7. Sarapan Pagi

1138 Kata
Suara serak dan berat itu seketika membuat otak Viella seakan merespon dengan lambat. Seluruh tubuhnya menegang tanpa bisa dia kendalikan. Gerakan tangannya yang semula lincah mengaduk masakan di atas pan seketika terhenti. 'Ini Mas Arka kan? Dia meluk aku dari belakang? Kok aku gak sadar dia datang? Aku harus gimana ngeresponnya?' Ada terlalu banyak pertanyaan dalam benak Viella, dia benar-benar tidak bisa bergerak sama sekali dengan situasi yang berada di luar prediksinya. Wajahnya memerah, namun satu kata pun tidak bisa keluar dari bibirnya. Terasa kelu dan dia ingin sekali berteriak saat debaran jantungnya terdengar begitu kencang. Khawatir kalau pria di belakangnya akan bisa mendengar detak jantungnya yang menggila. Setelah lebih dari satu menit lamanya Arka berada dalam posisi memeluk istrinya dari belakang, akhirnya Viella refleks melepaskan pelukan yaitu dan menjaga jarak dua langkah dari Arka. Melihat respon istrinya yang tampak sangat gugup dengan wajah merah, untuk membuat pria itu merasa gemas bukan main. Meski sebenarnya juga ada kekecewaan dalam dirinya, atas penolakan dari Viella akan dirinya. Tapi dia dengan cepat menepis pemikirannya. Menyadari kalau segala sesuatunya pasti memerlukan waktu untuk bisa bertumbuh, termasuk cinta di antara mereka berdua. "Kamu lagi masak apa?" Arka mencoba bersikap biasa saja, dia melihat ke arah kompor yang di atasnya terdapat pan dengan jamur dan udang yang tampak menggoda selera. Aromanya harum dan membuat perutnya berbunyi. "Mas udah lapar ya?" Arka tersenyum, merasa agak malu karena bunyi perutnya cukup keras hingga terdengar oleh Viella. "Habisnya masakan kamu kayaknya enak banget. Mas yang tadinya tidur aja sampai kebangun gara-gara nyium aroma masakan kamu. Kayaknya Mas dapat jackpot besar karena punya istri cantik yang pinter masak." Arka memuji Viella dengan tulus, sayangnya Viella hanya bisa merespon dengan tersenyum canggung. Gadis itu perlahan mendekat kembali dan mengaduk masakannya, mencicipi rasanya sekali lagi untuk memastikan apakah sudah pas atau belum. Setelahnya dia dengan cekatan menaruhnya di atas piring. Dia berusaha untuk sibuk sendiri dengan kegiatannya, meski dia sangat gugup ketika Arka terus saja berdiri di sampingnya untuk melihatnya memasak. "Emm itu Mas tunggu aja di meja makan, bentar lagi masakannya udah siap kok. Tinggal rebus sayuran-sayurannya aja ini." Viella benar-benar tidak bisa konsen memasak jika terus dipandangi secara intens seperti ini. Rasanya sangat canggung dan ingatan kalau semalam pria ini telah membantunya berganti baju tidak bisa hilang dari benak Viella. Dia rasanya ingin bersembunyi sejauh mungkin untuk menekan rasa malunya. "Ada yang bisa Mas bantu gak? Biar Mas aja yang cuci piringnya ya?" Arka langsung berjalan menuju tempat cuci piring. Menyalakan keran air dan mulai membilasnya dengan cekatan. "Nggak usah Mas, biar aku aja. Mas duduk aja di meja makan." "Viella, saya di sini sebagai suami kamu. Saya juga kebetulan sedang luang dan masih mengambil cuti di kampus selama tiga hari. Jadi saya sebisa mungkin ingin membantu kamu meskipun tidak banyak. Lagi pula saya tidak ingin menjadi laki-laki patriarki yang membiarkan istri saya sibuk sendiri memasak, sementara saya hanya diam saja melihat kamu membereskan semuanya sendirian. Saya juga ikut makan, jadi sudah sewajarnya kalau saya membantu kamu." Arka tersenyum, mencoba memberi pengertian pada gadis manis di depannya ini. "Tapi Mas, aku ...," "Nggak ada kata tapi. Karena saya nggak begitu pandai memasak, jadi saya hanya bisa membantu mencuci piring. Semua pekerjaan rumah tangga, kita bisa saling berbagi tugas. Rumah tangga adalah urusan dua orang, saya sebagai kepala rumah tangga bertanggung jawab penuh atas nafkah dan semua kebutuhan kamu. Bahkan pekerjaan rumah, itu adalah hal yang harus dilakukan oleh Mas sebagai suami. Namun jika kamu membantu dengan suka rela, Mas akan merasa sangat berterima kasih. Atau kalau kamu ingin kita memiliki asisten rumah tangga, Mas juga tidak akan keberatan." "Nggak perlu Mas, kita nggak perlu pakai asisten rumah tangga. Aku masih bisa mengerjakan semuanya sendiri." "Berdua sayang, bukan sendiri. Lagian Mas itu sejak awal nyari istri, bukan pembantu. Kamu istri Mas, jangan berpikir untuk melakukan semuanya sendiri. Mulai belajarlah untuk berbagi semuanya bersama mulai sekarang, ya?" Viella hanya bisa menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dia tidak tahu harus merespon bagaimana saat ini. Sebagai seorang wanita, dia tentu saja merasa senang mendapatkan sosok pasangan hidup yang benar-benar dewasa dan mengayomi dirinya. Tidak ingin dia merasa kelelahan dan kesusahan barang sedikit pun. Meski masa perkenalan mereka cukup singkat, ralat sangat singkat. Tapi sejauh ini Viella masih belum menemukan sikap atau sifat Arka yang negatif dalam pandangannya. Dia hanya bisa berharap semoga pria ini memang orang yang tepat untuknya. Sama seperti apa yang diucapkan ibu dan juga oleh almarhum ayahnya. Setelah mereka selesai membereskan dapur, akhirnya makanan sudah siap. Ini adalah kali pertama Arka memakan masakan dari istrinya. Bibir pria itu sejak awal tidak berhenti tersenyum. Hal itu membuat Viella merasa malu dan beberapa kali memalingkan wajahnya. Tidak berani menatap Arka yang beberapa kali menatapnya secara terang-terangan. "Viella, saya ingin memastikan sesuatu hal ke kamu." Viella yang baru saja menyelesaikan suapan terakhirnya mendongakkan kepalanya. Menatap ke arah Arka yang juga sudah menyelesaikan sarapannya. "Memastikan apa ya Mas?" Melihat tatapan intens dari Arka, entah mengapa pikiran gadis itu melalang buana ke banyak hal. Membuatnya menjadi gugup tanpa bisa dia hindari. "Untuk masalah pekerjaan rumah, apa kamu benar-benar tidak mempertimbangkan untuk mencari asisten rumah tangga?" Viella spontan menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak berniat mempekerjakan ART di rumah mereka. Toh dia merasa ukuran rumah ini cukup minimalis dan dua masih sanggup membersihkannya sendiri tanpa harus menggunakan ART. "Saya tidak ingin nanti kamu kelelahan karena harus mengerjakan semuanya saat saya sedang bekerja. Saya sendiri dulu mempekerjakan orang untuk datang membersihkan rumah ini dua kali dalam seminggu. Karena sebelumnya saya jarang menempati rumah ini." "Memangnya kenapa Mas jarang menempati rumah ini?" "Karena rumah ini terlalu sepi dan terasa kosong kalau saya tempati sendiri. Jadi saya lebih memilih tinggal di apartemen yang dekat dengan tempat kerja saya." "Tapi itu kayaknya nggak perlu deh Mas, harusnya nggak terlalu merepotkan." "Nggak bisa gitu Sayang. Kalau begitu biarkan saja orang yang sebelumnya saya pekerjakan tetep datang membersihkan rumah ini seminggu dua atau tiga kali. Orangnya hanya akan membersihkan rumah sampai bersih, tapi orangnya tidak sampai menginap di rumah ini. Harusnya kamu tidak merasa keberatan kan? Lagi pula kasian sama ibu-ibu yang Mas pekerjakan kalau Mas gak pakai jasanya lagi." Mendengar alasan yang diberikan oleh Arka, membuat Viella tidak memiliki pilihan lain selain menyetujuinya. Dia harusnya merasa senang, namun karena dia masih menganggap kalau posisinya saat ini hanya menumpang dan membebani Arka hingga membuatnya merasa kurang nyaman. Apa lagi ini adalah dua kalinya Arka memanggilnya dengan sebutan sayang. Membuat wajah Viella memerah dan jantungnya berdebar-debar. "Ya udah kalau itu memang keputusannya Mas, aku nggak bisa nolak." "Oh iya ada satu hal lagi." Arka menatap Viella dengan tatapan yang lebih serius dari sebelumnya. "Apa itu Mas?" Debaran jantung gadis itu tanpa sadar semakin terasa kencang, ditatap dengan intens seperti ini. "Mengenai hubungan kita, saya hanya ingin memastikan satu hal. Berapa lama waktu yang kamu perlukan untuk bisa menerima saya sepenuhnya?" "Itu, aku ...,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN