Delia lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya. “Cepat kirimkan video itu ke ponselku, apa kamu berani?” tantangnya. Ekspresi David semakin terlihat emosi tetapi sebisa mungkin Delia tidak menampakkan ketakutannya dalam dirinya meskipun jantungnya hampir saja ingin melompat keluar melihat wajah garang pria itu.
“Delia, kamu cari mati ini namanya, wajah pria ini sudah merah seperti tomat untung saja di kepalanya nggak keluar tanduk dan berasap,” gerutunya dalam hati.
“Oke, berapa nomormu?” tanya David semakin kesal.
Delia pun menyebutkan nomor ponselnya, setelah itu David mengirimkan beberapa potongan adegan orang dewasa itu yang begitu vulgar.
“Sekarang kamu puas? Kamu tidak mempunyai pilihan lagi selain menyetujui permintaan saya, apa susahnya sih untuk menjadi istri saya paling tidak setahun, agar papi saya tidak uring-uringan lagi? Kamu itu terpilih langsung oleh papi saya sebagai istri dari anak pengusaha yang tajir melintir ditambah bonus ketampanan saya. Bisa menikah dengan saya itu anugerah lagian kamu bisa menikmati kenyamanan dan kemewahan yang tidak pernah kamu dapatkan bukan, berpikirlah realistis Nona Delia,” jelasnya sembari tersenyum memperlihatkan deretan gigi putih yang berbaris dengan rapi.
Delia terlihat tak berkutik bahkan memposisikan dirinya sangat terpojok sehingga pria itu semakin tersenyum lebar, tetapi itulah yang diinginkan oleh gadis itu karena semenit kemudian wajah sayu itu tiba-tiba dibalas dengan senyuman merekah membuat pria itu yang sekarang menjadi bingung.
“Kata orang sedia payung sebelum hujan dan itu yang saya lakukan Tuan David,” ucapnya santai.
“Apa maksud kamu?” tanya David penasaran.
“Anda benar Tuan David di zaman seperti sekarang ini serba canggih dan otak pun harus mengikuti perkembangan bukan?” Delia lalu membuka ponselnya kembali dan mendengarkan sebuah rekaman percakapan mereka berdua. Tentu saja David terlihat gugup setelah mendengar apa yang direkam oleh gadis itu. Kedua matanya melotot hampir saja mau keluar, napasnya mulai naik turun dan dengan sigap David berusaha mengambil ponsel Delia dari tangannya, tetapi gadis itu tak kalah cepatnya bergerak menghindar. Dia licin seperti belut sedikit sulit ditangkap.
“Kenapa kamu takut kalau rekaman itu tersebar luas, silakan saja kamu sebar adegan m***m kita tetapi bersamaan dengan rekaman ini pun akan tersebar dan mereka akan tahu kalau pria yang ada di dalam adegan itu adalah anak seorang pengusaha Bimantara group dan yang paling membahayakan bagaimana dengan Tuan Bram, beliau akan terkena serangan jantung mendadak dan kamu yang harus disalahkan,” jelasnya penuh penekanan.
“Kamu tidak bisa melakukan ini dengan saya!” bentaknya.
“Berpikirlah sebelum bertindak Tuan David,” ancamnya. David terdiam mematung setelah mendengar kalimat itu, dia tidak ingin membahayakan kesehatan papinya sendiri. Melihat pria itu masih terpaku hal ini dimanfaatkan oleh gadis itu untuk kabur dari hadapannya. Dengan kepintarannya Delia bisa bersembunyi di suatu sudut yang dirasanya tidak bisa ditemui.
David belum menyadari kalau gadis itu telah pergi, sampai akhirnya ponselnya kembali berdering membuyarkan lamunannya seketika.
“Sheira? Dan di mana gadis itu?” Ah sial dia sudah pergi?” David tidak menghiraukan panggilan telepon itu, dia fokus mencari gadis itu sambil berlari ke arah gerbang, mengedarkan pandangannya tetapi tetap tidak bisa menemukan batang hidungnya.
“Apa yang kalian lakukan, kenapa kalian membiarkan gadis itu pergi?” tanyanya kepada anak buahnya dan satpam di luar.
“Maaf Bos, kami tidak melihat sama sekali gadis itu keluar dari gerbang ini,” kilah satpam yang bertugas.
“Ah! cepat cari berarti dia masih bersembunyi di lingkungan sini, tunggu apa lagi cepat temukan gadis itu!” teriaknya sangat kesal sedangkan ponsel David terus berdering membuatnya bertambah emosi.
Mereka pun sibuk mencari ke sana kemari keberadaan gadis itu tetapi tetap saja tidak ditemukan. Merasa terganggu dengan suara ponselnya dengan terpaksa David pun melayani panggilan Sheira.
“Ya, ada apa?”
“Sayang, to—tolong aku —“ Panggilan itu terputus membuat David semakin panik.
“Halo! Sheira! Sheira! Apa yang terjadi?” teriaknya keras.
“Ah sial ada apa dengan Sheira?” David segera mengambil mobilnya lalu dengan cepat melaju membelah jalanan tanpa memikirkan Delia, dia fokus ke mantan kekasihnya. Sudah berulang kali David menghubungi Sheira tetapi ponselnya sudah tidak aktif lagi membuat dirinya menjadi lebih khawatir.
“Bos ini bagaimana sih, tadi katanya kita harus mencari gadis itu tetapi malah dia pergi begitu saja, lanjut nggak ini kita cari, siapa tahu aja dia sudah pergi juga Cuma kita nggak lihat, kan?” tanya salah satu anak buah David.
“Nggak tahu tuh bikin kerjaan aja, tetapi kalau nggak salah tadi yang menghubunginya adalah Non Sheira mantan tunangan Bos David kan?” tanya balik satpam itu.
“Iya juga sih, kenapa si Bos malah kepincut lagi sih, katanya benci kok masih ditemui?” lanjutnya lagi.
“Ya namanya bucin ya begitu, di mulut bilang benci tetapi di hati masih mencintai, kasihan banget Bos David kita itu,” balas satpam itu lagi.
“Sudahlah , tidak perlu dicari paling-paling gadis itu sudah pergi,” sahutnya.
“Pak Min sadar nggak sih kalau gadis yang telah menyelamatkan Tuan Bram dan ingin dijodohkan dengan Bos David ini sangat berbeda dari kebanyakan gadis yang sering ditemuinya loh,” ucap salah satu anak buahnya yang bernama Joko.
“Saya juga berpikir seperti itu, sekarang saja dia main kabur dari kejaran Bos, biasanya, kan wanita yang nempel seperti prangko, lah ini malah Bos David yang kewalahan baru sehari loh bagaimana nanti kalau menjadi istrinya?” tanya Pak Min satpam itu sembari tersenyum bersama anak buah David yang lain.
“Apa? Dia punya mantan? Tapi kenapa?” tanya Delia dalam hati menjadi penasaran.
Tanpa mereka menyadarinya kalau Delia sedang bersembunyi di belakang pos penjagaan sehingga dia mendengarkan semua pembicaraan mereka. Gadis itu sedari tadi menunggu di sana karena gerbang yang menjulang tinggi itu masih terbuka. Mereka masih asyik berbicara sehingga lupa untuk menutup kembali gerbang itu. Hal ini dimanfaatkan oleh Delia untuk kabur dari sana.
“Alhamdulillah, akhirnya keluar juga, aku harus cepat pergi dari sini sebelum pria itu datang kembali dan sepertinya aku harus mengganti kartu SIM ini, pasti dia akan melacak keberadaanku melewati nomor ini,” batinnya berkata.
Delia lalu mencopy semua data termasuk rekaman dan video itu, setelah selesai dia membuangnya di sembarang tempat. Gadis itu pun tersenyum puas sudah mengerjai pria arogan itu.
***
Tidak butuh waktu lama David telah sampai di apartemennya, bergegas pergi ke lantai tujuh tempat Sheira menginap. Setelah sampai di depan pintu apartemen dia langsung membukanya.
“Tampak sepi, Di mana Sheira?” gumamnya dalam hati.
“Sheira!” teriaknya sembari mencari setiap sudut ruangan sampai akhirnya langkah itu berhenti di kamar.
“Mungkin dia ada di dalam — “ Sheira apa yang ter —?” David tidak bisa berkata-kata lagi saat membuka pintu kamarnya dengan disuguhkan pemandangan yang menaikkan gairahnya sebagai pria.