“Magnus, dia adalah pria yang beruntung.” Aillard mengatakannya sembari menengguk secangkir teh bunga mawar kering yang menjadi favoritnya setelah beberapa hari berada di Valareast. Cangkir itu diletakkan oleh Aillard, kemudian menatap Eurene yang sedang merajut sesuatu dengan benang berwarna kuning. Eurene terlihat begitu tekun menyatukan benang menjadi rajutan satu demi satu, wajahnya begitu serius tapi di saat yang bersamaan juga terlihat bahagia dan sangat menikmati kegiatannya. Begitu seksama Aillard mengamati Eurene karena mengingatkannya pada mendiang sang istri. “Tidak semua orang memiliki kemewahan untuk merasa beruntung, Your Highness.” Eurene membalas tenang dengan tangan yang lincah merajut benang di tangannya. Aillard terkesiap, dirinya baru saja melamun, kembali membayang

