6. Pagi Hari Pengantin Baru

1024 Kata
Kedua matanya perlahan mengerjap, kedua tangannya secara refleks naik ke atas. Meregangkan tubuhnya yang terasa lebih nyaman dan rileks saat baru bangun dari tidurnya. Dia menguap selama beberapa saat, mengucek sebelah matanya perlahan. Melihat keadaan sekitarnya, seperti ada sesuatu yang berbeda. Awalnya dia mengabaikan hal itu, karena gadis itu masih merasa mengantuk. Ingin kembali melanjutkan tidurnya. Cuaca di luar masih mendung dan udara terasa dingin, lebih baik dia tidur lagi selama beberapa saat. Apa lagi dia merasa kalau ranjangnya menjadi jauh lebih nyaman dan hangat kali ini, bagaimana bisa dia rela meninggalkannya begitu saja? Saat sedang menyamankan posisinya untuk kembali meringkuk dalam balutan selimut tebal berwarna abu-abu. Otak Viella perlahan seolah terkoneksi pada suatu hal. Dia mencoba memikirkannya sekali lagi, sedikit mengerutkan keningnya dan perlahan kedua matanya melebar secara bertahap. Gadis itu tanpa sadar bahkan menahan napasnya saat menyadari posisinya saat ini. "Aaaaaa!" Viella spontan menutup bibirnya setelah menjerit kaget. Melihat sosok yang saat ini tengah tertidur di sampingnya dengan pulas. Terlihat ada garis hitam samar di bawah matanya. Beruntung teriakan spontannya tidak sampai membangunkan pria yang masih tertidur pulas di sampingnya. Meski begitu Viella tetap saja tidak bisa tenang. Menyadari kalau dari semalam dia tertidur dengan nyenyak dalam pelukan Arka, suaminya. Mengingat status mereka, kini telah menjadi sepasang suami istri membuat wajah gadis itu memerah malu. Menoleh sekali lagi ke arah Arka yang tampak tampan dari samping. Hidung pria itu mancung dan proporsional jika dibandingkan dengan hidungnya yang kecil mungil namun tidak pesek. Rahangnya tegas dan bersih dari bulu, begitu pun dengan wajahnya yang bersih tanpa jerawat, alisnya hitam tebal, bibir yang tipis di bagian atas. Cukup tampan. Tidak, bisa dibilang memang tampan, dan pria ini adalah miliknya sekarang. Wajah gadis itu tanpa bisa ditahan telah memerah. Melihat ke bawah dan menyadari kalau dia telah berganti pakaian. Ingatannya kembali pada malam sebelum dia tertidur. Saat menyadarinya, wajah Viella semakin memerah bukan main. Dia merasa malu. Semalam dia ingat masuk ke kamar mandi dan berendam, namun dia merasa rileks dan tanpa sadar tertidur di dalam bak mandi. Setelah itu dia tidak mengingat apapun lagi. Melihat baju tidur satin yang dikenakannya saat ini, wajah gadis itu semakin memerah bukan main. Dia tidak sanggup membayangkan kalau pria di sampingnya ini yang telah membawanya keluar dari kamar mandi dan menggantikan pakaiannya. Secara tidak langsung, berarti Arka telah melihat tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun semalam. "Viella, bodoh banget semalem bisa ketiduran di dalam bak mandi!" Gadis itu merutuki dirinya berulang kali, merasa malu bukan main. Namun ada satu hal yang dia sadari, rupanya dia tidak mengenakan bra. Apakah Arka paham kalau tidak baik bagi perempuan untuk mengenakan bra saat tertidur? Namun dia tidak merasakan sesuatu hal yang aneh di sekujur tubuhnya. Dia malah merasakan perasaan nyaman seolah rasa lelahnya telah terbayarkan setelah tertidur pulas semalaman. "Apa Mas Arka tidak bisa tidur semalaman karena membantuku?" Viella tentu saja bukan gadis polos yang tidak tahu apa-apa, bagaimana pun dia sudah sering membaca novel dewasa. Jadi dia paham kalau pria tentu saja akan merasa tersiksa melihat wanita dalam posisinya semalam. Tapi meski begitu, Viella merasa bersyukur karena pria ini bisa menepati ucapannya untuk tidak menyentuhnya sampai dia siap. "Terima kasih Mas, maaf kalau aku belum bisa menunaikan kewajibanku. Aku masih belum siap." Viella bergumam pelan, tangannya tanpa bisa ditahan terulur. Dengan ragu perlahan menyentuh hidung mancung Arka yang sejak awal telah mencuri perhatiannya. "Hidung ini, mancung banget." Pikiran gadis itu tidak bisa diam, dia malah sudah bisa membayangkan kalau mereka memiliki anak nanti pasti akan sangat tampan atau cantik. Hidung suaminya ini, akan sangat berguna untuk anaknya nanti. Menyadari pikirannya yang terlalu jauh, Viella segera menggelengkan kepalanya beberapa kali. Dia tidak boleh memikirkan hal-hal yang seperti itu. Gadis itu perlahan mencoba untuk bangun, namun ada tangan yang menahannya. Tangan siapa lagi jika bukan milik Arka yang seakan menjadikannya sebagai guling saat ini. Posisinya seolah terbalik dari semalam. Viella merasa rasa dingin yang semula masih bisa dia rasakan telah menguap sepenuhnya. Ini adalah kali pertama dia sedekat ini dengan lawan jenis. Beruntung dia melakukan untuk kali pertama dengan pria yang menyandang status sebagai suaminya sendiri. Jangan tanyakan bagaimana debaran jantungnya, sudah pasti dia sangat gugup dengan wajah yang memerah. Dia mencoba menjauhkan lengan Arka dari perutnya. Perlahan dan akhirnya berhasil, membuat gadis itu segera beranjak dari tempat tidur. Menjaga jarak sebisa mungkin untuk menenangkan pikiran dan dirinya sendiri. Rasa kantuknya seolah menguap secara cepat. Dia segera beranjak masuk ke dalam kamar mandi, sayangnya saat hendak membuka pintu kamar mandi gadis itu mendapati engsel kamar mandi yang rusak. Wajahnya semakin memerah, membayangkan semalam Arka sampai mendobrak kamar mandi karena dia tertidur di dalam bak mandi. "Sangat memalukan, bisa-bisanya aku tidak bangun waktu Mas Arka mendobrak kamar mandi. Kebo banget sih Viella!" Saat memasuki kamar mandi, dia segera mencuci muka dan menggosok gigi. Tidak berniat untuk mandi, karena dia berniat untuk membuat sarapan. Entah apakah ada bahan makanan yang bisa dia masak di dapur, namun dia akan melihatnya terlebih dahulu sebentar lagi. Saat sedang fokus menggosok gigi, kedua mata Viella sedikit menyipit saat memperhatikan ada bercak kemerahan samar di atas dadanya. Awalnya dia tidak begitu memperhatikan, namun dia akhirnya menyadarinya. "Apakah semalam Mas Arka ...," Tidak peduli berapa kali pun gadis itu menepis pemikiran liarnya, namun dia malah semakin memikirkannya. Membuat Viella semakin kesal pada dirinya sendiri. "Kenapa sih, kepikiran yang kotor-kotor mulu, bisa jadi kan ini digigit tungau atau nyamuk. Jangan terlalu kotor pikiranmu Viella, mending bikin sarapan aja sekarang biar gak mikir yang aneh-aneh." Sesampainya di dapur, gadis itu segera melihat bahan-bahan yang tersedia di kulkas. Dia bersyukur kulkas tidak kosong. Sehingga dia berniat membuat tumis jamur udang tiram asam manis dan telur rebus sebagai lauk. Karena bahan makanan yang tersedia tidak banyak. Arka yang terbangun karena mencium aroma harum masakan melihat sosok gadis kecil tampak lincah dan berjalan mondar-mandir di dapur sambil bersenandung pelan. Entah kapan terakhir kali dia dibuatkan sarapan oleh istrinya, dia juga tidak mengingatnya. Karena mantan istrinya tidak bisa memasak. Senyum di bibir Arka tanpa sadar mengembang. Pria itu berjalan mendekat, awalnya ada rasa ragu dalam dirinya. Namun dia memberanikan diri, berjalan semakin dekat tanpa disadari oleh Viella. Mengulurkan tangan untuk memeluknya dari belakang. "Selamat pagi, Sayang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN