siapa Yang Mengancam

1081 Kata
David segera mengucek matanya dan benar saja masih ada kotoran di sana membuat dirinya menjadi malu. Delia tidak bisa berhenti tertawa sehingga pria itu kembali menatapnya. Tawa gadis itu mengingatkan kembali degan kenangan manis bersama Sofia, wanita yang sudah melahirkannya tiga puluh dua tahun yang lalu. Dan senyuman itu juga untuk terakhir kalinya dia lihat sebelum pergi untuk ke pangkuan sang Illahi. “Apakah yang dikatakan Papi memang benar kalau gadis ini adalah jodohku? Tapi aku belum bisa mencintainya seperti aku mencintai Sheira?” David diliputi rasa bimbang walaupun dia sangat marah dengan Sheira tetapi wanita itu sudah duluan masuk di kehidupan David dan memberikan banyak cinta dan kasih sayang. “Tidak, fokus David, ini hanya kesepakatan agar Papi tidak mengalami serangan jantung lagi. Ayuk David kamu bisa menaklukkan hati gadis ini, apalagi kamu sudah pernah mengganggunya di apartemen kamu kan? Oh iya apakah aku harus meminta maaf dulu dengannya dan memberitahukan kalau kejadian malam itu sebenarnya tidak terjadi apa-apa, terapi kenapa dia bersikap biasa saja? Apakah dia sudah tahu kalau dia masih perawan dan belum tersentuh sedikit pun? Apakah aku harus bertanya duluan?” tanyanya diliputi rasa bimbang. *** “Apakah kamu sudah selesai tertawanya atau saya harus menunggu kamu berhenti?” tanya David tegas. “Oh maaf keceplosan, silakan apa yang ingin kamu sampaikan, Tuan terhormat?” ledeknya lagi. “Akhirnya kita bisa bicara dengan serius Nona —“ “Panggil saja Delia,” potong gadis itu menyahut. “Oke Nona Delia, langsung ke intinya, sebelum itu saya hanya mau meminta maaf atas apa yang pernah saya lakukan di apartemen itu dan saya ingin bertanggung jawab untuk semuanya, saya sudah berbaik hati untuk menawarkan kamu menjadi istri saya sebagai bentuk permintaan maaf dan tentunya itu kan yang kamu mau, menuntut untuk dinikahi?” tanyanya dengan penuh percaya diri. Delia masih bungkam dia ingin mencerna setiap kalimat yang dikatakannya dengan tertata rapi seperti pidato, dia pun salut dengan keberaniannya untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf secara langsung walaupun sedikit ada drama di dalamnya, tetapi entah kenapa permintaan maaf itu dirasakan oleh gadis itu terlihat dipaksakan untuk suatu tujuan lain yang ingin didapat oleh seorang David. “Oke, belajarlah dari kesalahan, jangan menilai dari sampulnya saja tetapi lihat juga di dalamnya, sepertinya kamu harus banyak belajar mengenal karakter orang lain sebelum kamu berburuk sangka berlebihan dan sangat merugikan di satu pihak,” jelasnya Delia. “Berarti kamu terima untuk menikah dengan saya?” tanyanya lagi. “Bukankah kamu sendiri yang tidak ingin berhubungan dengan saya lagi, jadi kenapa kamu malah meminta saya menjadi istri kamu?” tanyanya lagi membuat David hampir hilang kesabaran. “Apakah kamu tidak ingat dengan apa yang saya lakukan Nona Delia? Saya sudah mengambil paksa kehormatan kamu, biasanya wanita itu akan meminta dinikahi tapi kenapa kamu malah nggak mau?” tanyanya lagi membuat David prustasi menaklukkan satu gadis. “Duh, susah amat nih cewek seharusnya dia mau dong atau jangan-jangan dia sudah tahu ya?” tanya dalam hati. Pria tampan itu lalu membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah buku. Delia menatapnya bingung karena ternyata buku itu adalah lembaran cek kosong, David merobek satu lembar cek itu setelah membubuhkan tanda tangan dan nama pemiliknya. “Ambil ini untuk perjanjian kita, terserah kamu mau menuliskannya berapa dicek kosong itu,” ucapnya sembari menyodorkan selembar cek kosong ke hadapan Delia. Gadis itu hanya menatap lekat cek itu tanpa ingin mengambilnya. Dia pun segera berdiri dari tempat duduknya tanpa berbicara sedikit pun. Tentu saja hal itu membuat David marah dan mengejar Delia yang ingin menuruni anak tangga dengan cepat. “Tunggu, kamu mau ke mana? Kita belum membicarakan sesuatu tapi kamu malah pergi, nggak sopan banget. Kamu wanita apa bukan sih, punya tata krama, kan? Kamu diajarkan sama orang tuamu, kan? Bukannya orang miskin sepertimu sangat membutuhkan uang misalnya untuk kehidupan sehari-hari atau ada yang sakit mungkin di keluargamu sehingga sangat membutuhkan uang banyak?” tanya David dengan suara meninggi. Seketika langkah Delia pun terhenti saat ingin menuruni anak tangga. David menyeringai berpikir kalau gadis itu memang sangat membutuhkan uang dan dari kalangan orang miskin. Delia menoleh ke pria itu yang berdiri tepat di belakangnya dengan tatapan dingin sebisa mungkin tidak terpancing emosi dengan perkataan pria tampan itu yang sebenarnya sangat melukai hati seorang Delia. “Maaf, Anda salah target Tuan David yang terhormat dan terima kasih dengan pakaiannya, anggap saja ini pemberian Anda untuk kesalahan yang sengaja Anda lakukan, permisi!” Delia mengatakannya dengan tegas tanpa ada rasa takut sedikit pun. Dia pun melanjutkan langkahnya dengan cepat. David merasa terhina atas penolakan itu, karena belum ada orang yang berbicara dengan lantang dan berani, bahkan untuk seorang gadis sekalipun yang lebih bisa ditaklukkan dengan mudah tanpa ada paksaan, tetapi sekarang baru kali ini ada yang menentang keputusannya. Pria tampan itu tetap berisi keras, dia pun tidak ingin kalah dalam perdebatan itu sehingga timbul idenya untuk memeras gadis itu. “Oh ya kamu tidak mau bernegosiasi dengan saya, kan, baiklah jika itu keputusanmu, tapi bagaimana jika video m***m kita tersebar di sebuah situs film dewasa, walaupun kita sama-sama menikmatinya tapi hanya wajahmu saja yang terlihat, zaman sekarang itu semua bisa dibeli Nona Delia, apalagi hanya kehormatan dari seorang gadis miskin sepertimu,” sahutnya sembari tersenyum puas saat melihat ekspresi wajah Delia langsung berubah drastis. David menikmatinya ketika melihat seseorang terpojok maka dengan cepat juga mengubah keputusannya untuk segera menerima. “Kamu masih tidak percaya dengan apa yang saya katakan, perlu bukti?” tanya sembari mengedipkan matanya. David lalu mengeluarkan ponsel canggihnya dari saku balik jas kebanggaan. Membuka layar ponsel sebuah video berdurasi kurang lebih lima menit. Tentu saja gadis itu melototi setiap adegan itu yang begitu sensual. Tampak seorang pria yang hanya memperlihatkan bagian tubuh intinya saja tetapi pemeran wanita itu mirip sekali dengan dirinya yang terekspos jelas lekuk tubuhnya yang begitu indah. “Yes, kamu masuk perangkapku, untung saja aku mempunyai otak brilian yang sudah menyiapkan rencana cadangan untuk menekan gadis itu jika tidak mau bekerja sama, seperti dugaanku sebelumnya gadis ini sangat sulit ditaklukkan seharusnya, kan dia meminta pertanggung jawaban karena sudah dinodai tetapi kenapa dia tidak memintanya, aneh sekali?” tanya dalam hati yang merasa bingung dengan sikap gadis itu. “Ternyata tampangnya saja tampan paripurna tetapi otaknya jalan di tempat, kamu pikir gadis sepertiku bisa dibohongi, nggak mempan Bro, dia belum tahu siapa aku sebenarnya,” batin Delia berkata sinis. “Bagaimana apakah kamu ingin melihat video lainnya, tenang masih banyak kok yang saya bisa kirim ke kamu juga sebagai kenang-kenangan,” ejeknya lagi merasa puas mengerjai Delia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN