“Abang! Turun cepetan! Mama suruh sarapan!” Teriak Marsha dengan suara menggelegarnya. Perempuan yang sudah siap dengan cardigan berwarna merah muda dan rok hitam panjangnya itu mengetuk beberapa kali kamar di depannya. Berharap sang pemillik kamar segera keluar dari kediamannya. Tapi bukannya mendapatkan jawaban, Marsha malah mendapatkan suara pukulan keras. Menelan salivanya kasar, Marsha jadi tidak yakin untuk memanggil lelaki yang menjadi Kakaknya itu. Memilih turun dari lantai dua, Marsha langsung menuju ruang makan. “Mana Abang?” Tanya Dea yang melihat Marsha turun sendirian. “Gak tau. Kayanya lagi latihan boxing.” Dela menghela napas. Matanya melirik ke arah suaminya dan juga sang ayah yang masih sibuk berdebat di ruang tengah. Yang satunya sibuk mempertahankan emosi, dan yang s

