Angga masuk ke dalam rumah dengan wajah yang lesu. Lelaki itu melepas helm yang masih dipakainya. Menaruhnya dengan asal di meja, yang mana membuat benda bulat itu menggelinding ke bawah. Angga tidak menghiraukan teriakan Rasya yang merasa terganggu dengan apa yang Angga lakukan. Lelaki itu menjatuhkan tubuhnya di sofa seraya memandang langit-langit dengan tatapan kosongnya. Sejenak pikirannya berkelana melintasi segala hal yang Angga jadikan kemungkinan bagi hidupnya saat ini. Namun rasanya percuma memikirkan hal itu sebab waktu tidak mungkin bisa kembali. “Baru nyesel?” Sindir Marsha seraya duduk di sofa. Gadis dengan baju panjang berwarna biru tuanya itu memandang Angga dengan tatapan mengejek. Tidak ada rasa kasihan sedikitpun bagi Kakak sulungnya. Menurutnya, itu adalah hal yang pant

