Chapter 9: Run into You

2238 Kata
Song Of Betrayal Chapter 9: Run into You   “Coba kau periksa aku sekarang, dokter.”   Itu adalah kalimat pertama yang terlontar dari bibir Magnus ketika pertama kali membuka mata dan langsung berlari ke tempat dimana dokter Sloane beristirahat. Magnus telah menggedor pintu ruangan dokter wanita yang menawan itu, gedorannya sungguh tidak sabar dan sangat mengganggu. Hingga mau tak mau dokter Sloane pun keluar dari peristirahatannya dan menemui Magnus.   Sloane pun tak menyangka jika itulah kalimat yang pertama kali dia dengar saat matahari mulai menyingsing. Sloane mengedipkan matanya sambil menengok ke arah luar untuk memastikan terang atau tidaknya cuaca hari itu, benar sekali dugaannya jika matahari saja masih enggan untuk menunjukkan pesonanya.   “My Lord… ini masih dini hari.” Sloane hendak menutup kembali pintu ruangannya. Magnus tak membiarkannya, pria itu menahan pintu yang akan menjadi penghalang dirinya dengan si dokter.   “Itulah sebabhnya aku memintamu untuk memeriksaku sekarang, ini sudah lebih dari empat puluh delapan jam … cepat periksa aku.” Magnus bersikeras untuk segera diperiksa hingga membuat Sloane tertegun untuk sejenak, bagaimana bisa ada orang yang sangat bertekad seperti Magnus.   “Baiklah … aku akan memeriksa anda.” Akhirnya Sloane mengambil peralatan medisnya dan mulai memeriksa Magnus dengan seksama.   Tidak tampak seperti biasanya, hari ini Magnus terlihat gelisah sekali dan Sloane dapat melihatnya. Seolah-olah Magnus sedang diburu-buru oleh waktu. “Apakah anda ingin segera menemui teman anda itu?” tanya Sloane yang dirundung rasa penasaran.   “Sebenarnya … dia adalah calon istriku.”   “A … Ooh ….” Entah mengapa Sloane bereaksi aneh seperti itu, dia yang merasa malu pun segera menutup mulutnya agar keterkejutannya itu hilang.   “Aku sangat cemas dengan kondisinya, jadi aku ingin segera pergi menemuinya dan memeriksanya sendiri,” terang Magnus.   “Dia adalah wanita yang beruntung.” Dokter berucap lirih sambil masih memeriksa keadaan Magnus.   “Sejujurnya … akulah orang yang beruntung, jika tidak ada dirinya … kau tidak akan bisa memeriksaku hari ini.”    Tangan Sloane mendadak berhenti setelah mendengarkan pengakuan cinta spontan Magnus untuk kekasihnya itu.   “Berarti dia adalah wanita yang baik.” Dan senyum Magnus pun mengembang mendengar jika gadisnya mendapatkan sebuah pujian.   “Bagaimana … apakah saat ini aku boleh pergi?” tanya Magnus dengan wajah yang sangat antusias.   “Tampaknya anda tidak tertular wabah ini, jadi anda bisa meninggalkan tempat ini, My Lord.”   “Lantas … nenek itu, kapankah dia akan kembali?” tanya Magnus yang masih teringat dengan seorang nenek yang dia bawa untuk diisolasi di tempat ini.   “Nenek itu sudah membaik, kupikir dua hingga tiga hari lagi dia bisa kembali ke rumahnya, My Lord.” Kini binar cerah tampak di wajah Magnus, tak menyangka jika kesembuhan nenek itu pun sangat cepat.   “Semua ini berkat bantuan yang dikirimkan oleh anda dan juga bantuan dari Castleland yang datang tadi malam.”   “Bantuan dari Castleland? Dari ibukota? Maksudmu Ratu Eurene mengirimkan bantuan itu?”   “Ya, langsung diantarkan oleh pengawal pribadi Ratu Eurene, Sir Dexter.”   Magnus terdiam untuk sejenak, memikirkan kembali temuannya setelah penyelidikan yang dia lakukan. Dia mulai meragukan temuannya sendiri, apakah benar jika Ratu Eurene adalah dalang dari bantuan yang diambil para bandit itu. Atau sebenarnya ini hanya cara lainnya untuk mendapatkan simpati dari penduduk? Akan tetapi bahkan pengawal pribadinya mengawal bantuan tersebut, seolah-olah Ratu Eurene mengetahui apa yang tengah terjadi di Halfthorn.   Perlahan Magnus menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan pikirannya yang bimbang. Dia tidak ingin meragukan keyakinannya sendiri setelah penyelidikan yang dia lakukan. Bukti yang ada di depan matanya sudah cukup untuk membuktikan jika Ratu Eurene terlibat dalam korupsi ini.   “Wanita licik itu … tampaknya dia sedang bermain api.” Magnus membatin geram hingga tanpa sadar menggertakkan giginya.   “My Lord.” Sloane memanggil Magnus, mencoba untuk menarik Magnus dari lamunannya. Tidak mengerti mengapa setelah mendengar tentang bantuan tersebut Magnus langsung termenung di hadapannya. “Lord Magnus!” Akhirnya Sloane menyentuh bahu Magnus dengan mengguncangnya pelan, Magnus kembali dan lamunannya sirna.   “Apa yang anda pikirkan?”   Alih-alih menjawab pertanyaan Sloane karena tak mungkin bagi Magnus untuk membagikan isi pikirannya saat ini, pria itu lebih memilih untuk berpamitan kepada Sang Dokter. “Terima kasih, dokter. Aku akan kembali ke kota dan kembali untuk menjemput nenek itu. Kau bisa mengirimkan surat kepadaku nanti jika terjadi sesuatu.”   Sloane belum sempat memberikan balasan akan tetapi Magnus telah melenggang pergi dengan langkah cepat. Sloane menatap punggung Magnus yang semakin menjauh. Sebuah senyum bersemburat di wajah Sloane melihat kepergian Magnus. “Dia pasti sangat mencintai kekasihnya, bahkan dia tidak menoleh ke belakang sama sekali.”   *   Magnus berdiri diam di samping ranjang tempat tidur Eurene setelah berlari menyusuri jalanan, melihat sosok Eurene yang begitu dama dalam lelapnya seolah membawakan angin segar pada Magnus yang hampir kehabisan nafas. Matanya teduh menatap pada sosok gadis yang telah mengisi hari-harinya selama bertahun-tahun, sosok yang telah menjadi ‘rumah’-nya, sosok yang telah membuat Magnus berani lagi untuk merajut sebuah mimpi. Cukup lama bagi Magnus untuk lepas dari trauma masa kecilnya setelah melihat pembantaiian yang terjadi pada keluarganya. Di hari-harinya yang begitu gelap, Eurene datang dengan seluruh pancaran cahaya miliknya dan meminjamkan sebagian miliknya pada Magnus hingga akhirnya perlahan-lahan Magnus mampu bangkit dari keterpurukannya dan menjadi pria yang memiliki kekuatan.   Perlahan-lahan Magnus duduk di samping tubuh Eurene, tangannya terulur menyentuh anak-anak rambut yang sedikit menutupi wajahnya. Dalam hatinya, Magnus bersumpah akan membuat gadis di depannya ini bahagia apapun yang terjadi.   “Terima kasih, Kendra.” Magnus berujar lirih, kepalanya diturunkan untuk mencium lembut kening Eurene. Sesaat kemudian tubuh Eurene menggeliat, perlahan-lahan matanya terbuka karena merasakan kehangatan di keningnya.   Awalnya Eurene sangat terkejut melihat seseroang diam-diam mencium keningnya, namun saat hidungnya mencium aroma yang sangat familiar baginya itu membuatnya tersenyum dengan tenang. Dalam hatinya Eurene tahu betul jika orang ini tidak akan pernah menyakitinya sama sekali.   “Kau sudah kembali …,” lirih Eurene.   Magnus menarik kepalanya kembali, tatapan matanya yang berair tertuju pada Eurene. “Iya … aku kembali.”   Eurene menegakkan tubuhnya, duduk untuk menatap Magnus seksama. Mengamati setiap inci wajah pria yang sangat dia cintai itu. Tidak ada perubahan yang berarti kecuali jambang di sekitar dagunya yang mulai tumbuh karena belum dicukur.   “Kau tidak tertular?” tanya Eurene memastikan sekali lagi. Alih-alih menjawab dengan perkataan, Magnus menggelengkan kepalanya. Seketika itu juga Eurene segera memeluk Magnus, pelukannya sangat erat, menunjukkan rasa tidak ingin kehilangan yang luar biasa besar.   “Aku pikir kau tertular … jika pagi hari aku tidak mendapat kabar darimu, aku berencana untuk pergi ke tempat isolasi itu.”    Magnus kemudian melonggarkan pelukan mereka, menatap mata Eurene lekat-lekat kemudian mencium lagi kening gadis itu. “Sekarang kau tidak perlu cemas, aku sudah di sini.”   Mendadak Eurene mendorong tubuh Magnus sedikit kencang hingga pria itu harus berdiri agar tidak terjatuh dari ranjang. Tentu saja Magnus bingung mengapa dirinya harus didorong oleh Eurene.   “Aku … seharusnya kau tidak memelukku, bagaimana kalau aku tertular?”   “Astaga, karena masalah itu rupanya.” Magnus terkekeh pelan melihat raut wajah Eurene yang bercampur antara ketakutan dan kengerian. “Apakah dokter Floyd tidak memberitahumu?” tanya Magnus sembari duduk di samping Eurene, tapi gadis itu malah merangsek menjauhi Magnus.   “Jika lebih dari empat puluh delapan jam tidak ada gejala penyakit wabah, berarti orang itu tidak tertular. Ini sudah lebih dari empat puluh delapan jam … dan kau masih di sini berarti kau baik-baik saja.”   Eurene memejamkan matanya, dia melupakan ucapan dokter Floyd tempo hari. Namun baginya, dia harus tetap memastikan dengan bantuan ahli jika dirinya tidak tertular sehingga tidak memiliki potensi untuk menularkan wabah ke orang lain.   “Meski begitu kita belum memastikannya, kita harus menunggu hingga dokter Floyd memeriksaku.”   “Baiklah, kita akan menunggu pemeriksaan besok. Setelah itu kau bisa pulang.”   “Aku pulang?”   “Ya, kau … memangnya apa alasannya sampai kau datang ke mari? Membahayakan dirimu sendiri seperti ini dan membuatku cemas?”   Eurene menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bermaksud … aku hanya cemas karena kudengar ada wabah.”   Magnus mengambil duduk di samping Eurene, meraih tangan lembut gadis itu. Awalnya, Eurene hendak menarik tangannya namun Magnus menahannya.  Magnus menggenggam tangan Eurene dengan erat, genggamannya menghantarkan kehangatan ke tubuh Eurene.   “Aku tahu … kau pasti sangat cemas.” Magnus mengusap rambut kepala Eurene dengan lembut. “Tapi dengan membahayakan dirimu sendiri hanya membuat orang-orang disekitarmu menjadi cemas.”   “Kau mencemaskanku?”   Magnus menyentil kening Eurene pelan. “Dasar gadis bodoh. Tentu saja aku mencemaskanmu … jika sesuatu terjadi padamu, lalu bagaimana denganku?”   Mata biru Eurene yang cerah menatap Magnus dengan polosnya. “Memangnya apa yang akan terjadi padamu.”   Magnus kembali terkekeh pelan kemudian menarik Eurene kembali dalam pelukannya. “Intinya … kau tidak boleh terluka.”   “Mhm,” gumam Eurene. Sungguh, Eurene benar-benar merasa ada sesuatu yang berbeda dari Magnus. Pria itu biasanya tidak bicara banyak tapi saat ini Magnus bisa mengomelinya layaknya Nivera. Padahal biasanya Magnus tampak acuh tak acuh dengan keberadaan Eurene di sisinya.   “Sekarang tidurlah lagi … aku akan menunggumu di sini.”   Dibantu oleh Magnus, Eurene kemudian kembali berbaring di ranjangnya. Di sisinya ada Alana yang begitu pulas tidurnya. Meski ada suara yang mengganggu, Alanan tetap terlelap. Setelah menyelimuti tubuh Eurene, Magnus hendak berpindah ke kursi. Belum sempat dia melangkah, masih akan beranjak dari ranjang tangan Eurene menahannya.   “Kau tidak akan pergi, ‘kan? Tetap di sini?”   Magnus menyentuh kepala Eurene, mengusapnya dengan lembut. “Aku di sini. Tidurlah.” Magnus tak jadi pindah ke kursi, dia tetap duduk di samping Eurene sembari menggenggam tangan Eurene.   Sementara itu, sang ratu yang seharusnya segera memejamkan matanya itu masih nyalang menatap Magnus. Namun dari tatapannya itu terpancar sesuatu yang tercampur aduk. Ada getaran kegetiran yang mulai merambat, ada ketakutan yang terus merasuk, ada pula rasa sedih di sana. Eurene teringat akan kain dengan tulisan tangan yang sangat dia kenali, lalu tanpa sadar setetes air mata jatuh dari sudut matanya.   “Ada apa? Mengapa kau menangis?   Eurene hanya tersenyum, ketakutan di hatinya semakin besar. “Apapun yang terjadi … kau ….”   “Aku, ada apa denganku?”   “Apapun yang terjadi ….” Entah mengapa Eurene tak mampu melanjutkannya, dia merasa sangat egois jika meminta Magnus tetap di sisinya sementara dirinya tahu betul apa yang saat ini ada di dalam pikiran Magnus tentang ‘Ratu Eurene’.   “Apapun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu di sini.” Magnus seolah mengerti apa yang ingin diucapkan oleh Eurene, sambil mengusap air mata itu Magnus telah mengucapkan janjinya untuk terus bersama dengan wanita yang dia cintai.   *   “PENCURI!!” teriak Floyd sesaat setelah mendengar suara gaduh dari arah pintu masuk ruangannya. Di tangannya sudah ada bantal yang siap dia lemparkan kepada orang yang masuk ke dalam ruangannya secara diam-diam itu.   “Astaga … mengapa kau tidak mengunci pintu kamarmu, dokter?” Sejenak Floyd tertegun setelah mendengar suara yang tidak asing bagi telinganya. Floyd pun menurunkan kewaspadaannya, namun saat orang itu membalikkan tubuhnya dia langsung mengangkat bantal ke atas kepalanya bersiap untuk melemparkannya.   “Sir Dexter?” Floyd terheran-heran melihat Sir Dexter ada di dalam kamarnya saat ini, entah apa yang membuat pria bertubuh besar itu masuk ke tempatnya pada dini hari seperti ini. “Me-mengapa kau kemari? Apakah terjadi sesuatu kepada Her Majesty?” tanyanya yang kemudian menyadari jika ada alasan mengapa Sir Dexter mendadak masuk ke tempatnya.   Pandangan Sir Dexter mengarah pada bantal di atas kepala Floyd yang belum diturunkan, menyadari arah pandangan Si Dexter seketika itu juga Floyd menurunkan bantal tersebut dan melemparkannya ke arah ranjang.   “Lord Magnus ada di sini, aku hampir berpapasan dengannya jadi aku tidak punya pilihan,” jelas Sir Dexter. Floyd telah mengetahui jika Eurene menyembunyikan identitas dirinya dari Magnus dan Floyd pun telah bersumpah kepada Eurene jika dirinya akan bungkam.   “Apakah Lord Magnus baik-baik saja?”   “Melihat dari caranya berlari kurasa dia bisa hidup seribu tahun lagi.” Masih ingat dalam benak Sir Dexter saat dirinya hendak pergi untuk buang air kecil dan meninggalkan penjagaannya di kamar Eurene tak sengaja melihat sosok yang berlari sangat kencang seolah-olah angin yang mendorongnya mengarah ke penginapan. Setelah mengetahui itu, Sir Dexter segera mencari tempat persembunyiannya dan satu-satunya pilihan adalah bersembunyi di kamar Floyd.   “Begitu rupanya, syukurlah jika Lord Magnus baik-baik saja.”   “Lalu menurutmu … bagaimana kondisi Ratu Eurene?” tanya Sir Dexter dengan hati-hati. Meski tidak tampak pada wajahnya yang sangat kaku, akan tetapi hati Sir Dexter terus bergemuruh karena merasa gugup dan takut setiap kali membayangkan jika Eurene akan tertular penyakit tersebut. Bukan hanya karena tugasnya sebagai seorang pengawal, akan tetapi bagi Sir Dexter sudah menganggap Eurene layaknya adik baginya. Sekecil apapun luka yang dialami oleh Eurene maka hati Sir Dexter ikut terluka seakan dirinya sendiri yang mengalami.   “Kondisi terakhir saat kuperiksa sebelum tidur, Ratu terlihat sangat sehat dia tidak tertular wabah yang mematikan ini.”   “Sungguh? Kau tidak berbohong, dokter?”   “Aku bersungguh-sungguh. Kita akan pastikan lagi nanti.”   “Ahh … syukurlah.” Sir Dexter menghela nafasnya lega mendengar ucapan dokter. Namun, sesaat kemudian Sir Dexter teringat jika dirinya masih menahan kencingnya dan sekarang dia harus segera membuangnya. “Dokter di mana tempat basuhmu?” tanya Sir Dexter yang ingin segera menuntaskan kebutuhannya sebagai manusia. Floyd kemudian segera menunjuk ke sebuah pintu yang terletak tak jauh dari tempat Sir Dexter berdiri.   Sebelum masuk ke dalam tempat itu, Sir Dexter berhenti di ambang pintu dan menoleh kepada Floyd. “Terima kasih, dokter.”   . . . To be continued ….          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN