Chapter 10: The Missing Queen (pt. 2)

2406 Kata
Song Of Betrayal Chapter 10: The Missing Queen (pt. 2)   Langit terlihat mendung hari ini, tampak gumpalang awan berwarna abu-abu yang menggantung di angkasa. Di balik jendela besar kamar tidur itu Nivera masih memandangi ke arah luar, dari tempatnya saat ini dirinya bisa melihat dengan jelas gerbang istana yang terletak cukup jauh dari istana ratu. Nivera baru saja selesai membersihkan kamar yang telah ditinggal oleh pemiliknya selama berhari-hari ini. Kegundahan hatinya semakin besar, tak biasanya Eurene menyelinap keluar dari istana selama ini, biasanya paling lama pun hanya dua malam. Namun ini sudah hampir empat malam dan tak terlihat tanda-tanda jika Eurene akan kembali.   “Kapankah Ratu akan kembali?” Suara Freyja berhasil mengusik lamunan Nivera. Angin dingin yang berhembus membuat wanita paruh baya itu mengusap kedua lengannya sambil berbalik melihat Freyja yang baru saja selesai membersihkan tempat tidur Eurene.   “Sebentar lagi … aku yakin sebentar lagi Her Majesty akan kembali.” Nivera tampak sangat antusias meski hatinya masih dirundung kegelisahan. Sesaat kemudian Nivera berbalik lagi setelah merasakan angin yang semakin dingin berhembus. Tampaknya sebentar lagi akan ada badai, dia pun segera menutup jendela besar kamar Eurene.   Tak sengaja mata Nivera menangkap sosok yang sangat familiar memasuki pintu masuk tepat di bawah kamar Nivera. Buru-buru dia berbalik lagi menghampiri Freyja yang masih menata beberapa lilin di beberapa tempat. Tanpa mengatakan apapun Nivera pun menarik Freyja untuk segera keluar dari kamar tidur Eurene.   “Ada apa, Lady Nivera?” tanya Freyja yang masih polos karena tak memahami apapun.   “Marquis Delmar Tua sedang menuju ke mari.”   “Gawat.” Freyja tidak habis pikir, mengapa pria itu tidak menyerah setelah mengetahui jika Eurene sedang sakit. Terlebih lagi penyakitnya sangat menular. Jika orang lain pasti tidak akan gegabah dalam bertindak. Kecuali jika orang itu tahu jika penyakit Eurene hanyalah kebohongan belaka ….   Oh Tidak! Batin Freyja.   “Lady Nivera … apakah mungkin Marquis Tua mengetahui kebohongan kita.”   “Aku tidak tahu, tapi bisa jadi itulah yang terjadi. Meski begitu apapun yang terjadi kita harus melindungi Her Majesty,” kata Nivera tepat di ambang pintu sebelum tangannya membuka daun pintu besar.  Freyja mengangguk mantap, dia pun tidak ingin jika Eurene terluka karena tekanan yang diberikan oleh Theodore.   Nivera mengambil nafas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan oksigen agar mampu menghadapi Theodore. Setelah menghembuskan nafasnya perlahan, Nivera kemudian membuka pintu perlahan-lahan. Di belakangnya Freyja yang tampak berani tapi dalam hatinya bergemuruh karena gugup.   “Astaga!” Nivera terperanjat diikuti oleh Freyja, tepat ketika dia membuka pintu di depannya telah berdiri Theodore bersama dengan  beberapa dewan lain yang menatap dengan tatapan tajam ke arah Nivera dan Freyja. Seketika itu juga Freyja beringsut, bersembunyi di balik tubuh Nivera.   “Lord Delmar.”   “Lady Nivera.” Theodore tak mengalihkan tatapannya.   “Ada apa ini? Mengapa kalian beramai-ramai datang ke mari?” Nivera menekankan telapak kakinya di atas lantai marmer, bersiap mempertahankan posisi dirinya, tak ingin memberikan sebuah celah kepada Theodore dan para pejabat istana lainnya untuk melewati pintu.   “Kami datang untuk bertemu dengan Ratu Eurene, kami ingin melihat kondisinya.”   Sesaat Nivera terdiam, Freyja ketakutan karena tak biasanya menghadapi para pejabat istana yang berbondong-bondong seperti ini. “My Lord … seperti yang telah kami beritahukan kepada anda, saat ini ratu sedang sakit, dokter kerajaan mengatakan jika penyakitnya menular.”   “Lady Nivera, kau pasti tahu jika kesehatan ratu adalah masalah utama bagi kerajaan kita. Kami harus melihatnya untuk memastikan langkah apa yang harus kami lakukan dalam krisis ini.”   “Krisis?” Mata Nivera melebar setelah mendengar ucapan Theodore, tidak menyangka jika pria itu berani menyebut keadaan Eurene sebagai sebuah krisis.   “Benar, Ratu Eurene tidak memiliki seorangg keturunan, kami harus tahu di mana posisinya saat ini. Apakah penyakitnya masih memiliki harapan untuk sembuh atau tidak.”   “Meski begitu … apakah ini adalah waktu yang tepat?” Nivera masih bersikukuh di tempatnya.   “Ini adalah waktu yang paling tepat … semakin lama kita menunda, kita tidak akan tahu keputusan apa yang akan diambil oleh Her Majesty untuk keberlangsungan kerajaan.”   “Haha.” Tawa Nivera terdengar sangat sumbang dan berhasil untuk membuat ego Theodore semakin tinggi dan mendidih. “Bukankah anda yang akan membuat keputusan, Marquis?”   Tangan Theodore terkepal dengan sangat erat, terlihat rahangnya mengeras, Nivera telah berhasil membangkitkan macan yang tengah tertidur. Namun, wanita itu sama sekali tidak gentar. Selama ini dia berusaha untuk melindungi Eurene dari apapun, maka dirinya pun akan melindungi Eurene dari sosok yang telah menjadikan Eurene sebagai bonekanya. Nivera sama sekali tidak takut dengan apapun.   “Para Tuan sekalian … Ratu Eurene mengalami sakit yang menular, apakah bijak bagi kalian untuk melihat Ratu dan memiliki kemungkinan akan tertular? Jika kalian tertular dan menularkan kepada orang lain, bukankah akan menjadikan Castleland sebagai tempat wabah?” Nivera melanjutkan ucapannya, mengerahkan seluruh tenaganya untuk melindungi Eurene.   “Jika itu yang diinginkan oleh para pejabat istana ….” Sebuah suara yang sangat familiar berhasil mendapatkan perhatian semua orang, mereka menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Ilias bersama dengan seorang berpakaian dokter sedang berjalan menuju ke arah mereka. “Ayah … ayah juga ingin melihat kondisi, Ratu Eurene?” tanya Ilias terlihat begitu polos.   “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Theodore dengan suara tegas.   “Ahhh, dokter yang mengurus Ratu Eurene kemarin pun jatuh sakit, saat ini sedang menjalani perawatan di tempat yang jauh dari pemukiman. Jadi aku mengantarkan dokter yang baru,” jelas Ilias sambil melemparkan senyumannya yang menawan. Mendengar ucapan Ilias, terlihat jika beberapa dari pejabat yang mengekor di belakang Theodore terlihat takut dan ragu-ragu untuk melanjutkan keinginan mereka.   “Ta-tapi … dua pelayan Ratu … mengapa mereka tidak terpapar?” salah seorang pejabat bertanya curiga.   “Mereka tidak pernah masuk ke ruang tidurnya, sebelumnya hanya ada dokter yang menjaga Eurene di ruang tidur Ratu Eurene.” Ilias menyambar dengan cepat. Mendapat jawaban dari Ilias, kepala para pejabat itu hanya manggut-manggut percaya begitu saja.   “Kalian masih ingin melihat kondisi Ratu Eurene? Dokter bisa membantu kalian untuk mengurangi risiko terpapar penyakitnya jika kalian ingin melihat Ratu.” Ilias kembali bertanya. Para pejabat saling berbisik, namun mereka tidak bisa memutuskan karena takut pada Theodore yang memiliki kekuasaan tertinggi di antara mereka. Di sisi lain, Nivera menatap Ilias tidak percaya, bagaimana mungkin mereka bisa melihat Ratu Eurene jika orangnya saja tidak ada di istana. Sebuah kedipan mata dari Ilias membuat Nivera sedikit tenang, tandanya Ilias memiliki rencananya sendiri.   “Aku sendiri yang akan melihat keadaan Ratu ….” Tampaknya Theodore benar-benar tak bisa dikalahkan dengan mudah. Keras kepalanya bahkan melebihi kerasnya batu yang ada di dunia ini. Ilias cukup terkejut dengan pilihan ayahnya, tapi dia tidak heran karena ayahnya memang seseorang yang mampu mengambil risiko apapun jika sudah menginginkan sesuatu.   “Baiklah jika begitu, dokter … silakan bantu mereka.”   Dokter yang dibawa oleh Ilias kemudian membuka tas peralatan medisnya, mengambil beberapa lembar kain bersih berwarna putih kemudian membaginya kepada para pejabat, Theodore, juga Nivera dan Freyja. Mereka tidak mengerti apa fungsi dari kain yang diberikan kepada mereka itu.   “Kalian bisa menggunakan kain tersebut sebagai penutup hidung dan mulut seperti ini.” Dokter tersebut menunjukkan caranya untuk menggunakan kain tersebut. Kain yang tadinya berbentuk kotak, dia lipat hingga berbentu segitiga. Setelah itu ia mengikatkan kain tersebut menutupi setengah wajahnya mulai dari bawah mata hingga ke dagu, petunjuk sang dokter pun diikuti oleh semua orang yang ada di sana.   “Sudah selesai semuanya?” tanya Ilias dengan penuh semangat. “Sepertinya sudah.” Dengan cepat Ilias menjawab pertanyaannya sendiri. “Dokter … kau pimpin jalannya,” perintahnya pada sang dokter.   “Lord Ilias.” Lady Nivera masih ragu-ragu untuk memberi jalan kepada semua orang untuk memasuki ruangan Eurene. Entah apa yang sebenarnya direncanakan oleh Ilias, jika semua itu gagal maka Ilias pun akan terkena imbasnya.   “Lady Nivera … tolong beri jalan untuk dokter.” Ilias mengatakannya sambil tersenyum lebar. Dan siapa yang bisa menolak senyuman itu, sebuah senyuman yang seolah-olah menunjukkan jika ‘Tidak-apa-apa-semuanya-akan-baik-baik-saja’   Pada akhirnya, Nivera pun mengangkat kakinya dan melangkah ke pinggir bersama Freyja untuk memberi jalan kepada dokter kerajaan yang diikuti oleh Theodore, para pejabat dan juga Ilias. Di barisan paling belakang berjalan Nivera bersama dengan Freyja yang terus menggamit lengan Nivera. Jantung dua wanita itu berpacu dengan sangat kencang, mereka merasa akan tamat riwayatnya ketika Theodore dan para pejabat istana mengetahui jika Eurene tidak ada di kamarnya.   “Lady Nivera … bagaimana ini, bagaimana jika Marquis Tua marah?” bisik Freyja yang sangat gugup sekali.   “Diamlah … jangan katakan apapun, kau hanya perlu diam, percayalah pada Lord Ilias.” Nivera membalas dengan suara yang sangat lirih.   Semakin dekat mereka ke ruang tidur Eurene, gemuruh dalam jantung Nivera dan Freyja semakin tak terkendali. Tangan Freyja sampai berkeringat hingga membuat lengan baju Nivera basah dibuatnya. Tak pernah seumur hidupnya, Freyja merasakan rasa takut seperti ini. Begitu pula dengan Nivera, meski berusaha untuk mempercayai Ilias, tapi semakin dekat langkah mereka ke kamar tidur Eurene, hatinya semakin terasa bagai diremas-remass.   Melihat pintu ruang tidur Eurene mulai dibuka oleh dokter kerajaan secara perlahan, Nivera bergeming di tempatnya ia lupa caranya untuk bernafas saat merasakan tenggorokannya tercekat. Hal yang sama pun dialami oleh Freyja.   “Apa yang kalian lakukan di sini?”   Suara ini. Nivera membatin dengan mata melebar tak percaya dengan suara yang dirinya dengar begitu juga dengan Freyja. Seketika itu juga kedua wanita itu tidak memedulikan apapun lagi, mereka melangkah menembus kerumunan para pejabat dan masuk ke dalam ruang tidur Eurene. Air mata Nivera bergulir begitu saja saat dia melihat sosok Sir Dexter yang sedang berdiri di samping ranjang tidur Eurene yang ditutupi seluruhnya oleh kelambu. Pandangan Nivera lalu jatuh pada siluet yang ada di balik kelambu. Nivera tahu jika siluet itu adalah Eurene, ingin sekali rasanya dia berlari ke arah gadis nakal itu dan memukulnya.   Freyja sangat terkejut melihat kehadiran sosok Sir Dexter dan pastinya keberadaan Eurene di balik kelambu. Freyja tidak tahu bagaimana keajaiban ini terjadi, padahal sebelumnya dia membersihkan kamar ini dan masih tidak ada siapapun. Lantas bagaimana mereka berdua bisa ada di sini. Freyja menghela nafasnya lega, tidak peduli lagi dengan bagaimana keduanya bisa hadir tepat waktu, yang jelas dirinya sangat senang dengan kembalinya Eurene.   “Kami ingin memeriksa keadaan, Ratu Eurene.” Theodore memberikan jawabannya. Tatapannya masih tidak beralih dari siluet Eurene.   “Ratu dalam pemulihan, Mengapa anda terburu-buru untuk menengoknya, Lord Delmar?” Sir Dexter bersuara tenang tapi begitu tajam.   “Ayahku sangat cemas dengan keadaan Ratu Eurene, Sir Dexter … Kami semua cemas.” Ilias berusaha menengahi karena jika tidak, pria bertubuh besar yang selalu sigap itu bisa meledak kapanpun. Semua juga tahu jika Sir Dexter sangat protektif terhadap Eurene.   “Paman ….” Terdengar suara serak berasal dari dalam kelambu. Semua orang tahu jika pemilik suara ini adalah ratu mereka.   “Your Majesty.” Theodore membalas.   “Aku baik-baik saja, hanya membutuhkan beberapa hari lagi untuk bisa kembali menjalankan tugasku.” Eurene mengatakannya pelan. “Selagi aku beristirahat … apa kau keberatan jika mengurus semuanya, Paman?” tanyanya lagi.   “Tentu saja, Your Majesty. Aku akan berbagi beban denganmu … anda tidak perlu mencemaskan urusan negara.”   “Benar … uhhuk-uhhuk.” Eurene terbatuk saat akan melanjutkan ucapannya, sesaat kemudian Sir Dexter masuk ke dalam kelambu untuk membantu Eurene.   “Dokter, tolong periksa Ratu Eurene!” perintah Sir Dexter. Sesaat kemudian dokter kerajaan pun membuka kelambu dan mulai memeriksa kondisi Eurene.   “Ratu Eurene membutuhkan istirahat, banyak orang di kamarnya tidak baik untuk kesehatannya. Silakan para Tuan untuk pergi.” Sir Dexter sama sekali tidak berbasa-basi menyuruh para pejabat istana keluar dari kamar Eurene.   “Sir Dexter benar … mari kita keluar.” Setelah berpamitan dengan Eurene, Theodore dan para pejabat istana lainnya pun segera beranjak pergi meninggalkan ruangan Eurene. Geram dengan orang-orang itu, Nivera yang mengantarkan mereka hingga keluar pintu, menutup pintu di belakang punggung para pejabat itu dengan sangat keras.   “Your Majesty ….” Freyja langsung berlari menuju ke ranjang dan duduk di samping Eurene yang terlihat sedikit lebih pucat penampilannya. “Akhirnya kau kembali, kau tahu betapa aku mencemaskanmu!” katanya dengan air mata yang berlinang.   “Oh, Freyja … maafkan aku karena membuatmu takut.” Eurene kemudian menarik Freyja ke dalam pelukannya. “Aku berjanji tidak akan membuatmu cemas lagi.”   “Anda harus memegang teguh janji anda, Your Majesty.” Nivera baru saja kembali setelah mengantarkan para pejabat istana keluar langsung menghampiri Eurene. “Bagaimana keadaan Ratu Eurene, dokter?” tanya Nivera pada dokter yang baru saja selesai memeriksa Eurene.     “Her Majesty dalam kondisi sangat baik, hanya sedikit terlalu lelah. Anda harus beristirahat untuk memulihkan keadaan.” Begitu kata dokter kerajaan dengan senyuman merekah di wajahnya.  Semua orang bernafas legas, karena Eurene masih sehat meski tubuhnya terlihat lebih kurus dari biasanya.   “Terima kasih, dokter.”   “Your Majesty tidak perlu berterimakasih karena merupakan sebuah kehormatan bisa melayani anda.” Dokter kerajaan itu terlihat tulus.   “Tetap saja, kau sangat membantu kami hari ini.” Ilias menyahut sambil berjalan mendekat.   “Kau juga sangat berjasa, Lord Ilias.” Eurene melemparkan pujiannya pada sahabat yang selalu mendukungnya itu.   “Bagaimana caranya kalian masuk ke dalam kamar ini, Your Majesty, maksudku bagaimana kalian bisa sampai di sini?” tanya Freyja. “Itu semua berkat Lord Ilias dan Sir Dexter.” Eurene menjawabnya sambil menatap dua pria itu dengan seksama.   Teringat kembali ketika dirinya dan Sir Dexter baru saja mengendap-endap masuk ke dalam area istana melalui sebuah pintu rahasia yang hanya diketahui oleh Sir Dexter dan dirinya. Ketika Eurene akan masuk melalui pintu utama menuju ke ruangannya, Ilias mendadak muncul dan menghadang langkahnya. Ilias menceritakan semua yang terjadi, mulai dari kedatangan ayahnya yang pertama hingga kecurigaan ayahnya dengan penyakit Eurene. Ilias tahu rencana sang ayah ingin mengunjungi Eurene untuk membahas tentang penerus, jika Eurene benar-benar sakit. Itu sebabnya, Ilias meminta Eurene masuk ke dalam ruangannya melalui jalan lain. Dan akhirnya, Eurene harus masuk melalui jendela kamarnya yang cukup tinggi, Sir Dexter-lah yang membantunya untuk naik ke jendela kamarnya.   “Kebetulan sekali kau pulang tepat waktu,” ujar Ilias.   “Jika aku tidak pulang, apa yang akan kau lakukan?” tanya Eurene penuh rasa ingin tahu.   “Membuat kekacauan.”   “Sudah kuduga,” balas  Eurene dengan tawa yang tak bisa dia tahan, semua orang turut bahagia hari ini karena Eurene telah kembali ke istana dalam keadaan sehat dan bisa mengelabui para pejabat istana dan Theodore. Jika Eurene terlambat sedikit saja, entah apa yang akan dilakukan oleh Theodore kepada mereka.   . . . To be continued                      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN