09. Godaan Maut

1141 Kata
Pria itu menelan salivanya saat kedua matanya tidak menolak dengan pesona kecantikan Sheira yang tampil seksi. Linggre berwarna merah maron sangat menggoda di tubuh yang berkulit putih itu. “Kejutan!” teriaknya penuh bahagia sembari menghampiri David. Tak ingin membuang kesempatan wanita cantik itu langsung menyambar bibir David. Sontak saja dia pun terkejut tetapi lambat laun terbuai dengan ciuman dari Sheira. Wanita cantik itu menyeringai dia tahu kelemahan David karena yakin dia masih mencintai dirinya. Dengan napas menggebu membuat David terangsang dan ingin melakukan sesuatu yang lebih dari itu. Sheira menuntunnya ke ranjang dan segera membuka satu persatu pakaian pria itu terlepas sehingga terlihat jelas tubuh bidang dengan perut kotak-kotaknya. “Kamu sangat menjaga penampilanmu, Sayang,” ucapnya lagi dan menuntunnya naik ke atas ranjang, tetapi tiba-tiba David mendorong kasar Sheira membuat dirinya sedikit sakit saat bahunya di dorong. “Augh!” pekik Sheira. “Maaf,” sahutnya sembari turun dari ranjang. “Ada apa, Sayang ? Kenapa kamu?” tanya Sheira kembali membujuk David dengan melingkarkan kedua tangannya di leher David, tetapi dirinya malah terasa risih dan berusaha melepaskannya. David segera ke kamar mandi meninggalkan Sheira yang masih terdiam melihat perlakuan dingin David, dia segera mengambil lapisan pakaian tidurnya dan duduk di tepi ranjang, masih memikirkan apa yang terjadi. “Tidak! Dia tidak boleh melakukan hal ini kepadaku, dia harus menjadi milikku. Aku sudah tampil seksi seperti ini dia tidak tetap tidak tergoda, susah sekali?” tanya Sheira dalam hati. Masih penasaran Sheira kembali ingin menggoda David di kamar mandi, tetapi ternyata pria itu sudah menguncinya dari dalam sehingga Sheira merasa kesal dan mengumpat kasar di balik dinding pintu kamar mandi itu. “Sayang, kenapa kamu kunci dari dalam , aku mau masuk nggak bisa nih?” tanyanya memelas sambil menggedor-gedor pintu tetapi tetap saja tidak ditanggapi oleh David. “Ah, untung saja nggak tergoda lebih lama, bayangan wajah Papi sangat tepat datang, kalau nggak habis tubuh Sheira aku lahap,” ucapnya sambil terkekeh di dalam kamar mandi. “Benar kata Papi aku harus cepat menikah agar aku tidak jajan sembarangan, bisa gawat jika David kecil meronta minta jatah. Sabar ya kita akan mencari mami yang cocok buat kamu, tetapi siapa nggak mungkin Sheira pasti papi tidak akan setuju bahkan sudah di coret dan masuk buku daftar hitam?” David menyabuni seluruh tubuhnya tetapi pikiran pria itu masih diliputi dengan wanita-wanita yang pernah singgah di dalam hidupnya tetapi tidak bisa membawa mereka ke ranjang panas. “Amanda? Dia cantik dan seksi tetapi suka pasang status, bahkan yang nggak penting dibuat tok-tok. Indira? Ah dia terlalu kaku dan pendiam, dan selalu mengatakan maaf dan terima kasih, sepertinya hanya dua kata itu saja yang dia tahu, mungkin sampai sekarang belum ada penambahan kosakata. Mila? Nggak mungkin dia sekretarisku yang bawel dan super cerewet lagian dia juga sudah menikah, pantang untukku merebut wanita yang masih berstatus kan suami orang apalagi dia sedang ,” ucapnya tersenyum kecil. David mengingat-ingat semua wanita yang pernah dia dekati setelah kepergian Sheira bahkan Tuan Bram berusaha memperkenalkan dengan beberapa wanita tetapi ujung-ujungnya tidak ada yang disukai oleh David. Namun, ada satu nama yang belum dia sebutkan, bahkan saat memejamkan kedua matanya dia melihat wajah wanita itu tetapi dengan wajah mengejek. “Huh, kenapa wajah itu yang muncul, Augh!” pekiknya karena busa sabun itu mengenai matanya sehingga sedikit perih, cepat-cepat David membilasnya dan segera menyelesaikan ritual mandinya di dalam. Setelah lebih dari sepuluh menit akhirnya David keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk dia atas pinggangnya. Wangi semerbak menusuk penciuman Sheira sehingga membuat dirinya ingin memeluknya lagi. Melihat Sheira ingin menghampirinya David dengan buru-buru memperingatkan lagi. “Stop di situ, Sheira, jangan memancing aku!” bentaknya membuat langkah Sheira terhenti. “Ada apa, David, kenapa kamu menolakku sekarang? Bukannya kamu sudah lama merindukan belaian aku, Sayang?” tanyanya yang ingin menggodanya lagi. “Aku sudah menunggumu dari tadi, aku, kan mau mandi juga bersama kamu. Kenapa sih sekarang kamu malah menjauh dariku?” tanya Sheira memelas dengan mata yang mulai berkaca-kaca. David tidak menggubrisnya dia langsung mencari pakaian di dalam lemarinya dan pergi ke ruang ganti. Hanya memakai kaos putih yang pas di badannya dan celana jeans berwarna biru muda selutut menambah kesan santai dan kasual. “Bisakah kita bicara di luar, Sheira? Ganti bajumu!” tanyanya dengan tatapan dingin. Sheira bangkit dari tempat duduknya yang begitu sensual, wajahnya terlihat kesal, sedangkan David berusaha menahan gejolak hatinya agar tidak terpancing lagi. *** Setelah menunggu lima menit akhirnya Sheira keluar kamar dengan berpakaian sopan dan ingin menghampiri David yang duduk tenang di ruang tamu sembari kedua tangan bergerak lincah dengan mata yang tajam sangat serius melihat layar di benda canggih itu. Lagi-lagi wanita itu tidak bisa menahan pesona yang sudah lama tidak dia lihat. Lima tahun sudah berlalu tetapi wajah David lebih berkarisma dengan rahang yang tegas dan postur tubuh yang berotot kekar, dulu tubuh seorang David tidak sama dengan yang dia lihat sekarang yang lebih menggoda dan lebih menawan. “Ah David, kenapa aku meninggalkan kamu dulu, aku pikir mantan suamiku dan Om Edwin adalah yang pria terbaik ternyata mereka tidak lebih seperti sampah dan aku menyia-nyiakan berlian yang baru dipoles sekarang? Baiklah sebuah tantangan buatku untuk bisa mendapatkan kamu lagi, aku masih banyak seribu macam cara untuk menaklukkan kamu, Sayang ,”batin Sheira dalam hatinya. David yang sedari tadi sibuk di layar laptopnya, akhirnya bisa melihat Sheira dengan berpakaian sopan, dia pun tersenyum kecil. “Apakah kamu hanya akan berdiri sampai pagi di situ?’ tanya David melirik ke arah Sheira. Dia lalu menghentikan aktivitasnya menutup dan menaruhnya dia atas meja. Sheira berjalan mendekati David dan ikut duduk di sampingnya. Sengaja dia juga memakai kaos putih lengan pendek dan celana jeans biru. David melirik kembali tetapi sedikit risih karena Sheira sengaja melakukannya tetapi tidak ingin berdebat lagi. “Katakan Sheira, apakah kamu sudah bisa menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya, malam itu? Apakah sudah kamu karang dengan baik? Jangan sampai saya bisa menemukan celah dari kebohongan kamu sendiri,” sindirnya menatap tajam kearahnya. “Sayang, aku tahu kamu masih marah denganku tetapi seperti yang aku bilang aku itu di jebak agar aku tidak menjadi menikah denganmu, percayalah!” tegasnya tetapi dengan nada memelas. David menyeringai.” Kamu pikir saya percaya? Ayolah Sheira, saya ini bukan anak kecil yang bisa ditipu bahkan mungkin otak saya lebih pintar dari kamu, Sheira! Jadi katakan siapa dalangnya, kamu takut dari siapa?” tanyanya lagi. Sheira menghela napas seketika, dia merasa kalau David yang sekarang tidak bisa mempercayai orang lain lagi, sekarang dia lebih peka apalagi dingin. “Ba—baiklah jika kamu memaksa, tetapi aku mohon jangan bilang kepada siapa pun kalau aku yang mengatakan hal ini.” David pun berjanji untuk tidak melibatkan Sheira kalau memang terbukti apa yang dilakukan oleh wanita itu adalah benar. “Maaf Vid, aku sengaja melakukannya tetapi atas perintah Om Edwin,” jelasnya sedikit gugup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN