8. Pacaran Setelah Menikah

1037 Kata
Viella tampak gelagapan selama beberapa saat, dia bingung harus menjawab bagaimana. "Aku belum tahu, maaf ..." Viella hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia benar-benar merasa bersalah, bagaimana pun sekarang dia adalah seorang istri. Tapi dia malah belum siap dan masih takut untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang istri pada suaminya sendiri. Arka bediri dari tempat duduknya yang bersebrangan dengan Viella. Pria itu duduk di samping gadis itu, menepuk pundaknya pelan dan menggenggam sebelah tangannya. Merematnya pelan, dengan senyum yang terpatri di bibirnya. "Jangan takut, Mas paham kok. Mas tidak akan memaksa kamu kalau kamu memang belum siap. Hanya saja, Mas juga pria normal dan hanya sekedar ingin memastikannya. Kalau kamu masih belum bisa menjawabnya, jangan dipaksakan. Mas akan menghormati jawaban kamu. Jangan takut ya," Arka mempertahankan senyuman di bibirnya. Berbeda dengan Viella yang semakin diliputi perasaan bersalah. "Maaf Mas, kasih aku waktu. Setidaknya sampai aku siap dan mulai terbiasa dengan keberadaan Mas di hidup aku." "Mas paham, jangan khawatir. Kamu juga, Mas minta agar kamu menjadi jauh lebih terbuka kalau ada sesuatu. Bahkan meski sekedar untuk bercerita keseharian kamu. Mas siap mendengarkan semua cerita dan keluh kesah kamu." Viella yang sedari tadi tidak berani menatap mata Arka kini mencoba untuk memberanikan diri menatapnya secara langsung. Meski hal itu tidak berlangsung lama, hanya sesaat dan dia kembali memalingkan pandangannya "Aku akan mencobanya Mas, makasih ya." "Tidak perlu berterima kasih, sudah menjadi kewajiban Mas untuk memenuhi semua kebutuhan kamu. Oh iya, ini kartu untuk kamu. Tiap bulan Mas akan mentransfernya. PIN-nya tanggal lahir kamu." Arka mengambil salah satu tangan Viella, memberikan kartu gold di tangannya kepada istrinya. Viella yang tiba-tiba diberikan kartu oleh Arka hanya bisa terdiam mematung. Jelas tidak tahu harus berkata apa. Pembicaraan mengenai nafkah dan lain sebagainya belum pernah terjadi di antara mereka. Bahkan gadis itu merasa kalau Arka tidak memberikan uang padanya selama pria itu masih memenuhi semua keperluan pendidikan dan makanannya, dia tidak akan memprotesnya. "Mas, ini ..." "Mungkin isinya tidak begitu banyak, hanya ada 50 juta." "Itu terlalu banyak Mas, aku nggak bisa menerimanya." Viella berniat mengembalikan kartu yang diberikan oleh Arka. Dia merasa uang yang disebutkan oleh pria itu terlalu besar untuk diberikan padanya. Dia sebelumnya juga belum pernah memegang uang sebesar itu, jadi Viella merasa kurang nyaman. Apa lagi pernikahan mereka juga terkesan terlalu terburu-buru dan dia masih belum bisa menerima pria itu sepenuhnya. Tentu saja ada rasa penyesalan dan tidak nyaman dalam dirinya untuk menerima begitu saja. "Tidak, kartu ini memang saya kasih ke kamu secara khusus. Anggap saja ini adalah nafkah yang mas kasih ke kamu, jangan ditolak." "Tapi ini terlalu banyak Mas, aku nggak bisa menggunakan uang sebanyak ini." Viella kekeh ingin mengembalikannya. Jelas saja dia semakin merasa bersalah dan tidak nyaman. "Sayang, kamu itu sekarang adalah istri Mas. Mas tahu kalau kamu masih belum membayar uang kuliah kamu semester ini. Kamu juga masih ada keperluan lain yang mengharuskan kamu untuk menggunakan uang lain. Entah untuk membeli buku, uang saku, atau barang lain yang kamu perlukan setelah pindah ke rumah ini. Jangan khawatir atau menghemat uang yang sudah Mas kasihkan ini ya. Kamu bisa menggunakannya, tiap bulan mas akan mentransfer uang ke rekening kamu dengan jumlah yang sama." "Mas, uang ini masih bisa digunakan selama beberapa bulan, tidak perlu mentransfernya setiap bulan." Bohong kalau Viella tidak merasa senang dan bersyukur saat ini. Bahkan dalam hatinya dia seakan ingin melompat kegirangan. Lagi pula siapa di dunia ini yang tidak menyukai uang? Hanya orang bodoh yang tidak menginginkannya, dia jelas sangat menyukainya. Apa lagi dia selama ini sering berhemat dan tidak bisa bebas membeli apa yang dia inginkan demi agar uangnya cukup selama satu bulan. 'Apa keputusan untuk menerima perjodohan ini adalah langkah yang tepat? Uang saku bulanan 50 juta. Sudah bisa disejajarkan dengan ani-ani tanpa dia harus menurunkan harga dirinya. Pernikahan ini apakah sebuah berkah tersembunyi untuknya?' Pikiran Viella mulai melalang buana, dia menahan dirinya sebisa mungkin agar tidak sampai tersenyum lebar. Dia tetap harus menjaga citra dirinya dan jangan menunjukkan sisi gila hartanya yang memalukan. "Mas nggak keberatan sama sekali. Kalau perlu Mas akan menyerahkan semua penghasilan yang Mas dapatkan nantinya ke kamu. Biar kamu yang mengelola keuangan keluarga kita nanti. Lagi pula uang itu juga untuk keperluan kita bersama, seperti keperluan rumah. Kalau nanti kurang, kamu tinggal bilang ya." Terharu? Jelas, siapa yang tidak senang saat mengetahui kalau suamimu adalah orang yang sangat royal dan tidak segan untuk mengeluarkan serta mempercayakan uangnya untuk kamu pegang. Viella sebelumnya berpikir kalau mencari uang adalah hal yang sangat sulit di era banyaknya pengangguran seperti ini. Tapi sekarang, dia merasa pekerjaan sebagai seorang istri adalah keputusan yang sangat tepat untuk dia ambil dalam hidupnya. "Seharusnya ini lebih dari cukup untuk keperluan rumah dan keperluanku secara pribadi Mas. Terima kasih atas kepercayaan kamu. Aku merasa tidak nyaman karena masih belum bisa menunaikan kewajibanku sebagai istri." Viella menundukkan kepalanya, dia kali ini tidak lagi berusaha mengembalikan kartu yang diberikan oleh Arka. "Jangan merasa tidak enak dan perasaan sejenisnya. Kita adalah suami istri, Mas paham kalau kamu butuh waktu. Mas yakin saat waktunya nanti kamu pasti bisa menerima dan terbiasa dengan semua ini. Mari kita mulai dari awal ya, anggap saja kita mulai pertama-tama dari fase pacaran?" "Pacaran?" Kening Viells sedikit berkerut, menatap Arka dengan pandangan agak ragu. "Iya, karena kita menikah terlalu terburu-buru. Jadi mari kita berpacaran setelah menikah. Kamu nggak merasa keberatan kan?" Arka memastikannya terlebih dahulu, takut kalau gadis di depannya akan menolak usulannya. Wajah Viella memerah, dia sebenarnya tidak merasa keberatan dengan usul yang diucapkan oleh Arka. Justru dia merasa kalau itu adalah cara yang cukup bagus agar mereka bisa lebih saling mengenal dan tidak terlalu merasa canggung. Viella pada akhirnya hanya bisa menganggukkan kepalanya. Mengiyakan ajakan pacaran setelah menikah dari Arka. "Apa kamu sebelumnya pernah berpacaran?" Viella spontan menggelengkan kepalanya, merasa malu karena di usianya saat ini tidak pernah berpacaran. Selain karena keluarganya yang cukup ketat dan melarangnya berpacaran, dia juga cukup introvert. Jadi tidak banyak memiliki teman lawan jenis. "Alhamdulillah, Mas malah senang karena telah menanti pacar sekaligus pria pertama kamu. " Arka sejak tadi tidak bisa berhenti tersenyum. Jelas sekali dia merasa sangat beruntung bisa mendapatkan gadis secantik dan semanis Viella. Belum lagi gadis ini sangat polos, membuatnya merasa gemas bukan main. "Apa mas boleh peluk kamu?" "Aku ..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN