Chapter 8: The Missing Queen (pt. 1)

2188 Kata
Song Of Betrayal Chapter 8: The Missing Queen (pt. 1)   Wajah tegang Nivera tak bisa disembunyikan ketika di hadapannya telah berdiri sosok Ilias yang ingin mengunjungi sahabatnya. Sungguh, Nivera tidak menyangka jika hari ini di mana dirinya harus berhadapan dengan Ilias pun tiba. Di dalam kepalanya kini, hanya terpikirkan bagaimana caranya untuk membuat Ilias percaya pada ucapannya. Siapapun—orang yang dekat dengan Ilias—tahu betul jika pria itu selalu mendapatkan apa yang dia inginkan.   “Apa Ratu sedang bekerja?” tanya Ilias dengan senyuman yang menawan, sebuah senyuman yang mampu memikat, sebuah senyuman yang hampir saja membuat Nivera mengatakan apa yang tengah terjadi.   “Y-ya, Her Majesty sedang bekerja.” Nivera ingin sekali memukul mulutnya yang tak bisa diajak bekerja sama. Alis Ilias terangkat dia merasa jika Nivera seolah-olah sedang menyembunyikan sesuatu.   “Bibi … kapankah Her Majesty akan kembali?” Freyja tiba-tiba saja keluar dari ruangan Eurene hendak mengikuti Nivera, tapi dia tidak tahu jika ternyata di depan pintu tersebut ada Ilias yang sedang berbicara dengan Nivera.   Ilias menatap Nivera dan Freyja penuh tanda tanya, terlihat jika Nivera tampak kesal pada Freyja seolah-olah apa yang ditanyakan olehnya adalah sesuatu yang dilarang, begitu juga dengan Freyja, jelas sekali tampak penyesalan karena telah mengungkapkan sesuatu yang seharusnya menjadi sebuah rahasia yang hanya diketahui olehnya, Nivera, dan juga Sir Dexter.   “Ada apa sebenarnya, memangnya Ratu Eurene pergi ke mana?” rasa penasaran Ilias pun bangkit. “Dia tidak di ruangannya? Apa dia ada urusan?”   Nivera dan Freyja saling pandang, saling bertukar pikiran, namun mereka tidak menemukan kata-kata yang baik yang dapat digunakan untuk mengelabuhi Ilias. Pria itu seolah-olah bisa mengetahui apa yang ada di dalam pikiran lawan bicaranya. Hingga akhirnya Nivera dan Freyja hanya bisa menghela nafasnya pasrah, setidaknya yang mereka hadapi saat ini adalah Marquis Delmar muda, seandainya yang ada di hadapan mereka adalah Marquis Tua, maka habislah keduanya—tidak, habislah mereka berempat—karena Eurene keluar dari istana tanpa sepengetahuan siapapun. Perginya pun ke tempat yang saat ini sedang dikabarkan menjadi menyebarnya sebuah wabah.   “Lady Nivera ….” Ilias memanggil wanita paruh baya yang masih saja terlihat menawan di usia yang tak lagi muda itu. Mendengar panggilan Ilias seketika itu membuat Nivera memalingkan wajahnya memandangi Ilias yang menunggu dengan sabar jawaban dari mulutnya. “Apakah Ratu ada di istana?”   “Ahh … tentu saja, memangnya di mana dia akan berada jika tidak di istananya?” Nivera menjawab dengan gugup. Ilias tahu benar jika Nivera sedang berbohong, matanya sempat melirik ke arah Freyja yang wajahnya telah memerah.   “Oh, astaga! Habislah kita.” Freyja mendadak berdecak sambil menatap nanar ke balik punggung Ilias. Seketika itu juga Nivera juga mengikuti arah pandangnya dan sama terkejutnya dengan Freyja. Di sisi lainnya, Ilias memutar lehernya agar bisa menoleh ke belakang, matanya membulat cukup lebar saat melihat sosok yang begitu akrab dengan penglihatannya sedang berjalan ke arah mereka berdiri.   “Apa yang diinginkan pak tua itu,” gumam Ilias sambil memutar tubuhnya bersiap menyambut Theodore—ayahnya.   Lorong itu tiba-tiba menjadi hening, hanya terdengar suara helaan nafas ketiga manusia yang tengah gugup menunggu Lord Theodore sampai di tempat mereka. Jantung ke-tiganya berdegup dengan sangat kencang seiring langkah Lord Theodore yang semakin mendekat ke arah mereka. Tepat saat langkah terakhir itu terhenti dan sosok Lord Theodore ada di hadapan mereka, jantung ke-tiga orang itu bagaikan diremass hingga mencelos. Freyja bahkan kesulitan menahan ludahnya karena rasa gugupnya kini telah berubah menjadi ketakutan yang luar biasa.   “Mengapa kalian berkumpul di sini?” Suara Lord Theodore sangat khas, begitu berat, serak tapi agak kecil. Matanya tajam menatap ke-tiga orang yang ada di hadapannya, lebih tajam lagi sorot yang dia tujukan kepada Ilias, putra sah semata wayangnya yang menjadi begitu populer di kota.   “Ayah sendiri … memangnya apa yang ayah lakukan di sini?” tanya Ilias seolah-olah tidak takut sama sekali dengan keberadaan ayahnya.   “Anak ini …,” geram Sang Marquis Tua. “Memangnya aku tidak punya pekerjaan sepertimu.”   Ilias hanya mengendikkan bahunya acuh tak acuh, bukan rahasia lagi jika hubungannya dengan sang ayah tidak begitu baik sejak mereka kecil. Meski Ilias sangat dimanja oleh Theodore akan tetapi luka yang ada di dalam hati Ilias sama sekali masih membekas di dalam hatinya. Bagi seorang anak yang kehilangan ibunya sendiri dan menyaksikan bagaimana ayahnya berpaling hati ke wanita lain, sungguh membuat hati Ilias terluka.   “Marquis Theodore, apakah anda datang untuk bertemu dengan Ratu?” Nivera membuka mulutnya, segugup atau setakut apapun dia tidak bisa membiarkan Eurene dalam bahaya.   “Iya, beritahu her majesty jika aku akan menemuinya.”   “Mohon maaf, My Lord. Ratu tidak bisa ditemui untuk saat ini.”   “Apa maksudnya itu? Dia tidak menghadiri rapat dewan istana tiga hari ini dan dia tidak ingin kutemui? Apa masalahnya?” tanya Theodore dengan wajah masam. “Tidak ada yang tahu alasannya mengapa dia tidak hadir ke rapat, apa yang sebenarnya terjadi?!”   “Her majesty sedang sakit, My Lord.”   “Sakit? Apa maksudmu dengan sakit, kurasa dia sedang menghindariku.”   “Ayah!” Ilias mengingatkannya. “Ratu benar-benar sedang sakit, aku bahkan tidak bisa menengoknya karena penyakitnya menular!” Ilias tidak tahan melihat ayahnya yang kesal dengan ketiadaan Eurene. Entah hal apa yang sangat mendesak hingga ayahnya tampak tidak sabar ingin mendiskusikannya dengan Eurene.   “Me-menular?” Theodore pun terkejut mendengarnya. Tidak hanya pria itu, dua wanita yang selalu ada di sisi Eurene pun tidak percaya jika kata-kata itu akan meluncur dari bibir Ilias.   Demi memastikan kebenaran ucapan Ilias itu, Theodore menatap Freyja dengan sorot penuh intimidasi. Theodore tahu betul jika gadis muda seperti Freyja akan mudah sekali dimanipulasi untuk mengatakan kejujuran. Namun, kali ini dia harus rela menggigit jarinya karena dengan tegas Freyja mengatakan hal yang serupa dengan yang dikatakan oleh Ilias.   “Ratu memang mengidap penyakit menular … dia hanya dirawat oleh dokter kerajaan di dalam ruangannya, My Lord.”   Dalam hatinya, Nivera memuji kelihaian Freyja dalam menipu Sang Marquis Tua yang tidak mudah dikalahkan oleh siapapun. Setelah mendengar itu, agaknya Theodore mulai menyerah. Namun, bukan Theodore yang pergi begitu saja, kini tatapannya beralih pada Nivera, wanita yang oaling bisa dipercaya jika mengenai Eurene.   “Penyakit apa yang diidap oleh Ratu?” tanyanya dengan tatapan ngeri karena membayangkan bagaimana jika dirinya juga tertular oleh penyakit tersebut.   “Itu adalah penyakit kulit yang sangat parah, siapapun yang berada didekatnya bisa tertular. Apakah ayah ingin tertular juga?”   “Ehm. Tidak ada orang yang bisa mencegah bencana … tapi jika bisa menghindarinya …. Sudahlah, aku akan kembali saat kondisi Ratu sudah membaik.”   “Ratu yang akan menemui anda, My Lord.” Nivera menyambar dengan cepat, mendapatkan tatapan tajam dari Theodore membuatnya menambahkan kalimatnya, “Di ruang aula istana, My Lord, secepatnya.”   “Tentu saja. Katakan pada dokter kerajaan untuk mengobatinya dengan benar.”   “Tentu saja.” Kini giliran Ilias yang menyahut. Setelahnya Theodore kemudian melanjutkan langkahnya dan pergi menjauh dari depan pintu ruangan Eurene. Ketika siluet Theodore semakin menjauh, ke-tiga orang itu seketika menghela nafas besar secara bersama-sama lalu tertawa bersama setelah menyadari apa yang telah mereka perbuat.   “Lord Ilias … bagaimana bisa anda berkata hal demikian?” tanya Freyja yang takjub dengan Ilias yang rela membohongi ayahnya untuk melindungi Eurene.   “Itu karena kesetiaanku pada Her Majesty tidaklah terbatas,” balasnya sembari mengedipkan sebelah matanya kepada Freyja.   “Tapi … kurasa Marquis Delmar tidak akan membiarkan masalah ini begitu saja.” Nivera berujar dengan tatapan mata yang masih mengekor pada sosok Theodore yang semakin menjauh. Freyja dan Ilias kemudian melakukan hal yang sama.   “Anda tidak perlu cemas, Lady Nivera … Tidak ada yang bisa menyakiti Eurene, bahkan ayahku sendiri.”   *   Hujan yang mengguyur ibukota Halfthorn sore ini menjadi pemandangan yang menemani Eurene dalam lamunannya. Di samping jendela kamar penginapannya dia duduk sambil melihat ke arah luar jendela, terlihat di sana masih ada orang di jalanan sedang menembus hujan menuju ke tempat tujuan mereka masing-masing. Dua hari dia telah berada di tempat ini, tidak keluar dari tempatnya sama sekali karena larangan dari dokter wilayah bernama Floyd. Beruntung sekali ada Alana yang menemaninya, sehingga Eurene bisa mengusir rasa bosannya dengan bermain bersama Alana.   Padahal tujuannya ke mari bukan serta merta untuk menemui Magnus, akan tetapi melihat secara langsung bantuannya yang kabarnya telah dikorupsi oleh Gubernur Halfthorn. Namun, sampai di sini dirinya malah tak bisa ke mana-mana bahkan membuat dirinya dan orang lain dalam bahaya.   Namun … sore ini, setiap permainan yang dia mainkan bersama Alana tak bisa mengusir rasa bosan yang menggeluti hatinya sepanjang hari. Eurene ingin sekali keluar dari tempat ini dan memeriksa sendiri para penduduk yang sedang mengalami krisis. Itu sebabnya sepanjang hari dia mengawasi pergerakan di Ibukota Halfthorn hanya melalui jendela kecil di kamar penginapannya ini.   Tok Tok Tok   Suara ketukan pintu pun sama sekali tidak mampu menarik Eurene kembali pada kenyataannya, pandangannya masih tertuju ke jalanan ibukota yang terlihat dari kamarnya. Alana membukakan pintu dan muncul sosok Sir Dexter dari balik pintu.   “Your Majesty.” Sir Dexter memanggil Eurene tapi tak ada respon yang berarti, pikiran sang ratu yang masih mudah itu melayang entah ke mana.   “Your Majesty.” Sir Dexter kembali memanggil, merasa gemas karena tak bisa melewati garis yang sebelumnya telah digambar oleh Floyd. Dokter wilayah itu mengatakan jika  Sir Dexter tak bisa melewati garis batas itu untuk menjaga jarak aman dan berjaga-jaga jika Eurene mungkin saja mengalami gejala wabah. Sementara Alana hanya menatap sosok Sir Dexter dan Eurene bergantian, gadis itu juga tidak banyak melakukan apapun untuk membantu Sir Dexter.   “Your Majesty.” Setelah ketiga kalinya dan Eurene tak juga merespon. “Astaga!” Sir Dexter telah geram, akhirnya dia melangkah melewati garis batas itu dan berjalan dengan langkah tegas ke arah Eurene. Tangannya terulur menuju ke bahu Eurene dan menyentuhnya hingga membuat Eurene pun terkesiap.   “Sir Dexter! Apa yang kau lakukan di sini?!” tanya Eurene dengan suara keras dan mata nanar menatap Sir Dexter yang telah melewati garis pembatas di belakangnya. “Kau tidak seharusnya—”   “Maafkan saya, Your Majesty ….”   “Bagaimana jika kau tertular? Kau tidak boleh sakit, kau adalah simbol keberanian Valareast! Kau—”   Eurene berhenti, mengambil nafas dan menatap Sir Dexter yang telah berlutut di hadapannya. “Bangunlah, Sir Dexter … aku tahu kau pasti sangat mencemaskanku dan tidak peduli pada keselamatanmu sendiri. Tapi aku akan lebih tenang jika kau menjaga dirimu sendiri terlebih dahulu untuk saat ini.” Eurene beranjak dari tempatnya, berpindah pada kursi yang lebih nyaman. Sir Dexter menegakkan kembali lututnya dan berdiri di samping Eurene bersiap untuk memberikan laporan dari penyelidikan yang dia lakukan selama ada di Halfthorn atas perintah Eurene.   “Apa yang kau temukan, Sir Dexter?”   “Saya menelusuri jejak Biro Golden Eyes dalam penyelidikan mereka, memang benar jika Gubernur Halfthorn terkait dengan orang-orang mengambil bantuan dari istana, selain itu mereka menghilangkan jejak dengan membuang kereta pengangkut ke dalam sebuah danau ….”   “Lalu?”   Tanpa banyak bicara sebagaimana ciri khas Sir Dexter, dia merogoh saku bajunya setelah itu dia mengambil satu buah kain berwarna putih dan menyerahkannya kepada Eurene. Ada sebuah gambar di atas kain itu, sebuah gambar yang terlihat tidak asing untuk Eurene, sebuah simbol yang tidak akan pernah Eurene lupakan karena seumur hidupnya dia berusaha untuk mencari pemilik simbol ini.   “Mereka terkait dengan korupsi bantuan ini?”   “Your Majesty ….” Sir Dexter kemudian menyerahkan lagi sebuah kain kepada Eurene. Kali ini di atas kain tersebut terdapat tulisan yang menyebutkan nama Marquis Delmar dan dirinya. Mata Eurene melebar ketika tatapannya tertuju pada sebuah simbol kecil tercetak di sana dan juga anak panah yang menyambungkan antara dirinya, Marquis Delmar, dan simbol itu.   “Apa ini?”   “Saya menemukannya di sebuah bangunan yang terletak di pinggir danau.”   “Siapa yang menulis ini semua?” Mata Eurene nanar memandangi tulisan itu, tulisan yang sangat dia kenali. Meski demikian hati kecilnya menolak untuk mengakuinya karena dia tahu siapapun penulisnya berarti sedang mengaitkan Eurene pada korupsi yang terjadi di Halfthorn.   Aneh sekali, hatinya sakit ketika matanya semakin lama menatap semua tulisan-tulisan yang saling terhubung itu. Perlahan-lahan Eurene memalingkan wajahnya lalu menatap Sir Dexter dengan mata yang sudah memerah dipenuhi oleh air mata.   “Your Majesty … ada apa, mengapa anda menangis?” Sir Dexter sangat terkejut, hampir saja dia melangkah lebih dekat, ingin sekali menghapus air mata yang mulai bergulir di wajah Eurene. Namun, langkahnya terhenti sebelum pernah dimulai.   “Ah?” Eurene buru-buru mengusap air matanya, kembali memasang wajahnya yang tanpa emosi. “Aku tidak menangis,” elaknya.   “Sepertinya udara di kamar ini tidak baik, mata anda pasti kemasukan banyak debu.” Sir Dexter mengatakannya berusaha untuk tidak membuat Eurene malu. Selama ini Eurene tidak pernah menangis, jangankan menangis bahkan mengeluh saja tidak pernah. Wanita yang telah menjadi ratu sejak usianya belia itu selalu mampu mengatur ekspresi wajahnya dengan baik, ah lebih tepatnya ekspresi wajahnya selalu sama—dingin tak beremosi—jika berhadapan dengan orang-orang di Istana.   “Aku ingin kau mencari tahu tentang apapun yang berhubungan simbol ini. Aku ingin mengetahui semuanya, Sir Dexter.”   “As you wish, Your Majesty.” . . . To be continued …                
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN